Sunday, December 15, 2013

Corruptio Ergo Sum

-- Nausil Istikhari Kr

“Seandainya Tuhan Mahakorup, niscaya Indonesia menjadi negara paling kudus di dunia”
 (Binhad Nurrohmat)

Terbitnya antologi Puisi Menolak Korupsi (2013), menjadi kado istimewa di Hari Antikorupsi Internasional (9 Desember) lalu. Tetapi bagi saya, seistimewa apa pun itu, masih ada yang ganjil. Karenanya, harus segera disusuli, digenapi: menolak korupsi dengan novel. Mengapa?
Korupsi adalah parodi. Di dalamnya ada lakon, alur dan ending. Juga nostalgia dan tragika. Setiap tersiar kasus korupsi sudah pasti akan terdengar: “Saya tidak terlibat”; “Saya dijebak” dan seterusnya. Parodi memang tak selalu terang benderang. Ada yang tertutup rapat-rapat, tapi tetap tak tersentuh. Yang penting tampil, syukur jika menghibur. 

Ambil sebuah misal. Saat ketua MK, Akil Mokhtar, tertangkap basah oleh KPK dalam adegan memalukan itu, ramai-ramai muncul parodi: “Mimpi basah itu namanya akil baligh. Kalau tertangkap basah namanya Akil Mokhtar.” Kalimat ini menghibur, tapi sekaligus mengubur. Mengubur kepercayaan publik selama bertahun-tahun.

Media termasuk bagian yang terhibur sebab bisa menampilkan sesuatu secara terang. Namun tak terang benar: bagaimana mungkin hakim yang beberapa bulan menjabat; saat dilantik, bersumpah atas nama Tuhan pula, bisa-bisanya berbuat demikian?  Tak ada yang bisa menjawab. Dalam parodi, dalam korupsi, yang sublim akan terus menggelinding, sambil membagi-bagi keheranan: kok bisa, ya?

“Ya, bisa. Apa yang tidak bisa di dunia ini?” jawab pengamat politik. Tapi jawaban itu tidak menurunkan kadar keheranan satu senti pun. Singkatnya, jawaban itu bukanlah jawaban. Tapi Pramoedya Ananta Toer mungkin bisa membantu. Pram—sapaan akrabnya—pernah menulis novel Korupsi (1954), dan dengan lincah ia menyelami naluri primitif manusia: serakah.

Cerita Si Bakir
Pram memulai novelnya dengan pergulatan. Bakir, tokoh utama dalam novel ini, bertengkar dengan pikiran dan perasaannya sendiri dalam kubangan dilema. Ia hanya pegawai biasa. Gajinya pas-pasan. Dulu ia cuma punya anak satu. Sekarang empat. Semuanya minta biaya buat melanjutkan sekolah. Si Bakir, meski bekerja kantoran, tak mampu mengganti sepedanya yang karatan dan sepatunya yang sudah udzur.

Dalam novel Pram, Bakir adalah pergulatan itu sendiri. Setiap pergulatan harus diputuskan. Dan, Bakir termasuk orang yang tidak sukses memutuskan pergulatannya sendiri. Ia tak kuat dengan himpitan. Lalu segera ia putuskan: korupsi.

Pada mulanya ia terpaksa. Mengambil barang-barang kantor kemudian dijual ke tengkulak. Lama-lama ia terbiasa. Keterbiasaan itu akhirnya membawa Bakir pada pergulatan yang lebih besar: di satu sisi ia sudah menemukan jalan untuk menggandakan “uang jajan”, namun di sisi lain, istrinya selalu menangis tatkala Bakir membawa segepok uang yang tak jelas slipnya.

Belum lagi kecurigaan Sirad, sekretaris pribadinya, yang saban hari bertambah kuat. Bakir benar-benar berubah. Ia sudah mampu membeli mobil, membeli rumah baru—yang kelak buat istri keduanya, Sutijah. Istrinya sendiri sering tidak mau menerima uang Bakir selain dari gaji bulanan. Karena itulah, Bakir menikahi Sutijah secara diam-diam.

Kini Bakir bukanlah Bakir yang dulu. Ia hidup serba cukup. Semuanya bisa dibeli. Namun Pram menunjukkan tetap ada yang gentayangan dalam diri Bakir. Semacam ada ruang-ruang yang tak terengkuh, yang setiap kali mau disentuh, hati terenyuh. Korupsi mendatangkan sesuatu, tapi juga menghilangkan sesuatu.

Pram Saja Tidak Cukup
Pram hendak mengatakan bahwa manusia serakah, tapi ia sendiri ragu-ragu. Pram tak mengabarkan, nun jauh di sana, faktor keserakahan (corruption by greeds) jauh lebih akbar daripada (terdesaknya) kebutuhan. Korupsi karena himpitan (corruption by needs) menjadi olok-olok di era demokrasi. Di zamannya, Pram mungkin benar: korupsi sering karena keterdesakan walau pada akhirnya sangat tipis bedanya terpaksa dan latah.

Ada yang ganjil dari novel Pram. Korupsi memuat pesan eksistensi. Pergulatan Bakir diwarnai kecamuk eksistensial. Dalam suasana pas-pasan, Bakir merasa eksistensinya terpejali. Maka, ia pun memburu eksistensi itu. Taktik korupsi yang dipilih Bakir tak lain untuk menyudahi sinar redup keberadaannya sendiri: ia ingin berhenti makan terasi, ingin membeli kendaraan baru, ingin keluar dari kemelaratan dan bla, bla.

“Aku bisa mengatasi. Aku bisa seperti mereka. Aku tidak takut. Aku, Bakir akan menyudahi nasib burukku sendiri,” begitu batin Bakir. Ke-Aku-an dalam narasi Bakir sangat kental. Di sini jelas sekali bahwa Pram bermain-main dengan eksistensi.

Sayangnya, eksistensi yang ditempuh merupakan jalan becek. Seolah-olah dengan korupsi, Bakir hendak mengibarkan bendera eksistensi, dan oleh karena itu, terkesan angkuh: “corruptio ergo sum”, aku korupsi, maka aku ada. Pertanyaannya: benarkah Pram setuju dengan itu?

Pram mula-mula mengatakan Bakir butuh, tapi juga latah. Penegasan butuh dan latah sangat perlu. Sebab Pram, melalui tokoh Bakir, menyelipkan parodi bertema eksistensi, tapi juga menuduh korupsi berdampak. Tidak hanya pada diri. Bakir kemudian sadar, korupsi juga merusak masa depan anak-istri—mengkhianati gemulai merah putih. Kebutuhan dapat disebabkan kelatahan. Kelatahan adalah rukun pertama dari keserakahan. 

Yang menarik justru keteguhprinsipan istri Bakir. Ia tak mau makan uang haram. Berkali-kali ia mencoba menyadarkan Bakir, tapi tak berhasil. Pram berhasil merengkuh “yang lain” dalam novelnya. Sosok istri sebagai kontrol diri. Tapi apa lacur, Bakir kadung korupsi dan melakukan pencucian uang. Korbanya adalah Sutijah, istri kedua Bakir, gadis polos yang terpaut usia 20 tahun dengannya.

Kurang lebih 60 tahun setelah novel itu terbit, situasinya masih sama, bahkan tambah parah. Korupsi disertai pencucian uang untuk wanita-wanita cantik semakin vulgar. Lihat saja Irjen Djoko Susilo dengan istri mudanya, Dipta. Atau Ahmad Fathanah dengan istri resmi dan tak resminya. Bedanya: istri-istri pejabat sekarang malah tersenyum girang melihat suaminya membawa pulang banyak uang. Tidak seperti istri Bakir yang menangis, “istri sekarang” malah tambah kece dan ngartis.

Oh, betapa Pram benar, seharusnya koruptor sadar: “Aku dan golonganku adalah angkatan yang harus lenyap dan tidak ada lagi faedahnya bertahan di balik benteng kepalsuan.” Tapi Pram sendiri tidak cukup. Perlu Pram-Pram lain untuk menolak korupsi dengan novel. n

Nausil Istikhari Kr, esais. Aktif di Gerakan Pemuda Melawan Korupsi (GPMK), Yogyakarta

Sumber: Riau Pos, Minggu, 15 Desember 2013

1 comment:

Marcus Sujianto said...

Sip, jadi makin telanjang