Monday, January 25, 2010

[Maestro] Gesang Martohartono: Keroncong Tak Boleh Mati

-- Imron Rosyid

TUBUHNYA yang renta itu tergolek di atas ranjang rumah sakit. Matanya yang redup, sesekali melirik ke arah pintu kamar Firdaus 7 RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jateng. Dia berusaha untuk tersenyum dan sembari terbaring dia menyalami rombongan anak-anak berusia belasan tahun itu. Wajah pria yang sudah berusia 92 tahun itu pun menjadi sumringah tatkala tanpa diduga anak-anak itu melantunkan lagu Bengawan Solo.


Lelaki yang terbaring lemah itu tak lain adalah Gesang Martohartono, si penggubah lagu keroncong tersebut. Meski tak terlalu merdu, kor anak-anak itu ternyata menjadi "obat" yang mempercepat kesembuhannya. Bukan lantaran lagu ciptaannya yang sudah mendunia itu yang dinyanyikan. "Anak-anak ternyata banyak yang suka dengan keroncong," katanya.

Gesang berulang-ulang menyatakan harapannya terhadap jenis musik ini harus tetap lestari. Dalam sebuah kesempatan, Gesang mengungkapkan keroncong tak boleh mati. Entah bagaimanapun caranya, keroncong harus bisa eksis sepanjang masa. "Saya sudah tidak bisa apa-apa, saya senang anak-anak menyukai," ujarnya.

Gesang tak ingin cawe-cawe dan lebih memilih menaruh harapannya kepada kaum muda.

Dia menyebut dirinya sebagai orang mantan atau pensiunan lantaran tidak lagi ada yang bisa dikerjakan. Dia juga seolah tak mengharubirukan dengan sebutan sebagai maestro keroncong lantaran lagu-lagu yang digubah sebagian besar melegenda sepanjang masa.

Pria yang lahir dengan nama Sutadi ini tidak pernah bermimpi lagu-lagu ciptaannya bisa dikenang sepanjang masa. Tidak hanya Bengawan Solo, tetapi lagu keroncong Jembatan Merah yang juga kesohor meski memang tidak mendunia seperti Bengawan Solo. Ada lagi karyanya, seperti Sapu Tangan, Kalung Mutiara, Borobudur, Roda Dunia, Dunia Berdamai, Tirtonadi, dan lain-lain.

Gesang membuat lagu tatkala dia masih muda sekali ketika masih berusia belasan tahun. Lagu Bengawan Solo yang kini banyak memiliki versi itu digubahnya saat berusia 23 tahun. Gesang terakhir menulis lagu pada tahun 1975 silam. Koleksi lagu yang dibuatnya sebanyak 44 buah. "Saya menulis lagu hanya apa yang saya lihat dan rasakan," katanya.

Pria kelahiran 10 November 1917 ini semasa mudanya gemar berpetualang. Kala itu, dia sering diajak pelukis Dullah melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mencari inspirasi. Rupanya, cara kerja Dullah membekas pada diri Gesang. Saat membuat lagu, dia selalu melakukan pengamatan. Gesang tak pernah menargetkan kapan lagunya bisa diselesaikan.

Kegemarannya jalan-jalan itu benar-benar mendarah daging. Gesang tetap menyukai melakukan pengamatan di sekitarnya. Di setiap pagi saat sehat, Gesang menyempatkan diri berjalan-jalan meski hanya beberapa ratus meter di sekitar rumahnya. "Paling-paling ya cari bubur untuk sarapan, tapi di tengah jalan sudah tidak kuat," katanya.

Hidupnya panjang seperti Bengawan Solo. Soal umur panjang ini, Gesang memberikan resepnya saat ditanya Mooryati Soedibyo, pemilik perusahaan jamu Mustika Ratu yang membesuknya. Dia tidak pernah ngoyo dalam hidupnya, senang dan susah dijalani dengan cara yang sama. "Jangan pernah marah, apalagi dimasukkan ke dalam hati," katanya.

"Surat Wasiat"

Hampir semua lagu yang dibuatnya berdasarkan dari pengalaman yang dilalui sendiri oleh Gesang. Jembatan Merah, dibuat saat Gesang terlibat dalam revolusi fisik sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI). Piatu yang dibuat di awal dia mencipta lagu merupakan kontemplasi hidupnya yang sudah kehilangan ibunya sedari anak-anak.

Mungkin karena itu, lagu-lagunya tak lekang digerus zaman. Bertahun-tahun tetap bertahan dinyanyikan dari generasi ke generasi. Dari satu versi ke versi lain, mulai jazz hingga regge. Lagu-lagunya seperti lirik Bengawan Solo, mengalir sampai jauh. Menembus batas-batas negara dan budaya.

Di berbagai negara Gesang memiliki penggemar fanatik, di Jepang, ada perkumpulan pencinta Gesang yang membuat Perhimpunan Dana Gesang.

Meski masih hidup, organisasi ini membuatkan suatu monumen berupa Taman Gesang di Jurug. Tak heran, sakitnya Gesang mengundang media dari Jepang untuk mengabarkannya. "Pada hari keempat, ada wartawan dari Jepang yang menelpon dan ngobrol dengan Mbah Gesang," kata Santosa, salah seorang kerabat Gesang.

Gesang memberi makna pada perjalanan hidupnya. Jauh-jauh hari dia telah membuat "surat wasiat" melalui salah satu lagunya yang berjudul, Sebelum Aku Mati. Simak syair lagu yang digubah pada tahun 1963 ini. //Sekali ku hidup, sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi//.

Boleh jadi, Bengawan Solo adalah warisan abadi Gesang, yang terus mengalir sampai jauh. Tidak hanya mengalir sam- pai ke laut seper- ti aliran sungai Bengawan Solo, tetapi hingga ke samudra keabadian.

Gesang memang tidak mampu lagi pergi ke mana-mana, tetapi dia sebenarnya sudah ada di mana-mana. Gesang, seperti namanya yang berarti hidup, boleh jadi adalah sebagai suatu keabadian.

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 25 Januari 2010

No comments: