Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Sunday, May 01, 2011

Musik: Mengikis Si Kepala Batu!

KEPALA batu! Itu ungkapan yang keras. Kalau ditentang akan muncul benturan. Dan benturan selalu berujung pada perpecahan. Bisakah sebuah potret sosial meluncur dari kekerasan batu-batu?

Pentas musik batu dengan judul "Menunggu Batu Bernyanyi" karya seniman musik kontemporer, Memet Chairul Slamet, di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (26/4). Memet menyajikan eleman batu yang diubah menjadi bunyi-bunyian dalam komposisi musik yang dekat dengan suasana alam. (Kompas/Iwan Setiyawan)

Komposer Memet Chairul Slamet menjadikan bahasa batu sebagai ungkapan berbagai hal tentang kenyataan sosial yang kini melanda hidup kita. Ia bahkan menjalin komposisi musik dalam satu pementasan bertajuk ”Menunggu Batu Bernyanyi”, Selasa (26/4) di Bentara Budaya Jakarta (BBJ).

Pada bagian klimaks dari pentasnya, Memet menggesek sebentuk kepala dari batu. Ia sengaja tidak memukulnya. Perlakuan terhadap instrumen ”kepala batu” itu tentu bukan semata keinginan eksplorasi untuk mengejar musikalitas, tetapi lebih-lebih ada cuatan keinginan menjadikannya sebagai bahasa tanda. Memet sedang membuat sebuah pernyataan, ”Kalau kepala batu dibentur dengan pukulan akan pecah. Maka caranya dengan merangkul dan mengelusnya. Efek bunyinya pun jadi lebih lembut, bukan?” katanya.

Akhir dari pentas ini memang sebuah dengung. Suara-suara yang seperti tumbuh dari keliaran hutan-hutan raya. Memet menghasilkan bunyi-bunyian itu dari kepala batu yang digesek dan bilah-bilah batu yang secara berkesinambungan juga digesek. Selama setahun ia mengumpulkan batu-batu dari berbagai lokasi di sekitar lereng Gunung Merapi. Dan batu-batu yang kini “bisa” bernyanyi itu, sebagian besar memang batu-batu gunung yang dilontarkan atau dihanyutkan lahar gunung berapi itu.

Memet memulai segalanya dari hal sederhana. ”Kita bisa mulai bermusik dari benda-benda di dekat kita. Batu misalnya, kan hal yang sederhana, tetapi perannya dalam peradaban manusia luar biasa,” kata dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini. Batu hampir selalu hadir dalam peradaban. Sejak masa megalitikum, bahkan benda keras ini sudah dijadikan alat musik yang disebut lithophone. Ketersambungan peradaban juga bisa diketahui dari prasasti-prasasti yang dipahat di atas batu.

Lekuk kecil

Oleh sebab itu, keberadaan batu memiliki sejarah panjang dalam peradaban bumi dan manusia. Memet menemukan bahwa kemasifan sebuah batu sangat dipengaruhi oleh usia dari sebuah batu. Dan pada akhirnya usia batu akan memengaruhi produksi bunyi yang bisa dihasilkannya. ”Yang istimewa lekuk kecil saja sudah bisa membedakan bunyi. Ini tidak terdapat pada bambu, kayu, atau logam,” tutur Memet.

Dalam pengembaraannya menemukan batu di sungai-sungai yang mengalir dari lereng Merapi, Memet bertemu dengan aliran air, desir angin, gemeretak pohon, dan suara-suara hutan liar. Ia menyatakan pertemuannya dengan sebuah batu sebagai ”berjodoh”. Oleh sebab itulah, katanya, ia tidak ”menala” (mengukur dengan garpu tala untuk memperoleh bunyi yang diinginkan) batu-batu jodohnya. Ia biarkan batu-batu bernyanyi sebagai- mana suara aslinya. Soalnya, tinggal bagaimana cara menghasilkan bunyi itu: bisa menggesek, memukul, atau mebenturkannya.

”Kalau saya menala sama dengan cuma menjadikan batu sebagai pengganti alat musik lain dan itu sudah banyak dilakukan,” katanya.

Dengan cara itu, pentas musik ini boleh jadi lahir sebagai sesuatu yang orisinal. Tidak juga sekadar memindahkan suara-suara alam lalu membingkainya di atas pentas, tetapi Memet mengeksplorasi sebagai bahasa tanda. Ia mengemasnya dalam sebuah pertunjukan dengan memadukan unsur gerak, tembang, cahaya, dan multimedia. Kemasan yang dikerjakan Memet bersama para anggota ensamble musik etnik Gangsadewa, ini menghasilkan 11 repertoar yang dijalin secara berkesinambungan.

Bekerja di wilayah batu, kata Memet, pada awalnya ia seperti berhadapan dengan kekerasan demi kekerasan. Bunyi yang dihasilkan dari benturan terhadap batu menimbulkan efek auditif yang cepat membuat lelah. ”Selama dua jam memukul dan menggesek batu itu, sungguh sesuatu yang melelahkan. Dan ini tidak terdapat pada media seperti air yang pernah juga saya eksplorasi,” kata Memet.

Oleh sebab itulah, ia menjadikan sebagian besar repertoarnya sebagai semacam penghormatan dan penghargaan atas kelimpahan yang diberikan alam. Alam bisa merintih jika kita membenturkannya, alam bisa menahan tangis jika kita mengiris-irisnya. Sebaliknya, alam akan memberikan kelimpahan berkah apabila kita menyayanginya dengan mengelus-elus kepalanya. Dengung yang meluncur dari kepala batu itu pun bukan lagi sebuah rintihan, tetapi luncuran ungkapan terima kasih dari lubuk alam yang terdalam.

Dengan cara itu, secara simbolik Memet menyarankan, mari kita mengikis kepala batu masing-masing untuk menciptakan satu tatanan dunia di atas sendi-sendi kedamaian!

(Putu Fajar Arcana)

Sumber: Kompas, 1 Mei 2011

Sunday, February 20, 2011

Musik: 'Exellentia': Bukan Sekadar Konser Nostalgia

PELUH mengucur deras dari dahi Katon Bagaskara sang vokalis. Berbutir-butir keringat jatuh, menetes, meresap hingga ke kemeja ketat warna merah metalik. Malam itu kostumnya kasual, kemeja dipadu rompi warna hitam. Bersama dua rekannya Adi Adrian (keyboard) dan Lilo Romulo (gitar) ia berhasil merenggut kembali hati penggemar yang pernah mereka tinggalkan dalam satu dekade terakhir. "Lagi..lagi..lagi..lagi" pinta para penonton di penghujung konser.

Usia tiga personel KLa Project tak lagi tergolong muda, hampir mencapai separuh baya. Namun, Jumat malam pekan lalu (11-02), sekitar 700 penonton di Center Stage Hotel Novotel Bandar Lampung menjadi saksi bagaimana salah satu grup musik legendaris di belantika musik Indonesia ini mampu membius mereka yang hadir. Entakan vokal Katon, lengking gitar melodis Lilo, dan lentik jemari Adi pada tuts-tuts keyboard membuat aksi panggung mereka terasa begitu cepat berlalu.

Tanpa musisi pembuka, konser bertajuk An excliusive experience with KLa Project Exelentia ini sempat molor setengah jam dari jadwal yang seharusnya mulai pukul 22:30. "Stage dibuka sekitar pukul 21:00 dan konser akan dimulai sekitar pikul 22:30," ujar Hedy Yunus, selaku promotor konser satu hari menjelang konser. Namun itu tak membuat para KLanese, sebutan penggemar KLa Project, surut. Mereka terus berdatangan, dan uniknya didominasi mereka yang tak lagi muda.

KLa Project menjadi kejutan bagi dunia musik di Indonesia lewat single Tentang Kita yang termuat dalam album kompilasi 10 Bintang Nusantara (1988). Setahun kemudian, mereka merilis album perdana berjudul sama dengan namanya. Dari album ini antara lain Rentang Asmara, Anak Dara, serta sebuah balada indah berjudul Waktu Tersisa.

Mereka hadir melawan tren pasar yang masih didominasi musik pop cengeng zamannya Deddy Dorres akhir 80-an. Sementara musik KLa kala itu sangat kental dengan unsur new wave 80-an ala Duran-Duran. Namun KLa sigap beradaptasi lalu melemparkannya ke pasar dan disambut hangat pecinta musik Tanah Air. Pengamat musik acap menjuluki aliran KLa Project sebagai techno pop, atau kontemporer. Seperti mendengarkan perpaduan antara Genessis dengan musik Sting. "Merekalah pemegang tongkat estafet pop 80 ke 90," ujar musisi senior Fariz R.M. di Metro TV pada akhir tahun 2008 dalam sebuah wawancara.

"Apa kabar kalian semua, sudah makan belum? Pindang di sini sungguh nikmat," sapa Katon pada segenap yang hadir. Malam itu KLa mengawali pertunjukan dengan Revolusi Disco, tembang pertama dari albun teranyar mereka Exelentia. Revolusi Disco menganmbil ambience lantai dansa. Tanpa harus bergenit penuh gincu lagu ini terasa kontekstual dengan jati diri musik KLa Project. Bunyi-bunyian yang bernuansa elektronik toh tidak mengganggu deretan lirik yang ditulis Katon Bagaskara.

Adi Adrian adalah arsitek musik KLa yang banyak menyeruakkan detil bunyi dalam pola aransemen yang dimainkan. Adi Adrian juga merupakan pilar utama karakteristik musik KLa Project yang tetap hirau pada benang merah musik KLa Ptoject, meski mencoba untuk meraup pernak pernik bunyi yang imajinatif bagi tendensi lagu-lagu KLa Project. Usai lagu pertama, dengan sedikit jeda, konser dilanjutkan dengan tembang Hilang Separuh Arti, kekuatan syair puitis yang menjadi identitas KLa kembali hadir seperti dalam petikan syair berikut.

"Rumput hatiku yang mengering

Tak tersiram hujan namun coba bertahan

Di situ pernah kau terbaring

Tumbuhkan bunga sejenak lalu tinggalkan"

Majalah Tempo, dalam ulasan musiknya pado medio tahun 2000 menasbihkan mereka sebagai satu di antara segelintir musisi Indonesia yang sangat memperhatikan syair dan penggunaan bahasa. "Pilihan kata KLa Project sangat memperkaya kosa kata Bahasa Indonesia bagi pendengar musik mereka" kata Tempo. Tengoklah penggunaan kata semburat, nelangsa, saujana, meranggas, kusulut, merajut, bersenda, lelikuan, bijana, ngelangut, terhampar dalam syair syair mereka. Kekuatan lainnya, jika aransemen musik bagi grup lain hanya pengiring lagu, hal itu tidak berlaku bagi KLa Project. Maka lahirlah karya karya ever greend sepanjang karier mereka.

Kembali ke arena konser, panggung dengan tata cahaya yang gemerlap, dan back-ground berupa layar multimedia raksasa adalah eksperimen lain dari konser KLa malam itu. Kesan mewah dan futuristik sangat terasa, tapi tidak lantas membuat pergelaran itu menjadi formal dan kaku. Sebaliknya, Katon tak henti-henti bergoyang, dan diimbangi oleh Lilo yang tak kalah meliuk-liuk bersama gitarnya. Mereka begitu santai, sedangkan Adi tetap anteng di balik pianonya.

Usai Revolusi Disco dan Hilang Separuh Arti berlalu, tibalah tembang hit KLa di tahun 2000 Menjemput Impian. Intro piano panjang sangat dikenal telinga penonton. Mereka pun bertepuk tangan dan sebagian mulai ikut bernyanyi. Itu baru permulaan, suasana belum panas. KLa mulai menghentak dengan tembang Pasir Putih ini bukan tembang cinta. Ini tembang tentang peduli terhadap alam raya yang harus diwariskan hingga anak cucu kita. Entakan drum Hary Goro dan permainan saksofon Arie Kurniawan mengajak penonton menari.

Usai bergulir tujuh lagu. Dalam simfoni Semoga, KLa mulai merengkuh hati seluruh pengunjung. Mereka turut mengiringi suara berat Katon. Suara Katon masih bening dan prima seperti dulu kala, begitu pun dengan Lilo yang serak dan nge-rock. Lilo mengisi sesi ketiga dengan kejutan kecil. Dia membawakan lagu Romansa yang diaransemen ulang dalam harmonisasi yang lebih garang. Tibalah pada lagu yang ditunggu-tunggu, apalagi kalau bukan Tak Bisa ke Lain Hati.

Setelah dua lagu itu, Katon muncul lagi, kali ini tampil kasual dalam balutan kaus hitam membawakan Terpuruk Ku di Sini dan Lagu Baru. Kemudian lampu-lampu padam. Sayup-sayup ketukan dram seperti derap kaki kuda mulai menggema. Ini ciri khas karya monumental KLa Project Jogjakarta yang lahir pada album kedua. "Pulang kekotamu. Ada setangkup haru. Dalam rindu," dendang Katon. Dan pada bagian ref, hampir seluruh penonton ikut bernyanyi, melambai-lambaikan tangan ke atas dalam gerak perlahan. Ketika sebuah lagu dinyanyikan ratusan orang secara bersamaan pertanda telah berpadunya musisi dan penonton. Maka bergetarlah hati siapa pun yang mendengarnya malam itu.

Semua lagu dinyanyikan dengan cara baru, kecuali Jogjakarta yang tetap dipertahankan dalam citarasa klasiknya yang agung. Lalu, lagu penutup. Apa yang belum dinyanyikan? Betul, semua sudah bisa menebak, Tentang Kita yang merupakan tonggak sejarah munculnya KLa Project di peta musik Indonesia. Apa, lagu penutup? Tak ada yang rela konser itu diakhiri begitu saja tanpa sesi we want more. Dan, hanya dalam hitungan detik setelah tiga personel asli KLa Project plus drumer dan pemain bas tamu pamit dan panggung gelap, tapi Lilo pun muncul lagi.

Penonton bersorak. Lilo menantang. "Lagu apa yang belum?" Penonton jadi bingung sendiri. Seorang penonton berdiri di atas kursi seraya berseru Meski Tlah Jauh, Meski Tlah Jauh teriaknya ke atas panggung. "Kayaknya enak nih, satu lagu lagi buat kalian," sambut Lilo dan disambung kembali dengan Belahan Jiwa oleh Katon yang kembali ke atas panggung. Maka lengkap sudah. Tak usah dimungkiri jika ini memang konser nostalgia. Apa salahnya? Sebab, KLa Project memang istimewa. Dengan segala eksperimen musikalisasi puitisnya mereka telah memberi nilai lebih pada konser Exellentia malam itu.

Abdul Gafur
, wartawan Lampung Post

Sumber: Lampung Post, Minggu, 20 Februari 2011

Wednesday, June 24, 2009

[Sosok] Andre, Keberadaan Krontjong Toegoe

-- Windoro Adi

ANDRE Juan Michiels, Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu ini, punya kenangan berkaitan dengan keroncong tugu. Musik warisan tentara keturunan Portugal yang dibawa VOC Belanda itu telah menjadi salah satu ciri khas Kota Jakarta yang merayakan hari ulang tahun ke-482, Senin (22/6).

Andre bercerita, saat masih kanak-kanak, sang ayah, Arend Julinse Michiels, melihat dia menyentuh alat musik keroncong. Arend menyentil jari tangannya sambil mengingatkan agar anak-anak menjauhi peralatan musik keroncong. Berpuluh tahun kemudian, peristiwa itu menjadi kenangan manis buat Andre.

”Buat ayah, keroncong itu sakral. Waktu kelompok keroncong ayah berlatih, anak-anak hanya boleh melihat dari balik jendela serambi rumah,” cerita Andre di rumahnya di kawasan Kampung Tugu, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

”Latihan keroncong itu sepekan sekali selama dua-tiga jam. Suguhannya bukan kopi hitam, tetapi anggur malaga, rokok kretek merah, dan kue-kue basah,” kenangnya.

Keroncong berasal dari kalangan mardijkers di Batavia yang tinggal di Kampung Tugu pada pertengahan abad ke-17. Keluarga besar Michiels adalah bagian dari mardijkers. Mereka memainkan keroncong untuk mengiringi pesta dan ibadah gereja. Keroncong pada perkembangannya kemudian menjadi salah satu identitas budaya Betawi.

Arend, ayah Andre, menjadi salah satu pemain keroncong yang kala itu disebut Krontjong Moresko Toegoe. Arend lalu mengundurkan diri dari kelompok musik itu dan membentuk Krontjong Toegoe pada 12 Juli 1988. Sejak itulah Andre mulai terlibat. Ia ikut sang ayah bermusik keroncong.

”Waktu itu umur saya 21 tahun, tetapi belum bisa bermain musik, apalagi keroncong. Ini karena sikap keras ayah terhadap anak-anak,” ungkapnya.

Dari cerita sang ayah, Andre, generasi ke-10 mardijkers yang tetap memakai nama berbau Portugis untuk anak-anaknya demi menghormati nenek moyangnya itu, mengetahui bahwa perpecahan grup keroncong itu umumnya berkaitan dengan masalah ”rezeki”.

Belajar dari pengalaman itulah, maka kepada anak-anaknya yang tergabung dalam Krontjong Toegoe, Arend berpesan agar mereka, ”Jangan bermain keroncong untuk mencari penghidupan, tetapi bermain untuk menghidupi dan melestarikan keroncong itu sendiri.”

Bermain lumpur

Saat ayahnya meminta Andre bergabung dalam Krontjong Toegoe, dia sempat enggan karena merasa sudah ”terlambat”. Ia tak menguasai alat musik dan tak menaruh perhatian pada keroncong. Pada waktu senggang Andre lebih suka bermain di tengah lumpur.

”Pernah suatu hari ayah mendapati saya sedang ngobak (bermain lumpur) di Kali Candra Baga Gomati, di depan Gereja Tugu, sepulang kerja dari pelabuhan. Akibatnya, saya mendapat sabetan rotan sampai batang rotannya hancur,” ceritanya.

Namun, hal itu tak membuat Andre meninggalkan kesenangannya bermain lumpur. Setelah semakin dewasa, kesukaannya ngobak dia alihkan dengan kegiatan otomotif off road. Kisah ini bermula saat dia dibelikan ayahnya Jeep Willys rongsokan buatan tahun 1956.

”Ayah berkata, mobil ini akan menjadi milikmu kalau kamu bisa memperbaiki. Ayah membeli jip itu tahun 1986,” katanya.

Andre, anak ketiga dari 10 bersaudara ini, lalu belajar memperbaiki mobil di bengkel yang ada di rumah orangtuanya. Pemilik bengkel menyewa sebagian halaman rumah Arend sejak 1983.

”Sebagai ongkos sewanya, keluarga kami mendapat 10 persen dari pendapatan bengkel,” katanya.

Setelah mobil itu bisa berfungsi baik, Andre juga menjadi ”sopir pribadi” ayahnya. Sejak itu, Andre merasa lebih akrab dengan sang ayah.

”Saya belajar banyak dari ayah. Misalnya, bagaimana cara menghadapi birokrasi,” ujar Andre yang sempat merasa diri ”pecundang” di mata sang ayah dibandingkan dengan para saudara kandungnya.

Peti kemas

Ketidakakraban Andre muda pada keroncong bisa dipahami karena selulus SMA dia bekerja di berbagai bidang. Ia pernah bekerja di perusahaan otomotif. Dia juga sempat menjadi sopir antar jemput pramugari.

Namun, minatnya pada mesin membuat dia kembali mengutak-atik mesin dan bekerja di bengkel.

Di sinilah Andre bertemu pemilik peti kemas. Ia lalu membuka bengkel sendiri yang khusus menangani truk peti kemas pada 1995. Dua tahun kemudian, kegiatan bengkel mengantarnya menjadi pengusaha jasa antaran truk peti kemas.

Kembali pada keroncong tugu, bermodal pergaulan luas dan luwes menghadapi birokrasi, Arend dan Andre berusaha melestarikan keroncong tugu. Sesuatu yang dulu tak diminati Andre lalu menjadi perhatiannya seiring kedekatan dengan sang ayah.

Berkembangnya usaha truk peti kemas membuat Andre dan keluarga juga merasa lebih ringan untuk melestarikan keroncong. Sebagian keuntungan usaha itu bisa disisihkan untuk membiayai transportasi dan akomodasi saat kelompok Krontjong Toegoe tampil.

Terobosan

Namun, usaha itu saja tak cukup. Diperlukan terobosan agar Krontjong Toegoe tak sekadar bisa tampil, tetapi memang disukai hadirin.

Untuk itu, Andre dan saudara-saudaranya berusaha mendendangkan juga lagu yang tengah populer pada masanya masing-masing. Jadi, selain membawakan lagu keroncong, Krontjong Toegoe juga mengalunkan lagu dari grup Queen dan The Beatles asal Inggris, juga band Zamrud.

”Lagu-lagu yang lagi populer itu kami mainkan dalam irama keroncong,” katanya.

Ide ini bermula saat Pepeng ”Jari-Jari” dan Muklis yang mengelola acara televisi, Sersan, Serius tapi Santai pada 1993-1994, meminta Krontjong Toegoe tampil di bagian pembukaan dan penutupan acara. ”Waktu tampil pertama, kami membawakan lagu The Beatles, ’Obladi-Oblada’, dengan irama keroncong dan mendapat sambutan bagus.”

Andre yang kemudian menjadi pimpinan Krontjong Toegoe membawa grup ini berlatih setiap Rabu malam. ”Kami berlatih di rumah orangtua saya di Kampung Tugu,” kata Andre yang juga membentuk kelompok keroncong tugu yunior.

Dua anak Andre, Arend Stevanus dan Adrianus Justinus, dilibatkan dalam melestarikan keroncong tugu. Arend memainkan biola, sedangkan Adrianus memainkan pronga, rebana, dan jeembe (alat musik asal Brasil).

”Kalau mau melestarikan keroncong tugu, jangan mengandalkan orang lain. Kita tidak perlu mengeluh kalau banyak orang tak peduli terhadap budayanya sendiri,” kata Andre menirukan pesan ayahnya, Arend Julinse Michiels.

Sumber: Kompas, Rabu, 24 Juni 2009

Sunday, June 14, 2009

Musik: Band 'Indie' Pukau Penonton

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pergelaran musik Rakanila on Birth Day, Jumat (12-6) malam, luar biasa. Ratusan penonton turut bernyanyi ketika tiga band indie asal Lampung melantunkan tembang-tembang hits mereka yang dihadiri berbagai kalangan, dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat sekitar kampus hijau Universitas Lampung (Unila).

Aura dingin malam itu tak menyurutkan pecinta band lokal asal Lampung. Sekitar pukul 20.00, mereka mulai memenuhi lapangan di belakang Gedung Rektorat Unila. Seorang personel Radio Kampus Unila (Rakanila) tampil ke panggung. Dengan gaya percaya diri, Bemby memperkenalkan diri.

Band Sevent Sky, band rock asal Lampung, membuka pergelaran musik malam itu dengan tiga lagu cadas. Sayangnya, sebagian besar penonton masih berkerumun di sekitaran panggung, suasana belum memanas. Namun demikian, ketika para personel Sevent Sky meninggalkan panggung, tepuk tangan penonton tetap membahana.

Penampilan kedua adalah grup band yang personelnya adalah kru Rakanila sendiri. Mereka juga tampil penuh percaya diri. Lagu-lagu populer band Indonesia masa kini mereka bawakan. Upaya ini berhasil menarik sebagian penonton untuk berdiri lebih maju lagi di depan panggung.

Tetapi, ketika Bemby menyampaikan band yang akan tampil adalah Udara, penonton bergegas memadati bagian depan panggung. Band Udara tampil lengkap malam itu; Irul (vokal), Mbie (bas), Nanda (gitar), Septri (keyboard), dan Boy (drum). "Selamat ulang tahun Rakanila, kami senang bisa tampil malam ini, yang jelas faktanya saat ini Lampung adalah gudangnya musisi-musisi lokal," kata Irul.

Udara membawakan lagu hits mereka berjudul Bintang Jatuh. Suasana merinding mulai terasa tatkala ratus penonton ikut bernyanyi. Dukungan dari penonton membuat Irul, sang vokal, tampil makin on fire. Terlebih ketika ia melantunkan I'am Yourse milik Jason Mraz, lagu favorit kawula muda masa kini. Permainan gitar jazz Nanda serta lantunan vokal Irol akhirnya mampu mengajak penonton turut bergoyang.

Suara makin panas tatkala sang guess star naik ke atas panggung. Indra, vokalis Jendral, menyapa pengunjung dengan penuh semangat. "Sebuah anugerah rasanya, selang setahun akhirnya Jendral dapat kembali tampil dalam acara Rakanila, happy birth day Rakanila," teriak Indra di atas panggung.

Penampilan personel Jendral malam itu sangat energik. Indra (vokal), Angga (gitar), Ringga (drum), dan Bayu (keyboard), mereka beraksi penuh semangat. Lagu Mati Berdiri milik Jendral akhirnya menjadi lagu pamungkas menutup acara. n MG14/K-4

Sumber: Lampung Post, Minggu, 14 Juni 2009

Friday, June 12, 2009

Orkes PUisi Sampak Gusuran: Ketika Musik Menebar Kritik, Renungan, dan Kepedulian...

SELEPAS hujan, Bentara Budaya Jakarta, Kamis (11/6) malam, jadi hangat. Penampilan Orkes Puisi Sampak GusUran yang unik dan menarik tidak saja menghibur ratusan penonton yang memadati halaman BBJ, tetapi syair musik sarat kritik dan perenungan yang mereka lantunkan menghangatkan dan mencerahkan.

Penyair asal Pati, Jawa Tengah, Anis Sholeh Baasyin, dan Orkes Puisi Sampak GusUran menggelar konser Bersama Kita Gila di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (11/6). Musikal yang kental dengan aksentuasi etnik menonjolkan eksplorasi dan penguasaan alat setiap personel semakin menghidupkan keseluruhan pertunjukan yang dikemas dengan monolog dan pembacaan puisi. (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Ada baca puisi, ada lagu, ada monolog, ada teatrikal, ada fragmen main wayang, yang semuanya diramu dalam komposisi musik yang asyik, riang- gembira, menggetarkan, bahkan juga memilukan.

Orkes Puisi Sampak GusUran pimpinan Anis Sholeh Ba’asyin sepertinya menawarkan bentuk pergelaran seni yang bisa menjadi alternatif dari musikalisasi puisi.

”Untuk memberikan komposisi yang kental dengan aksentuasi etnik, kami banyak belajar dan mencari akar dari musik- musik Nusantara seperti Aceh, Minang, Melayu, Arabic, dan bahkan keroncong,” kata Anis seusai pertunjukan.

Beda dengan kelompok musik lain yang muncul semata- mata karena ingin menghibur, Orkes Puisi Sampak GusUran malah muncul sebagai ungkapan keprihatinan terhadap situasi aktual bangsa.

Simak lagu ”Pantun Jadi-jadian”. Anis mengkritik banyak hal, seperti soal pemimpin, soal demokrasi, soal bencana lumpur Lapindo, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi.

”Ini negeri aneh tapi nyata/penduduknya dua macam saja/Yang satu pontang panting cari kerja/Yang satunya usrek royokan jualan negara// ...Jadi pemimpin gampang saja/Syaratnya paling cuma dua /Punya Uang, itu langkah pertama/Yang kedua, malu tidak punya//.....”

Hampir semua syair yang dilantunkan berisikan ungkapan keprihatinan terhadap situasi aktual bangsa. Tampil sekitar 90 menit, Orkes Puisi yang tampil interaktif dan kadang menyatu dengan penonton membawakan syair ”Suluk Keseimbangan”, ”Suluk Zaman Akhir”, ”Suluk Bahasa Batu”, dan 10 suluk lainnya.

Setiap syair dibawakan dengan cara yang bervariasi. Ada irama rap digabung pop, atau Melayu- dangdut digabung rap, jazz, bahkan senandung lagu Jawa.

Masalah lingkungan juga banyak disorot yang membuat kita menjadi merenung, bahkan mendoakan agar Indonesia selamat.

Orkes Puisi GusUran sudah menelurkan satu CD bertajuk ”Bersama Kita Gila”. ”Untuk album kedua dalam persiapan. Masih menunggu pendanaan,” kata Anis yang malam itu didukung 18 musisi dengan beragam alat musik. (YURNALDI)

Sumber: Kompas, Jumat, 12 Juni 2009

Sunday, March 29, 2009

Puisi:Memasuki Dunia Sapardi

-- Ilham Khoiri

Kami pun setiap malam berada dalam ruangan itu: dia main piano dan aku mendengarkannya. Yang selalu dimainkannya adalah Fur Elise, salah satu mahakarya Beethoven yang selalu membuatku seperti mengambang dalam keheningan untuk kemudian lenyap menjelma butir-butir udara yang dihirup dan dihembuskannya... Kami tak pernah bersentuhan. Hanya kadang memandang, mungkin itu tanda bahwa kami saling mengajukan pertanyaan, atau saling menyodorkan jawaban...

Aktris Niniek L Karim dan gitaris Jubing Kristianto sedang membawakan cerita pendek karya Sapardi Djoko Damono di Newseum Kafe, Jalan Veteran, Jakarta, Jumat (27/3) malam. (KOMPAS/ILHAM KHOIRI)

Cerita sangat pendek berjudul Untuk Elisa karya penyair Sapardi Djoko Damono itu berdenyut-hidup dalam gaya monolog aktris Niniek L Karim. Sambil mengucapkan kata-kata lembut, sesekali perempuan awet muda itu berhenti sejenak, lalu menatap Jubing Kristianto. Gitaris itu sendiri tengah asyik memetik senar yang mendentingkan alunan nada Fur Elise: tung tang tung tang tung... ting ting tung tung... ting ting tung...

”Huh... Ingin sekali saya menjadi gadis itu,” ujar Niniek yang mengaku terhanyut dalam cerita pendek itu.

Begitulah salah satu pementasan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam pertunjukan ”Sihir Hujan” di Newseum, gedung tua di kawasan Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (27/3) malam. Tampil sebagai pengisi utama, duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang menampilkan musikalisasi puisi. Ada juga model Maudy Kusnaedi yang berdeklamasi, serta komunitas Soca asal Tasikmalaya dengan dua film pendek yang dibuat berdasar tafsir atas puisi Sapardi.

Sapardi juga tampil membaca dua puisi pendek. Pada pentas itu, penyair itu meluncurkan antologi puisi terbarunya, Kolam, dan revisi buku puisi Mantra Orang Jawa. Kedua buku itu dicetak terbatas.

Apa yang menarik dari pentas ”Sihir Hujan”? Terasa sekali, pentas itu semakin membuktikan, betapa fleksibelnya puisi-puisi Sapardi. Karya sastra itu terasa begitu kenyal dan terbuka sehingga bisa ditafsir untuk menjadi bermacam pertunjukan baru, seperti menjadi musik, film, atau dimainkan dalam monolog.

Dengar saja musikalisasi Ari-Reda yang terkenal sejak tahun 1990-an itu. Meski sebagian kita kerap mendengarnya, penampilan duet itu tetap saja menggugah. Lagu Hujan Bulan Juni, Gadis Kecil, Akulah Si Telaga, Di Restoran, atau Sihir Hujan seperti menyihir penonton yang memenuhi ruangan Newseum. Komposisi musik yang mengalun bersahaja, diksi puisi mengena, dan dentingan gitar Ari (kadang diiringi Jubing), semuanya bersinggungan untuk menciptakan suasana yang bikin dada terenyuh.

Peristiwa di atas panggung itu menarik penonton untuk masuk dalam dunia yang begitu romantis, sublim, dan intim: hujan, gerimis, gadis kecil, telaga, jembatan, kabut, gunung... Itulah dunia yang berjeda dari rutinitas sehari-hari, berjarak dari hiruk-pikuk kampanye partai politik, atau segenap krisis yang mendera negeri ini.

”Saya selalu terenyuh mendengar musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni. Saya hafal liriknya,” kata I Wibowo, pengamat budaya China dari Universitas Indonesia (UI), yang khusyuk menonton malam itu. Saat masih kuliah di London, dia mengaku kerap menyetel kaset Hujan Bulan Juni yang membuatnya rindu pada Tanah Air.

Terbuka

Kenapa puisi Sapardi cukup lentur untuk ditafsirkan menjadi musik, monolog, atau film?

”Puisi saya itu terbuka untuk interpretasi. Mau diapain saja bisa, dan hasilnya bisa bagus, malah kadang mengejutkan,” kata Sapardi.

Menurut guru besar dan mantan Dekan Fakultas Sastra UI itu, puisinya tidak menggunakan kata yang neko-neko, apalagi gagah-gagahan. Puisinya tidak menggurui dengan petuah-petuah, melainkan menciptakan dunia yang terbuka. ”Dengan begitu, semua orang bisa masuk dan menemukan dirinya sendiri.”

Pengamat sastra UI, Maman S Mahayana, menilai puisi Sapardi itu punya kesederhanaan bahasa sehingga hampir semua kalangan mudah mengikutinya. Namun, di balik diksi yang sangat terjaga itu tersimpan makna yang dalam. Pembaca bisa menikmati puisi itu, tetapi juga tak pernah selesai saat mencoba memahami maknanya.

Puisi-puisi penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940, itu punya citraan kuat sehingga berhasil menghadirkan suasana tertentu. Diksinya menciptakan rima seperti bebunyian lagu. Dengan tema sehari-hari yang akrab dengan banyak orang, siapa pun mudah tersentuh oleh puisinya.

”Dalam kesederhanaan, puisinya kaya tafsir. Itulah yang membuat puisi itu bisa melahirkan pentas baru, entah dalam bentuk lagu, musik, atau monolog,” kata Maman.

Bagi Jubing, kata-kata puisi Sapardi memang menciptakan ruang terbuka. Dalam ruang itu, dia leluasa menggali kekayaan petikan gitar untuk membuat iringan musikalisasi Ari-Reda. ”Kata-kata puisi itu menuntun irama, tetapi juga memberikan ruang kebebasan improvisasi,” katanya.

Terbatas

Sapardi mengaku, musikalisasi yang dilantunkan Ari-Reda telah membuat puisinya lebih populer bagi banyak kalangan. Apresiasi sastra pun makin luas. Soal hasilnya bagaimana, itu diserahkan pada tafsir masing-masing orang yang menggarapnya jadi pertunjukan lain.

Bicara soal hasil, komposer dan pengamat musik Franki Raden punya pendapat berbeda. Bagi dia, tak semua musikalisasi puisi Sapardi oleh Ari-Reda berhasil. Pada beberapa karya, memang lagu dan puisi muncul sama-sama kuat. Namun, beberapa karya lain justru membuat musik dan puisi malah hanya tampil setengah-setengah.

Dengan pendekatan terbatas, beberapa puisi yang berbeda digarap dengan musik serupa. Padahal, masing-masing puisi punya kekuatan bahasa, konteks, isi, dan pesan unik—yang semestinya menuntut eksplorasi musik lebih kompleks. ”Dengan pendekatan musik pop yang begitu-begitu saja untuk semua puisi, ruh puisi itu bisa hilang.”

Menurut etnomusikolog itu, sebenarnya musikalisasi puisi sudah mentradisi dalam sastra tutur di Nusantara. Tembang di Jawa, misalnya, adalah lagu yang dinyanyikan secara mocopatan tanpa iringan musik atau bisa dilantunkan sebagai lagu yang menyatu dengan gamelan. Hal serupa juga terjadi pada banyak sastra tutur di daerah lain.

”Tradisi kita punya sejarah musikalisasi puisi dengan pendekatan yang kaya dan berbeda-beda. Semestinya musikalisasi puisi sekarang juga ditangani dengan berbagai pendekatan lebih terbuka, tak hanya mengandalkan musik pop standar yang terbatas itu,” katanya.

Sumber: Kompas, Minggu, 29 Maret 2009

Sunday, March 15, 2009

Wacana: Membangun Gerakan Politik lewat Musik

-- Wakos R. Gautama*

MUSIK mempunyai peran begitu besar dalam kehidupan manusia. Lewat musik, manusia bisa mengaktualisasikan diri. Kita bisa tahu apa yang sedang dialami seseorang hanya lewat musik yang didengarnya; apakah ia sedang sedih, gembira, jatuh cinta atau sedang patah hati.

Ketika sedang patah hati, misalnya, seorang Slankers tidak akan bosan-bosannya mendengarkan lagu Anyer 10 Maret. Atau jika Anda seorang Baladewa yang sedang rindu dengan kekasih, maka lagu Kangen bisa Anda putar berulang-ulang di MP3 player Anda. Saat terjadi bencana tsunami di Aceh, Untuk Kita Renungkan atau Berita Kepada Kawan milik Ebiet G. Ade menjadi lagu wajib di televisi.

Yah, musik adalah gambaran hati seseorang. Anda tahu apa yang dilakukan seorang Iwan Fals ketika ia muak dengan kondisi negeri ini? Jawabannya adalah mencipta lagu. Maka tidak usah heran jika di era Orde Baru lagu-lagu ciptaannya penuh dengan nada kritik terhadap kondisi negeri ini. Bahkan ketika ia menemukan spiritualitas dalam dirinya, ia mengeluarkan album Suara Hati yang penuh renungan.

Musik memang mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat. Ia bisa menjadi api yang membakar jiwa yang lemah. Itulah mengapa para tentara setiap berolahraga lari mendendangkan mars kesatuannya. Berlari sambil menyanyi ternyata bisa menambah semangat mereka.

Tidak hanya menjadi api, musik juga bisa menjadi air yang memadamkan api amarah. Seorang teman pernah bercerita bahwa saat rumahnya akan digusur, ia berniat melawan. Tapi niatan itu buyar seketika saat ia teringat secuplik lirik lagu dari musisi favoritnya. Menurutnya lirik itu bercerita bahwa untuk bertahan hidup kita harus bisa bersikap lembut walau hati panas bahkan terbakar sekalipun.

Musik dan Politik

Sebegitu hebatnya peran musik dalam memengaruhi perilaku seseorang. Ia seperti mantra para dukun yang menyihir para korbannya hingga mengikuti apa kemauannya. Hal ini dibuktikan oleh Brian A. Primack, seorang asisten profesor kedokteran dan pediatri di Universitas Pittsburgh. Dalam penelitiannya tentang hubungan musik dan seks remaja, ia mengatakan, "Orang-orang yang terekspos pesan-pesan tertentu dalam musik lebih berkecendrungan meniru atau mencontoh apa yang mereka dengar." (Lampung Post, 26-2)

Dengan begitu, berarti musik pun bisa menjadi instrumen yang memengaruhi dalam dunia politik. Hal yang tidak mustahil karena dunia politik di Indonesia selalu bersentuhan dengan musik.

Sekarang saja kita lihat, dalam setiap ajang kampanye para politisi, tidak bisa dilepaskan dari yang namanya musik. Orasi politik dicampur dengan goyangan para biduanita sudah menjadi kebiasaan dalam setiap kampanye di negeri ini. Porsi musiknya pun lebih banyak ketimbang orasinya. Semua itu dilakukan untuk menarik massa. Maklum, masyarakat lebih tertarik dengan goyangan biduan daripada ocehan para politisi yang belum tentu kebenarannya.

Persentuhan antara musik dan politik yang terjadi di Indonesia ini sebenarnya hanyalah bentuk eksploitasi musik oleh para politisi. Musik hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat para politisi. Buktinya, sampai sekarang jarang para politisi di Senayan yang concern dengan yang namanya pembajakan. Para musisi kurang mendapat dukungan dari para pembuat kebijakan tentang masalah pembajakan yang merugikan para pekerja seni musik.

Hal ini harusnya menjadi acuan para pelaku musik Indonesia ketika akan memutuskan untuk terlibat dalam sebuah ajang kampanye walaupun posisi mereka di situ hanya sebagai penghibur. Jangan sampai mereka hanya dimanfaatkan oleh para politisi. Pelaku musik Indonesia harus mempunyai posisi tawar di hadapan para politisi.

Untuk itu para musisi jangan hanya memosisikan musik sebagai sebuah industri yang hanya dijadikan sebagai ajang pengumpul kapital. Musik, menurut Cak Nun, bisa hadir pada peta sejarah yang lebih luas. Tidak hanya sekedar "abdi dalem oceh-ocehan" tapi musik bisa mengambil posisi untuk menciptakan paradigma zaman (Rolling Stones, Februari 2009).

Artinya, di sini para musisi menurut wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, dituntut lebih berperan dan memberikan kontribusi kepada perjalanan sosial dan politik bangsa ini (Rolling Stones, Februari 2009). Menurutnya, saat ini belum ada musisi Indonesia yang mampu mengubah atau setidaknya memengaruhi lanskap politik nasional. Kalaupun ada sifatnya hanya sporadis dan ornamental.

Sebagaimana kita tahu, pengaruh musik terhadap perilaku seseorang itu sangat besar. Dan agar musik lebih berguna dalam kehidupan sosial masyarakat maka musisi dengan musik sebagai medianya diharapkan bisa memberikan pendidikan politik kepada para pendengarnya. Jangan hanya berisi tentang kesenduan cinta tapi juga menciptakan musik yang berisi tentang pendidikan politik seperti ajakan untuk tidak memilih politisi busuk.

Tentu hal ini harus diwujudkan dalam sebuah gerakan bersama. Pemilu tahun ini adalah momentum yang tepat untuk memulai sebuah gerakan politik yang digalang para musisi yang peduli terhadap keadaan negeri ini. Dan semoga pertemuan para musisi di Jalan Ampera Raya, Jakarta Timur bisa menjadi tonggak awal bagi terbentuknya gerakan ini.

* Wakos R. Gautama, aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Maret 2009

Friday, December 05, 2008

Tribute to Taufik Ismail: Tak Ada yang Abadi di Dunia

[JAKARTA] Tidak ada yang abadi, karena segala sesuatu yang ada di bumi akan berpulang kepada-Nya. Itulah seuntai pesan yang disampaikan Taufik Ismail dan Dwiki Darmawan dalam Konser Menembus Batas 3 (KMB 3) di Granada Ballroom, Menara 165, Jakarta, Kamis (4/12) malam. Konser yang kental dengan suasana religius ini menghadirkan lagu pujian akan kebesaran Tuhan.

Penyanyi rock, Ahmad Albar, tampil membawakan tembang "Panggung Sandiwara" karya Taufik Ismail saat acara "Konser Menembus Batas 3" bertajuk "Tribute to Taufik Ismail" di Jakarta, Kamis (4/12). (Abimanyu)

Pentas seni yang digelar untuk ketiga kalinya ini dipersembahkan khusus untuk menghargai karya-karya sastra Taufik Ismail. Tema yang diusung, yakni Tribute to Taufik Ismail. Persembahan pertama dibuka dengan lagu Pena dan Tinta. Artis cilik yang kini sudah menginjak remaja, Dhea Imut mendapat kesempatan menyanyikan lagu Pena dan Tinta. Malam itu, Dhea terlihat menawan dalam balutan baju muslim, lengkap dengan jilbabnya.

"Saya berharap, semua penonton di KMB 3 bisa menemukan hidayah lewat lagu ini. Saya pun merasa, karya sastra Taufik Ismail bisa menyadarkan manusia akan kebesaran Tuhan," ujar Dhea kepada SP usai KMB 3.

Tidak hanya Dhea Imut, tetapi juga beberapa penyanyi dari berbagai generasi juga ikut memeriahkan KMB 3. Sebut saja Krisdayanti, Ahmad Albar, Maliq and D'Essentials, Senada, Ita Purnamasari, dan Sam Bimbo. Tidak ketinggalan, sang empunya karya sastra pun ikut tampil di atas panggung. Taufik Ismail membawakan empat puisi yang menggugah hati para penonton. [EAS/F-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 5 Desember 2008

Thursday, December 04, 2008

Konser Menembus Batas 3: Taufik Ismail Terharu

[JAKARTA] Sebuah konser yang jauh dari segi komersial, namun kaya nilai seni dan artistik kembali digelar. Konser Menembus Batas 3 (KMB 3), sebuah perhelatan yang mengolaborasikan karya sastra dan musik akan berlangsung di Granada Ballroom, Menara 165, Jakarta, pada Kamis (5/12), pukul 20.00 WIB.

Taufik Ismail (Abimanyu)

Konser Menembus Batas 3, yang dimeriahkan sejumlah artis Indonesia mengambil tema Tribute to Taufik Ismail. Konser yang kental dengan nuansa religius ini menjadi sebuah penghargaan, atas 55 tahun karya seni sastra Taufik Ismail. Komposer sekaligus penggagas konser, Dwiki Darmawan menuturkan, karya-karya Taufik Ismail adalah sebuah karya yang tinggi nilai seninya. Karya sastra Taufik Ismail tidak sama dengan karya seni musisi zaman sekarang, yang jauh dari kualitas.

"Industri musik memang tengah berkembang. Sayang, di tengah perkembangan tersebut kualitas seni mulai ditinggalkan. Alunan musik yang bagus dan indah tidak diikuti dengan lirik yang membangun. Walhasil, karya seni hanya dinilai dari sudut komersial," ujar Dwiki saat ditemui di sela-sela persiapan konser, di Jakarta, Rabu (3/12).

Pada KMB 3, sederet nama artis papan atas dan artis muda ikut memeriahkan konser yang sarat dengan pesan moral. Sebut saja Sam Bimbo, Ahmad Albar, Krisdayanti, Maliq and D'Essential, Ita Purnamasari, dan Dhea Imut, akan tam- pil membawakan karya sastra Taufik Ismail dan Dwiki Darmawan. Istimewanya, pada KMB 3 ini lebih banyak ditampilkan karya-karya sastra yang baru dan kental dengan muatan spiritual.

"Untuk ketiga kalinya saya menggelar KMB dan kerap menyajikan sesuatu yang spesial. Kali ini, saya mengajak musisi muda yang peduli dengan karya sastra. Sebab, musik tidak hanya dinilai dari nadanya saja, tetapi dari lirik yang memberi hidayah pada pendengarnya," ujar Dwiki.

Pada konser ini, Dwiki dan Taufik Ismail akan menampilkan lima lagu baru. Kolaborasi Dwiki dan Taufik menghasilkan lagu-lagu yang berlirik puitis. Lima karya baru tersebut yakni, Dunia Damai yang dinyanyikan Maliq and D' Essential, Pena dan Tinta dinyanyikan Dhea Imut, Dzikir Tak Putus Putusnya oleh Krisdayanti, Undangan Tuhan, dan Jalan menuju Surga.

Tidak hanya memberi kejutan lewat kolaborasi karya sastra, KMB 3 juga menghadirkan legendaris Ahmad Albar sebagai gong terakhir. Rencananya, vokalis God Bless ini akan menyanyikan lagu Panggung Sandiwara, ciptaan Taufik Ismail.

Terharu

Kehadiran KMB 3 juga membuat sastrawan Taufik Ismail terharu. Ia merasa dihargai selayaknya seorang seniman. Penghargaan tersebut sangat istimewa. Terlebih lagi, penghargaan diberikan saat ia masih hidup. Jadi, ia bisa menyaksikan langsung bentuk penghargaan yang diberikan Dwiki dan teman-temannya.

"Kebiasaan di negara ini, penghargaan diberikan setelah orang tersebut meninggal dunia. Penghargaan diberikan berbentuk sertifikat. Untungnya, saya mendapat penghargaan yang beda dari Dwiki. Rasanya luar biasa sekali," kata Taufik Ismail yang juga datang dalam latihan KMB 3.

Pada konser ini, Dwiki juga menggandeng musisi baru, yakni Maliq and D'Essentials dan Dhea Imut. Bagi Maliq and D'Essentials, menyanyikan lagu religius adalah pengalaman pertama mereka. Selama ini, kelompok musik yang dikenal beraliran soulful dan jazz, hanya membawakan lagu bertema cinta. Namun, pada KMB 3 Maliq and D'Essentials mendapat jatah dua lagu religius. Mereka akan menyanyikan lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara serta Dunia Damai.

"Awalnya kami sempat canggung saat mendapat tawaran dari Dwiki. Tapi ketika mendengar tujuan dan membaca hasil karya Taufik Ismail, kami justru berbalik tertarik," ujar Angga personel dari Maliq D'Essential.

Sebelumnya, KMB 1 dan 2 telah sukses digelar pada 2006 dan 2007 lalu. Konser Menembus Batas pertama hadir di Jakarta Convention Center (JCC), sementara KMB 2 diselenggarakan di Bandung. Ditambahkan Dwiki, antusias penonton KMB setiap tahun bertambah. Pada 2006 lalu, KMB menarik 3.000 penonton. Pada KMB 2 jumlah penonton bertambah menjadi sekitar 3.500 orang. [EAS/F-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 4 Desember 2008

Saturday, July 26, 2008

Seni: "Perlawanan" Perempuan

KETIKA seni, seperti disebut Marcus dan Myers (1991), dipahami sebagai ruang tempat keragaman, identitas, dan nilai budaya diproduksi dan dipertentangkan, demikian pula halnya dengan kliningan jaipongan. Para sinden penari (sinden ronggeng) dalam kliningan jaipongan di Subang, seperti juga gandrung di Jawa Timur, ronggeng, ledek, tandak, atau cokek di Betawi, keberadaannya dalam seni pertunjukan tradisional senantiasa dihubungkan dengan tokoh wanita yang punya peranan seks.

Tak hanya itu, sinden penari pun berada dalam asumsi yang buruk, yakni perusak rumah tangga. Tak sedikit bajidor yang tergila-gila sehingga membuat anak-istrinya telantar. Namun, di lain sisi, sinden penari adalah roh yang membuat kliningan jaipongan tetap bertahan sebagai seni pertunjukan tradisional yang menjadi bagian penting dari denyut masyarakatnya. Dan di sudut inilah peran dan keberadaan sinden penari senantiasa dipertentangkan. Ia dibutuhkan masyarakatnya sekaligus dicap bukan sebagai perempuan baik-baik.

Lepas dari pertentangan itu, sesungguhnya keberadaan sinden penari dalam kliningan jaipongan juga tak bisa disendirikan dari upaya perempuan dalam mengartikulasikan dirinya di tengah hegemoni lelaki. Bahkan, seperti termaktub dalam banyak penelitian, menjadi sinden penari dengan penguasaan pada akses ekonomi, telah menumbuhkan kemandirian mereka sebagai perempuan di hadapan dominasi lelaki. Kemandirian yang pada akhirnya menjadikan mereka memiliki keberanian untuk menentukan dirinya sebagai aku subjek, baik sebagai perempuan di wilayah domestik maupun sebagai sinden penari di ranah publik.

Dalam tesis penelitiannya, Guru Besar STSI Bandung Prof. Dr. Endang Caturwati mengungkapkan bagaimana pasar telah mengooptasi seni pertunjukan kliningan jaipongan. Kesadaran kultural telah bergeser menjadi sarana atau alat untuk mengeruk uang sesuai dengan keinginan pasar atau komoditas. Perempuan sinden penari atau sinden penyanyi sadar benar dengan modal yang dimiliki pada dirinya, serta kemampuannya yang punya nilai jual. Mereka mulai berani mengubah nilai, melangkah, memimpin, mengelola, serta membawahi tidak saja perempuan sinden penari, tetapi juga nayaga, serta pendukung lain seperti para pekerja artistik yang umumnya lelaki.

"Pada awalnya mereka berada dalam posisi yang dieksploitasi oleh para lelaki yang jadi pimpinan grup kliningan jaipongan. Mereka dibayar dengan honor yang sedikit, belum lagi eksploitasi yang dilakukan oleh suami. Lalu semuanya bergeser pada kesadaran bahwa sebagai perempuan mereka bisa menjadi sosok yang mandiri, terlebih lagi setelah mereka sadar bahwa mereka bisa menguasai akses ekonomi. Figur seperti Cicih Cangkurileung dan Titin Fatimah menjadi inspirasi mereka," tutur Endang Caturwati.

Dalam penelitiannya secara kuantitas, grup-grup kliningan jaipongan yang dipimpin perempuan makin lama makin meningkat. Sejak 1990-an hingga 2003 grup kliningan jaipongan yang dipimpin perempuan terus bermunculan, bahkan popularitasnya mengalahkan grup kliningan jaipongan yang dipimpin lelaki.

Dalam ruang yang lain, kemandirian ini pula yang menyebabkan sebagai perempuan, sinden penari, leluasa menentukan pilihannya di hadapan suami. Terlebih ketika suami ternyata hanya menjadi benalu. Akses ekonomi dan kesadaran bahwa ia bisa "menaklukkan" para bajidor terlebih yang memujanya, membuat sinden penari memiliki kesadaran pada eksistensinya sebagai aku subjek di hadapan dominasi suami.

"Karena itulah ketimbang direcoki oleh suami yang hanya jadi benalu, pencemburu, dan tidak mau tahu dunianya, para sinden banyak yang memilih bercerai," tambah Endang Caturwati.

Tekad para sinden penari kliningan jaipongan umumnya adalah, urang aya, urang bisa, urang prak (kita ada, kita mampu, mari kita kerjakan). Mengutip Dorothy W. Cantor dan Toni Bernay, Endang Caturwati memandang keadaan tersebut membawa perempuan ke dalam arti dan makna kekuasaan untuk menggunakannya pada saat yang tepat.

**

DENGAN akses ekonomi yang kini mereka kuasai, sinden penari dan sinden penyanyi telah mengubah posisi mereka yang semula hanya pelengkap yang cenderung disubordinasi oleh kuasa lelaki. Lantas apakah perubahan semacam ini bisa dihampiri lewat semangat "perlawanan" gender dalam konteks feminisme?

Dalam penelitiannya, "Sinden Kebupaten Subang Suatu Kajian Perjalanan Ulak-alik" (Program Kajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta), Nanu Munajat memandang yang berlangsung tidaklah sejauh itu. Artinya, apa yang terjadi tidaklah berangkat dari apa yang selama ini digembor-gemborkan dengan permasalahan gender atau feminisme. Semuanya berawal dari kenyataan yang sederhana. "Mereka menjadi sinden ronggeng atau sinden penyanyi hanya ingin memperbaiki nasib, ketimbang bekerja di sawah atau jadi buruh pabrik, apalagi pendidikan mereka yang rendah," ujar Nanu Munajat.

Senada dengan Endang Caturwati, Nanu Munajat melihat bahwa yang kini terjadi adalah kemampuan para sinden penari dan sinden penyanyi melakukan perubahan setelah sebelumnya mereka hanya melulu menjadi subordinat dalam seni pertunjukan kliningan jaipongan. Sebagai sinden ronggeng atau sinden penyanyi kini akses ekonomi mereka kuasai. Baik sebagai pimpinan/pemilik grup kliningan jaipongan atau sebagai sinden yang menjadi idola para bajidor. Dan inilah yang menimbulkan kesadaran pada kemandirian yang membuat mereka memiliki daya tawar (bargaining) di hadapan hegemoni dan dominasi lelaki.

Akhirnya, seperti disebut Marcus dan Myers di muka, kliningan jaipongan dan posisi sinden penari (ronggeng) atau sinden penyanyi adalah ruang yang menjadi tempat nilai-nilai budaya diproduksi dan dipertentangkan. Dalam konteks ini nilai budaya yang diproduksi dan dipertentangkan menekan pada nilai budaya patriarkat di tengah pertentangan perempuan yang menghendaki dirinya sebagai aku subjek. (Ahda Imran)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Juli 2008

Interaksi Simbolik Sinden dan Bajidor

-- Bucky Wikagoe*

KLININGAN Bajidoran adalah bentuk kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Barat, khususnya di daerah Subang dan Karawang. Musik pengiringnya adalah seperangkat gamelan yang pada umumnya menggunakan laras salendro, sering dipentaskan oleh penyelenggara atau biasa disebut pamangku hajat, mengiringi pesta syukuran inisiasi (kelahiran bayi, khitanan, perkawinan), atau acara syukuran lainnya yang berkaitan dengan upacara-upacara ritual (hajat bumi, panen, menyambut datangnya hujan, bersih desa, dan lain-lain).

Daya tarik kesenian ini ada pada sosok sinden atau ronggeng yang digandrungi oleh para bajidor; istilah bagi orang yang gemar menari atau ngibing di pakalangan (arena pertunjukan), memesan lagu, serta memberi uang saweran. Oleh karena itu, keseniannya pun diberi nama Kliningan Bajidoran atau Bajidoran saja; sedangkan kata kerjanya menjadi ngabajidor.

Kata bajidor itu, terutama di daerah Subang, secara sinis populer dengan akronim dari barisan jiwa doraka (barisan jiwa durhaka), menunjuk pada perilaku para penggemar Kliningan Bajidoran yang cenderung menghalalkan segala cara di arena pertunjukan, mulai dari menghamburkan uang saweran, menenggak minuman keras, hingga merayu serta mengekspresikan hasrat seksual kepada sinden atau ronggeng. Konon, istilah bajidor datang dari H. Hilman (alm), mantan Lurah Pagaden, yang pada zamannya terkenal sebagai penggemar fanatik Kliningan Bajidoran dan kemudian mempersunting sinden kenamaan pada zamannya, Cucun Cunayah. Akronim bajidor yang lain dan tak kalah sinisnya adalah abah haji ngador (abah haji keluyuran), karena banyaknya bajidor yang bergelar haji. Sedangkan menurut tokoh rekaman lagu Sunda, Tan Deseng, bajidor itu akronim dari beberapa kesenian rakyat, yaitu banjet, tanji, dan bodor.

Dalam praktiknya, sinden atau ronggeng sangat piawai menggoda dan merayu bajidor agar mau menghamburkan uangnya. Mereka akan merayu dengan cara menyebut-nyebut nama bajidor di sela-sela alunan lagu yang didendangkannya, atau merayu dengan bahasa tubuhnya yang diekspresikan melalui gerakan-gerakan tarian, senyuman, tatapan mata, sentuhan tangan, serta perilaku-perilaku lainnya. Melalui cara-cara itulah seorang bajidor akan terus melakukan saweran hingga uangnya terkuras habis.

Intensitas hadir di panggung pertunjukan dan memberi uang saweran, telah menciptakan pola interaksi yang khas antara bajidor dengan sinden atau ronggeng. Biasanya, bajidor akan memberi uang saweran dengan berbagai motivasi, mulai dari motivasi harga diri karena namanya disebut-sebut oleh sinden, ingin dipandang mampu secara ekonomi, ingin mendapat pujian, hingga orientasi hasrat seksual dan menguasai sinden atau ronggeng. Pada taraf ini, bajidor datang ke arena pertunjukan Kliningan Bajidoran karena ditopang oleh kesetiaan kepada sinden atau ronggeng idolanya yang dalam istilah mereka disebut "langganan". Inilah yang melandasi adanya hubungan yang lebih jauh di antara mereka, dan pada akhirnya tidak sedikit bajidor yang tergila-gila kemudian menikah dengan sinden atau ronggeng, bahkan bisa sampai melupakan anak dan istrinya.

Memerhatikan bagaimana seorang bajidor melakukan saweran kepada sinden yang dipilih melebihi sekadar memberikan lembar demi lembar uang ribuan, ekspresi di wajahnya memancarkan gelombang birahi dan kerinduan yang sangat dalam kepada sinden pujaan. Sementara itu, sang sinden pun membalasnya dengan senyum dan tatapan yang dimaknai secara liar oleh sang bajidor, sehingga menstimulasinya untuk terus merogoh isi kantung. Saweran adalah interaksi sinden atau ronggeng dengan bajidor yang memiliki simbol-simbol makna tertentu yang menunjukkan tingkat kedalaman hubungan antara sinden/ronggeng dengan bajidor.

Eksistensi Kliningan Bajidoran itu sendiri disangga oleh tiga kelompok sosial pendukung, yaitu sinden/ronggeng yang menjadi daya pikat pertunjukan; bajidor sebagai penonton yang akan memberi uang saweran, dan pamangku hajat sebagai penyelenggara pertunjukan yang menfasilitasi adanya interaksi antara sinden/ronggeng dengan bajidor.

**

SECARA umum, seorang sinden di daerah Jawa Barat memiliki julukan atau sandi asma yang dikaitkan dengan warna suara, gerakan, dan postur tubuh, menggunakan nama burung atau hewan lainnya, atau nama-nama benda yang dianggap pas dengan karakternya, seperti Cicih "Cangkurileung", Cicih "Saeran", Aan "Japati", Aan "Poksay", Mamah "Jalak", Mamah "Oon" alias Si "Garuda Ngupluk", Si "Srigunting", Kokom "Walet", Si "Toed", hingga Aan "Manyar".

Sedangkan julukan untuk ronggeng atau penari sering dihubungkan dengan benda-benda atau binatang yang sesuai dengan kepiawaiannya dalam gerakan tarian khasnya, seperti Cucu "Geboy" (ngageboy biasanya ditujukan kepada gerakan atau liukan ikan berekor panjang yang biasa disebut lauk kumpay), atau sinden yang juga pandai menari (sinden ronggeng), Ipah "Gebot" (karena gerakan bagian pinggul atau pantatnya sangat bertenaga). Kemudian, ada julukan Si "Binter" dan Si "GL" (karena bentuk tubuhnya diibaratkan body sepeda motor seri Binter dan GL), Nining "Paser" (sejenis panah), Euis "Oray" (karena liukan tubuhnya menyerupai oray atau ular), Si "Jepret" (ngajepret adalah istilah suara yang dihasilkan dari karet yang ditarik lalu dilepaskan secara tiba-tiba), Aan "Si Baranyay" (karena kecantikannya bagaikan sinar yang menyilaukan), Euis "Dolar", Yayah "Leunyay", hingga Si "Cabe Rawit".

Di Tasikmalaya ada sinden terkenal dengan julukan Si "Mata Roda" karena ketika sedang menari dan menyanyi bola matanya sering berputar-putar seperti roda. Di Karawang ada Kokom "Dongkrak" (gerakan pinggulnya seperti dongkrak mobil), Si "Molen" (gerakannya seperti mesin pengaduk semen), dan Oyah "Undur-undur" (karena gerakan mundurnya sangat khas seperti undur-undur, binatang kecil di tanah yang jalannya mundur).

Ada banyak cara yang dilakukan sinden atau ronggeng agar disukai oleh bajidor, mulai dari merawat diri secara tradisional, hingga ke cara perawatan lebih modern, seperti penggunaan krim pemutih, creambath hingga luluran di salon, fitness, hingga melakukan suntik silikon di bagian tertentu wajahnya, terutama hidung, dagu, dan bibir. Meski demikian, pengolahan daya tarik sinden atau ronggeng juga masih banyak dilakukan dengan cara-cara gaib yang mengandalkan kekuatan supranatural, seperti melakukan puasa, mutih (tidak makan garam), membaca mantera-mantera, hingga memasang susuk.

Kekuatan supranatural yang ada pada diri sinden, akhirnya akan benar-benar teruji di panggung pertunjukan. Percaya atau tidak, pada kenyataannya banyak bajidor yang keranjingan mendatangi arena pertunjukan Kliningan Bajidoran dan tergila-gila kepada sinden atau ronggeng.

Interaksi di antara sinden dan bajidor itu sendiri dibangun melalui tahapan simbol-simbol jaban, egot, dan ceblokan. Jaban adalah memberi uang saweran dalam rangka penjajagan; Egot memberi uang saweran tetapi sudah mengandung unsur ketertarikan bajidor kepada sinden atau ronggeng terpilih, kemudian dalam interaksinya mulai menunjukkan kerja sama, seperti saling memegang dan meremas tangan, saling tersenyum dan menatap; Ceblokan memberi uang saweran secara tetap kepada satu orang sinden atau ronggeng karena telah terjalin hubungan langganan atau kesepakatan dan tidak boleh diganggu oleh bajidor lain.

Hal ini telah menjadi konvensi di antara para pelaku Kliningan Bajidoran, dan apabila dilanggar bisa menimbulkan keributan seperti yang pernah diberitakan Pikiran Rakyat (12 Juni 2008). Gara-gara tak tahan melihat kekasihnya yang berprofesi sebagai sinden disawer orang lain, Pan, Kepala Desa Serang, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, harus berurusan dengan pihak berwajib karena memukul Kamaludin, Kepala Desa Tanjungsari, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, yang menyawer kekasihnya.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pertama, Kliningan Bajidoran telah mengalami pergeseran fungsi dari sakral ke profan atau dari alat ritual ke alat hiburan serta alat peningkatan ekonomi, disangga oleh berbagai sistem yang memberi dukungan terhadap eksistensinya, yaitu sistem sosial, sistem adaptasi, sistem kebutuhan, dan sistem perilaku. Kedua, eksistensi Kliningan Bajidoran disangga oleh adanya hubungan peran pamangku hajat, sinden, dan bajidor, yang membentuk struktur ketergantungan atau simbiosis mutualistis. Tanpa kehadiran salah satunya akan menjadi hambatan terhadap keberlangsungan Kliningan Bajidoran.

Ketiga, interaksi sinden dengan bajidor yang terjadi wilayah panggung depan (front region) memiliki tahapan interaksi simbolik jaban (penjajagan), egot (kerja sama), dan ceblokan (kesepakatan); sedangkan di wilayah back stage sebagai kehidupan yang sesungguhnya, menindaklanjuti tahap interaksi ceblokan, bajidor memberikan uang saweran kepada sinden dengan cara lain, seperti memberi uang untuk membangun rumah atau ngarangkai, memberi biaya hidup sinden sebagai istri muda atau wanita simpanan, membiayai sinden melanjutkan sekolah, hingga memberi modal usaha.***

* Bucky Wikagoe, Ketua Sekolah Tinggi Musik Bandung

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Juli 2008

Saturday, June 28, 2008

Mengemas Ulang Pesan Moral Lagu Daerah

[JAKARTA] Lagu daerah anak mengandung banyak nasihat, pantun dan sindiran lucu. Meskipun kerap terlupakan, lagu-lagu itu memiliki pesan moral yang baik mengenai pedoman hidup. Sebut saja, lagu Tokecang yang berpesan agar anak-anak tidak membuang-membuang makanan.

Paduan Suara Anak Indonesia (Repro)

Lagu daerah yang berasal dari Jawa Barat yang sudah familiar ini, menjadi hits andalan dalam album Lagu Daerah Anak-Anak Nusantara yang diluncurkan PT Gema Nada Pertiwi (GNP) pada Rabu (25/6) di Jakarta. Pembuatan album ini melibatkan enam artis cilik GNP yang memenangi perlombaan yang diselenggarakan GNP pada tahun 2007. Selain itu, pemain biola cilik Clarissa Tamara dan musisi Batak Tarzan Simamora terlibat dalam album ini.

Maman Piul, seorang pemusik dan arranger album ini mengatakan, sekitar 20 lagu daerah dan nasional ditampilkan dalam album ini. Sekitar 60 persen lagu daerah lebih mendominasi daripada lagu nasional.

Maman yang juga pernah menggarap album milik Iwan Fals mengungkapkan, lagu daerah penuh dengan petuah dan nilai filosofi yang berguna tentang pandangan hidup dan fenomenanya. Dipilihnya lagu Tokecang sebagai menu utama dalam album ini Tokecang adalah lagu daerah yang sudah nasional, siapa pun tahu lagu ini, mulai dari orang dewasa sampai dengan anak kecil.

Selain itu, lagu ini juga memuat sebuah pesan yang sangat berarti, yaitu tentang orang yang suka makan banyak sampai melampaui batas. Hal ini mengatakan bahwa tidak baik untuk menjadi serakah, makan banyak merepresentasikan orang yang rakus dan hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada sekitarnya.

Maksud tersirat dalam lagu ini, bahwa sebaiknya manusia hidup untuk saling berbagi karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa terlepas dari lingkungannya.

Selain Tokecang, lagu asal tanah Betawi Ondel-Ondel juga menjadi jawara dalam album ini.

Dalam lirik ini, diceritakan bahwa boneka ondel-ondel dapat menari jingkrak-jingkrak dan hal ini dapat mengundang gelak tawa siapa saja, khususnya anak-anak. Kehadiran ondel-ondel diharapkan agar si pengantin sunat dapat melupakan kesakitannya. Kepedulian terhadap teman menjadi nilai yang esensial sebagai pesan moral dalam lagu ini selain fungsi utama ondel-ondel sebagai leluhur yang melindungi anak cucunya.

Maman mengatakan, keberadaan lagu tidak terlepas dari konteks budaya. Kedatangan Tionghoa dan bangsa Arab di Batavia dalam melakukan perdagangan di jalur sutera, termasuk di tanah Batavia. Konon, masyarakat Betawi merupakan keturunan dari percampuran Tiongkok dan Arab. Karena itu, dalam lagu pun Betawi masih terkait erat pada nuansa Mandarin.

Itulah sebabnya, musik disebut bagian dari peradaban. Lagu anak-anak tradisional mulai kehilangan pamor. Hal inilah yang dikhawatirkan Maman sebagai musisi yang peduli terhadap lagu-lagu Tanah Air.

"Banyak anak-anak sekarang lebih hafal menyanyikan lagu-lagu remaja yang topiknya seputar kisah percintaan. Anak-anak itu belum cukup umur untuk menyanyikannya. Kemunculan band-band remaja yang marak di pertelevisian Tanah Air membuat anak-anak lebih suka menyanyikan lagu-lagu yang lebih modern," tuturnya. [DGT/U-5]

Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 28 Juni 2008

Tuesday, May 27, 2008

Lagu Daerah Kurang Populer di Kalangan Anak

[JAKARTA] Popularitas lagu daerah di kalangan anak-anak semakin menurun seiring pesatnya pertumbuhan band-band anak muda bergenre pop.

Di kalangan anak-anak, lagu-lagu daerah semakin kalah publikasi dibandingkan lagu-lagu pop. Padahal, lagu-lagu daerah menyimpan kekayaan budaya bangsa yang sepatutnya dikenal generasi penerus bangsa.

"Anak-anak sudah tidak tahu lagu daerah, pas audisi bahkan lagu Garuda Pancasila ada yang salah nyanyi, syairnya jadi selama 'ayah masih dikandung badan'," ujar Pemimpin Gema Nada Pertiwi (GNP) Hendramin Susilo saat proses rekaman album daerah anak-anak di studio GNP, Senin (26/5).

Minimnya perbendaharaan lagu daerah, kata Hendramin, menyebabkan anak-anak sulit mengenal jenis lagu itu.

Menurutnya, sejumlah audisi menyanyi anak-anak hanya memperkenalkan lagu pop anak muda yang sedang berkembang. Kondisi itu, tambahnya, menyebabkan berkurangnya pengetahuan anak-anak tentang lagu daerah.

"Kondisi ini menyedihkan sekali, kita mengalami kemunduran," tandas Hendramin.

Senada dengan itu, penata musik Maman Piul yang juga ditemui di studio GNP mengungkapkan, kesempatan untuk menggarap lagu-lagu daerah semakin sempit.

Saat ini anak-anak lebih menyukai kelompok musik atau penyanyi pop yang sedang naik daun. Akibatnya, para produser rekaman umumnya enggan membiayai album bertema lagu-lagu daerah untuk anak-anak.

"Sebenarnya membuat lagu anak-anak itu mudah, tapi yang sekarang saya lihat dari segi komersial, dari segi pendistribusiannya, itu memang anak-anak kavelingnya sudah kurang," tutur Maman yang juga terlibat sebagai penata musik acara komedi situasi Republik Mimpi.

Maman mengungkapkan lagu anak-anak sebenarnya bisa pula dibuat sesuai aransemen yang digemari anak-anak saat ini. Beberapa artis cilik, ungkapnya, sudah melakukan pembaruan dalam bermusik.

Musik anak-anak, ujarnya, bisa dimainkan secara orkestra atau dengan perpaduan unsur lainnya, Menurutnya, kompromi itu adalah jalan tengah agar anak-anak mau mengapresiasi lagu-lagu daerah.

"Kalau lagu anak-anak di musik itu chordnya satu, dua, tiga, empat, sederhana sekali. Tapi begitu Sherina masuk, itu sudah mulai ada chord progresif, misalnya di C, tapi kalau di Sherina itu ada C mayor tujuh, C mayor enam," tambah Maman.

Maman mengatakan aransemen lagu daerah tetap berbeda dengan lagu pop. Sebuah lagu daerah harus tetap mengandung keaslian musik daerah yang bersangkutan.

"Bas dan gitar dimasukkan juga supaya nuansanya kami ambil. Jadi bukan permainannya, tapi soundnya disesuaikan dengan sound sekarang," lanjut Maman.

20 Lagu Daerah

Di tengah minimnya minat terhadap lagu-lagu daerah, perusahaan musik GNP akan merilis album anak-anak yang berisi 20 lagu daerah.

Album yang direncanakan keluar bulan Juni 2008 ini merupakan proyek pertama GNP untuk album daerah anak-anak. Sebelumnya, GNP telah menelurkan 13 album daerah untuk masyarakat umum.

Penyanyi cilik yang terlibat dalam album ini dipilih berdasarkan hasil seleksi GNP. Kali ini, ada enam penyanyi cilik yang terlibat dalam album ini. Mereka akan menyanyikan lagu-lagu daerah yang umum didengar masyarakat, seperti O Tano Batak, Apuse, Bungong Jeumpa, Ondel-ondel, dan O Ina Ni Keke.

Semua lagu akan digarap dengan aransemen khas setiap daerah. Beberapa lagu daerah akan diiringi dengan alat musik khas dari daerah yang bersangkutan. [NCW/U-5]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 27 Mei 2008

Saturday, May 17, 2008

Bob Dylan: Peraih Pulitzer yang Berserah pada Kekuatan Lirik

ROBERT Allen Zimmerman (67) pada masa mudanya mungkin tidak akan pernah berpikir namanya akan sebesar sekarang. Selama lima dasawarsa mendedikasikan hidupnya untuk lirik dan musik, membuat pria kelahiran 24 Mei 1941 di Duluth, Minnesota, AS ini tersohor hingga sekarang. Bahkan mungkin ketika kematian telah menyapanya, Bob Dylan, demikian dunia mengenalnya, bisa jadi akan semakin dikenang.

Lewat kekuatan lirik-lirik lagunya, Dylan telah memberikan banyak warna pada perjalanan industri musik dunia. Seratus juta keping album bahkan telah ia jual ke seluruh dunia lewat kepiawaianya merangkai kata dan nada. Lewat lirik, kibor, harmonika, dan gitar bolongnya, ia menyapa pendengarnya lewat 44 album.
Albumnya terkini, Modern Times (2006) yang antara lain merangkum tembang “Thunder on the Mountains”, “Spirit of the Water”, “Workingman’s Blues”, dan “When the Deal Goes Down” masih mengukuhkan kekuatan liriknya.

Tidak berlebihan bila seniman yang dikenal luas sebagai lirisis, pencipta lagu, musisi, penyair, mantan DJ, dan sebagian orang menganggapnya filsuf ini dianugerahi sebuah penghargaan bergengsi, yakni Pulitzer Prize 2008 beberapa waktu lalu.

Penghargaan yang lazimnya diberikan untuk kerja jurnalistik tersebut merupakan penganugerahan pertama yang diberikan kepada seorang seniman nyanyi. Hingga saat ini Dylan adalah satu-satunya seniman yang diberi kehormatan menerimanya.

Pulitzer Prize Special Citation diberikan kepadanya karena karya-karyanya memberi pengaruh yang luar biasa terhadap musik pop dan budaya Amerika berkat komposisi lirik yang menawan dan kekuatan puitis yang luar biasa.

Tinjauan Filosofis

Kekuatan itu sudah dia tunjukkan jauh-jauh hari di awal kemunculan kariernya pada era 60-an. Tembangnya seperti “Blowin’ in the Wind” dan “The Times They Are Changin’” menjadi lagu kebangsaan antiperang dan pergerakan menuntut hak-hak rakyat kebanyakan.

Lirik yang kuat sekaligus puitis Dylan galibnya berkisah tentang karut marut keadaan politik dan sosial dengan tinjauan yang sangat filosofis. Dengan sentuhan yang sastrawi pula, lirik-lirik itu menjadi mudah dan menancap dalam di benak pencintanya.

Lagu-lagunya mengacu pada genre musik-musik Amerika asli seperti folk, country, blues, gospel, rock n’ roll, dan rockabilly, hingga pengaruh musik-musik dari Inggris, Scotlandia, dan Irlandia.

Dari ketekunannya merangkai kedalaman makna kata dan membesut nada itulah penghargaan bergengsi lainnya seperti Grammy Awards, Golden Globe, dan Academy Awards, Rock and Roll Hall of Fame, Nashville Songwriters Hall of Fame, dan Songwriters Hall of Fame disematkan padanya.

Pada tahun 1999, Dylan dimasukkan oleh majalah Time dalam “100 Most Influential People of the 20th Century”. Lima tahun berselang dia menduduki ranking dua di majalah Rolling Stone sebagai “Greatest Artists of All Time”. Posisi satunya ditempati The Beatles. Itu di luar puluhan penghargaan lain dari beberapa negara yang mengapresiasi totalitasnya berserah pada kekuatan lirik yang puitis.
Seperti penghargaan Commandeur des Arts et des Lettres oleh Menteri Budaya Prancis Jack Lang (1999), The Polar Music Prize oleh The Royal Swedish Academy of Music (2000), dan The Prince of Asturias Award in Arts (2007).

Sebagaimana prosais terkemuka Indonesia, mendiang Pramudya Ananta Toer, Dylan beberapa kali dinominasikan meraih Hadiah Nobel untuk karya sastra.
Apa yang paling mempengaruhi Dylan dalam menghasilkan lirik yang puitis? “Hati dan pikiran yang bersih serta kepekaan yang terjaga,” katanya pada suatu saat.

Bagaimana menjaga dan melestarikan kepekaan di tengah keadaan dunia yang amburadul? “Rajin membaca. Membaca apa saja dan yang paling penting membaca kehidupan,” imbuhnya (Benny Benke-45)

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 17 Mei 2008

Wednesday, May 07, 2008

Sosok: Lagu Puisi, Kesetiaan Untung Basuki

-- Lukas Adi Prasetyo

RUANG tamunya agak sempit. Tiga gitar bolong tergeletak, beberapa lukisan berbingkai kayu berikut perlengkapannya, hingga kasur di atas ubin memenuhi ruangan itu. Untung Basuki, si empunya rumah, menyambut kami dengan senyum lebar.

Untung Basuki (Kompas/Lukas Adi P)

Monggo, silakan duduk,” ucapnya. Dua busa kursi tipis lalu ditariknya mendekat ke meja kayu lesehan. Belum lima menit obrolan mengalir, tangannya sudah menyambar gitar.

Dia ingin dan antusias bermain gitar sambil bernyanyi. Sembari duduk di kursi kecil, ia melantunkan ”Bunga-bunga”, salah satu lagunya pada era 1970-an, Ia bernyanyi dengan penuh semangat. Terkadang dia pejamkan mata, menengadah ke atas, menghayati lirik lagunya.

Bunga-bunga bergayutan, angin-angin di puncak pohon, nafasku membuka lembaran namamu, Ratri…. Bunga-bunga bernyanyi riang, bergoyang-goyang pohon cemara bergeleng kepala. Aku berdansa di taman, tanganmu adalah buku yang terselip di pinggang.

Iramanya country dengan lirik puitis. Suaranya serak, namun bertenaga. Jari-jemarinya masih cekatan berpindah chord, dan petikan senarnya jelas dan kencang terdengar, pertanda sering berlatih. Tak lebih empat menit, tembang itu selesai.

Untung lantas tertawa. Katanya, itu lagu yang dia ciptakan untuk menggambarkan suara hati saat kasmaran. Obrolan pun mengalir diselingi dengan nyanyian yang dia lantunkan. Beberapa lagu ciptaannya pun meluncur, seperti Lepas-lepas, Maju Perang, serta Langkahku Menuju Ke Mana.

Puluhan tahun bergelut dengan teater, puisi, dan musik, namun penampilan Untung bisa dikatakan bersahaja. Ia tetap merasa nyaman tinggal di Kampung Ngadisuryan, 100 meter sebelah barat Alun-alun Selatan Yogyakarta, serta senang mengenakan kaus tipis dan celana pendek.

Puisi sebagai lirik


Sebagai seniman, nama Untung Basuki sekarang mungkin tak lagi dikenal banyak orang. Mereka yang pernah melihatnya bernyanyi pun hanya sebagian yang tahu bahwa sosok ini sebenarnya berbasis seni rupa. Sebelum bermusik, dia akrab dengan dunia melukis dan teater.

Ia malang melintang di teater sejak tahun 1970-an. Dia tergabung di Bengkel Teater pimpinan WS Rendra dan aktif pentas sampai era 1980-an. Kala itu Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sering dia singgahi. Ia berteater sampai Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

”Kami malah jarang tampil di Yogyakarta,” ucapnya.

Sampai sekarang aktivitas berteater masih dia jalani. Bedanya, kini dia menjadi guru teater di SMA Santo Mikael, Mlati, Sleman, dengan gaji ”sekadarnya”. Kadang kala dia masih diundang sebagai pembicara dalam workshop bertema kesenian.

Melukis dan berteater memang bukan hal baru bagi Untung, tetapi justru kemampuan bermusiknya yang unik. Di Yogyakarta, dialah satu-satunya seniman yang menulis puisi, lalu menjadikannya sebagai lirik lagu.

Bila diundang pentas, Untung membawa serta Sabu, kelompok musiknya yang bernapaskan country. ”Sabu itu bagian dari Sanggar Bambu, sebuah komunitas seni rupa (di Yogyakarta),” katanya.

Begitu banyak puisi yang kemudian menjadi lirik lagu telah dia ciptakan sejak tahun 1972. ”Saya tak ingat lagi,” katanya tentang jumlah puisi lagu ciptaannya.

”Saya lebih banyak membuat puisinya dulu, baru menggarap melodinya, genjrang-genjreng. Tetapi, kadang memang bisa juga sebaliknya,” cerita Untung tentang proses penciptaan lagunya.

Enak di kuping


Tahun 2004 Untung merekam album bertajuk Lagu Puisi Tanah. Album itu diproduksi Blass Record, Yogyakarta. Inilah album rekaman pertamanya meski dia sudah membuat lagu dari puisi itu sejak bergabung di Bengkel Teater. Di sinilah dia bersentuhan dengan puisi, yang lantas membuatnya ingin menjadikan puisi itu dalam bentuk berbeda. Apa yang dilakukannya saat itu terhitung hal baru.

”Saya berusaha agar lagu itu punya bobot puitis, demikian pula sebaliknya. Makanya saya sebut lagu puisi. Pengertiannya, saya menggali melodi dari puisi itu dan menggaulinya sedemikian rupa,” tutur Untung yang konsisten dengan warna musiknya, dengan risiko tak ada perusahaan yang tertarik merekam lagunya.

Bagaimanapun, dia mengaku tetap berusaha membuat musiknya enak didengar kuping banyak orang. ”Tetapi, saya tetap tak akan memotong atau menambah kalimat puisinya agar cocok dengan musik. Musiknyalah yang mengikuti kemauan puisi,” tegas pria yang naik panggung setidaknya dua kali sebulan ini.

Lagu puisi itu berbeda dengan musikalisasi puisi. Musikalisasi puisi bersifat temporer, melayani program dan kegiatan. ”Lagu puisi itu lebih tahan lama. Kalau musikalisasi puisi bisa dilupakan pemainnya, lagu puisi tidak.”

”Kalau orang mendengar lagu puisi, ada sesuatu yang lain. Melodi lagu puisi itu sendiri sudah memberikan rasa. Bagi sebagian orang, perlu mendengar beberapa kali dulu, sebelum tahu maksud lagu itu,” tambahnya.

Album Lagu Puisi Tanah hanya direkam 1.000 kopi. Tetapi, lewat album itu, makin banyak orang yang datang kepadanya ”Mereka membuat puisi, lalu kami berdiskusi tentang membuatnya menjadi lagu puisi. Saya senang, setidaknya dengan cara ini makin banyak orang cinta puisi.”


Kenangan Istimewa


Tahun lalu, Untung Basuki diundang seorang seniman perempuan untuk mengisi acara pernikahan di Klaten, Jawa Tengah. ”Itu sejarah penting bagi saya,” katanya.

Kata ”penting” tak menyoal urusan unjuk suara di acara resepsi, namun tentang si pelukis perempuan yang nekat mengganti tanggal pernikahan agar Untung bisa datang. Tanggal pernikahan yang semula 10 Maret 2007 mundur seminggu, undangan pun ditarik.

”Waktu itu saya bersama kelompok Sabu mengisi acara festival pelajar. Kami dikontrak sebulan, dan 10 Maret itu hari terakhir,” ujarnya.

Keputusan mereka mengundurkan waktu resepsi membuat Untung kaget. Ia memohon agar tanggal resepsi jangan mundur, tetapi upayanya gagal.

Peristiwa itu membuat Untung merasa dihargai dan diakui eksistensinya. Sebagai rasa terima kasih, ia menciptakan dan membawakan lagu khusus untuk sang mempelai.

Untung sempat kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI-sekarang Institut Seni Indonesia/ISI) Yogyakarta. Kuliahnya tak selesai sebab dia malah rajin ikut demonstrasi memprotes adanya dosen otoriter.

”Imbas dari ikut demo, saya diskors dan tidak pernah dipanggil lagi untuk kuliah, sampai sekarang,” kata Untung yang sempat kuliah selama sekitar tiga tahun.


Biodata

Nama: Aloysius Untung Basuki
Lahir: Yogyakarta, 12 Maret 1949
Pendidikan:
- SD Netral Dagen, Yogyakarta
- SMPN 2 Yogyakarta,
- Sekolah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (sekarang SMKN 3 Kasihan, Bantul)
- Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI), Jurusan Seni Lukis, tidak tamat

Istri: Melania Sri Sukapti (53)

Anak:
- Yeremias Abiyoso (22)
- Bernadeta Yasmin Ratri Bumi (17)

Sumber: Kompas, Rabu, 7 Mei 2008

Monday, March 31, 2008

Menghargai Sejarah Bangsa Lewat Musik

ADA apa sih, kok ramai sekali kayak pawai tujuh belasan, bulan Agustus kan masih lama," kata Udin, seorang pedagang asongan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/3). Tidak hanya Udin, masyarakat yang berada di kawasan silang Monas, Jalan Cut Nyak Dien, hingga Jalan Imam Bonjol juga tampak bingung ketika mobil kuno keluaran Jerman diiringi ratusan pengendara sepeda onthel beratribut lengkap seperti pejuang kemerdekaan masa lalu melintas di jalan itu.

Rasa penasaran masyarakat semakin menjadi ketika penyanyi dan pembawa acara kawakan, Kris Biantoro yang berseragam militer lengkap ala serdadu di masa penjajahan Jepang meneriakkan pekik "Merdeka, Merdeka" dari mobil kuno yang ditumpangi.

Peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2008 memang baru akan berlangsung empat bulan mendatang. Namun, Kris Biantoro bersama sejumlah orang yang peduli dengan sejarah bangsa ini, mencoba mengingatkan kembali semangat kebangsaan lewat acara sarasehan kebangsaan dan budaya bertajuk "Napak Tilas Perjalanan Musik Indonesia" di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta. Kirab mobil kuno, dan ratusan sepeda onthel yang di awali dari kawasan Monas menuju museum merupakan acara pembukaan rangkaian sarasehan kebangsaan.

Hadir dalam acara itu, sejumlah artis berbagai era, dari era 50-an hingga sekarang seperti Titiek Puspa, Bob Tutupoli, Grace Simon, Beny Panbers, Eros Djarot, dan Peggy Melati Sukma. Selain itu, juga terlihat perwakilan keluarga musisi Ismail Marzuki, dan pengusaha Martha Tilaar.

Menurut Kris, kekuatan suatu bangsa terletak pada pemahaman masyarakat terhadap budaya dan perjalanan bangsanya. Ketidaktahuan akan budaya menyebabkan masyarakat kehilangan jati diri.

"Belum lagi, pengaruh globalisasi budaya dunia yang mengakibatkan tumbuhnya gaya hidup instan, dan tidak menyediakan tempat bagi tumbuhnya budaya lokal dan nasional," kata pria yang baru merayakan ulang tahun ke-70 pada 17 Maret.

Pelantun tembang Dondong opo Salak itu mengungkapkan, pencurian lagu Rasa Sayange oleh Malaysia merupakan akibat dari ketidaktahuan bangsa Indonesia atas budaya sendiri pada umumnya dan sejarah musik Indonesia pada khususnya. Sebab itu, pada kesempatan sarasehan kebangsaan, Kris mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya pemuda untuk memiliki kepedulian terhadap karya musik tempo dulu.

Banyak musisi tempo dulu yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan sangat produktif. Komposer Ismail Marzuki contohnya. Tokoh musik kelahiran Betawi itu mampu menciptakan lebih dari 200 lagu dalam kurun waktu 27 tahun (1931 - 1958).

Menanggapi minimnya apresiasi terhadap karya musik masa lalu, Budayawan Romo Beny Susetyo Pr mengatakan, hal itu disebabkan karena karya masa lalu tidak pernah dipublikasikan dan tidak pernah dikemas menjadi sesuatu yang cocok dengan anak zamannya. "Bangsa kita selalu menghilangkan nilai sejarah dalam hidupnya, sehingga karya masa lalu dianggap usang," ujarnya.

Menurutnya, negara lain seperti Belanda, melihat masa lalu sebagai suatu yang dikenang sebagai peradaban. Karena kecintaan pada peradaban, Belanda mampu melestarikan karya musisi masa lalu, termasuk dari bekas jajahannya. "Lagu kita tidak pernah menjadi milik bangsa ini, karena kita paling lemah untuk menyimpan, memelihara dan menjaga mengarsipkan, itu kelemahannya,"tegasnya.

Benny menyebut, karya musik periode tahun 1945 dikenal memiliki semangat heroik perjuangan. Lagu menjadi sarana perjuangan mewujudkan kemerdekaan, tetapi tahun 1960- an lagu-lagunya adalah lagu pemberontakan, karena zamannya antikemapanan, lagu pendek yang memberikan perlawanan. Memasuki tahun 1990 lebih melankolis karena cinta dijadikan gambaran romantisme.

"Setiap lagu punya periode anak zamannya, dan ketika periode anak zaman itu tidak pernah ditata kita akan kehilangan konteks sejarahnya karena lagu menggambarkan konteks zamannya," ujarnya. [SYH/N-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 31 Maret 2008

Monday, March 17, 2008

Pameran Lukisan "Nature On Colour": Kolaborasi Lukisan, Puisi, dan Musik Instrumen

ALAM merupakan sumber inspirasi bagi setiap seniman. Menurut ungkapan yang sering muncul di kalangan para seniman, "seniman belajar dari alam". Sebab, mengamati alam sama saja melakukan kegiatan observasi yang tiada pernah berhenti.

Tiga seniman, penyair WS Rendra membacakan puisi, pelukis Susilowati Natakoesoemah melukis, dan gitaris Jubing Kristianto memetik senar gitarnya, dalam "Collaborathree" pada pembukaan pameran lukisan tunggal Susilowati di Hotel Four Seasons, Jakarta, Jumat (14/3). (SP/Ferry Kodrat)

Akan tetapi, kalau melihat apa yang terpanjang hampir di seluruh dinding lobi Hotel Four Seasons, Jakarta, sejak tanggal 5 Maret hingga 22 April, hampir seluruh lukisan beraliran abstrak karya pelukis perempuan, Susilowati Natakoesoemah, menggambarkan kemarahan dan kesedihan alam.

Dalam pameran lukisan tunggal pertamanya yang mengambil tema "Nature On Colour" tersebut, Susi, demikian Susilowati Natakoesoemah biasa disapa, memberikan sebuah kesan unik di acara pembukaannya yang dilakukan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Prof Dr Meutia Hatta Swasono, Jumat (14/3) malam.

Acara tersebut terbilang unik karena menampilkan aksi kolaborasi tiga seniman di bidang yang berbeda atau yang disebut dengan "Collaborathree". Di atas panggung, selain Susi yang memperlihatkan kemampuannya melukis dengan akrilik di atas kanvas, juga terdapat gitaris kondang yang pernah menjuarai kompetisi gitar Yamaha, Jubing Kristanto. Tidak kalah apik, penampilan sang legenda, "Si Burung Merak" Rendra yang membawakan dua puisi yaitu Jangan Takut Ibu yang diciptakan tahun 2003 dan Doa Orang Lapar yang diciptakannya di Hamburg, Jerman, tahun 1978.

Meskipun "Collaborathree" tersebut dilakukan secara spontanitas, mereka mampu memberikan nilai estetika yang membuat para pengunjung hanyut ke dalam kebanggaan. Di awal acara, Rendra mengaku bahwa dirinya lupa menyiapkan puisi mengenai alam karena begitu banyaknya pesanan, tetapi syair-syair dari dua puisi yang dibawakan Rendra tetap menyentuh. Apalagi, aksi Rendra tersebut diperkuat oleh suara damai dari petikan senar gitar Jubing dan permainan tangan Susi yang memainkan kuasnya di atas kanvas.

Sementara Jubing sendiri yang menjadikan alam sebagai sumber inspirasinya dalam berkarya, terbukti dengan lahirnya dua lagu musik instrumental gitar klasik Morning Rain dan Waiting For Sunset, menjelaskan, antara dunia seni yang satu dengan lainnya pada dasarnya bisa bersatu untuk memberikan keindahan.

"Terbukti, dari kolaborasi meskipun dilakukan secara spontan ini, menghasilkan suatu karya yang dinamis dari hasil interaksi tersebut," ujar dia.

54 Lukisan

Dalam mempersiapkan pameran tunggal ini, Susi melakukannya dalam waktu setahun. Selama 12 bulan itulah, dia mampu menghasilkan 54 lukisan abstrak yang seluruhnya berkaitan dengan alam.

Ketika memasuki lobi utama Hotel Four Seasons, di sisi kirinya, sudah terpampang lukisan sebesar 200 x 150 cm dengan tema Crying Sun. Lukisan yang terdiri dari beberapa unsur warna seperti hitam, biru, merah, kuning, dan putih tersebut memberikan isyarat bahwa matahari pun bisa menangis karena dia tidak rela dirinya memberikan panas yang berlebihan kepada umat manusia di dunia ini. Panas berlebihan yang disinari sang mentari itu terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Tema ini sangat pantas dalam kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini atau yang dikenal dengan Pemanasan Global.

Sementara pada dinding sebelah kanannya, dari sederetan lukisan yang terpajang, terdapat lukisan dengan tema "A Thousands Of Tree". Lukisan dengan ukuran 120x150 cm ini menggambarkan pohon berwarna merah, yang diapit oleh dua lukisan pohon kering.

Warna merah itu bukan menggambarkan bahwa pohon tersebut sedang terbakar, tetapi sebagai kemarahannya atas tindakan manusia yang melakukan pengerusakan hutan dengan berbagai ekosistemnya. [F-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 17 Maret 2008

Sunday, February 17, 2008

Mengembalikan Puisi pada Bunyi

-- Ilham Khoiri

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi
itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang
bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Duet Ari-Reda tampil dalam musikalisasi puisi di acara Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono di Grha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (14/2). (Kompas/Yudhi Agung)

BAIT-BAIT puisi Pada Suatu Pagi karya Sapardi Djoko Damono itu dilantunkan dengan suara menyayat oleh penyanyi Reda Gaudiamo dalam iringan petikan gitar Ari Malibu yang sendu. Komposisi lagu yang dibuat Budiman Hakim itu mengundang penonton untuk menelusuri dunia puisi.

Ratusan penonton yang hadir di Graha Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (14/2) malam itu, tampak terhanyut. Larik-larik sajak yang liris, nada-nada yang mengalun pelan, serta dentingan gitar yang lembut-merayap seperti jalin-menjalin untuk menciptakan suasana yang sublim. Mudah saja membayangkan, seseorang tengah menangis pelan di sebuah lorong yang sepi pada suatu pagi yang gerimis.

Terlepas dari dukungan suasana Jakarta yang diguyur gerimis, duet Ari-Reda—kadang dibantu gitaris Jubing Kristianto—memang mengena. Mengena dalam arti mampu menerjemahkan kekuatan teks sastra dalam daya pukau suara (dari lagu dan musik). Lebih dari itu, musikalisasi itu turut membantu penonton untuk memvisualkan kata-kata.

Begitulah, malam pertunjukan ”Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono” itu seperti menjadi ruang pembuktian kekuatan kata sebagai bunyi. Tak hanya melalui musikalisasi puisi Ari-Reda, yang populer sejak pertengahan tahun 1980-an, panggung itu juga diisi dengan deklamasi, paduan suara, teater, dan tari. Semuanya membawakan puisi-puisi Sapardi.

Ada penyair Jose Rizal Manua dan Ags Arya Dipayana serta artis Ine Febriyanti dan Cornelia Agatha yang mendeklamasikan puisi dengan cara masing-masing. Laboratorium Musik SMA 59 Jakarta dan Panduan Suara Gita Swara Nassa menyanyikan puisi dalam paduan suara. Anak-anak Teater Tanah Air menerjemahkan puisi Selamat Pagi Indonesia dalam lakon singkat yang bersemangat, sedangkan Teater Tetas menafsirkan puisi Ketika Berhenti di Sini dalam gerak tubuh.

Kenyal

Bagaimanakah wujud puisi-puisi Sapardi setelah diolah dalam pentas berbagai disiplin seni? Puisi-puisi itu bermetamorfosa dalam bentuk yang berbeda, kadang tak terduga. Itu mengentalkan kesan betapa kenyalnya sebuah puisi.

Puisi-puisi Sapardi luwes saja dimainkan dalam beragam bentuk seni pertunjukan, tanpa kehilangan daya puitiknya. Bahkan, saat dituangkan dalam saluran estetika yang berbeda, larik-larit kata itu malah menjelma sebagai kekuatan yang lain.

Saat dinyanyikan, misalnya, puisi-puisi itu seakan dikembalikan pada habitatnya sebagai bunyi. Rima dalam puisi membentuk nada dengaran yang harmonis. dengan dilagukan dalam iringan musik, puisi menjadi lebih hangat dan mudah dimengerti.

Pentas malam itu membuktikan bahwa puisi sebenarnya adalah bunyi yang direkam dalam teks. Puisi adalah kata-kata, dan kata-kata itu pertama-tama merupakan citra dengaran, bukan citra huruf. Suasana itu juga tercipta saat puisi dibacakan dengan tekanan emosi yang pas, atau diterjemahkan dalam tafsir gerak teatrikal yang bebas.

Akhirnya, pertunjukan berbagai cabang seni yang dibuat berdasarkan teks puisi Sapardi itu berhasil mengajak penonton untuk memasuki dunia puisi. Penonton seperti melayang dalam lorong yang sepi, menyelinap di bawah hujan, melihat akar pepohonan, jembatan, atau memandang ladang yang sunyi.

Pencapaian itu menjadi mungkin karena puisi-puisi Sapardi memang sangat merangsang imaji, khayalan visual. Ags Arya Dipayana, yang membuat banyak komposisi lagu berdasarkan puisi Sapardi, mengakui, puisi-puisi penyair itu sangat merangsang untuk melahirkan lagu. Imajinasi yang muncul dari puisi seperti menuntun nada-nada.

”Begitu membaca puisinya, saya langsung terbawa, menerawang jauh. Yang saya peroleh bukan makna atau pengertian, tetapi citra gambar dan citra dengar,” katanya.

Bagaimana tanggapan Sapardi sendiri menyaksikan puisi-puisinya dimainkan dalam lagu, teater, dan gerak tubuh? ”Saya senang banyak yang terlibat. Semua bentuk pentas itu kan sama-sama seni, hanya wahananya saja yang berbeda. Jadi, puisi saya hanya beralih wahana saja,” katanya.

Sumber: Kompas, Minggu, 17 Februari 2008

Apresiasi: Musikalisasi Puisi, Loyalitas Fredie Arsi

Udara bergetar dalam darahku. Ketika tasbih berputar dalam zikir. Wirid bertamburan memenuhi ruang. Dan kau tersenyum di penanggalan...

Penggalan puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Refleksi Jarak dan Waktu di atas tiba-tiba berubah menjadi satu syair lagu nan indah dengan komposisi dan harmonisasi musik yang begitu hangat dan bernuansa religius kental. Puisi tersebut menjadi pembuka penampilan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, dalam pagelaran musikalisasi puisi yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2) malam yang lalu.

Setelah itu, meluncur puisi karya Dediesputra Siregar berjudul Ruh (u) Krak yang juga diambil dari album CD kompilasi yang dikeluarkannya pada tahun 2007 lalu. Nuansa musik Nangroe Aceh Darusalam sangat terasa dalam aransemen yang dibuatnya. Terlebih dengan syair yang menggunakan bahasa Aceh. ... Kala Sang Karang Ka Ku. Tuboh A Cehku. Nong. Na Cut Bang. Gampreh....

Terlebih lagi dengan gerak yang ditampilkan para pemain musik yang terdiri dari lima personel, yakni Dediesputra Siregar, Andrie Syahnila Putra Siregar, Devie Komala Syahni Siregar, Denie Syahnila Putra Siregar, dan Herie Syahnila Putra Siregar yang menampilkan lenggokan tari Saman, sehingga nuansa Aceh sangat terasa sekali.

Namun, selain nuansa Aceh yang tergambar, ada kemirisan yang amat sangat terasa lewat pekikan suara Devie yang sangat menyayat. Seakan-akan menyuarakan kepedihan masyarakat Aceh, saat musibah tsunami melanda pada medio Desember tahun 2004 yang lalu. Sebuah lengkingan akan luka yang amat dalam, tapi tidak terkatakan.

Dan itu pun dibenarkan pimpinan Deavies Sanggar Matahari yang juga merupakan ayah kandung dari kelima personelnya, Fredie Arsi, saat jeda setelah tembang Ruh (u) Krak dibawakan.

"Puisi ini tercipta saat Januari 2005 ketika kita berkunjung ke Aceh. Saat itu saya bersama anak-anak melakukan terapi mental anak-anak Aceh. Dan ketika itu kami berhasil menemukan 14 jenazah korban tsunami, ada ibu hamil dan anak-anak. Pada malam harinya, saya melihat semua anak saya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Sehingga kata-kata ketika itu tak mampu lagi menyuarakan apa yang terjadi dan dialami korban tsunami."

Kemudian komposisi menarik yang hampir satu napas dengan alunan sebelumnya, Salam Damai karya Fikar W. Eda mengalun dengan nada-nada yang tidak berbeda. Pun dengan puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul Tanah Airmata yang dibawakan dengan penuh penghayatan dan penjiwaan yang amat dalam. Begitu juga dengan karya Sapardi Djoko Damono Yang Fana Adalah Waktu, yang dibuat dengan musikalitas yang sangat baik.

Hal yang sama juga lewat puisi karya Amir Hamzah Padamu Jua. Dan yang sangat istimewa adalah manakala kelima personel yang sudah berkeliling seluruh Indonesia tersebut saat menghadirkan aransemennya pada puisi yang dikenal sejak masa kanak-kanak yakni Diponegoro krya Chairil Anwar yang menjadi sangat syahdu tetapi heroik.

Nuansa romantis kemudian berlanjut dengan Inilah Cinta karya Jalaludin Ar-Rumi yang dibawakan dengan nuasa padang pasir nan kental. Dan penampilan ditutup dengan sangat manis lewat puisi karya sang ayah yang berjudul Musik Alam. Pada saat menyanyikan tembang inilah, Devie sang vokalis menitikkan air mata saat mengutarakan terima kasihnya kepada kedua orang tuanya.

Perkembangan Musikalisasi Puisi


Perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia sangat menjanjikan, terutama yang ada di daerah-daerah. Hal ini terbukti dengan diborongnya event festival musikalisasi puisi tingkat nasional yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu, seluruh pemenangnya berasal dari SMA asal daerah. Bahkan, peserta dari Lampung yakni SMAN 11 Bandar Lampung, berhasil menjadi salah satu juaranya.

Fredie Arsi mengemukakan di sela-sela kegiatan Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2). Dia mengatakan awal berkembangnya seni musikalisasi puisi sekitar tahun 1990 yang lalu.

"Saat itu pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi untuk tingkat pelajar SMA yang diadakan Kantor Pusat Bahasa. Setelahnya kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya," kata Fredie.

Kemudian, pada tahun 1994, Kantor Bahasa mengeluarkan program Bengkel Sastra di mana dilakukan semacam pelatihan bagi guru dan siswa yang semakin concern mengembangkan musikalisasi puisi. "Barulah pada tahun 1999, Bengkel Sastra mulai didirikan di daerah seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Banjarmasin. Dan saat ini, hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah ada."

Dan kemudian oleh Balai Bahasa, program musikalisasi puisi semakin dikenalkan kepada pelajar di setiap daerah. "Meksipun musikalisasi puisi ini sudah ada sejak dulu dan berkembang dalam budaya kita seperti dari Aceh yang memiliki budaya bersyair. Atau budaya di Riau di mana saat akan menangkap madu juga melafalkan mantra seperti bentuk musikalisasi puisi," ujarnya.

Sebab itu, perkembangan musikalisasi puisi bagi pelajar SMA di daerah berkembang dengan baik. "Selain juga jalinan yang ada di daerah antarpeserta dengan pelatih dan kantor Bahasa terjalin baik. Sehingga, semakin memupuk rasa kedekatan emosional yang kemudian mendorong perkembangan musikalisasi puisi di daerah berjalan baik."

Musikalisasi puisi sendiri merupakan upaya memberikan peningkatan pesan moral yang ada puisi di depan khalayak dengan menggunakan alat-alat sumber bunyi. "Jadi tidak melulu yang digunakan adalah alat musik. Sebab semuanya bergantung dari puisinya itu sendiri. Bisa jadi alat yang digunakan bukan dari alat musik konvensional, tapi dari alat lain yang mengeluarkan bunyi. Dan saat ini setiap peserta umumnya menggunakan alat-alat dari daerahnya masing-masing," tambahnya lagi.

Untuk pelatihan yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung diikuti 36 peserta yang berasal dari enam sekolah, yakni SMAN 11 Bandar Lampung, SMAN 14 Bandar Lampung, SMAN 2 Bandar Lampung, SMA Taman Siswa Bandar Lampung, SMAN 1 Seputih Agung Lampung Tengah, dan SMAN 1 Natar. Dan rencananya hari ini, Kamis (14-2) setiap peserta akan mementaskan musikalisasi puisi karya masing-masing sekolah.

Keloyalitasan Fredie Arsi


Dan bila membicarakan tentang musikalisasi puisi, sosok Fredie Arsi memang layak disebut. Karena sejak 1982, ia telah mengajarkan anak-anaknya menyanyikan puisi selain lagu-lagu ciptaannya sendiri. Ketika itu dia memiliki grup bernama Deavies Group yang kependekan dari trio Dedie, Andrie, dan Devie yang merupakan tiga putra putrinya. Berbagai ajang diikuti dari tingkat kelurahan, hingga perhelatan 50 tahun Majalah Sastra Horison di Jakarta.

Pada tahun 1990, pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi yang diadakan Pusat Bahasa. Ternyata, kemenangan berhasil diraih sehingga kemudian menonggakkan berdirinya Deavies Sanggar Matahari yang anggotanya enam saudara kandung. Tiga empat tahun berturut-turut berhasil meraih juara pertama di berbagai ajang.

Kemudian, tahun 1992--1996, Deavies Sanggar Matahari pun menyelenggarakan tur keliling untuk memasyarakatkan musikalisasi puisi di kota-kota Sumatera dan Jawa. Bahkan, pada bulan Oktober 1994, mendapat penghargaan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga sebagai Pemuda Pelopor DKI Jakarta Bidang Pengabdian Seni dan Budaya.

Lalu, bersama dengan keenam anaknya, Fredie Arsi menjadi mitra kerja Pusat Bahasa Diknas dalam program bengkel sastra, apresiasi sastra bidang musikalisasi puisi bagi pelajar SMA se-Indonesia sampai saat ini. Selain itu, pementasan yang dilakukan pun sudah sangat panjang, tidak hanya di Indonesia tapi hingga Kuala Lumpur, Malaysia.

Dan sebagai satu sosok yang berperan penting dalam melakukan sosialisasi atas perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia, sosok Fredie adalah sosok yang sangat bersahaja. Bahkan, dia kerap disebut sebagai seniman yang paling kaya terutama kaya hati karena dalam pekerjaannya berkeliling Indonesia dan berkarya, selalu dikelilingi orang-orang terkasihnya, yakni istri, keenam anak, serta cucunya. Sebab, sesungguhnya kekayaan bukan hanya tecermin pada kekayaan materi, melainkan ketenangan dan kekayaan hati. Semoga. n Teguh Prasetyo

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Februari 2008