Thursday, January 21, 2010

[Sosok] Perlawanan Handrawan Nadesul

-- Dwi As Setianingsih

PADA sastra, Handrawan jatuh cinta. Cinta itu kemudian mengantarnya pada sumber sastra terluas bernama ilmu kedokteran. Cinta yang kemudian menjadi sumber perlawanan Handrawan pada implementasi sistem kesehatan yang dinilainya tidak tepat demi menggugah kesadaran masyarakat akan arti kata sehat dan perilaku kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Handrawan Nadesul (KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH)

Menulis adalah cita-cita Handrawan Nadesul. Demi hasratnya yang demikian kuat pada sastra, pria kelahiran Karawang, Jawa Barat, ini rela ”babak belur” saat harus berjibaku menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, tahun 1970-an.

Tak pernah hilang dari ingatannya betapa saat itu dia harus pontang-panting mengejar waktu, naik turun opelet demi naskah tulisan yang harus dia setor ke redaksi majalah-majalah. Itu semua demi honor yang dia butuhkan untuk biaya hidup dan kuliah di fakultas kedokteran yang tidak sebentar itu.

Betapa suatu ketika, dia sampai harus menebalkan muka meminta honornya dibayar di muka untuk 10 tulisan yang dia janjikan kemudian. Sungguh masa yang penuh perjuangan, yang membuat pena Handrawan tak pernah berhenti berkarya. Handrawan tak akan pernah lupa!

Setelah lulus, tahun 1981-1984 Handrawan ”sempat” menikmati masa mengabdi di Dinas Kesehatan Kota Bogor dan mengurus tiga pusat kesehatan masyarakat. Tetapi, sepertinya jalan pengabdian Handrawan tidak di sana.

Menulis tetap menjadi pilihan Handrawan untuk mengabdi. Melanjutkan apa yang telah dirintisnya pada masa kuliah, Handrawan pun terus menulis berbagai artikel tentang kesehatan hingga kemudian menelurkan sejumlah buku.

Barangkali karena cintanya yang begitu besar pada sastra dan ilmu kedokteran membuat Handrawan menjadi amat produktif berkarya. Terhitung mulai 1972 hingga 2009 (awal), setidaknya sudah ribuan artikel kesehatan yang ditulisnya.

Sebanyak 76 buku tentang kesehatan juga telah dia hasilkan antara rentang waktu kurang lebih 37 tahun itu, antara lain Resep Mudah Tetap Sehat (Cerdas Menaklukkan Semua Penyakit Orang Sekarang), Sehat Itu Murah, Jurus Sehat Tanpa Ongkos, Cara Sehat Menjadi Perempuan, dan Ibu Hamil Sehat. Buku-buku itu umumnya menjadi buku laris di pasaran dan dicetak ulang berkali-kali.

Dalam buku Jurus Sehat Tanpa Ongkos, misalnya, Handrawan menulis, ”lebih menyehatkan menu buatan sendiri. Bahan bakunya pilihan, masih segar baru dipetik, belum lama dipanen. Mengolahnya tidak berlebihan bumbu, garam, penyedap, dan bukan memakai minyak jahat....”

Buku dan tulisan-tulisannya itu kemudian mengantarnya dari satu seminar ke seminar lain, ke acara bincang-bincang televisi dan radio, untuk menularkan ilmu yang dimilikinya. ”Status” Handrawan yang seorang dokter umum tak menghalanginya untuk menulis dan berbicara tentang berbagai pengetahuan di bidang kedokteran. Menjadi pengasuh rubrik kesehatan, bertemu dengan pasien-pasien pribadinya dan para peserta seminar yang dihadirinya dimanfaatkan Handrawan sebagai tempat belajar selain dari buku-buku teks tentang kedokteran.

Menggugat sistem

Handrawan tak bisa berhenti cemas. Betapa pemahaman masyarakat terhadap kesehatan tak juga beranjak sejengkal pun. Pengalamannya saat berjumpa dengan seorang penggemar setia sejak mahasiswa dan kini sudah berstatus ibu menyadarkan Handrawan akan hal itu.

”Padahal, pendidikannya sarjana. Nah, kalau pada level sarjana saja pengetahuannya tentang kesehatan tidak bertumbuh, apalagi yang buta huruf? Yang tidak tersentuh televisi?” ujar Handrawan di kediamannya di kompleks perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Dia menggugat sistem kesehatan yang diterapkan negara. ”Sistem kesehatan kita bagus. Ada di dalam GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara). Paradigmanya sudah benar, tapi implementasinya tidak seperti itu. Alokasi anggaran justru habis untuk belanja obat. Kenapa tidak digunakan untuk penyuluhan?” katanya.

Menurut dia, negara perlu membentuk perilaku masyarakatnya melalui pendidikan. Pendidikan dasar kesehatan ini harus dimulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai perguruan tinggi.

”Bila tidak diberikan, akan terbentuk perilaku masyarakat yang kadung (telanjur) tidak sehat, yang ongkosnya jadi lebih mahal seperti yang terjadi saat ini,” katanya.

Di situlah letak perlawanan Handrawan. Melalui artikel dan buku-bukunya, Handrawan membuka wawasan masyarakat agar lebih memahami kesehatan sekaligus mengubah perilaku masyarakat yang kadung tidak sehat. ”Power (kekuatan) saya adalah menulis,” kata Handrawan.

Memilih menepi

Lima tahun lalu, Handrawan merasa harus berhenti, minggir, dan menepi. Handrawan berkaca pada guru dan teman-teman seangkatan yang, menurut dia, jadi sengsara karena terlalu ”ngoyo” bekerja.

Dia berhenti membuka praktik sebagai dokter perusahaan Matahari Grup yang telah digelutinya selama 23 tahun. Dia juga tak lagi rutin menerima pasien di tempat praktik di rumahnya karena terlalu sibuk mengisi seminar, menjadi narasumber di acara bincang televisi dan radio. Hanya pasien yang sudah lebih dulu membuat janji yang bisa berkunjung ke tempat praktik di rumahnya.

Tetapi, Handrawan tak berhenti menulis. ”Tampaknya dengan cara inilah orang-orang bisa mendapat tambahan wawasan,” kata Handrawan yang kini sedang mempersiapkan sebuah buku baru.

Pada usianya yang kini 62 tahun, Handrawan sudah merasa bahagia. ”Saya memang tidak kaya materi. Apa yang saya miliki saya syukuri,” ujarnya.

Handrawan merasa sudah cukup puas. Apa yang menjadi cita-cita sekaligus pengabdian dan perlawanannya telah menunjukkan hasil. ”Respons masyarakat bagus. Apa yang saya lakukan juga sudah didengar.”

Kini Handrawan hanya mengasuh satu rubrik kesehatan. Kelak, bila saat yang tepat sudah tiba, Handrawan akan memboyong keluarganya untuk menikmati masa tua di sebuah tempat di Bali. Dia menyebutnya ruralisasi. Jakarta, kata Handrawan, sudah tidak menarik lagi untuk ditinggali.

Handrawan menerapkan pola makan kembali ke alam, yang artinya tidak mengonsumsi makanan olahan. Lebih dari itu, dia menerapkan satu resep jitu agar kualitas hidupnya lebih baik setiap saat. ”Kuncinya menikmati pekerjaan,” ujar Handrawan.

Sumber: Kompas, Kamis, 21 Januari 2010

No comments: