Friday, November 20, 2009

Pancasila Ditinggalkan Siswa

* Konstruksi Pancasila Mengacu ke Orde Baru

Yogyakarta, Kompas - Banyak pelajar yang tidak paham Pancasila sebagai dasar negara, bahkan urut-urutan silanya pun banyak yang salah. Kondisi ini setidaknya mencerminkan mulai lunturnya wawasan kebangsaan di kalangan para pelajar.

Penilaian tersebut diperoleh melalui sejumlah evaluasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. Gejala ini terutama terjadi pada pelajar di daerah perkotaan. ”Adapun kemampuan pelajar di kawasan pedesaan dalam menghafal sila-sila Pancasila relatif masih baik,” kata Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri Heru Matador di sela-sela seminar sehari ”Pancasila dan Kedaulatan Bangsa” yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Yayasan Pendidikan Pelita Kencana di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Kamis (19/11).

Menurut Heru, gejala ini mulai terjadi setelah era reformasi. Setelah jatuhnya pemerintahan Orde Baru, muatan pendidikan berkaitan dengan Pancasila berkurang. Kondisi ini diperparah dengan makin diabaikannya pendidikan pembangunan karakter siswa di sekolah.

Menurut Heru, pemahaman Pancasila di kalangan pelajar penting mengingat Pancasila sebagai ideologi bangsa merupakan salah satu falsafah yang mengikat persatuan bangsa. Pancasila juga merupakan salah satu dari empat pilar wawasan kebangsaan, selain pemahaman terhadap Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta keragaman budaya.

Berkurangnya wawasan kebangsaan, tutur Heru, berdampak pada menipisnya rasa nasionalisme, yang sudah mulai terlihat beberapa waktu terakhir. ”Maraknya pertikaian dan perkelahian antardesa merupakan salah satu tanda menipisnya rasa nasionalisme” ujarnya.

Perlu dimurnikan

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Arie Sujito, yang hadir sebagai salah satu pembicara, mengatakan, Pancasila merupakan jalan untuk menegakkan kedaulatan Indonesia. Namun, untuk menguatkan kembali keyakinan terhadap ideologi Pancasila, nilai-nilai Pancasila perlu terlebih dahulu dibersihkan dari manipulasi Orde Baru.

”Pancasila perlu dikembalikan pada nilai-nilainya yang murni berdasarkan karakter dan nilai bangsa,” tuturnya.

Menurut Arie, saat ini konstruksi Pancasila sebagai sebuah ideologi masih mengacu pada penerapan pada era Orde Baru sehingga kurang mendapat simpati masyarakat.

”Pada pemerintahan Orde Baru, Pancasila digunakan sebagai alat dan doktrin untuk melanggengkan kekuasaan. Hal ini menimbulkan antipati di sebagian masyarakat pada era reformasi yang lebih bebas sekarang ini,” ujarnya.

Penguatan kembali Pancasila juga perlu dilakukan melalui kebijakan pemerintah yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Pemahaman Pancasila pada generasi muda saat ini diharapkan menghasilkan tafsiran-tafsiran kritis sehingga nilai Pancasila terus relevan dengan kehidupan bangsa pada masa depan. (IRE)

Sumber: Kompas, Jumat, 20 November 2009

Mr Clear, Mr Clean, Mr Harmony

-- Rosihan Anwar

INI kisah setengah ringan, setengah serius. Tetap untuk menghibur pembaca. Syahdan, saya senang sama Wakil Presiden Prof Dr Boediono. Dia tenang kalem, bicara hati-hati dan terukur, suara lembut-santun. Bila bertemu dengan saya dalam pertemuan, cara dia menyapa, menarik. Misalnya, dalam pertemuan dengan Editors Club dia ngomong dalam bahasa Inggris: How old are you? Dalam acara bedah bukunya, Ekonomi Indonesia Mau ke Mana? sambil menyalami saya dia bilang: "Nah, ini Bapak yang punya banyak petuah".

Pikiran Rakyat
(14-11) memberitakan, Wapres Boediono siap dipanggil DPR dalam hubungan DPR telah mengajukan hak angket dalam kasus penyelamatan (bail out) Bank Century. Wapres berkata: "Saya kira ini hak dan peran DPR untuk memutuskan apa yang dibutuhkan dan memanggil pemerintah (eksekutif) yang terkait. Kami siap. Kami ingin semuanya ini jernih, sehingga kegiatan selanjutnya akan dilakukan dengan jernih".

Padanan kata jernih dalam bahasa Inggris bisa clear. Berdasarkan ucapan Boediono tadi, jujur saja tanpa maksud-maksud sampingan, saya karakterisasikan dia sebagai "Mr Clear", dibaca Mister Clear.

Boediono menegaskan kepada pers, sejak awal pemerintahan, dirinya bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Dalam pada itu, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Gayus Lumbuun, berkata: "Kami memang tidak sedikit pun mengarah kepada keterlibatan Wapres Boediono (saat itu Gubernur Bank Indonesia). Tetapi, kalau terbukti, maka dia harus mempertanggungjawabkannya. Apakah Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani nantinya mundur atau tidak, itu tergantung proses hukum".

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat berbicara biasa menyelipkan kata-kata bahasa Inggris di tengah kalimat bahasa Indonesia. Presiden Yudhoyono terkenal, karena kata bersayap yang diucapkannya waktu menguraikan soal politik yaitu, I don't care (Saya tak peduli). Ucapan ini memperlihatkan dia punya pede (sikap percaya diri).

Saya ingat sebuah kejadian, Sabtu, 4 September 2004, dalam pesawat terbang yang hendak berangkat dari Bandara Lhokseumawe kembali ke Jakarta. Waktu itu, bersama Ishadi SK (TransTV) saya ikut meliput kampanye SBY untuk pilpres. Ketika SBY duduk di pesawat didampingi oleh istrinya, Nyonya Kristiani, ditemani oleh Rachmat Witoelar (kelak Menteri Lingkungan Hidup) dan MS Kaban (kelak Menteri Kehutanan), saya yang duduk di samping SBY dalam kabin pesawat melihat SBY mendeteksi sebuah bag (kantong) tentengan berisi sebuah barang yang dibungkus. Apakah itu barangkali rakitan bom waktu yang diselundupkan ke dalam pesawat, pikir saya. SBY memanggil ajudannya dan berkata dalam bahasa Inggris: identify. Ajudan menjawab bag itu kiriman pak camat. Sikap SBY tadi menunjukkan seorang yang kokoh- tegar bila menyangkut soal sekuriti.

Dalam cerita di balik berita, yang belakangan ini beredar di kalangan wartawan, di barisan penulis di Facebook, dalam kaitan dengan kasus bail out Bank Century, konon Presiden SBY dalam suatu lingkaran terbatas orang dalam (insiders) pernah menyatakan bahwa dirinya sama sekali bersih adanya. SBY dalam moments of truth suka ngomong Inggris. Dia berkata tegas: I am clean (Saya bersih). Saya cenderung berkata SBY adalah "Mr Clean", dilafalkan Mister Clean.

Hubungan Harmonis

Bertalian dengan soal angket Bank Century, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDI-P Perjuangan yang juga Ketua MPR RI, Taufiq Kiemas, membantah bahwa PDI-P menjadi "sponsor" pengajuan angket. Taufiq bilang: "Yang pertama mengajukan angket adalah Partai Golkar, bukan PDI-P. Jadi, tanya sama Partai Golkar, karena mereka yang memelopori angket. Saya rasa hubungan (PDI-P) dengan pemerintah tetap harmonis, masak tidak harmonis. Taufik mengatakan, sejak awal PDI-P telah memutuskan untuk menjadi penyeimbang yang dinamis dan kritis, dengan mengedepankan checks and balances.

Membaca keterangan tadi, saya lalu ingin menamakan Taufiq Kiemas "Mr Harmony". Menurut kamus kata harmony berarti: keselarasan, keserasian, kecocokan, kesesuaian, kerukunan. Anda pilihlah mana yang Anda mau.

Dalam pada itu para mahasiswa dan kelompok masyarakat lain terus menggelar demo-demo untuk meminta agar skandal Bank Century dibicarakan secara terbuka, sehingga masyarakat mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, mengenai siapa-siapa saja yang memperoleh keuntungan dari aliran dana ke Bank Century. Jika tiba saatnya begitu, sesuai dengan gaya bahasa yang dipakai pada upacara penyerahan Anugerah Oscar kepada film dan aktor terbaik di Hollywood, saya bisa berkata: please welcome Mr Clear, Mr Clean, Mr Harmony.

* Rosihan Anwar, wartawan senior

Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 20 November 2009

Budaya Baca-Tulis Guru

-- F.X. Aris Wahyu Prasetyo*

BELAJAR di sekolah cenderung menjadi aliran pengetahuan dengan berbagai teori yang disampaikan guru. Seolah-olah guru layaknya pipa air yang mengalirkan ilmu pengetahuan dari mata air di "pegunungan" atau "waduk" ilmu pengetahuan. Pipa air itu berusaha mengisi otak anak-anak dengan air sebanyak-banyaknya bahkan sampai tumpah ruah airnya. Bisa jadi otak anak-anak itu hancur karena begitu besarnya tekanan air dan begitu banyaknya air yang mengalir. Akibatnya, air dari sumber air pengetahuan itu menjadi sia-sia saja karena terbuang begitu saja.

Bagi guru sendiri pun, serasa monoton dan kaku sekali menjadi sebuah pipa bagi ilmu pengetahuan untuk anak-anak. Seolah-olah semuanya berjalan begitu saja tanpa tantangan dan variasi yang berarti untuk membuat pembelajaran itu menarik, variatif, serta lebih berguna bagi anak-anak dan guru itu sendiri. Pastinya hal itu pun dirasakan oleh anak-anak sehingga yang terjadi adalah pembelajaran standar yang lebih berfokus pada pencapaian skor akhir anak-anak, bukan pengoptimalan proses pembelajaran yang kontesktual, reflektif, dan inspiratif.

Pertentangan Zaman

Sudah waktunya bagi para guru untuk selalu memperbarui kemampuannya dalam mengoptimalkan pembelajaran demi perkembangan anak-anak dalam belajar. Mengandalkan ilmu lama dan pengalaman saja belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan belajar anak. Sebuah kesadaran yang mesti dibangun adalah anak-anak sekarang memiliki tingkat keingintahuan yang begitu tinggi seiring dengan perkembangan tehnologi yang semakin canggih dan dahsyat ini. Dengan begitu, para guru pun sudah waktunya untuk menggali informasi dan mengaktualisasikannya demi kepentingan desain pembelajaran bagi anak-anak modern itu.

Anak-anak sudah begitu canggih dalam dunia maya (internet) seperti game, jejaring pertemanan (facebook misalnya), browsing, dan blogging. Anak-anak dapat dengan cepat mengakses informasi dari dunia maya. Bahkan pola hidup mereka pun sudah begitu modern yang serbateknologi sehingga berbagai alat elektronik bukanlah hal yang istimewa bagi mereka. Bahkan, mereka pun mulai menikmati euforia zaman, seperti menjadi anak nongkrong, anak gaul, anak mal, dan anak teknologi.

Sebuah kesadaran mesti dibangun bahwa anak-anak berada dalam sebuah ekosistem yang begitu modern dan canggih. Kadangkala benturan terjadi dengan orang dewasa, dalam hal ini guru, karena adanya perbedaan ekosistem dan cara pandang akan hidup itu sendiri. Yang terjadi adalah saling tuduh satu sama lain. Anak-anak akan menuduh bahwa gurunya tidak gaul, gurunya kolot, dan gurunya kuno. Guru-guru pun akan menuduh bahwa anak-anak itu "korban" zaman, anak-anak itu sudah sesat, anak-anak itu dibodohi zaman, dan sebagainya. Yang jelas masing-masing pihak punya pendapat dan penilaiannya sendiri-sendiri yang tidak akan pernah ada kata sepakat. Malah yang terjadi adalah semakin memperuncing pertentangan itu.

Pendidikan seharusnya menghargai adanya perbedaan, bukan malah mempertentangkannya. Pembelajaran pun hendaknya berusaha mengover perbedaan yang memungkinkan terjadinya pertentangan itu sehingga justru menjadi sebuah motivasi untuk saling memperkaya satu sama lain.

'Mewarnai' Pembelajaran

Guru sebagai sutradaranya pembelajaran sudah semestinya mendesain pembelajaran itu menjadi sebuah dinamika yang berwarna dengan perbedaan yang ada. Bagaimana mewarnai pembelajaran itu adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para guru untuk menjadikan sekolah bukan lagi sebagai tempat yang monoton dan kaku, justru menjadi tempat yang bergairah dalam keselarasan dengan euforia zaman.

Mengembangkan budaya baca bagi guru adalah sebuah media yang baik untuk menjadikan guru itu terbuka wawasan dan hatinya akan begitu banyak informasi dan pengalaman di luar dirinya. Membaca adalah sebuah jendela yang ampuh untuk melihat begitu luasnya samudera kehidupan, begitu tingginya gunung kehidupan, dan begitu beraneka ragamnya makhluk hidup di dunia ini. Jendela itu mampu menerobos pandangan mata para guru yang selama ini hanya terbentur pada tembok-tembok ruang yang membelenggu.

Pada akhirnya budaya membaca mesti diiringi dengan budaya menulis sebagai sebuah aktualisasi diri pada lingkungan. Menulis adalah sebuah proses pendewasaan diri dengan menuangkan berbagi informasi, ide, pengalaman, dan perasaan untuk siapapun yang ada di dunia ini. Birunya samudera, indahnya gunung, dan beragamnya makhluk yang kita lihat dan rasakan tidak akan disimpan dalam "gudang" keegoisan kita. Dengan berbagi dan mengaktualisasikannya, kita justru semakin diperkaya dan diperbaharui setiap waktu. Ada begitu banyak media untuk menulis seperti media cetak maupun berbagai fasilitas di dunia maya. Kemauan untuk menulis adalah yang utama dan pertama, sedangkan kemampuan akan mengiringinya dalam sebuah proses.

Tatkala para guru mulai menghidupi budaya baca dan budaya menulis ini, euforia anak-anak modern ini akan menjadi sebuah fenomena untuk memotivasi dirinya sendiri untuk semakin tahu kebutuhan anak zaman lewat membaca banyak hal tentang mereka dan akhirnya menuliskannya sebagai sebuah buah ide akan fenomena anak zaman. Bahkan, ada sebuah keinginan untuk semakin tahu secara langsung akan cara padang anak-anak zaman lewat desain pembelajaran yang dilakukan dengan memberi kesempatan anak-anak menuangkan ide dan mengeskpresikannya dalam berbagai bentuk.

Akhirnya, anak-anak justru merasa diperhatikan dan diberi kesempatan untuk berekspresi. Yang terjadi adalah sebuah hubungan harmonis antara ekspresi anak-anak dan apresiasi guru pada mereka. Indah sekali rasanya mewujudkan semua itu di mana perbedaan menjadi sebuah perpaduan estetis dalam pembelajaran. Indonesia berharap! n

* F.X. Aris Wahyu Prasetyo, Tim ISEDP (Indonesian Secondary Education Development Program), pendidik di SMA Kolese Loyola Semarang.

Sumber: Lampung Post, Jumat, 20 November 2009

Tuesday, November 17, 2009

Status SBI Dibisniskan

* Dinas Pendidikan Menyatakan Belum Ada yang Resmi

Medan, Kompas - Banyak pengelola sekolah swasta di Medan yang mengakui bahwa sekolah mereka sebagai sekolah bertaraf internasional. Padahal, berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumatera Utara, hingga kini belum ada satu pun sekolah yang bertaraf internasional.

”Mereka yang mengaku sekolah internasional belum tentu kualitasnya baik. Itu hanya merek (nama) saja. Bukan benar-benar bertaraf internasional,” tutur Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan Sumatera Utara Edward Sinaga, Senin (16/11) di Medan.

Edward mengatakan, sekolah seperti ini harus jujur kepada publik, tidak boleh mengelabui masyarakat, karena terpancing promosi mereka.

”Masyarakat harus tahu mana sekolah yang bertaraf internasional, mana yang tidak. Jika termakan promosi, mereka bisa kecewa,” katanya.

Sejumlah sekolah, terutama swasta, mengklaim diri sebagai sekolah bertaraf internasional (SBI). Mereka mempromosikan diri bekerja sama dengan sekolah dari Singapura atau Australia.

Kendati begitu, tuturnya, masalah mutu belum tentu baik meski dengan biaya pendidikan yang tinggi.

Dia mengatakan, salah satu program peningkatan mutu pendidikan adalah menciptakan sekolah bertaraf internasional. Untuk menuju ke sana, saat ini ada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).

Di Sumut ada 22 sekolah semacam ini yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. RSBI ini terdiri dari sekolah negeri atau swasta yang memenuhi syarat baik sarana, metode pengajaran, maupun mutu pendidiknya.

Komersialisasi

Ketua Dewan Pendidikan Kota Medan Mutsyuhito Solin mengatakan, pengakuan sepihak sekolah internasional merupakan bentuk komersialisasi.

Kepentingan pengelola, tuturnya, untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Lantaran (mengaku) internasional, biaya pendidikan di sekolah tersebut menjadi mahal. ”Inilah bentuk komersialisasinya,” katanya.

Dia menginginkan agar ada pengawasan dari Dinas Pendidikan tentang klaim ini. Sekolah bertaraf internasional sudah ada ketentuannya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam aturan ini sekolah bertaraf internasional paling tidak boleh memiliki murid lebih dari 30 orang dalam satu kelas.

”Hal ini hanya salah satu butir syarat saja. Masih banyak ketentuan yang lain,” katanya.

Rintisan

Salah satu sekolah yang berstatus RSBI di Medan adalah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Medan.

Kepala Sekolah SMAN 1 Medan Rebekka Girsang mengatakan, saat ini sekolahnya baru mengembangkan SBI di tingkat kelas. Rintisan SBI di SMAN 1 Medan mulai berlangsung pada 2007.

Sekolahnya, tutur Rebekka, bekerja sama dengan Universitas Cambridge, Inggris, untuk meningkatkan kemampuan para guru. ”Sekarang kami sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar untuk enam mata pelajaran,” katanya.

Tahun depan, tuturnya, SMAN 1 berencana meningkatkan mutu pengajaran dengan sistem RSBI plus. Maksudnya, ada peningkatan model pengajaran dan mutu pendidik menuju tingkat SBI. ”Target kami sekolah ini SBI benar-benar dilaksanakan pada 2013,” katanya. (NDY)

Sumber: Kompas, Selasa, 17 November 2009

Langkan: Perpustakaan Kurang Dikenal Masyarakati

PERPUSTAKAAN di Indonesia minim promosi dan kurang dikenal manfaatnya oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak mengetahui secara pasti peran penting dan kegunaan perpustakaan. ”Mayoritas perpustakaan di Indonesia jarang dikunjungi masyarakat. Akibatnya, ilmu yang ada dalam buku atau dokumen di perpustakaan tidak termanfaatkan secara optimal. Hal ini terjadi merata, baik di daerah perkotaan atau desa,” kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia Harkrisyati Kamil di sela-sela persiapan seminar nasional bertema ”Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan serta Kepustakawanan di Era Digital” di Bandung, Jawa Barat, Senin (16/11). Kepala Perpustakaan Universitas Petra Surabaya Aditya Nugraha mengatakan bahwa paradigma perpustakaan sekadar tempat peminjaman buku harus diubah. (CHE)

Sumber: Kompas, Selasa, 17 November 2009

[Sosok] Soetanto, Mendidik dan Menggali Kepintaran

-- Nawa Tunggal

DI balik pencapaian gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang, Ken Kawan Soetanto punya pengalaman penuh liku. ”Apa bisa orang Indonesia mengajar orang Jepang?” begitu ungkapan yang merendahkan dia sewaktu mengajukan diri menjadi dosen di salah satu universitas di Jepang setelah meraih gelar doktor keduanya pada 1988.

Ken Kawan Soetanto (KOMPAS/NAWA TUNGGAL)

Dengan dana beasiswa Pemerintah Jepang dan semangat belajar tinggi, Soetanto, panggilannya, menjadi guru besar di beberapa universitas di Jepang. Di Amerika Serikat, tahun 1988-1993, ia menjadi associate professor di Universitas Drexel dan Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia. Sejak 2005 ia menjadi guru besar Venice International University, Italia.

Keahlian Soetanto bisa ditelusuri dari minat studinya. Keempat gelar doktor dia peroleh di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003).

”Sejak 2003 saya memegang rekor gelar empat doktor sekaligus di Jepang,” katanya.

Dari pengembangan interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi, dia menghasilkan 29 paten di Jepang dan 2 paten di AS. Pencapaian riset dengan paten paling mutakhir diakui di Jepang, yakni The Nano-Micro Bubble Contrast Agent. Pemerintah Jepang melalui NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.

”Itu riset smart medicine atau obat cerdas yang mampu menelusuri sistem jaringan pembuluh darah untuk mencari sel-sel kanker dan melumpuhkannya,” kata Soetanto.

Mendidik itu menggali

”Negara tanpa riset akan lemah. Riset harus dikembangkan melalui pendidikan yang baik,” kata Soetanto.

Pemikiran mengenai pendidikan yang baik, menurut Soetanto, kembali pada pengertian to educe, yaitu untuk menggali. Pendidikan itu menggali kemampuan atau kepintaran diri setiap orang. Pendidikan tidak mendiskriminasikan kondisi fisik seseorang dan tidak membatasi kemampuan ekonominya.

Pendidikan untuk menggali kepintaran setiap orang, termasuk orang yang kehilangan semangat belajar atau yang dianggap bodoh. Pendidikan tidak hanya untuk orang kaya. Berdasarkan pengalaman Soetanto mengajar di Jepang, justru orang miskin memiliki kemauan belajar yang lebih tinggi.

”Berapa doktor dari Indonesia yang belajar ke luar negeri dengan membayar mahal, lalu pulang dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa?” sergahnya.

Soetanto dalam menjalankan proses pendidikan di Jepang tidak hanya berteori. Namun, ia berusaha benar-benar menggali kepintaran setiap peserta didik.

Metode Soetanto mengajar di Jepang sempat dikenal sebagai ”metode Soetanto” atau ”efek Soetanto”. Suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih.

”Manusia yang sebelumnya bodoh atau tak memiliki semangat belajar sama sekali harus didaur ulang supaya memiliki motivasi belajar dan bermanfaat bagi sesamanya,” ujarnya.

Pengalaman Soetanto pertama kali mengajar di Jepang adalah di Toin University of Yokohama pada 1993. Di universitas itu, sekitar 80 persen mahasiswa tidak memiliki motivasi belajar yang baik.

”Toin University of Yokohama itu universitas ’kelas bebek’, bukan universitas unggulan, sehingga motivasi belajar para mahasiswanya rendah,” katanya.

Soetanto berhasil mengubah keadaan. Mekanisme pengajarannya untuk pencapaian kesadaran penuh mengenai apa yang sedang dijalani siswa, dan mereka pun mengerti tujuan yang ingin diraih.

Energi tersembunyi

Berbagai penghargaan diterima Soetanto, antara lain Outstanding Achievement Awards in Medicine and Academia dari Pan Asian Association of Greater Philadelphia, AS, tahun 1990.

Ia juga meraih predikat profesor riset terbaik dan profesor mengajar terbaik selama tujuh tahun berturut-turut (1994-2000) di Toin University of Yokohama.

Soetanto termasuk kategori satu di antara tiga pemohon paten paling terkemuka di Jepang. Sejak 2003 dia menjadi guru besar di Universitas Waseda dan menjabat Kepala Divisi Urusan Internasional. Dia juga menjadi orang pertama dari luar Jepang dalam 125 tahun terakhir ini yang diajukan menduduki jabatan setingkat kepala divisi di Universitas Waseda.

Sampai kini lebih dari 1.100 karya ilmiah Soetanto telah dipublikasikan. Dalam menjalani sejumlah aktivitas tersebut, kata Soetanto, ia merasa ada hidden power (energi tersembunyi).

Energi tersembunyi itu

terlahir dari perasaan terhina sebagai orang Indonesia yang masih diremehkan di Jepang. Di Indonesia, Soetanto juga pernah merasakan terbuang.

Tahun 1965, ketika terjadi pergolakan politik menentang komunisme, hak mendapat pendidikan Soetanto terampas. Sekolahnya, Chung-Chung High School di Surabaya, ditutup untuk selamanya. Soetanto hanya menyelesaikan pendidikan sampai kelas I SMA.

Selama tak lagi bersekolah, dia bekerja mereparasi elektronik di toko abangnya di Surabaya. Setelah uang terkumpul, berangkatlah dia ke Jepang tahun 1974 untuk belajar lebih jauh mengenai elektronika.

Pada 1977 Soetanto mengikuti ujian negara di Jepang dan berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian Universitas Tokyo.



***


KEN KAWAN SOETANTO ATAU CHEN WEN QUAN

• Lahir: Surabaya, 1951

• Istri: Jennie Hermanto (58)

• Anak: - Nerrie (32), Jun Adi (29), Ainie (25)

• Pendidikan:

- SD Ta Chung Surabaya (kelas I-II), SD Shi Hwa (kelas II-III), SD Ming Jiang (kelas IV-VI)
- SMP Chung-Chung - SMA Chung-Chung, sampai kelas I pada 1965
- 1965-1974 tak bersekolah, bekerja mereparasi produk elektronik
-1974: ke Osaka, Jepang
- 1977: S-1 Universitas Tokyo, Fakultas Teknik dan Pertanian
- Meraih doktor di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), doktor dalam ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), doktor ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan doktor ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003)
- 1988-1993: menjadi associate professor di Drexel University dan School of Medicine, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, AS
- 1993-kini: guru besar di Toin University of Yokohama, Jepang
- 1997-kini: Komite Evaluasi Tokyo Institute of Technology
- 2003-kini: guru besar School of International Liberal Studies di Universitas Waseda

Sumber: Kompas, Selasa, 17 November 2009

Monolog "Burung Merak" dan "Zetan": Cara Putu Mengenang Rendra

[SOLO] Nama besar WS Rendra memang tak terbantahkan. Meski sudah meninggal dunia, dia tetap menjadi magnet bagi penikmat teater di negeri ini. Paling tidak, itu terlihat ketika di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, akhir pekan lalu, digelar pementasan monolog Burung Merak karya Putu Wijaya.

Putu Wijaya dalam monolog "Burung Merak" di Solo, baru-baru ini. (Imron Rosyid)

Gedung Teater Arena yang berkapasitas sekitar 300 penonton itu tak mampu menampung penonton. Sebagian penonton terpaksa merangsek, menduduki lantai dekat panggung. Hebatnya lagi, sebagian besar penonton itu adalah remaja usia belasan tahun. Di samping nama besar Rendra, tentu saja mereka ingin menyaksikan kehebatan akting Putu Wijaya.

Pementasan monolog yang digelar sebagai peringatan 100 hari meninggalnya Rendra ini memang memukau. Aktor serbabisa Putu Wijaya menyihir para penonton dengan dua monolog yang malam itu dia bawakan, yakni Burung Merak dan Zetan. Sebelumnya, dua penyair kawakan dari Kota Solo, Wijang Warex dan Gigog Anurogo membacakan puisi Rendra.

Putu Wijaya mengawali monolognya dengan keluar dari balik layar putih yang disiram cahaya merah. Mengenakan kemeja, kain sarung, dan peci yang semua berwarna hitam, suasana sedih pun menyergap. Sebuah boneka raksasa bergelantung menjadi "teman" Putu Wijaya bermonolog.

"Pulang dari tahlilan 100 hari berpulangnya WS Rendra di Bengkel Teater, pintu rumah saya terkunci. Di teras yang menghadap ke kebun, saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sesosok yang membuat darah saya tersirap. Mas?" kata Putu mengawali kisahnya yang berdurasi sekitar 30 menit ini.

Putu Wijaya lantas membeberkan kenangannya bersama Rendra. Banyak pengalaman yang intinya Rendra mengajarkan untuk melihat sesuatu dengan sudut pandang yang baru. "Saya telah belajar dari kamu banyak hal, dengan cara yang lain. Bisa aneh, nyeleneh, asing, kurang ajar, atau gila, tetapi menjadi baru dan melahirkan kesegaran. Kau mengajak orang untuk total, orisinal, dan otentik," kata Putu.

Dongeng

Rendra tak hanya mengajarkan sudut padang baru. Dia juga mengajarkan untuk berani melawan. Dia berani melakukan interpretasi terhadap banyak hal secara nakal, tetapi benar dan segar. Selalu bersikap kritis karena sastrawan haruslah menjadi pemasok inspirasi kebenaran demi keberlangsungan peradaban.

Kebesaran Rendra itu memungkinkan dia akan menjadi semacam legenda. Kekhawatiran itu dirasakan Putu Wijaya. Kelak, bukan tidak mungkin orang menempatkan Rendra sebagai dongeng. Kelakuan Rendra akan menjadi jauh lebih terkenal daripada pikiran-pikirannya.

"Bagiku, kau sebuah buku pelajaran. Kau memang empu yang tinggal di atas awan yang bertugas seperti polisi lalu lintas pada kebijakan penguasa.. Tapi, kebesaranmu juga musuh, yang harus dilewati oleh seorang kalau ingin berhasil. Seperti yang pernah kau bilang, mengagumi dan menghargai tak boleh sampai menghilangkan sikap kritis," kata Putu Wijaya di atas panggung.

Seusai pementasan, pendiri dan pemimpin Teater Mandiri ini mengatakan, dia sengaja tidak memainkan karya Rendra dalam peringatan 100 hari kematian sahabatnya itu. Alasannya, dia ingin menghidup-hidupkan pemikiran Rendra tidak hanya sebatas karya-karyanya, apalagi dongeng tentang perilakunya. "Jangan sampai anak-anak muda nantinya hanya mengingat namanya, hanya tahu dongeng tentang Rendra atau beberapa karyanya, tetapi pikiran-pikiran Rendra malah tidak diketahui," katanya.

Pementasan di Solo itu adalah pementasan yang ketujuh setelah malam sebelumnya di Yogyakarta. Putu Wijaya dan kawan-kawannya memang melakukan road show di 13 kota. Pementasan pertama diawali dari Bandung dan akan diakhiri di Jakarta, 28 November mendatang. [IMR/F-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 17 November 2009

Monday, November 16, 2009

Timor Leste dan Indonesia

-- A Windarto

PADA HUT Ke-10 The Habibie Center, mantan Presiden BJ Habibie menyatakan Timor Leste tidak pernah masuk Proklamasi RI.

Alasannya, karena yang diproklamasikan adalah Hindia Belanda (Kompas, 9/11/2009).

Pernyataan ini menarik karena terkait masa lalu Indonesia yang secara historis banyak menyimpan anakronisme yang menyamarkan beragam fakta. Timor Leste adalah contoh. Semula negeri itu dianggap berintegrasi ke NKRI sebagai Timor Timur. Ternyata bekas koloni Portugis itu dianeksasi melalui semacam invasi militer tahun 1975.

Dalam hantu komparasi

Benedict Anderson dalam Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia (2002) mengatakan, lubang hitam dalam sejarah Indonesia di pulau kecil sebelah utara lepas pantai Australia itu cenderung ditutup-tutupi, termasuk jumlah penduduk Timor Timur yang tewas akibat kelaparan, wabah, dan pertempuran 1977-1979. Padahal, menurut Peter Carey (1995), jumlahnya melebihi angka kematian penduduk Kamboja di bawah Pol Pot.

Fakta sejarah ini amat jarang diberitakan media Indonesia. Kalaupun ada, media yang memberitakan niscaya akan menemui ajal. Majalah Jakarta-Jakarta, sebagai salah satu media populer, misalnya, menjadi korban pemberitaan tentang Timor Timur tahun 1992.

Namun, meski media dimatikan, cerita yang berkisah tentang Insiden Dili, 12 November 1991, masih terbaca sebagai cerpen. Pelajaran Sejarah (Seno Gumira Ajidarma, Saksi Mata, Penerbit Bentang, 1994) yang menjadi fiksi dari peristiwa Santa Cruz itu ditulis oleh wartawan dari media yang kena sensor pemerintah saat itu. Bagi sang wartawan, cerpen atau fiksi merupakan cara lain untuk menyajikan berita atau fakta sejarah yang sengaja disembunyikan, bahkan dihilangkan. Maka, sejarah bukan sekadar catatan penyebab kejadian pada masa lalu, tetapi juga demi menyiapkan akibat selanjutnya pada masa kini.

Maka, berbicara tentang Timor Leste saat ini tak bisa lepas dari Timor Timur yang pada masa lalu menjadi provinsi termuda Indonesia. Hal ini sebanding dengan wacana tentang Indonesia yang sebelumnya merupakan koloni Hindia Belanda. Apa yang disebut sebagai Indonesia sebenarnya hasil ciptaan abad ke-20 yang belum ada pada masa penjajahan selama 350 tahun sebagaimana sering diucapkan Bung Karno. Artinya, sebutan itu bukan merupakan warisan leluhur yang tak tergali dari ingatan, tetapi sebuah penemuan politis yang menandai bangkitnya kesadaran suatu bangsa. Dengan kata lain, Indonesia menjadi sebuah nama yang mengungkap rasa kebangsaan di antara sesama nasionalis pergerakan yang ingin lepas dari penaklukan koloni Hindia Belanda. Koloni itulah yang wilayah-wilayahnya sempat ditaklukkan Belanda tahun 1850- 1910 dan disebut Van Sabang tot Merauke.

Di bawah bayang-bayang sebutan itu, kemerdekaan RI diproklamasikan. Sayang, proklamasi yang menghasilkan NKRI itu justru dipermalukan oleh pengambilalihan dan pendudukan Timor Timur 30 tahun kemudian. Bahkan, nasionalisme Indonesia yang setengah abad sebelumnya dibela dengan sumpah tritunggal suci—bahasa, bangsa, dan tanah air—kian terdera akibat kekalahan telak dalam jajak pendapat di bawah PBB pada Agustus 1999.

Benci tetapi rindu

Kekalahan itu seolah terlunasi dengan pengeksekusian ”nasionalisme menyerang-nyerang” di wilayah semiskin Timor Timur pascajajak pendapat. Jadi, bukan fiksi belaka jika Timor Timur yang sudah berubah menjadi Timor Leste pernah punya ikatan psikologis dan historis dengan Indonesia yang merupakan hasil proklamasi Soekarno-Hatta.

Dengan real politik semacam ini, dasar lepasnya Timor Timur dari Indonesia hampir sama dengan pengintegrasian daerah tak bertuan ke NKRI. Pasalnya, keduanya diputuskan hanya karena ”belas kasihan” terhadap wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Barat.

Dalam bahasa psikologi politik diistilahkan dengan ”hubungan benci tetapi rindu”. Di satu pihak, Timor Timur ”milik” Indonesia yang harus dipertahankan, di lain pihak, teritorial itu dipandang sebagai ”negeri asing” yang tidak mungkin dapat hidup tanpa ikatan dengan Indonesia.

Dalam hubungan paradoks itu, masuk akal jika ada ”gejolak psikologis” amat besar saat para milisi yang mendapat dukungan penuh dari Indonesia terusir secara tidak menyenangkan dari negeri sendiri. Begitu pula dengan ABRI yang—sambil menahan malu—tergusur pasukan internasional penjaga perdamaian yang dipimpin Negeri Kanguru.

Agaknya, inilah akibat politik dan kemanusiaan yang lolos dari pengamatan banyak pihak, termasuk PBB, yang menghasilkan bukan hanya kekacauan emosi dan keteledoran intelegensi, tetapi tragedi yang mendera kedua bangsa hingga kini.

Tentu cukup dipahami, segala kejengkelan, bahkan amarah, yang terpendam terhadap Timor Leste, tidak mudah dihapus dari ingatan. Namun, dengan mudah melupakan begitu saja apa yang pernah terjadi di sana sama dengan membalikkan punggung atas aneka kekejaman. Lugasnya, Timor Leste tetap merupakan bagian sejarah Indonesia yang layak ditulis sebagai pelajaran untuk melawan lupa. Jika tidak, jangan heran bila masih akan ada banyak orang yang bersedia bukan hanya melenyapkan nyawa orang lain, tetapi merenggut nyawa sendiri dengan rela akan dikerjakan.

* A Windarto, Peneliti di Lembaga Studi Realino, Yogyakarta

Sumber: Kompas, Senin, 16 November 2009

Langkan: 9 Peneliti Indonesia Masuk Peneliti Unggul Asia

SEMBILAN peneliti dari Indonesia masuk dalam pemetaan peneliti unggul Asia Tenggara. Pemetaan tersebut dilakukan dan dipublikasikan oleh SE-EU Net yang merupakan sebuah jaringan peneliti di Asia Tenggara dan Eropa.

Kesembilan ilmuwan yang dianugerahi kehormatan sebagai peneliti unggul (excellent researcher) tersebut ialah Gunawan Indrayanto (profesor biologi farmasi Universitas Airlangga), Muhilal (pakar nutrisi di Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan), Maggy Thenawidjaja (profesor di Fakultas Teknologi Institut Pertanian Bogor), serta Sunu Budhi Raharjo (pakar kardiologi Departemen Kardiologi dan Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Peneliti lainnya ialah Khie Khiong (associate professor di Divisi Imunologi Puslit Ilmu Kedokteran Universitas Maranatha Bandung), Nurul Taufqu Rochman (peneliti senior bidang fisika LIPI), Sri Yudawati Cahyarini (peneliti geoteknologi dari LIPI), Terry Mart (peneliti di Departemen Fisika Universitas Indonesia), dan Koo Hendrik Kurniawan (Kepala Maju Makmur Foundation Research Center). (*/INE)

Sumber: Kompas, Senin, 16 November 2009

Sunday, November 15, 2009

[Buku] Pelajaran Cinta Lian Nio

Judul Buku: Lian Nio, A Strue Story
Pengarang: Suwandono
Penerbit: Langit Kresna Hariyadi Production, Malang
Cetakan : I, Oktober 2009
Tebal: 512 halaman

SELAMA berkarir sebagai wartawan, saya kurang tertarik membaca novel. Tetapi, ketika disodori novel Lian Nio, A True Story, saya terdorong merampungkan novel itu dan menuliskan ulasannya. Hal tersebut semata-mata disebabkan pengarangnya, Suwandono, punya latar belakang jauh dari dunia sastra.

Dia adalah sarjana ekonomi yang sehari-hari berkutat di dunia realestat. Meski begitu, dia mampu menampilkan novel itu dengan menarik. Ada beberapa hal yang membuat saya sangat kesengsem dengan buku tersebut.

Pertama, novel itu bercerita tentang kisah nyata yang menurut saya luar biasa. Kisah nyata yang terjadi di sebuah kota di Jawa Timur dengan rentang waktu yang cukup panjang, mulai 1966 hingga 2003. Bertebarannya catatan kaki (footnote) yang menerangkan para tokohnya, nama asli tokoh-tokohnya, hidup atau matinya dia, mengakibatkan novel Lian Nio memiliki pembeda.

Ketika umumnya novel berbahan imajinasi atau angan-angan bawah sadar pengarang, Suwandono justru sibuk berkutat dengan akurasi dan presisi, utamanya tentang siapa anak siapa, tinggal di mana, dimakamkan di mana, kapan, hari apa, pukul berapa, dan tahun berapa. Bisa dibayangkan betapa ribet yang harus dilakukan jika pengarangnya bukan seorang yang benar-benar menghayati kisah novel itu. Ketika pengarang lain bisa seenaknya menempatkan diri menjadi "Tuhan" dengan melakukan apa pun terhadap para tokoh, hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh Suwandono. Tentu penyebabnya adalah si pengarang novel itu berhadapan dengan kisah nyata yang sebagian besar tokohnya masih hidup ketika kisah tersebut ditulis.

Kedua, bahan baku yang kemudian diolah menjadi rangkaian kisah nyata dalam buku itu, menurut saya, sangat bagus. Menulis Lian Nio pada dasarnya menulis ulang sebuah sejarah. Meskipun, wilayahnya hanya mundur 30 tahunan, seusia pengarang novel itu. Penggarapan novel berbahan peristiwa nyata menjadi pilihan ketika idenya memang benar-benar bagus. Akan tetapi, dalam kasus Lian Nio, bukan hanya ide yang baik, tetapi peristiwanya juga menarik.

Inti novel itu mengisahkan banyak hal. Mulai ras, kesenjangan status sosial-ekonomi, perbedaan agama, konsekuensi suatu pilihan hidup, cinta sejati, kesetiaan, pengorbanan, hingga totalitas. Namun, si pengarang mengemasnya sebagai sebuah renungan bagi siapa saja. Dalam bahasa yang encer ketika mengupas masalah rasialisme di buku tersebut, pengarang menyajikannya dengan jeli sehingga tidak harus menjadi pemicu sikap rasialisme pembaca.

Diawali dengan kisah jalinan cinta yang mekar di hati Siswoto dan Lian Nio, dua sosok yang benar-benar jungkir balik. Lian Nio cantik luar biasa. Sebaliknya, Siswoto jelek luar biasa. Lian Nio berumur 20 tahun, sementara Siswoto 37 tahun. Lian Nio berasal dari keluarga Tionghoa mapan, Siswoto adalah seorang pejudi dari keluarga Jawa yang melarat.

Lebih parah lagi, Siswoto sering berjudi dengan Kwee Kiat Bing, ayah kandung Lian Nio. Sebagai lawan tanding dalam berjudi, tentu Kwee Kiat Bing sangat mengerti tabiat Siswoto. Termasuk, dia hafal gaya pemuda itu mengumpat. Bagi orang tua mana pun, apa yang harus dihadapi Kwee Kiat Bing dan Liem Bhe Wha (istrinya) bisa dianggap sebagai bencana paling mengerikan. Seperti itulah umumnya cara pandang orang tua manakala mendapati anak gadisnya menjalin asmara dengan lelaki yang jauh dari kata ideal. Sangat bisa dimengerti jika akhirnya muncul penolakan amat keras dari Kwee Kiat Bing ketika mencium gelagat Siswoto menjalin hubungan khusus dengan Lian Nio.

Penolakan itu berbuah peristiwa yang menggemparkan desa dan tak akan pernah bisa dilupakan penduduknya. Peristiwa seorang ayah mengejar-ngejar anaknya dengan pisau tajam terhunus. Sang ayah, Kwee Kiat Bing, yang marah besar dan merasa harga dirinya tersinggung tidak merasa ragu untuk menghabisi nyawa anak pertamanya itu. Dalam peristiwa yang tercatat pada 5 Juni 1969 tersebut, Tuhan berkehandak lain. Lian Nio berhasil menyelamatkan diri.

Namun, apa pun bentuk cinta itu memang mampu memberikan kekuatan gila-gilaan, sulit membayangkan betapa perihnya hati seorang Lian Nio ketika harus mengalami peristiwa tersebut. Bukan hanya ayahnya yang menyerang dengan sadis, tapi juga ibu dan kerabat yang lain. Berdasar interviu yang saya lakukan dengan si pengarang, dalam pengungkapan penggalan kisah itu, masalah berat yang harus dia hadapi adalah hadangan dari kerabat yang tidak setuju jika peristiwa tersebut dinovelkan.

Menurut pihak yang tidak sependapat, itu sama saja dengan mengumbar aib keluarga. Pada poin tersebut, sungguh salut harus diacungkan kepada pengusaha realestat yang kukuh pendirian itu, yang tetap merasa perlu menyajikan kisah tersebut apa adanya. Untuk beberapa penggalan kisah yang menyangkut pihak lain dan mengingat getirnya konflik yang harus dialami, dengan bijak si pengarang mengganti beberapa nama tokoh dengan nama samaran.

Ketiga, kisah dalam novel itu memiliki sengatan masalah yang tinggi karena benturan konflik yang kontras. Suwandono mengumbar banyak sekali adegan yang menyentuh, tetapi jauh dari cengeng. Saya sependapat dengan Mas Slamet Rahardjo Djarot (sutradara film) yang memberikan sumbangan kata pengantar sangat menarik dalam buku itu. Peristiwa demi peristiwa disuguhkan apa adanya, tak berjarak, seolah pembaca di tengah-tengah permasalahan. Tautan antarkisah dalam novel tersebut menghadirkan rasa penasaran karena masalahnya sangat mendebarkan, menyedihkan, dan membahagiakan. Selain itu, pengungkapan suasana serta percakapan para tokohnya terhindar dari kesan menggurui.

Buku tersebut tidak hanya bercerita tentang jalinan asmara gadis Lian Nio dan pemuda Siswoto, tapi juga bertutur tentang yang akan dialami anak-anak Kwee Kiat Bing lainnya. Pengarang menggiring kejadian-kejadian itu sebagai suatu klimaks. Bahkan, disinggung pula masalah kutukan yang dialami keluarga besar Kwee Kiat Bing. Disebut kutukan karena pada akhirnya tidak seorang pun anak kandung Kwee Kiat Bing yang menikah dengan sesama Tionghoa. Padahal, upaya Kwee Kiat Bing untuk memberikan perlawanan dengan mengatasnamakan menjaga kehormatan keluarga sangat keras. Namun, pada akhirnya perlawanan itu sia-sia.

Keempat, menurut saya, buku tersebut akan mampu memberikan penyegaran kepada pembaca. Pembaca perempuan lajang akan bisa mengambil inspirasi bagaimana seharusnya menentukan pilihan hidup. Seperti apa cinta sejati itu? Bagaimana wujud kesetiaan? Selain itu, pembaca laki-laki lajang juga dapat menarik suatu kesimpulan, tidak ada yang tidak mungkin jika menyangkut masalah cinta. Tidak ada tembok pemisah antarras, tidak ada jurang antara si kaya dan si miskin, si cantik dan si jelek.

Sementara itu, para orang tua yang memiliki anak usia remaja bisa mengambil tambahan pemahaman bahwa manusia mempunyai derajat yang sama. Bagaimana menyikapi perbedaan agama dan bagaimana pula cara menghadapi suatu pilihan yang diambil anak jika tak sejalan dengan keinginan orang tua? Boleh dikata, buku itu menyajikan menu yang lengkap, unsur edukasi, filosofi hidup, roman yang menyentuh, perjuangan hidup, hingga humor segar. Semua itu dirangkai menjadi suatu kisah dalam buku setebal 512 halaman tersebut.

Tak berlebihan kiranya Slamet Rahardjo Djarot menganggap kisah tersebut memiliki kemungkinan yang besar untuk dilayarputihkan karena struktur dan pengadeganan ceritanya disusun mendekati teknik editing dalam asas sinematografi.

Bahkan, menurut saya, buku itu termasuk more than just a novel.

Tentu saja tak ada gading yang tak bisa retak. Misalnya, dalam adat dan hukum Islam, seseorang yang berbeda keyakinan (agama) jika ingin menikah harus mengucapkan dua kalimat syahadat lebih dulu. Dalam buku tersebut, tak dijelaskan apakah Lian Nio sebelum menikah sudah masuk Islam atau belum. Di situ, tiba-tiba diceritakan dua sejoli tersebut langsung menikah di rumah seorang tokoh kampung. Itu berbeda ketika pengarang mengisahkan adik Lian Nio, Eng Wan, yang menikah dengan Umi, orang Jawa muslimat. Sebelum menikah, Eng Wan menyatakan masuk Islam. Bahkan, dia harus menjalani khitan terlebih dahulu sebelum berhubungan suami istri.

Terlepas dari kekurangan itu, sekali lagi, novel Lian Nio mampu mendobrak tradisi nenek moyang sekaligus menginspirasi warga keturunan yang ingin membaur dengan warga pribumi. Apalagi, bahan-bahan penulisannya diambil dari kisah nyata yang dialami pengarang. Selamat membaca. (*)

Shodiq Syarief
, wartawan Jawa Pos, tinggal di Jember

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 15 November 2009

Buku Baru: Karya yang Diprediksi Laris

PENURUNAN jumlah pengunjung pameran tidak mengurangi semangat memprediksi buku-buku laris pada tahun 2010. Buku Conversation with Myself karya Nelson Mandela, menurut penerbitnya, Curtis Brown dari Inggris, akan meledak. Buku yang terbit pada musim gugur tahun 2010 itu berisi catatan harian Mandela yang belum pernah dipublikasikan, termasuk hidupnya di penjara selama 27 tahun dan lima tahun sebagai Presiden Afrika Selatan. ”Sudah banyak yang menyatakan tertarik, di antaranya penerbit dari AS, Denmark, Israel, Portugal, Italia, dan Belanda,” kata Jonny Geller dari Curtis Brown.

Menurut Geller, Mandela menulis secara virtual setiap hari dan mencatatnya dalam buku harian. Buku itu mengilhami keluhuran pribadinya, inspiratif, dan diperkirakan meledak seperti Long Walk to Freedom karya Mandela yang terbit tahun 1994.

Buku The Secret karya Rhonda Byrne, buku-buku karya mantan Kanselir Jerman Helmut Schmidt, psikolog Michael Winterhoff dan Richard Precht masuk pula dalam daftar 10 buku top Jerman nonfiksi.

Kemenangan Obama mendorong Stephen MacDonogh menulis buku Barack Obama, The Road from Moneygall. Buku ini diilhami nyanyian Obama, berkisah tentang imigran Irlandia ke AS, Fulmouth Kearney, nenek moyang Barack Obama yang lahir di Moneygall, hingga kisah tentang orangtua Obama. Seiring terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS dan pemenang Nobel Perdamaian 2009, buku itu diprediksi meledak. Buku ini baru akan dirilis penerbitnya, Brandon Books, pada September 2010.

Fiksi

Karya fiksi laris dari Inggris, selain tentunya karya JK Rowling, adalah karya terbaru Dan Brown berjudul The Last Symbol. Entah disengaja atau tidak, yang dipajang di toko-toko buku di Frankfurt bahkan di lokasi pameran termasuk di gerai penerbitnya, Bantam Press, justru versi Jerman dengan judul Das Verlorene Symbol. Sebaliknya, yang versi Inggris, dipajang dan dijual di toko-toko buku di Koln dan Munich. Menurut pemilik sebuah toko buku di Koln, buku itu baru dirilis minggu kedua bulan September. Di Indonesia buku ini sudah ada sejak akhir September.

Nama Dan Brown diikuti Stephanie Meyer dan Stieg Larsson. Novel-novel Meyer tercatat dalam 10 buku fiksi top di Jerman dan Italia, juga dalam daftar Amazon. Namun, novel Twilight dan kemudian New Moon karya Meyer justru melorot ke ranking 10 ketika dimasukkan dalam novel pop di Denmark. Sementara tiga novel karya Larsson, trilogi kejahatan Millenium, tetap bertengger di 10 top judul di Perancis, Italia, dan Denmark.

Namun, ada sejumlah buku fiksi yang diprediksi meledak ternyata anjlok dalam pemasaran. Selama tahun 2004-2008, novel The Wrong Kind of Blood karya Declan Hugenes dari Inggris yang dipublikasikan April 2007 dalam seminggu hanya terjual 22 eksemplar. Karya Kit Whitfield berjudul Bareback selama tahun 2005 terjual 3.659 eksemplar.

Empat judul novel yang diperkirakan laris tetapi ternyata jeblok seperti The Dangerous Book for Boys karya dua penulis buku laris Conn Iggulden dan Hal Iggulden yang terbit tahun 2006 hanya terjual 681.865 eksemplar. Ugly karya Constance Briscoe yang terbit tahun 2006 hanya laku 370.614, Brehren karya Robyn Young dirilis tahun 2007 hanya terjual 184.918, dan I Choose to Live karya Sabine Dardenne yang terbit tahun 2005 hanya terjual 179.822 eksemplar (STS)

Sumber: Kompas, Minggu, 15 November 2009

Buku Elektronik Masa Depan Perbukuan

-- ST Sularto

SEJAK lebih dari 2-3 tahun lalu, Frankfurt Book Fair 2009 (14-18 Oktober) selalu diramaikan ”e-book” (buku elektronik). Kali ini beberapa gerai telah menawarkan perangkat kerasnya (”e-book reader”) seharga sekitar 320 euro (sekitar Rp 4,5 juta).

Perdebatan dimulai dengan pertanyaan, akankah semua buku menjadi buku elektronik? Richard Charkin dari Berlin mengatakan, itulah awal perdebatan yang absurd. Argumen kontra bahwa penerbitan akan selalu mengakrabi teknologi merupakan keniscayaan, seperti terjadi pada koran.

Pengalaman penerbit Bloomberg di Jerman menunjukkan masa depan perbukuan adalah paduan antara cetak, elektronik, dan audio. Pembaca mendapatkan pelayanan lebih baik. Penanganan masalah hak cipta dan terjemahan bersama-sama dilakukan. Fleksibilitas penerbitan buku menjadi keharusan kalau bisnis ini mau sukses. Yang dilakukan adalah mengadaptasi perkembangan buku elektronik dan buku audio (audio book).

Pendapat Charlin dikutip untuk menggambarkan suasana pameran diwarnai antisipasi dunia industri buku. Buku elektronik dan buku audio adalah bisnis perbukuan masa depan di samping buku cetak. Tidak hanya menyangkut pemanfaatan perkembangan teknologi, tetapi juga perubahan kultur, utamanya budaya membaca buku.

Digitalisasi dalam bentuk buku elektronik dan buku audio berkembang berkat temuan internet. Kehadirannya hampir bersamaan. Ketika internet merebak pada awal tahun 1970-an, digitalisasi buku dilakukan pertama tahun 1981 dengan mendigitalkan buku-buku klasik yang sudah menjadi milik masyarakat. Proyek yang dinamai Proyek Gutenberg pada tahun 1971 itu menjadi cikal bakal buku elektronik, disusul tahun 1981 ketika Penerbit Random House menerbitkan kamus berbentuk elektronik dengan judul The Random House’s Electronic Thesaurus (Atep Kurnia, Kompas, 24/10/2009).

Kini buku-buku elektronik terbitan luar mudah diperoleh dari internet. Bagi yang akrab dengan teknologi ini, memperoleh buku elektronik jauh lebih mudah dan lebih menguntungkan dibanding menemukan buku cetak.

Persoalan hak cipta

Salah satu kesibukan pengunjung pameran buku di Frankfurt berkaitan dengan urusan hak cipta terjemahan. Urusannya tawar-menawar harga hak cipta. Negosiasi umumnya menyangkut pencetakan dan royalti. Namun, hampir 90 persen urusannya tidak langsung terkait dengan hak cipta buku elektronik (digital).

Untuk bernegosiasi soal hak cipta, pertimbangan dan urusan menyangkut banyak aspek mulai dari isi buku, percetakan, distribusi, sampai gudang. Hak cipta terjemahan menjadi awal dan akhir pengunjung, khususnya pelaku bisnis buku, termasuk pernak-pernik industri buku. Jangan diremehkan, Indonesia pun mulai bisa menjual hak cipta terjemahan.

Menurut Priyo Utomo dari kelompok penerbit buku Kompas Gramedia, setahun ini perusahaannya berhasil menjual 350 judul ke berbagai penerbit di Malaysia dan Singapura. Frankfurt pun tidak lagi jadi kiblat para penerbit dari Asia, termasuk Indonesia.

Buku elektronik merupakan bisnis masa depan perbukuan, tetapi dalam kontrak-kontrak bisnis di Frankfurt hak cipta buku elektronik kurang diberi perhatian. Padahal, menyangkut royalti penulis, nominal yang diperoleh seharusnya ditambah kalau buku itu berbentuk cetak, elektronik, dan audio. Perhitungan harga hak cipta perlu dibeda-bedakan.

Provokasi itu disampaikan Jane Friedman dari Inggris dalam ceramahnya, sekaligus promosi buku elektronik terbitan Harper Collin, Catch-22 karangan Joseph Heller. Hak cipta elektronik dan audio tidak lagi hanya tambahan. Jual beli hak cipta merupakan sewa yang wajar, tulis Evan Schnittman dari Penerbit Oxford University Press dalam salah satu terbitan berkala pameran. Pembeli hak terjemahan harus mempertimbangkan hak cipta digital. Mereka memperoleh keuntungan dari penjualan buku elektronik maupun buku cetak terjemahannya.

Amazon.com dengan program Kindle-nya mengaku memperoleh banyak uang dari mengunggahkan buku ke internet, begitu juga Google Books. Amazon mengaku sudah lebih dari 200.000 judul buku berbahasa Inggris diunggah ke internet. Ini berarti, penerbit buku cetak yang juga memperbanyaknya dalam elektronik dan digital memberikan harga lebih tinggi dibanding kalau karya itu hanya diunggah ke internet.

Namun, Google menuai banyak protes. Salah satunya adalah protes yang dilakukan kelompok yang mewakili kepentingan 9.000 penulis China. Google dituduh melakukan pembajakan hak cipta dengan mendigitalkan sekaligus menjual bebas di toko buku dan perpustakaan. Para pengarang itu tidak diberi tahu lebih dulu. (International Herald Tribune, 30/10).

Persoalan hak cipta barangkali satu dari persoalan ikutan menyangkut era digitalisasi buku. Era di mana orang semakin banyak membaca buku elektronik sudah diperkirakan. Celah itu ditangkap oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku maupun yang bergerak di bidang sarana. Sebuah perusahaan Korea Selatan, yang tidak ada urusan penerbitan buku cetak, rajin menawarkan perkakas e- book reader mungil di salah satu gerai dengan harga 319 euro.

Kasus Indonesia

Ketika buku elektronik sudah berkembang pesat di luar, di Indonesia baru dilirik-lirik beberapa penerbit. Penerbit Mizan, misalnya, pernah membuka akses gratis di situsnya buku berjudul Wasiat Sufi Imam Khomeini kepada Putranya, tetapi kemudian dihentikan. Sesudah itu sampai sekarang belum ada penerbit yang mencobanya lagi.

Departemen Pendidikan Nasional merintis buku elektronik untuk buku sekolah. Maksudnya baik, memurahkan harga buku sekolah dan meringankan beban orangtua untuk biaya buku pelajaran. Program yang diluncurkan dengan Peraturan Mendiknas Nomor 2 Tahun 2008 itu merupakan salah satu bentuk reformasi perbukuan. Pasal-pasalnya menyebutkan antara lain: murid tidak perlu membeli buku, tetapi bisa mengunduh langsung dari internet. Hak cipta sudah dibeli Depdiknas. Penerbit boleh memperbanyak dan menjualnya dengan harga patokan tertinggi.

Bagaimana perkembangannya? Kebijakan itu setengah hati. Penerbit yang dalam kebijakan ini lebih berperan sebagai pencetak buku sekolah enggan mengunduh dan mencetak judul-judul buku yang jumlah halamannya banyak. Mengapa harganya jatuh lebih mahal? Karena tidak bisa menutup harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Penerbit hanya mengunduh dan mencetak buku-buku berhalaman tipis.

Menurut Setiadarma Madjid, Ketua Ikapi Pusat, kebijakan buku elektronik perlu dievaluasi. Selain tidak tersedia beberapa judul buku pada waktu dibutuhkan, dalam kenyataan tidak semua sekolah punya akses masuk ke internet. Dia mengusulkan, pemerintah perlu tegas mengambil bagiannya. Kalau pemerintah mau menangani seluruh pengadaan buku, silakan, penerbit-penerbit akan mengisi kekosongan buku nonsekolah. Kalau tidak, berikan kesempatan penerbit melakukan terobosan-terobosan tanpa direcoki peraturan-peraturan.

Kasus buku sekolah elektronik sekadar contoh ketertinggalan Indonesia mengadaptasi bisnis perbukuan. Penggunaan kemajuan teknologi informasi untuk membangun peradaban masih lebih banyak dimanfaatkan untuk entertainment. Buku elektronik sebagai bisnis masa depan perbukuan serupa terjadi pada industri media massa: bentuk konvergen-sinergik digital dan cetak masih tertatih-tatih. *

Sumber: Kompas, Minggu, 15 November 2009

Membandingkan "The Chairs" Ionesco dengan "Kereta Kencana" Rendra

-- Ikranagara

DRAMA ”Kereta Kencana” bukan terjemahan atas drama absurd ”The Chairs” (Ionesco), melainkan karya Rendra yang mendapat inspirasi dari drama itu. Ada memang kalimat/dialog yang dia kutip dari drama itu. Itu pun ada yang konteksnya sudah lain. Yang juga diambil dari drama Ionesco adalah pola penampilan sejumlah tokoh cerita yang imajiner.

Apakah ”Kereta Kencana” bisa dipandang sebagai drama absurd, mungkin perlu telaah yang lebih dalam. Masalahnya, apakah ada pandangan filosofi Absurdisme yang dianut Ionesco (juga Beckett cs) yang menjadi pandangan pengarang absurdis ini terhadap hidup manusia di dunia, dalam karya Rendra itu. Adalah Eric Bentley yang memosisikan penulis naskah drama sebagai the thinker/pemikir berat/berbobot dan dalam, sebagaimana diungkapkan dalam bukunya The Playwright as Thinker. Tapi tentang Absurdisme, filsuf Soren Kierkegaard yang pertama kali melontarkan ide filosofis ini, lalu seabad kemudian disambut oleh Albert Camus dalam karya fiksi (novelnya dan dramanya) maupun esainya, dan akhirnya Martin Esslin secara khusus membahas karya drama penulis/pemikir/filsuf yang berangkat dari atau menggulati pandangan hidup ini dalam bukunya Theatre of The Absurd. Buku Esslin ini menjadi pegangan pokok dalam pembahasan drama absurd: revisinya sudah dilakukan dua kali, terbitan terbarunya 2004.

Statement absurdisme Ionesco yang dinyatakan dalam bahasa teaterikal sebagai penutup drama ”The Chairs” ternyata tidak ada dalam ”Kereta Kencana”.

Pembukaannya juga jauh berbeda:

Dalam ”Kereta Kencana”, drama dibuka dengan kamar tamu yang gelap, dan terdengarlah narasi berisi panggilan kepada Kakek dan Nenek entah dari mana sumber suaranya, mungkin dari balik dunia nyata. Narasi itu menyatakan akan dikirim sebuah kereta kencana ditarik 10 ekor kuda warnanya satu, untuk membawa Kakek dan Nenek pergi, entah ke mana. Mungkin bisa ditafsirkan sebagai narasi Sang Maut atau Tuhan atau lainnya. Setelah itu muncul Nenek membawa lilin mencari-cari Kakek.

Dalam ”The Chairs” drama dibuka dengan setengah terang, dan Kakek sedang asyik memandangi laut lewat salah satu jendela. Nenek khawatir kalau Kakek terjatuh ke bawah dan tenggelam ditelan air mengambang dan berbau busuk dan banyak nyamuknya itu, meminta Kakek untuk meninggalkan jendela dan menutupnya. Kakek menolak! Terpaksa Nenek menarik-narik Kakek. Kakek melawan! Terjadi tarik-menarik yang tentu saja bisa ditampilkan sebagai adegan pembuka yang kocak!

Pada naskah ”The Chairs” memang disebutkan bahwa drama ini ”tragic farce” oleh Ionesco, atau sering kali orang mengatagorikannya sebagai ”tragicomedy” juga.

Dalam ”The Chairs” ada satu lagi tokoh cerita yang tidak imajiner, selain Kakek dan Nenek, sehingga jumlah keseluruhannya ada tiga orang. Dalam ”Kereta Kencana” hanya ada dua saja, yaitu Kakek dan Nenek. Nah, yang ketiga dalam karya Ionesco itu diberi nama Sang Orator. Dia bertugas memberikan semacam pidato kebudayaannya Kakek tentang kondisi kemanusiaan yang universal dari kacamata manusia sebagai the everyman (manusia tanpa karakter pribadi perorangan).

Jadi, kemunculan Sang Orator ini dalam karya Ionesco merupakan kejutan karena tamu-tamu lain yang jumlahnya banyak sampai berdesakan mengisi seluruh pentas itu semuanya imajiner. Mereka semua memang diundang oleh Kakek untuk mendengarkan pidato kebudayaannya Sang Kakek yang akan diutarakan oleh Sang Orator. Saat itulah yang ditunggu-tunggu! Tapi setelah semua hadir, juga Sang Orator hadir, kejutan berikutnya adalah: Sang Orator itu (mendadak?) bisu! Maka dia hanya menyampaikan pidato kebudayaan itu berupa tulisan pada papan tulis saja. Yang ditulisnya hanya dua kata saja: ”Good-bye” dan ”God”. (Sebenarnya isi pidato kebudayaan itu bisa dicari pada buku Ionesco berjudul Notes and Counter Notes.

Bagian penutup drama berupa Kakek terjungkal (bunuh diri?) ke luar rumah lewat jendela: mati! Demikian juga sang Nenek lewat jendela satunya lagi: juga mati! (Dalam ”Kereta Kencana” Kakek dan Nenek mati: kena serangan jantung bareng.)

Selanjutnya dalam drama Ionesco itu yang tinggal adalah sebuah ruang penuh berisi kursi kosong yang tadi dibawa masuk satu per satu oleh Kakek dan Nenek untuk tempat duduk tamu-tamunya yang di akhir cerita semuanya pergi dari ruang tamu ini. Dan, suara-suara kacau hiruk-pikuk pating seliwer yang makin keras menjadi jeritan-jeritan dan hardikan dan sebagainya. Akhirnya disusul dengan suara-suara kacau itu meredup menuju sunyi. Pentas pun kosong persis sebuah auditorium teater setelah sebuah pertunjukan usai dan ditinggalkan oleh penonton.

Itulah sebuah dunia yang kosong dari segala-galanya, termasuk dari makna, setelah semua hiruk pikuk berupa kehidupan berlalu, dalam bahasa teaterikal ala Ionesco.

Nah, seting dekor pentasnya berupa penjelasan secara detail tentang sebuah ruangan bertembok melengkung yang di tengahnya ada pintu besar. Lalu di kiri dan kanannya ada beberapa pintu lagi yang ukuran biasa. Ada satu jendela di kirinya dan satu lagi di kanannya. Di bawah jendela ini masing-masing ada bangku. Di tembok antara pintu besar dan jendela sebelah kanan ada sebuah papan tulis, yang di bawahnya ada sebuah level yang berfungsi undak-undakan bagi yang akan menulis sesuatu pada papan tulis. (Dalam ”Kereta Kencana” seting dekornya tidak dijelaskan secara detail.)

Rumahnya Kakek & Nenek ini berada di sebuah (sisa) pulau yang sempit yang dikelilingi air genangan yang bergabung dengan laut sampai ke kaki langit. Kesannya, inilah hari-hari terakhir manusia di bumi setelah dilanda bencana/banjir global. Maka kota Paris sudah (tenggelam) tidak ada lagi. (Ini mengingatkan kita pada seting kejadian dalam drama ”End game”-nya Beckett. Kekek dan Nenek itu juga mengingatkan kepada Kekek dan Nenek yang berumah di tong sampah dalam drama Beckett itu.)

Endingnya ”The Chairs” memang berupa statement tentang hidup yang sia-sia tak ada artinya. Akan halnya tulisan Sang Orator pada papan tulis, yaitu kata ”Good-bye” dan ”God” itu, cara membacanya punya dua kemungkinan: (1) pilih salah satunya, antara ”Good-bye” atau ”God”, (2) pilih kedua-duanya, yaitu digabungkan menjadi satu kalimat, hasilnya ”Good-bye God”.

Itulah intinya yang ada di dalam drama Ionesco ”The Chairs”.

Sedangkan Rendra dalam ”Kereta Kencana” lain lagi. Bahwa hidup akan berpindah ke tempat yang akan dibawa oleh ”Kereta Kencana”, yaitu suatu tempat yang penuh ”cahaya terang dan kebenaran” yang antara lain menyediakan ruang bagi kenikmatan cinta yang tidak badaniah yang abadi. Sedangkan hidup di dunia ini pun tetap memberikan ruang kepada makna patriotisme, perjuangan menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan segala yang baik. Tampaknya dengan karyanya ini Rendra menyatakan tidak sejalan dengan pandangan absurdisme, termasuk yang ada di dalam karya Ionesco itu. Dengan kata lain, Rendra mengkritisi dengan kreatif karya teks ”The Chairs” itu. Kalaupun hendak dicari rujukannya di dalam percaturan pemikiran filosofis di Barat, maka pandangan Rendra dalam ”Kereta Kencana” bisa diperoleh dalam wacana Eksistensialisme Berketuhanan (Theistic Existentialism) Soren Kierkegaard, yang memandang dalam hidup yang absurd/kosong/sia-sia sekalipun bisa dimungkinkan ditemukannya adanya makna lewat faith alias kepercayaan/keyakinan/ spiritualisme/agama ataupun ideologi sekuler.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa dalam ”Kereta Kencana” itu diungkapkan pandangan Absurdisme itu dianut oleh Kakek, pada awalnya. Antara lain pernyataannya bahwa hidup ini hampa dan sia-sia dan kosong. Dalam perjalanan cerita di pentas, Nenek berhasil menggiring Kakek memeluk sebuah faith, yang akhirnya Kakek meninggalkan pandangan tersebut, dan yakin hidup ini bermakna.

Nah, apa yang dilakukan oleh Rendra dengan menulis teks kreatif dan kritisnya ini adalah dialog intertekstualnya dengan teks “The Chairs”-nya Ionesco.

Atau, Rendra adalah sebagai salah seorang pembaca (atas tulisan pada papan tulis) karya Ionesco itu menyatakan memilih ”God”. Dan sejalan dengan terminologi dalam wacana post-modern dapatlah dikatakan bahwa sebagai The reader Rendra telah mengambil posisi kritis dan kreatif, alias menjadi The writer. Karena itulah saya menyimpulkan bahwa ”Kereta Kencana” adalah karya Rendra dan bukan terjemahan.

* Ikranagara, dramawan

Sumber: Kompas, Minggu, 15 November 2009

"Bib Bob" dan Teater Rendra

DALAM keterangannya, Ken Zuraida, istri almarhum teaterawan Rendra mengatakan, lakon teater "Bib Bob" yang digelar Bengkel Teater Rendra di Toko You, 8 November 2009, merupakan garapan Rendra versi 2000.

Garapan tersebut secara esensial tidak jauh berbeda dengan garapan versi tahun 1968. Waktu itu, pertunjukan tersebut untuk digelar di Yogyakarta, Jakarta, dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Hasilnya cukup menggemparkan, sampai-sampai penyair Goenawan Mohamad dalam esainya menyebutkan bahwa pertunjukan teater tersebut adalah teater mini kata.

Goenawan Mohamad tidak salah bila ia menyebut pertunjukan teater tersebut adalah teater mini kata. Hampir 99 persen dialog antara tokoh Bib Bob (Daryanto Bended) dan Zzzzzzz (Usman Agus) hanya mengucap kata bib bob dan zzzz yang diucap oleh kedua tokoh itu secara bergantian.

Kadang-kadang tokoh Zzzzzz mengucap juga patahan kata berbunyi bulan, monalisa, panser, kpk, dan beberapa patah kata lainnya, yang disambut dengan jawaban ya yang mulia dari mulut empat tokoh lainnya tanpa nama secara serempak (koor), yang dimainkan oleh Maryam Supraba, Deni Setiawan, Khiva Rayanka, dan Tatang Rusmawan.

Tidak salah bila pada zamannya pertunjukan teater garapan penyair Rendra ini cukup menggemparkan. Ini terjadi bukan hanya disebabkan minimnya kata-kata yang diucapkan para tokohnya, akan tetapi juga disebabkan daya tahan para tokohnya dalam olah tubuh, yang setiap geraknya mengisyaratkan atau mencitrakan dialog-dialog tertentu, baik dalam konteks kelembutan, persaudaraan, hingga kekerasan tanpa batas.

Kuasa bahasa yang diucap oleh tokoh Bib Bob dan Zzzzzz pada satu sisi memang mencerminkan kekuasaan tidak hanya haus kekayaan, tetapi juga darah. Pada sisi semacam ini saya bisa mengerti dan memahami sekaligus akan apa yang dikatakan oleh Fuad Hasan almarhum, bahwa Rendra dengan "Bib Bob"-nya itu, tidak hanya mengungkap terjadinya dehumanisasi dalam masyarakat modern, akan tetapi juga mengungkap soal hilangnya hak asasi manusia (HAM) yang disebabkan oleh tindak represif para penguasa dalam pengertian seluas-luasnya.

Rendra sendiri, ketika masih hidup, dalam percakapannya dengan penulis, baik di Leiden maupun di Bengkel Teater Rendra di Cipayung Depok, berkali-kali mengatakan apa yang dikreasinya itu pada satu sisi diinspirasi oleh seni tradisi, dalam hal ini antara lain Tari Kecak Bali, yang tanpa dialog sanggup mengomunikasikan berbagai makna spiritual.

Dari fakta dan data semacam itu, yang dipadukan dengan pengetahuannya yang luas tentang teater yang didapatnya di Amerika Serikat, Rendra mencoba mengolah atmosfer teater dengan hanya mengandalkan kekuatan olah tubuh. Hasilnya, apa yang dikreasi Rendra itu – tidak hanya menggemparkan jagat teater di Indonesia, tetapi juga di dunia. Rendra dinilai telah menemukan gaya ucap baru dalam teater.

Berkait dengan itu, perhatian Rendra dalam mempertimbangkan tradisi sebagai titik pijak dalam berproses kreatif, sudah jauh hari dilakukannya. Demikian juga dengan kepekaannya terhadap masalah sosial-politik, tidak hanya ditunjukkan lewat pementasan teater "Bib Bob" tetapi juga ditunjukkan lewat kumpulan puisinya yang monumental, yang diberi judul "Blues Untuk Bonnie."

Tampak dari kedua karyanya yang monumental ini, dalam hal ini "Bib Bob" dan "Blues Untuk Bonnie", menunjukkan daya kreatif Rendra memberikan sesuatu yang baru, bagi dunia kesenian kita yang dinilainya mandek pada saat itu.

Konsepnya dalam berkesenian, Rendra sendiri pernah mengatakan kepada saya, pokok soal dalam berkarya seni pada akhirnya bukan melulu memikirkan kebaruan, tetapi juga soal kedalaman yang bahan-bahannya bisa saja diolah dari apa yang sudah tersedia yang dibentuk kembali dengan gaya ucap yang baru. Inti dari semua itu adalah bagaimana memadukan isi hati dan pikiran secara tepat. Bertitik tolak dari buah pikirannya yang semacam itu, tampak jelas bahwa garapan "Bib Bob" mengolah hal yang demikian.

Kritik sosial yang disampaikan Rendra lewat tokoh Bib Bob dan Zzzz menunjukkan pertarungan kekuasaan pada satu sisi dan pada sisi yang lain menunjukkan tentang terjadinya pendangkalan nilai-nilai kemanusiaan, yang dilakukan dengan cara penyeragaman pikiran dan daya intelektual yang secara represif dijalankan penguasa, siapa pun ia dalam konteks apa pun, dalam pengertian seluas-luasnya.

"Bib Bob" sebagai pertunjukan teater yang dibilang Goenawan Mohamad sebagai teater mini kata itu, menjadi menarik untuk diapresiasi antara lain terletak pada kemampuan para aktornya dalam mengolah tubuh dan ruang permainan, yang tidak hanya dipentaskan dipanggung, bisa dipentaskan di mana saja. Ini artinya teater Rendra yang demikian itu sangat plastis terhadap ruang. Bagian-bagian dari apa yang terdapat dalam "Bib Bob" ini, pernah saya lihat juga dalam pertunjukan lainnya berjudul "Selamatan Anak Cucu Sulaeman".

Rendra dalam menggarap "Bib Bob" memang banyak versi. Apa yang dipentaskan hari ini, adalah karya yang disutradarainya pada 2000 lalu, yang pernah dimainkan sebelumnya di Korea. Lakon ini sangat multitafsir, banyak memberikan berbagai kemungkinan kepada para aktornya untuk mengolah tubuhnya dengan baik. Dalam lakon ini, bahasa tubuh sangat diandalkan sebagai media berkomunikasi, aktor dengan aktor, dan aktor dengan publik.

Bagi orang yang belajar teater atau sejarah teater, dengan dipentaskannya "Bib Bob" oleh Bengkel Teater Rendra di Bandung, merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Apa sebab? Selama ini di bangku-bangku kuliah, lakon "Bib Bob" hanya ramai dibicarakan sebagai wacana, dan kita hanya mengira-ngira bentuk pertunjukan tersebut dari teks-teks yang ditulis orang. Dengan melihat kenyataan semacam itu bisa saya mengerti bila pada zamannya "Bib Bob" dianggap sebagai sesuatu yang baru, di mana pertunjukan teater tidak harus sepenuhnya bertumpu pada teks yang dilisankan dan dimainkan di atas pentas.

Mendiang Suyatna Anirun pernah pula berkata kepada saya, bahwa Rendra dan "Bib Bob" adalah sebuah fenomena baru di dalam teater Indonesia modern, meski dalam pertunjukan teater lainnya bertumpu pula pada teks teater yang dilisankan dan dimainkan di atas pentas. "Fenomena Rendra dalam teater bisa juga kita lihat pada trilogi ’Perjuangan Suku Naga’," ujar Suyatna Anirun.

Jika ditarik benang merah antara "Bib Bob" dan "Perjuangan Suku Naga" itu antara lain terletak pada daya kritisnya terhadap perubahan sosial atas derasnya arus modernisasi yang merusak kehidupan masyarakat di desa-desa.

Dalam konteks ini, kuasa bahasa yang represif kembali bicara tidak hanya dalam tataran politik, tetapi juga dalam tataran ekonomi yang tidak memihak rakyat. Pertunjukan teater dengan demikian di mata Rendra tidak semata-mata difungsikan sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai alat perjuangan. Sebab, Aku mendengar suara/ Jerit hewan terluka/ Ada orang memanah rembulan/ Anak burung jatuh dari sarangnya/ Orang-orang harus dibangunkan/ Kesaksian harus diberikan// dan perjuangan adalah pelaksanan kata-kata// demikian Rendra telah bicara kepada kita dengan bahasa-bahasa sastra, yang penuh metafora.

Berkait dengan itu, lewat "Bib Bob" kita bisa melihat bahwa perkembangan dan pertumbuhan teater modern Indonesia dari generasi ke generasinya senantiasa menampilkan hal yang baru, dengan atau tanpa menggali nilai-nilai tradisi. Sejauh ini, di Indonesia, apa yang disebut nilai-nilai tradisi itu tidak hanya dirujuk oleh Rendra, tetapi juga oleh Arifin C. Noer, Suyatna Anirun, Putu Wijaya, dan sejumlah teaterawan lainnya.

Paling tidak, begitulah teater tumbuh dan berkembang di Indonesia dengan berbagai variasinya yang selalu menggoda untuk diapresiasi. (Soni Farid Maulana/"PR")

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 15 November 2009

Burung Merak Putu Wijaya

-- Hikmat Gumelar*

DARI belakang panggung, dari balik layar putih yang sepa-ruhnya memerah oleh semburan cahaya lampu, muncul seorang lelaki memakai sarung hitam, kemeja hitam, kopiah hitam, dan syal abu melilit leher. Untuk ukuran umum lelaki Indonesia, lelaki itu tinggi dan besar. Akan tetapi, saat berjalan membentuk sepatu kuda, langkahnya tampak berat. Badannya tampak rapuh, dan saat berkata, suaranya terdengar mengandung duka. Pelan dan agak serak.

"Pulang dari tahlilan 40 hari berpulangnya W.S. Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun, saya tertegun. Pada salah satu kursi, duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.

"Mas?"

"Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tetapi ada dering jengkrik yang membuat saya tenang. Saya coba menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar.

"Ada apa, Mas?"

"Tidak ada jawaban. Atau saya yang tidak mendengar. Saya hindari semua pertanyaan di kepala dan menghadapi itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan."

"Aku paham. Memang tidak mudah. Buatmu. Juga buat kami. Mas harus pergi. Padahal sejak malam purnama 6 Agustus itu, Mas selalu hadir di hati kami."

Begitulah Putu Wijaya membuka "Burung Merak", monolog yang naskahnya, aktornya, dan penyutradaraannya diborong olehnya. Yang dipanggil "Mas" di teater arena Dewi Asri, STSI Bandung, pada Minggu malam, 8 November lalu, itu tak lain adalah Rendra.

Mengenang legenda

Kita ingat, Rendra wafat pada Kamis malam, 6 Agustus lalu. Akan tetapi, oleh banyak kalangan, ia dianggap tokoh. Hal ini wajar. Sebagai penyair, misal, Rendra tak hanya melejit sejak ia di SMA Santo Josef Solo. Ia pun melakukan hal yang unik dan menciptakan tradisi. Ia mampu menulis puisi lirik dengan baik. Ketika para penyair kita demam puisi lirik sebagai pengaruh dari Chairil Anwar, ia malah menulis puisi-puisi balada. Bahkan kemudian, ia menulis puisi-puisi balada yang lebih terbuka menggugat buruknya kenyataan-kenyataan sosial, dan mengumpulkannya dalam buku bertajuk "Potret Pembangunan dalam Puisi", semula tajuknya "Pamflet Penyair". Antologi ini kontroversial. Tak sedikit sastrawan yang menyesalkan dan mencercanya. Rezim Orba juga panik dan kalap. Tetapi Rendra malah membacakan puisi-puisi dalam antologi tersebut di berbagai tempat, dan sebagiannya di tengah mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.

Dalam hal yang satu ini, Rendra memang sudah terlatih. Saat kuliah di Fasa UGM, ia sudah sohor sebagai deklamator. Menurut Bakdi Sumanto, "pada awal 1960-an, Rendra menjadi tumpuan mahasiswa-mahasiswi untuk mendapatkan latihan berdeklamasi". Pemungkinnya bukan hanya "karena ia mampu mengolah vokalnya sehingga kata-kata yang diucapkannya terdengar distingtif, tetapi yang lebih penting logika larik, frasa, dan kalimat sajak tampak terstruktur dengan jelas". Selain karena Rendra sudah (mulai) terasah sebagai penyair, pun karena ia tengah tumbuh sebagai aktor teater.

Jalan keaktoran Rendra, seperti diakuinya, dibantu Umar Kayam. Saat main dalam "Hanya Satu Kali" yang disutradarai Kayam di tahun 1955, oleh sang sutradara, ia digembleng akting realis. Keaktorannya kian matang saat ia di Amerika Serikat (1964-67), belajar di American Academy of Dramatic Art, tempat antara lain Robert de Niro dan Dani de Vito mempelajari teater. Tetapi Rendra bukan saja seorang aktor yang karismatik. Ia lalu tumbuh jadi sutradara mumpuni dan pendiri kelompok teater fenomenal: Bengkel Teater. Grup ini antara lain menggebrak dengan memainkan beberapa nomor improvisasi (1968), antara lain "Bib Bob", yang lalu beken sebagai "teater mini kata", label yang diberikan Goenawan Mohamad. Memang ada yang mencaci sajian mini kata. Tetapi ini malah membuat bengkel tambah melambung. Pada Maret 1971, Goenawan menulis, seusai itu, tiap pementasan Bengkel di Pusat Kesenian Jakarta, selalu didatangi penonton yang "berbondong-bondong seperti nonton sepak bola--satu hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah teater modern di sini".

Rendra juga seorang yang terjun dalam kancah sosial politik. Hal ini makin jauh sekembali ia dari Amerika. Selain karena melihat beragam model gerakan sosial politik, pun selama di sana, ia kecanduan sosiologi dan antropologi, dua ilmu yang memberinya perspektif, motivasi, dan legitimasi untuk tambah mewujudkan komitmen sosialnya yang memang besar. Itulah yang antara lain membuatnya berulang berurusan dengan pihak keamanan. Pementasannya berulang dilarang. Begitu pula buku-bukunya. Bahkan pernah ia sampai dijebloskan dalam bui. Itu pula, saya kira, yang membuat Rendra jadi legenda.

Manusia biasa

Dalam Burung Merak, Putu tampak bersemangat menyemburkan cemasnya akan implikasi Rendra sebagai legenda. Ia menyebut lima kelebihan Rendra, yakni pantang menyerah, berani melawan, gagah dalam kemiskinan, kritis dalam memaknai tradisi, dan selalu menggunakan sudut pandang baru dalam membaca keadaan. Tetapi lima hal yang dinilai Putu penting dan relevan ini bisa lenyap justru oleh pengangkatan Rendra sebagai idola, "simbol perjuangan", "inspirasi kegagahan." Menurutnya, jika demikian, Rendra akan jadi dongeng yang tak habis-habisnya sehingga Rendra sendiri akan habis.

Putu mengajak kita melihat Rendra dengan menggunakan cara pandang baru, hal yang, seperti telah dikata, merupakan salah satu kelebihan Rendra. Adapun cara pandang baru itu adalah melihat Rendra sebagai "manusia biasa dengan segala keterbatasan, ketidakmampuan, kekurangan, bahkan dosa-dosa".

Demi memungkinkan ajakannya disambut, Putu memilih bentuk yang membaurkan main-main dan serius. Rendra dihadirkan dengan menghidupkan boneka putih raksasa buatan perupa Tisna Sanjaya. Boneka yang semula dibuat untuk monolog "Zetan" ini bisa dinaikkan, diturunkan, bergerak-gerak, dan membentuk beragam pose dengan cara menarik sejumlah tali yang diikatkan pada sejumlah bagian boneka seperti dua pergelangan kaki, dua pergelangan tangan, punggung dan bagian belakang kepala. Letak boneka nyaris rapat dengan layar putih. Tetapi boneka ini tak senantiasa berfungsi menerbitkan asosiasi kepada Rendra. Kadang sekadar elemen visual. Kadang sekadar mainan. Putu sengaja memberinya berbagai fungsi. Ia pun sengaja berganti-ganti peran. Kadang sebagai aktor. Kadang sebagai dirinya.

Sebagai aktor, Putu tampak terbiasa dengan bentuk teater rakyat seperti longser. Ia begitu mudah berpindah peran. Memang saat di Bengkel Teater, Putu sohor sebagai jago improvisasi. Dan Teater Mandiri, kelompok teater yang didirikannya sekeluar dari Bengkel Teater, adalah kelompok yang menjadikan improvisasi sebagai salah satu tumpuannya. Tetapi saat bermain di Dewi Asri, tenaga Putu terasa kurang mendukung. Vokalnya juga begitu. Memang ia coba mengatasinya dengan bantuan pengeras suara. Namun, gerak-gerak besar dan menghentak kerap membuat vokal Putu seperti di luar kontrolnya. Putu juga terkesan mau mengandalkan seni rupa. Secara seni rupa, beberapa pertunjukannya memang memukau. Tetapi tata cahaya malam itu terasa belum tergarap optimal. Burung Merak juga terbebani peluang yang disediakannya. Monolog ini menyediakan dirinya untuk diawali beberapa pembacaan puisi oleh siapa yang bukan dari Teater Mandiri. Begitu pula di tengahnya. Hal ini sebetulnya bisa menguatkan Burung Merak jika yang membaca puisi itu menginsyafi dan menguasai hukum permainan Burung Merak. Tetapi mereka seakan melupa ruang tempat mereka membaca puisi.

Meski demikian, sampai usai pertunjukan, saya tak melihat ada penonton yang beranjak dari tempat duduk. Saya tidak tahu pasti sebabnya. Yang terang, hemat saya, menemukan dan menggunakan cara pandang baru adalah hal yang memang perlu, dan bukan saja untuk melihat Rendra, tapi pun untuk melihat kenyataan sehari-hari kita.***

* Hikmat Gumelar, Sutradara Teater Prung dan aktif di Institut Nalar Jatinangor.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 15 November 2009

Demi Suku Naga

HARI ketiga pertunjukan, (13/11). Sejak siang udara mendung dan hujan tak henti-henti turun. Di Vila Arumba yang disediakan oleh Saung Angklung Udjo (SAU), sejumlah seniman berkumpul di teras. Irwan Guntari, Herry Dim, Yusep Muldiyana, dan sejumlah pendukung "Kisah Perjuangan Suku Naga" lainnya. Ada juga penyair Godi Suwarna yang meski telah mengikuti proses latihan beberapa kali urung bermain karena ritme latihan dan jarak Ciamis-Bandung. Di bagian dalam, seorang pemain terbaring sementara temannya memijati. Di bagian dalam dekat kamar mandi, Adinda Lutvianti dan Irena Arini dan sejumlah aktor muda hangat berbincang tentang pertunjukan di malam kedua.

Lalu kopi hangat dalam gelas-gelas plastik. Ayi Kurnia Iskandar datang, mengeluhkan tubuhnya yang kurang sehat, tetapi tetap siap tampil. Seorang staf produksi memijati pundaknya. Tak lama datang seorang staf Saung Angklung Udjo membawa kertas faks dari salah satu SMA, ajuan untuk bisa menonton pertunjukan. Karena tak bisa memastikan, Herry Dim menelefon panitia yang mengurusi reservasi penonton, dan ternyata masih bisa.

Meski pertunjukan ini tidak dipungut bayaran, tetapi penonton diwajibkan memiliki tiket yang bisa didapat di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Menurut Heliana Sinaga yang mengoordinasi pemesanan tiket, sampai hari terakhir (15/11) seluruh tiket sudah habis. Lepas dari soal gratis atau tidak, sampai malam ketiga penonton "Kisah Perjuangan Suku Naga" mencatat jumlah yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah teater di Bandung, 1.091 orang.

Mungkin benar jumlah itu bisa tercapai karena menonton secara gratis. Akan tetapi, dengan cara pemesanan tiket terlebih dahulu, hal ini bisa dijadikan ukuran antusiasme penonton untuk menyaksikan pertunjukan ini. Lagi pula, bukankah umumnya pertunjukan teater di Bandung ini memang selalu gratis?

Sore selepas magrib, sambil bergurau puluhan pemain bersiap, dan mereka umumnya adalah aktor-aktor muda. Sejak 1 November 2009 mereka total berlatih di Saung Angklung Udjo, yang juga menyediakan Vila Arumba untuk mereka menginap. Setiap sore di teras vila, bersama sejumlah aktor senior mereka berbaur berkumpul sambil membenahi properti. Tak ada jarak di antara mereka, kecuali kehangatan dan kebersamaan. Selalu saja ada bahan untuk memancing gelak tawa, dari mulai mencandai tubuh Uti yang mungil sampai urusan sandal yang entah dipinjam siapa.

"Sejak tanggal 1 saya di sini. Bersama ABG-ABG yang ngomongnya enggak saya mengerti ini. Bahasanya aneh-aneh!" seloroh Adinda Lutvianti, aktor senior yang telah lima belas tahun meninggalkan pentas teater.

Di ruang make-up pun tak kalah serunya. Para pemain masing-masing membantu temannya sambil bergosip dan bergurau riuh, belum lagi celetukan atau senandung nyanyian mereka yang seenaknya. Sementara di bagian lain, Ine Arini mendandani Adinda Lutvianti, dan Sugiyati Anirun sibuk berbedak sambil melayani pertanyaan-pertanyaan Eriyanti Nurmala Dewi. Di kursi yang lain, Irwan jamal asyik makan, dan Bonnie, aktor paling kecil (8) sedang sibuk didandani bapaknya. Sementara Irwan Guntari duduk bersandar tenang merokok dan memandang ke arah hujan. Herry Dim asyik berbincang sambil sesekali mengubah letak topi pet hitamnya yang penuh dengan bros sehingga mirip topi Pramuka.

**

DEMI mengangkat kisah Suku Naga, sembilan puluh seniman Bandung berkumpul dalam produksi ini. Mereka tak hanya aktor dari berbagai generasi dan kelompok teater, juga penari dan para pemusik. Kebersamaan dalam suatu produksi tak hanya membuat mereka saling berinteraksi di pentas pertunjukan, tetapi juga di luar dalam kesehari-harian selama produksi ini disiapkan sejak September 2009. Sebagian di antara mereka mungkin telah saling mengenal karena satu kelompok teater, meskipun tak sedikit juga yang baru pertama kalinya terlibat dalam produksi bersama semacam ini.

Kebersamaan demi "Suku Naga" tak hanya terasa di antara para pemain, juga di antara orang-orang yang sibuk saling mengontak demi pertunjukan ini. Dari mulai Heliana Sinaga yang sibuk menerima telefon dan SMS dari penonton yang memesan tiket, sampai Herry Dim yang harus menelefon sejumlah orang untuk urusan konsumsi pemain, atau Hanif dan Efron yang tak kalah sibuknya mengoordinasi itu dan ini.

Demikian pula dengan pihak SAU sebagai tuan rumah. Bagi tempat yang selama ini lekat dengan pertunjukan-pertunjukan seni tradisi pariwisata, "Kisah Perjuangan Suku Naga" merupakan pertunjukan teater pertama yang digelar di sana.

"Ya, ini baru pertama bagi kami. Ini adalah bentuk partisipasi dan kebersamaam kami untuk mengenang seniman besar seperti Rendra. Selain itu, ini juga merupakan bagian dari amanat Pak Udjo agar tempat ini bisa menjadi wadah apresiani seni dan budaya," ujar Taufik Udjo selaku Direktur SAU.

Rendra dan "Kisah Perjuangan Suku Naga" sebagai suatu produksi memang bukan hanya soal kolosal atau bukan, atau banyaknya jumlah penonton, melainkan juga menghadirkan satu hal yang akhir-akhir ini terasa amat mahal dalam pergaulan kesenian di Bandung, yakni kebersamaan dan kehangatan yang bukan demi "projek" atau popularitas. (Ahda Imran)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 15 November 2009

Perlawanan Suku Naga

KARENA terus memberitakan penggusuran orang-orang Suku Naga dari desanya demi pembangunan sebuah projek pertambangan asing, Carlos (Irwan Jamal), wartawan itu, akhirnya dicabut izin tinggalnya. Pemberitaannya telah membuat pemerintah Astinam berang. Akan tetapi, segala cara harus dilakukan demi terwujudnya projek tersebut, demi apa yang mereka imani sebagai pembangunan dan kemajuan. Maka, orang-orang Suku Naga pun bersiap bertahan.

ADEGAN Dalang (Gusjur Mahesa dan Rinrin Chandraresmi) dalam pertunjukan "Kisah Perjuangan Suku Naga" karya W.S. Rendra dengan sutradara Yusep Muldiyana, yang dipentaskan di Saung Angklung Udjo, 11-15 November 2009.* M. GELORA SAPTA/"PR"

Bukan hanya demi desa dan tanah yang diwariskan leluhurnya, tetapi demi hak dan martabat kebudayaan mereka. Mereka berkumpul melepas Carlos seraya membentuk barisan. Lalu berkatalah Kepala Suku Naga Abisavam (Ayi Kurnia Iskandar), "Kenapa mesti gentar dalam menjaga keseimbangan? Menjaga daya hidup mendatangkan ketenangan".

Perlawanan Suku Naga adalah perlawanan ketika keseimbangan diusik oleh kekuasaan dan modal yang mengatasanamakan pembangunan dan kemajuan. Keseimbangan antara manusia dan alam. Kekuasaan dan modal tengah mengancam keseimbangan itu. Kemajuan yang diajarkan oleh kebudayaan industri melulu memaknai seluruhnya adalah modal dan keuntungan, termasuk alam dan manusia.

Di tengah kebudayaan serupa itulah negara Astinam dipenuhi oleh penguasa yang sakit, bermental feodal, korup, serakah, juga para anggota parlemen yang tak ubahnya paduan suara dengan tabiat yang tak ubahnya para bajak laut dan perompak. Negara-negara maju yang menjadikan pasar sebagai panglima terus merangsek dengan kedok kemajuan dan modernitas. Kredit dikucurkan demi pasar bagi produk mereka, juga ekspansi perusahaan-perusahaan transnasional yang mengeruk kekayaan alam negara Astinam.

Kapitalisme global berkedok kemajuan dan modernitas yang merangsek sejumlah negara berkembang yang menyebabkan kerusakan alam dan terancamnya komunitas-komunitas budaya lokal dengan segenap sistem nilainya. Inilah yang diusung dalam pertunjukan "Kisah Perjuangan Suku Naga" karya (alm.) W.S. Rendra (1935-2009) dengan sutradara Yusep Muldiyana dan Co-Sutradara Gusjur Mahesa, di Saung Angklung Udjo (SAU) Bandung, selama lima hari (11-15 November 2009).

Pertunjukan kolosal yang dimainkan oleh 90 seniman Bandung yang terdiri dari aktor, penari, perupa, dan pemusik, ini merupakan bagian dari rangkaian "Bandung Mengenang Rendra" yang telah berlangsung sejak 28 Oktober 2009. Mengambil konsep teater rakyat, pertunjukan berlangsung cair dan komunikatif sebagai sebuah tontonan. Tak hanya lewat nyanyian, koor, gerak, dan tarian, atau eksplorasi musik yang dinamis dan segar. Akan tetapi juga lewat kritik-kritik sosial yang dilontarkan oleh Dalang (Rinrin Chandraresmi dan Gusjur Mahesa) yang mengundang gelak penonton.

Tak hanya itu, para penguasa dan anggota parlemen pun dihadirkan dengan tabiat dan sosoknya yang ganjil. Mereka adalah makhluk-makhluk yang lebih dari sekadar menggelikan tetapi juga aneh dan tampak sakit. Sosok mereka sebagai penguasa dan elite negara adalah sosok yang lebih pantas ditertawakan. Tak ada apa pun yang mereka pikirkan kecuali uang dan kekuasaan. Sebaliknya, orang-orang Suku Naga adalah representasi dari ketenangan manusia dalam keseimbangannya bersama alam. Mereka adalah orang-orang yang riang bersama alam yang mengajarkan mereka kearifan.

**

LAKON yang ditulis Rendra pada 1975 ini merupakan reaksinya atas ideologi politik pembangunan yang diimani oleh rezim Orde Baru. Sebuah ideologi yang memuja pertumbuhan ekonomi demi apa yang dipercaya sebagai kemajuan. Ideologi ini dibangun dengan budaya politik feodal yang melahirkan perangai kekuasaan yang korup. Demi pembangunan dan kemajuan inilah demokrasi berubah menjadi dagelan yang menyedihkan. Dan demi ideologi ini pula negara menjual apa pun demi para investor asing, termasuk kekayaan alam dan kebudayaan.

Meski lakon ini mengambil konteks Indonesia 1975, semasa rezim Orde Baru, tetapi gagasan kesadaran di dalamnya tetaplah menemukan aktualitasnya hingga hari ini, yakni modernitas yang diusung kapitalisme global dan neoliberalisme yang terus mengancam kekayaan alam dan hak-hak budaya masyarakat lokal, termasuk masyarakat adat. Demikian pula dengan perangai kekuasaan di dalamnya. Perubahan sosial-politik tampaknya tidaklah begitu saja mengubah mentalitas para penguasa yang serakah dan korup. Demikian pula dengan para anggota parlemen.

Tampaknya ini disadari oleh duet sutradara Yusep Muldiyana dan Gusjur Mahesa. Meski sebagian penonton berusia muda tak begitu mengalami masa pemerintahan Orde Baru sehingga mereka terjarak dari sejumlah idiom yang menyindir demokrasi ala Orde Baru, misalnya, Ketua Parlemen (Irwan Guntari) yang berpakaian kuning-kuning atau para anggota parlemen yang selalu mengulang-ulang apa yang diucapkan oleh Ratu (Adinda Lutvianti), secara keseluruhan pertunjukan ini mampu menyaran pada gagasan kesadaran ihwal kolaborasi negara dan kapitalisme global dalam menggerus kekayaan alam dan hak-hak budaya masyarakat lokal.

Pertunjukan ini berlangsung dinamis dan riang. Pola pertunjukan teater rakyat yang diadopsi mampu menyuguhkan tontonan yang segar, kocak, sekaligus menggugat kesadaran perihal kekuasaan, terutama pada bagian para pembesar Astinam. Sejak mereka masuk sambil menari, memberi hormat pada Ratu, dan seluruh perangai mereka, dihadirkan dalam sosok yang ganjil, menggelikan, dan tampak sakit. Demikian pula para anggota parlemen. Di balik dandanannya yang perlente sebagai wakil rakyat, mereka mengenakan kaos belang hitam-putih yang biasa dikenakan para bajak laut atau yang mengingatkan banyak orang pada perampok "Kelompok Si Berat" dalam sebuah serial kartun dari Barat.

Baik pembesar Astinam maupun para anggota parlemen, dalam pertunjukan ini dihadirkan sebagai metafora yang merepresentasikan tabiat para penguasa. Penonton dibuat terbahak karena adanya paradoks, antara kedudukan mereka yang terhormat dan kelakuan mereka yang tak normal. Demikian pula dengan cara berpikir mereka.

Paradoks inilah yang dieksplorasi, bukan untuk lantas melulu menghadirkan semacam dagelan, melainkan untuk mendedahkan kesadaran ihwal mentalitas penguasa dari sebuah negara yang menghinakan dirinya di hadapan negara-negara maju demi apa yang mereka percayai sebagai pembangunan. Misalnya, bagaimana Mrs. Joe (Anita Bintang) duta besar negara maju menyuruh Menteri Pertambangan dan Pariwisata (Gatot W.D.) negara Astinam membawakan jas dan sepatunya.

Dan inilah yang dengan kocak menjadi sasaran cemooh dan kritik kedua dalang. Keduanya dengan leluasa "menginterupsi" dialog para pembesar Astinam untuk melontarkan kritiknya, untuk lantas "memerintahkan" adegan dilanjutkan. Pada bagian ini seringkali aktor melakukan improvisasi yang membuat penonton tertawa, misalnya, bagaimana di malam ketiga Rinrin Chandraresmi sebagai dalang menginterupsi sebuah dialog yang setelahnya berseru, "Sok akting deui! (Ayo akting lagi!)".

Sebaliknya, dari dunia para pembesar Astinam, jagat Suku Naga dihuni oleh mereka yang hidup tenang. Dunia ideal dari bagaimana semestinya kemajuan dan modernitas dipahami, tanpa menjadikan alam sebagai benda mati yang dikuasai. Di bagian ini pertunjukan pun menghadirkan permainan para aktor yang mempertaruhkan penguasaan sytle realisme dalam pemeranannya untuk menyaran pada karakter dunia ideal tersebut. Kearifan dan ketegasan Abivasam sebagai kepala suku, semangat dan idealisme Abivara (Deddy Warsana), dan kesetiaan Carlos pada kebenaran.

**

DENGAN bentuk teater arena, di atas sebaran daun-daun bambu yang kering, "Kisah Perjuangan Suku Naga" menyuguhkan totalitas sebuah pertunjukan yang menarik. Orkestra musik yang riuh sejak awal pertunjukan atau gerak mesin yang dimetaforakan oleh tubuh-tubuh manusia bermantel hujan. Gerak yang serempak, kaku, dan meneriakkan slogan-slogan masyarakat industri yang memuja uang dan pasar. Demikian pula orang-orang Suka Naga yang polos, riang, dan taat pada leluhurnya. Totalitas para aktor dan pertunjukan sebagai sebuah ensemble di sini menjadi taruhan.

Paling tidak sejak malam ketiga, pertaruhan dan totalitas inilah yang telah ditunjukkan oleh sejumlah aktor senior seperti Adinda Lutvianti , Wrachma R.A. , Ayi Kurnia Iskandar, Dedi Warsana, Karensa Dewantoro, Sugiyati Anirun, Irwan Guntari, Irwan Jamal, Adji Sangiadjie, Rinrin Chandraresmi, Gusjur Mahesa, aktor muda Anita Bintang, dan sejumlah aktor muda lainnya yang menghadirkan barisan orang-orang Suku Naga. Orang-orang yang kisahnya menjadi sebuah pertunjukan yang bukan untuk sekadar membuat penonton tertawa.

Akan tetapi, untuk melawan setiap keserakahan ketika keseimbangan dan daya hidup terancam, seperti tulis Rendra yang menjadi koor nyanyian para pemain di ujung pertunjukan. Orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga. (Ahda Imran)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 15 November 2009

[Buku] CSR Itu Perlu

Judul: Reputation-Driven Corporate Social Responsibility, Pendekatan Strategic Management dalam CSR
Penulis: AB Susanto
Penerbit: Esensi, Erlangga Group, 2009
Tebal: 126 halaman

ASPEK sosial adalah bagian integral dari kegiatan usaha sebuah korporasi. Awalnya dalam bentuk sederhana, berupa kegiatan filantropi atau charity kepada komunitas di mana perusahaan itu beroperasi.

Kini, hal itu telah melembaga menjadi apa yang dikenal sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Bahkan, CSR telah dimandatkan dalam UU 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Artinya CSR wajib hukumnya dilakukan pengelola perusahaan, terutama yang bergerak di bidang yang terkait dengan sumber daya alam.

Namun, pada kenyataannya, masih banyak pengelola perusahaan yang menganggap CSR sebagai liability, sebagai beban yang hanya menambah biaya perusahaan. Belum muncul pemahaman betapa CSR sebenarnya sangat bermanfaat bagi perusahaan, di samping tentunya bagi komunitas.

Melalui buku ini, pakar manajemen strategis AB Susanto, menawarkan perspektif bahwa seharusnya ada kesadaran dari pengelola perusahaan bahwa CSR ini dibutuhkan. Dengan kata lain, CSR hendaknya ditempatkan sebagai sebuah investasi yang memberi banyak manfaat bagi perusahaan.

Menurut AB Susanto, seiring dengan kesadaran publik, CSR kini menjadi social license to operation (izin sosial untuk beroperasi). Perusahaan yang tidak menjalankan CSR, bakal menemui kesulitan.

Setidaknya ada sejumlah manfaat yang bisa dipetik perusahaan yang memiliki program CSR, tentu saja terbangunnya reputasi yang baik. Berangkat dari reputasi inilah, multiplier effects yang menguntungkan siap menanti. Antara lain, berdasarkan survei, 75 persen responden memberi nilai lebih kepada produk/jasa yang dihasilkan perusahaan yang memberi kontribusi nyata melalui CSR. Selanjutnya, 66 persen responden siap beralih merek produk atau jasa ke perusahaan yang terbangun reputasi positifnya melalui CSR.

Artinya, CSR sangat berkorelasi positif, tidak hanya terhadap kepuasan konsumen, tetapi juga loyalitas konsumen. Dari sinilah ruang-ruang keuntungan secara bisnis terbuka luas.

Secara sederhana, penulis merumuskan proses transformasi orientasi perusahaan dalam "3P", yaitu profit (keuntungan), people (komunitas sekitar), dan planet (masyarakat dalam skala yang lebih luas). [A-17]

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 15 November 2009

[Apresiasi] Pendidikan sebagai Strategi Kebudayaan

-- Amich Alhumami*

MARX sought to change the world through changing social institutions, Jesus through changing the hearts of men. Education tries to do both. (Howard R Bowen, Investment in Learning, 1997)

KUTIPAN di atas menegaskan pendidikan merupakan instrumen penting dan strategis untuk mendorong perubahan sosial di masyarakat. Namun, pendidikan menempuh jalan tengah antara aliran Marxisme yang radikal-revolusioner dan aliran humanisme yang menempuh cara evolusi dalam menggerakkan perubahan. Pendidikan mengombinasikan antara progresivitas kaum Marxian dan pendekatan gradual milik kaum humanis.

Pendidikan dapat melahirkan manusia yang cerdas dan berpengetahuan yang memiliki kesadaran tinggi untuk melakukan gerakan-gerakan sosial yang dapat mendorong perubahan masyarakat. Transformasi sosial selalu bermula dari lapisan masyarakat terpelajar yang memiliki kesadaran kritis terhadap kondisi sosial politik di dalam masyarakat. Pengalaman sejarah semua bangsa menunjukkan, perubahan sosial acapkali dipelopori oleh kalangan elite terdidik. Kaum intelektual dan lapisan terpelajar selalu menjadi motor penggerak perubahan sosial.

Dalam perspektif sosiologis, pendidikan akan melahirkan lapisan sosial baru, yang dalam struktur piramida sosial berada pada posisi kelas menengah. Lapisan kelas menengah ini berada di antara lapisan elite dan lapisan akar rumput sehingga dapat menjembatani dua kepentingan kelompok sekaligus. Dengan demikian, lapisan kelas menengah ini merupakan bagian dari kelompok strategis yang akan memainkan peranan sentral dalam dinamika sosial-kemasyarakatan.

Pendidikan bertujuan membangun totalitas kemampuan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan tiga aspek dalam diri setiap manusia: (1) cognitive learning, yang meliputi pengembangan ilmu pengetahuan, potensi, dan daya intelektualitas; (2) affective development, yang meliputi penanaman nilai-nilai moralitas dan religiositas, pemupukan sikap emosionalitas dan sensibilitas; dan (3) practical compentence, yang mencakup pengembangan kemampuan adaptasi sosial, pemupukan daya sensitivitas terhadap persoalan sosial-kemasyarakatan, pembinaan kapasitas diri untuk memperluas berbagai pilihan dalam pekerjaan, kesehatan, kehidupan keluarga, dan masalah-masalah praktis yang lain.

Pendidikan sejatinya adalah membangun manusia dalam spektrum holistik yang melingkupi keseluruhan potensi yang dimilikinya. Melalui proses pendidikan, seluruh dimensi kemanusiaan dapat tumbuh-kembang secara optimal. Howard R. Bowen (1997) menulis, "Education should be directed toward the growth of the whole person trough the cultivation not only of the intellect and of practical competence but also of the affective dispositions, including the moral, religious, emotional, social, and esthetic aspects of the personality".

Pendidikan juga merupakan wahana untuk meningkatkan kapasitas individual dan sosial setiap orang dalam keseimbangan yang sempurna. Secara individual, pendidikan akan meningkatkan pengetahuan, informasi, dan keterampilan teknikal, sehingga seseorang memiliki kompetensi untuk memperkuat daya survival-nya dalam kehidupan. Sedangkan secara sosial, pendidikan akan memberi bekal kepada seseorang dalam hal keterampilan sosial berupa kemampuan bersosialisasi, beradaptasi, berinteraksi dalam masyarakat, menjalin relasi sosial, memupuk sikap toleransi dalam dinamika kehidupan masyarakat, dan menanamkan sikap perhargaan atas realitas kemajemukan sosial, memupuk jiwa kepemimpinan, serta menumbuhkan komitmen pada demokrasi dan pembangunan masyarakat madani.

Dalam kata-kata Jan Szczepanski, sosiolog dan ahli pendidikan Polandia, pendidikan dimaksudkan sebagai preparation for participation in social and cultural life, the development of the cultural values to keep up the cultural identity of the nation.

Dalam konteks demikian, memahami pendidikan sebagai strategi kebudayaan antara lain harus memberikan penekanan pada dimensi pendidikan kewargaan (civic education). Sebagai bangsa yang majemuk, dimensi pendidikan kewargaan harus dipupuk dan diperkuat untuk dapat mengembangkan orientasi dan wawasan mengenai realitas kehidupan kebangsaan yang pluralistik. Dalam pendidikan kewargaan, kita ingin membangun kesadaran setiap warga masyarakat tentang kenyataan kemajemukan dalam kehidupan berbangsa.

Bangsa ini dibangun di atas landasan keberagaman agama, etnis, ras, budaya, dan adat-istiadat, yang menuntut kesediaan untuk saling menerima keberadaan masing-masing pihak. Bangunan negara-bangsa ini bercorak multikultural. Karenanya, setiap elemen sosial harus bersedia hidup secara ko-eksistensial.

Multikulturalisme mengandaikan adanya keinsyafan bahwa dalam sebuah masyarakat yang majemuk harus tersedia ruang publik yang cukup untuk bisa saling berinteraksi di antara segenap komponen bangsa, dengan semangat saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Multikulturalisme mengandaikan pula adanya pengakuan atas keberadaan kekuatan lokal (kedaerahan), keberagaman kebudayaan tradisional serta kelompok dan golongan sosial yang bervariasi, tanpa disertai sikap egosentrisme sektoral.

Di dalam masyarakat multikultural tidak ada kelompok etnis tertentu yang dapat mendominasi dan mensubordinasi kelompok etnis lain. Juga tidak ada yang disebut hegemoni budaya yang menciptakan polarisasi pusat dan pinggiran. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan menjadi sangat penting, terutama untuk menumbuhkan sikap toleransi dan memperkuat basis solidaritas sosial. Penekanan pada pendidikan kewarganegaraan ini amat penting untuk dapat mereduksi atau mengeliminasi potensi konflik dalam masyarakat majemuk. Dengan demikian, upaya membangun harmoni sosial dapat terlaksana sehingga kohesi di dalam masyarakat akan tercipta.

Sebagai suatu bentuk strategi kebudayaan, pendidikan juga dimaksudkan untuk menyiapkan individu dan masyarakat agar dapat membangun kehidupan modern. Pendidikan merupakan pangkalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian; wahana sosialisasi nilai, pembinaan sikap mental dan karakter; pemupukan jiwa kreatif yang dapat mendorong tumbuhnya iklim kebebasan dan daya cipta, sehingga terbuka kemungkinan dilakukannya berbagai eksperimentasi.

Melalui jalan eksperimentasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang maju dengan tetap berpijak pada basis budaya masyarakat. Sebab, perkembangan dan kemajuan iptek tak mungkin dapat dilepaskan dari tradisi dan kebudayaan masyarakat bersangkutan. Agar iptek memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat, iptek harus mempunyai basis sosial budaya yang kuat. Jadi, ada keterkaitan erat antara ilmu pengetahuan dan kebudayaan, seperti ditulis Talcott Parsons, science is ultimately integrated with the social structure and cultural traditions of a society; they mutually support one another.

Salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah ketika mampu melahirkan individu-individu yang berjiwa otonom dan bebas. Otonomi dan kebebasan merupakan basis bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran progresif dan visioner, yang memiliki jiwa kreatif, sehingga dapat mengembangkan daya imajinasi secara maksimal. Sebaliknya, pendidikan dinilai gagal bilamana hanya melahirkan, meminjam istilah Erich Fromm, automaton--makhluk hidup yang bergerak dan berpikir menyerupai mesin.

Manusia automaton sejatinya kehilangan hakikat diri karena tak punya otonomi dan kebebasan sehingga tak mampu mengembangkan jiwa kreatif. Daya imajinasi menjadi tumpul, sulit melahirkan pemikiran-pemikiran progresif dan visioner yang mencerahkan. Padahal, dengan jiwa kreatif dan daya inovasi, manusia akan mampu bangkit untuk mencapai kemajuan.

Individu yang berjiwa kreatif dan inovatif selalu memandang realitas kehidupan dengan perspektif optimistik, yang disertai daya kritisisme untuk selalu mempersoalkan dan menggugat tradisi dan kebudayaan yang ada. Kebudayaan bukan sesuatu yang statis, tetapi bergerak dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Kebudayaan berkembang secara dialektis mengikuti dinamika sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

Dalam konteks kebudayaan, pendidikan merupakan wahana bagi proses pencerdasan masyarakat, yang dilakukan secara sistematik dan programatik untuk memperkuat akar-akar tradisi dan kebudayaan bangsa, dengan tetap membuka diri bagi proses perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Karena itu, dalam proses pendidikan niscaya akan berlangsung suatu interaksi dialektis di antara beragam pemikiran dan nilai-nilai yang menghasilkan inovasi dan akulturasi.

Pendidikan sebagai strategi kebudayaan akan terasa lebih bermakna ketika mampu memberi kontribusi dalam proses perkuatan institusi-institusi sosial dan budaya. Juga dapat melahirkan critical mass yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat yang kemudian dapat meningkatkan kapasitas bangsa, the improving capacity of a nation.

* Amich Alhumami, Peneliti Sosial, Department of Anthropology, University of Sussex, United Kingdom

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 November 2009

[Forum Guru] Bahasa Oh Bahasa

-- Rozali*

PERNAHKAH kita membaca slogan 'Pergunakan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar'? Berapa banyak slogan itu kita jumpai terpajang di spanduk tepi jalan? Adakah hubungan bahasa dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober?

Disadari atau tidak disadari sering kita menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dengan salah atau tidak tepat. Kata "acuh" sering kita gunakan untuk sebuah kalimat yang berarti tak acuh, contoh "apa salahku dengannya ketika kami bertemu mengapa dia begitu acuh?" Terkadang pula kita menyebutkan sebuah kata yang benar tetapi terdengar janggal bagi lawan bicara kita, misalnya berapa harga "telur" itu sebutir.

Kata telur diucapkan dengan tepat tetapi terdengar janggal sebab sudah sangat popular kata "telor" tenimbang kata telur. Masih banyak lagi bila kita mencoba membuka diri untuk memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia kita dengan baik dan benar.

Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menjadi pelajaran yang sangat tidak digemari, bahkan untuk mempelajari atau memperdalam secara sungguh-sungguh pun terkadang jarang dijumpai pada siswa mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sebagai contoh bila ditanyakan pada siswa dalam satu kelas; berapa orang yang memiliki kamus Bahasa Indonesia lalu tanyakan pula berapa orang yang memiliki kamus bahasa Inggris.

Dari dua pertanyaan tersebut berapa perbandingan antara siswa memiliki kamus bahasa Indonesia dan kamus bahasa Inggris. Jangan heran bila kita akan memperoleh persentase lebih banyak pada kamus bahasa Inggris daripada kamus bahasa Indonesia. Apalagi bila kita tanyakan tentang EYD seberapa banyak siswa yang memiliki dan pernah membacanya.

Ilustrasi ini menggambarkan pada kita setidaknya begitu dianggap mudahnya kita pelajaran bahasa Indonesia. Mungkin ada benarnya bila sebuah buku diberi judul 9 Dari 10 Kata Dalam Bahasa Indonesia Adalah Bahasa Asing. Siapa yang bertanggungjawab dalam hal ini, pemerintah, guru, sekolah, masyarakat atau pengguna bahasa itu sendiri?

Bila kita urai satu per satu mulai dari pemerintah: Sudahkah pemerintahan kita menggunakan bahasa Indonesia secara baik seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 36 berbunyi: "Bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia". Dalam kenyatannya penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan pemerintahan pun tidak salah bila kita mengatakan pengunaannya cukup rendah. Terkadang penggunaan dalam forum-forum ilmiah di lingkungan pemerintahan penggunaan bahasa-bahasa asing kerap terdengar bahkan sengaja disampaikan walaupun terkadang penggunaan kata yang dimaksud tidak tepat.

Di lingkungan pendidikan atau sekolah; masih sering penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar masih sangat lemah atau bahkan kurang. Hal ini salah satu faktor penyebabnya terletak pada tenaga pengajar atau guru yang bersangkutan. Sebuah contoh terkadang penulisan atau tampilan tulisan yang disampaikan tidak atau belum.

Mungkin juga peranan surat kabar terbitan daerah maupun nasional memiliki andil meskipun kecil dan memang hal ini sering luput dari perhatian pembaca membawa dampak kecil bagi pembaca surat kabar tersebut terutama pada saat yang bersangkutan membuat tulisan.

Berpegang dari pemeparan di atas, bukan berarti hal tersebut menjadi harga kaku dan tidak dapat diperbaiki atau diperbaiki. Menjadi tugas kita dalam rangka perbaikan dan menjadi kontrol sosial bagi pribadi kita masing-masing agar penggunaan Bahasa Indonesia secara Baik dan benar dapat benar-benar terwujud.

Sebagai bangsa yang besar kita sudah sepatutnya bangga memiliki bahasa persatuan bahasa Indonesia, terlebih bila kita berkaca pada sejarah bangsa dan pengaruh politik dari penguasa penjajah pada waktu itu. Tidak sedikit bangsa di dunia ini yang tidak lagi menggunakan bahasa Ibu Negara tersebut hal ini dampak dari pengaruh negara tersebut pernah dijajah oleh bangsa asing, sehingga penggunaan bahasa nasional pun turut bergeser pada pengaruh bahasa penjajah.

Meski demikian, tidak terjadi bagi bangsa kita, meskipun selama tiga setengah abad dijajah oleh Belanda atau pernah pula sebagian negara kita dijajah Inggris bahkan pernah dijajah Jepang, tetapi justru bangsa-bangsa penjajah tersebut yang lebih aktif mempelajari bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan kaum pribumi demi mencapai tujuan kaum penjajah itu sendiri. Kita juga patut berbangga dengan bahasa Indonesia begitu istimewanya sampai-sampai seorang bangsa Belanda, yaitu Van Ophuysen, ikut menyumbangkan pikiran dalam penggunaan kaidah-kaidah bahasa Indonesia lewat ejaan menggunakan kaidah-kaidah tulisan yang baik dan benar. Pemenggalan kata dalam tulisan meskipun terlihat sepele terkadang sering diabaikan.

Penyampaian materi yang tepat dan benar sangat sering luput penanganannya secara baik. Mungkin gambaran ini amat kentara atau terkadang terabaikan pada pengajaran bagi anak-anak usia sekolah dasar, yang menjadi dasar bagi keberlangsungan kebenaran penggunaan bahasa Indonesia. Dari beberapa penyebab hal ini terjadi antara lain adalah kurangnya buku-buku pelajaran yang memuat teori atau pengetahuan tentang kebahasaan itu sendiri.

Buku atau materi ajar ada saat ini lebih banyak pada fokus penulisan-penulisan kalimat tanpa penjelasan terlebih dahulu apa pengertian dari kalimat tersebut. Sebagai contoh pengertian dan ciri-ciri tentang kalimat berita, kalimat tanya atau kalimat berita; sepertinya sudah tidak terlihat lagi dibahas pada tingkat dasar. Sementara itu guru mengajar terkadang hanya terpusat pada buku dibahas pada tingkat dasar. Sementara itu guru mengajar terkadang hanya terpusat pada buku pegangan tidak ditambah dari buku penunjang lain yang berhubungan dengan materi ajar.

Pada lingkungan masyarakat mungkin juga memiliki keterlibatan yang cukup besar bagi mulai terkikisnya penggunaan bahasa secara baik dan benar. Kita atau masyarakat terkadang mulai tak acuh pada penggunaan bahasa Indonesia. Teramat banyak hal-hal salah yang dianggap wajar dan benar adanya. Hal ini juga diperparah dengan pencampuradukan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Kita akan merasakan wajar bila menjumpai di sudut jalan membaca spanduk atau papan iklan berbunyi "Sale Discount Up To 20% All Item" di supermarket...." Van Ophuysen yang dikenalkan sejak tahun 1901 hingga memiliki bentuk yang tetap pada 1926, selain ada Ejaan Suwandi/Ejaan Republik berdasarkan Sk No.264.Bhg.A/47 sebagai penyempurnaan dari ejaan yang berlaku sebelumnya dan dianggap kurang praktis sebelum; pada akhirnya disempurnakan pada 17 Agustus 1972 lewat EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57/1972.

Meskipun demikian, perubahan penyempurnaan atau penyempurnaan yang dilakukan tetap mengacu pada ejaan yang telah ada dan berkembang sebelumnya, hanya saja mengalami perubahan pada hal-hal yang dianggap kurang praktis dan merangkum segala usaha penyempurnaan yang telah dilakukan ejaan-ejaan sebelumnya.

Pada perkembangan selanjutnya bahasa Indonesia terutama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan juga sudah diterima pada sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Sribegawan tanggal 4-6 Maret 1991. Selain hal tersebut juga untuk memperkaya, terutama dalam hal perbendaharaan kata-kata dan bentuk kata bahasa Indonesia dalam perkembangannya menyerap dari unsur-unsur bahasa asing. Namun demikian penyerapannya tetap mengacu pada kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dan berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan.

Semoga bahasa Indonesia semakin dicintai dan berkibar penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. n

* Rozali, Guru SD Negeri 2 Talang Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 14 November 2009

Saturday, November 14, 2009

Memerintah Tanpa Budaya (Lagi)

-- Saifur Rohman

KABINET Indonesia Bersatu II 2009-2014 secara mengejutkan tidak lagi menempatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di bawah koordinasi Menko Kesejahteraan Rakyat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tetapi kini berada di bawah Menko Perekonomian. Jika strukturisasi kabinet adalah sebuah refleksi dari sistem pemikiran tentang idealitas pemerintahan, dengan kebijakan itu, unsur ”kebudayaan” tampaknya telah dianggap sebagai substruktur yang tak jauh berbeda dengan ”pariwisata”.

Dalam kacamata kuantitatif, konsepsi kebudayaan itu hadir sebagai entitas mikro dalam desain pembangunan nasional. Bacalah, anggaran belanja yang tertuang dalam RAPBN tahun 2010, memberikan alokasi dana kepada kebudayaan sekitar Rp 300 miliar (0,028 persen) dan kesenian sekitar Rp 78 miliar (0,0074 persen). Bisa dikatakan sama dengan tahun sebelumnya.

Jika pembangunan kebudayaan merupakan bagian kecil dalam desain pembangunan nasional, penting kiranya menanyakan kembali orientasi pemerintahan masa kini. Bagaimana rupa pemerintah tanpa budaya? Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan dibangun tanpa fondasi strategis terkait dengan kebudayaan?

Budaya sebagai alas

Penelusuran di dalam rumpun ilmu sosial, khususnya sebuah teori ekonomi, akan didapat istilah corporate culture sebagai titik orientasi kinerja seorang karyawan dalam praksis kerjanya sehari-hari. Demikian pula, teori kepemimpinan memberikan istilah transformational leadership dalam setiap organisasi untuk mewarisi semangat yang dibentuk para pendiri perusahaan.

Teori politik yang dikembangkan Hannah Arendt dalam The Origin of Totalitarianism (1976: 89) memperlihatkan integrasi sosial di dalam sebuah pemerintahan haruslah diikat dengan ”sebuah ketundukan terhadap identitas yang terus diperkuat oleh penguasa”.

Ikatan-ikatan inilah yang menjadikan sebuah negara-bangsa bisa didirikan. Eksplisitasi di dalam anggaran dasar yang disebut dengan undang-undang dan semboyan yang disebut dengan falsafah bangsa adalah orientasi kultural yang didesain sejak awal pembentukan negara. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan falsafah ini sesungguhnya lebih penting dari kebutuhan apa pun di republik ini.

Tinjauan pembangunan kultural dari masa ke masa memperlihatkan adanya upaya yang sangat luar biasa membangun kebudayaan sejak awal. Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-12 memperlihatkan konsepsi kebudayaan melalui dharma sebagai pengabdian kepada Syiwa Buddha. Raja Hayamwuruk sebagai pelindung negeri dan abdi yang menyejahterakan rakyat selalu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk ”menyembah Syiwa Buddha”.

Demikian pula, Kerajaan Islam pada 1478 dalam chandra bumi sirna ilang kertaning bumi (1400 Saka atau 1478) meninggalkan kebudayaan intangible bagi generasi-generasi sesudahnya. Istana kerajaan Raden Fatah tidak ditemui, tetapi Masjid Demak membawa ikon tentang kebudayaan Islam masa lampau yang terpelihara hingga kini.

Fotokopi budaya kolonial

Di bagian lain, pemerintahan Hindia Timur Belanda, yang berada di bawah Kementerian Tanah Jajahan, telah membawa kultur baru dalam pembentukan sistem kebudayaan. Sebagaimana garis kebijakan Kementerian Kolonial di The Haque (Den Haag), penerapan kebijakan di tanah jajahan haruslah dilandasi oleh hadirnya kekuasaan ”misterius” yang mampu memaksa para warga koloni untuk tunduk dan patuh.

Sistem cultuurstelsel (tanam paksa), landrente (pajak tanah), sistem onderneming (perkebunan), dan poenali sanctie (hukum buruh) dalam kebijakan perburuhan yang diterapkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 itu telah memengaruhi pola pikir masyarakat kolonial tentang idealitas-idealitas sebuah kebudayaan. Artinya, kebudayaan haruslah di bawah kendali sistem perekonomian yang memiliki orientasi jelas, yakni orientasi kapitalistik yang menghamba terhadap keuntungan.

Kita berada pada sebuah masa ketika gerakan angka-angka dalam statistik ekonomi dimaknai sebagai pertumbuhan. Dan kesejahteraan masyarakat Indonesia hanyalah masalah kuantifikasi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).

Persoalan-persoalan identitas keindonesiaan, semangat kebersamaan, keadilan sosial, dan pelestarian filsafat bangsa pun tertinggal sebagai bagian dari kurikulum tua yang tidak pernah diperbarui di dalam sistem pendidikan kita.

Lebih dari itu, pembangunan kebudayaan dalam strategi pemerintahan seperti barang apak yang disimpan di gudang tua tak tersentuh. Sampai lima tahun lagi. Setidaknya.

* Saifur Rohman, Pengamat Seni dan Budaya, Alumnus Doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada, menetap di Semarang

Sumber: Kompas, Sabtu, 14 November 2009

Paten Herbal Didului Malaysia

Jakarta, Kompas - Paten herbal dari hasil penelitian buah Aglaia silvestris, tanaman perdu endemik Kalimantan, didahului Malaysia. Padahal periset Indonesia bersama ilmuwan Amerika Serikat lebih dulu menemukan manfaat herbal tanaman tersebut untuk antikanker prostat dan antileukemia.

”Malaysia mengetahui potensinya besar sehingga dengan dana yang dimilikinya berusaha memberikan paten terlebih dahulu,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Leonardus Broto Sugeng Kardono, Jumat (13/11), seusai menyampaikan orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia organik di LIPI.

Selain Kardono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Hery Harjono serta Daliyo dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI juga dikukuhkan sebagai profesor riset, pada acara yang dipimpin Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie itu.

Kardono menyampaikan bahwa pada tahun 2000 dia bersama ilmuwan Universitas Illinois, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi buah Aglaia silvestris mengandung senyawa rocaglamide yang menunjukkan aktivitas antikanker prostat dan antileukemia.

Pada tahun 2002 dilanjutkan penelitian reidentifikasi Aglaia silvestris oleh ilmuwan Australia. Hasil reidentifikasi berhasil dan mengubah namanya menjadi Aglaia foveolata.

”Penelitian ilmuwan Australia itu juga menemukan senyawa antikanker prostat dan antileukemia pada Aglaia foveolata. Malaysia kemudian buru-buru membeli hasil riset Australia itu dan membuat patennya,” kata Kardono.

Alasan Malaysia untuk mematenkan adalah karena sumber daya genetik yang diambil ilmuwan Australia berasal dari wilayah Serawak. Menurut Kardono, riset sebelumnya sudah dilakukan di wilayah Kalimantan Tengah oleh periset Indonesia bersama Amerika Serikat. Namun, tidak sampai pada upaya mematenkan.

”Indonesia kaya akan tumbuhan obat. Namun, kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan mematenkannya,” kata Kardono.

Standardisasi jamu

Salah satu upaya mengidentifikasi senyawa aktif herbal, Kardono di Pusat Penelitian Kimia LIPI membuat standardisasi jamu. Standardisasi dan pengendalian mutu jamu meliputi deskripsi morfologi, histologi, dan organoleptik.

Kemudian identifikasi analisis kualitatif (metode kimia dan kromatografi), uji kemurnian, susut pengeringan, total abu, abu yang larut dalam asam, kandungan ekstrak, kandungan minyak asiri, dan lain-lain.

”Dari sumber daya hayati di Indonesia sudah diperoleh sebanyak 49 senyawa potensial obat,” kata Kardono.

Geologi dan geofisika

Dalam orasi pengukuhan profesor riset bidang geologi dan geofisika, Hery Harjono menyatakan, pendekatan seismologi, paleoseismologi, ataupun melalui pemantauan global positioning system (GPS) dapat digunakan untuk mengetahui lokasi rawan gempa dan perkiraan besarnya kekuatan gempa.

”Perkiraan waktu akan terjadinya gempa belum bisa ditentukan,” kata Hery.

Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie mengatakan bahwa Hery pada Juli 2004 pernah mengingatkan potensi gempa besar di barat Sumatera melalui sebuah brosur yang disampaikannya di DPR. Pada akhir tahun 2004 benar terjadi gempa besar dan tsunami di Aceh.

Profesor riset lain yang dikukuhkan di bidang kependudukan adalah Daliyo.

Dia mengungkapkan, tingkat konsumsi yang mendorong pertumbuhan ekonomi saat ini bukan dari masyarakat kelas bawah. Konsep pendayagunaan tenaga kerja masih paling cocok untuk negara pertanian. (NAW)

Sumber: Kompas, Sabtu, 14 November 2009

Tukang Kebun Indonesia

-- Budiarto Shambazy

TANGGAL 14 Desember 2009 pas 40 tahun kematian Soe Hok Gie di Gunung Semeru, Jawa Timur. Kami alumni Universitas Indonesia mempersiapkan buku Soe Hok Gie Sekali Lagi yang dirilis 18 Desember dan ”Napak Tilas Soe Hok Gie” yang diadakan Komunitas Kelompok Pencinta Alam Malang/Mapala UI di Gunung Semeru pada 20 Desember.

Justru setelah tutup usia dalam usia 27 tahun, banyak yang sadar bahwa ia pejuang konsisten. Banyak yang mafhum bahwa saat sebagian besar mahasiswa menikmati bulan madu bersama Orde Baru, ia justru keluar dari magnet kekuasaan.

Predikat konsisten itu menempel pada diri dan aktivitas Hok Gie karena tiga hal, yakni ia pribadi baik, bersih, dan pemberani. Ia memimpin mahasiswa yang pada hari-hari Januari 1966 menggalang kekuatan memprotes Presiden Soekarno di Istana Bogor. Namun, yang ia protes bukan pribadi Bung Karno, melainkan Orde Lama.

Ia tetap bersimpati terhadap sosok Bung Karno sebagai pribadi, yang ia tegaskan melalui pernyataan atau artikel di koran. ”Saya katakan bahwa Bung Karno telah menyengsarakan rakyat. Tetapi, itu tidak berarti bahwa penentang-penentang Bung Karno pahlawan pembela rakyat. Banyak di antara mereka yang bajingan dan oportunis,” katanya.

Sikap tak pandang bulu Hok Gie, misalnya, ditunjukkan tahun 1968, tak lama setelah Soeharto jadi presiden. Ia menggalang mahasiswa dan alumni memprotes Kodam V Jaya yang mau mengooptasi aspirasi kampus melalui siaran RUI (Radio UI). Old habit die hard!

Sekalipun ikut berjasa membidani kelahiran Orde Baru, Hok Gie memilih jadi dosen sejarah di Fakultas Sastra UI. Ia masih teramat belia dan punya peluang merebut posisi politik menguntungkan. Namun, ia lebih suka menyendiri ke puncak gunung menemukan kedamaian hati.

Kami angkatan 1970-an ke atas yang aktif di Dewan Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, dan Badan Perwakilan Mahasiswa UI ”mengenal” Hok Gie dari buku, artikel, dan cerita. Kami tahu ia konsisten karena ia mempelajari sejarah bangsanya.

Ketika para pemuda/mahasiswa mengucapkan Sumpah Pemuda, dunia relatif makmur. Tekad menyatakan ”Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” merupakan kulminasi dari perjuangan bangsa-bangsa yang ingin melepaskan diri dari penjajahan. Begitu banyak kebetulan sejarah yang terjadi saat dimulainya abad ke-20.

Asia bangga Jepang mengalahkan Rusia dalam perang 1905 walau militerisme Jepang tak kuasa menahan nafsu menjajah China dan Korea. Perang Dunia I 1914 mengubah perimbangan kekuatan Eropa. Negara-negara di benua tua itu mempertahankan stabilitas dan perdamaian sambil melanjutkan dominasi kultural di negara jajahan.

Namun, akhirnya mereka bersaing sendiri. Mereka mengaku beradab dan demokratis, tetapi dipermalukan sendiri oleh fasisme Perdana Menteri Italia Benito Mussolini dan ambisi ekspansionis Kanselir Jerman Adolf Hitler. Amerika Serikat mengakhiri netralitas saat Presiden Woodrow Wilson menyeret negaranya ke Perang Dunia I.

Setahun setelah Sumpah Pemuda, Amerika Serikat dilanda ”Depresi Besar” yang juga melanda sebagian Eropa. Dalam konteks dunia seperti itulah nasionalisme Indonesia tumbuh. Para pemuda/mahasiswa ketika itu dipengaruhi pula oleh kebangkitan kebangsaan di Turki, India, dan China.

Boedi Oetomo didirikan 1908 oleh Wahidin Soediro Hoesodo, Raden Soetomo, dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tujuannya nonpolitis, menuntut Belanda mengembangkan pendidikan yang menjamin kemuliaan pribumi. Pada akhir 1909 anggota Boedi Oetomo mencapai sekitar 10.000 orang, kebanyakan bermukim di Jawa/Madura.

Daya tarik Boedi Oetomo berkurang ketika Hadji Samanhoedi dan Raden Mas Tirtoadisoerjo mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) 1909. Tiga tahun kemudian SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang mengalami keemasan ketika dipimpin HOS Tjokroaminoto.

Ada juga Nationale Indische Partij (NIP) yang didirikan 1929, organisasi ”campuran” Eurasia/pribumi pimpinan Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hadjar Dewantoro. Seorang anggota NIP, Hendrik Sneevliet, menginfiltrasi SI membuka jaringan komunisme internasional yang melibatkan Semaoen, Darsono, dan Tan Malaka.

Perserikaten Kommunist di India (PKI) berdiri 1920, melanjutkan persaingan perjuangan kebangsaan SI versus komunis. Tokoh-tokoh Islam nasionalis yang ogah terlibat kompetisi mendirikan Muhammadiyah, 1912, yang dipimpin KH Ahmad Dahlan. Lewat ideologi berlainan, semua kekuatan pemuda/mahasiswa memulai perjuangan.

Bung Hatta ambil bagian sebagai Ketua Perhimpoenan Indonesia, kumpulan mahasiswa di Belanda, mulai 1922. Empat tahun kemudian lahir Nahdlatul Ulama yang salah satu pendirinya, Wahid Hasjim, adalah ayah Gus Dur. Setelah itu Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia 1927.

Semua potensi pemuda/mahasiswa bergabung ke Permoefakatan Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Pada akhirnya dinamika perimbangan kekuatan nasionalis, komunis, militer, dan Islam melahirkan ”konflik dan konsensus” dalam perpolitikan Orde Lama.

Mahasiswa Akbar Tandjung, Cosmas Batubara, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mendukung lahirnya Orde Baru. Mahasiswa Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir, dan Hariman Siregar mengoreksi Orde Baru. Mahasiswa 1998 menjadi the highest power penumbang Orde Baru.

Seperti Hok Gie, mahasiswa 2009 tetap konsisten. Mereka sudah turun ke gelanggang untuk melawan kriminalisasi KPK, membongkar mafia hukum, dan, sebentar lagi, mendesak DPR menguak tabir skandal Bank Century. Seperti Hok Gie, mereka baik, bersih, dan pemberani.

Kini nyaris setiap hari mahasiswa berunjuk rasa di sejumlah kota. Bisa dibayangkan apa jadinya jika mahasiswa berpangku tangan saja? Sementara pada saat yang sama pers, masyarakat madani, profesional, dan DPR pasrah?

Mahasiswa satu-satunya kekuatan moral pengawal hati nurani rakyat. Mereka beberapa tahun saja menyandang status sebagai mahasiswa. Mereka ibarat tukang kebun yang menyirami taman Indonesia yang indah supaya tak dikotori siapa pun yang memerintah kita.

Sumber: Kompas, Sabtu, 14 November 2009

Kehajian dalam Sastra

-- Damhuri Muhammad

SUDAH berkali-kali Haji Usman berkilah dan berkelit untuk tidak menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal, undangan terus berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Usman, tokoh masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan mengemukakan alasan kenapa ia keberatan memenuhi undangan dari sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya Haji Usman buka mulut juga.

Dan, ternyata masalahnya sepele. Hampir di setiap kartu undangan yang diterimanya, "sohibul-hajat" tidak mencantumkan huruf "H" sebelum namanya. Jadi, yang tertera hanya "Usman", bukan "H. Usman". Ia merasa kurang dihargai - bila tidak bisa disebut dirugikan - sebagai orang yang telah bersusah-payah mengumpulkan biaya guna menjejakkan kaki di tanah suci. "Kopiah putih di atas kepalaku sangat mahal harganya," begitu Haji Usman menggerutu pada Maemunah, istrinya.

Cerita sederhana ini kerap terjadi dalam keseharian kita. Haji Usman hanyalah satu dari sekian banyak haji yang pernah mengalami ketersinggungan yang sama. Berangkat dari kenyataan itu, maka ritual haji tak ubahnya upacara pembai'atan derajat keberagamaan sebuah keluarga, sebuah silsilah. Status kehajian nyaris bergeser dari kepasrahan akan ridho Tuhan menjadi sayembara meraih harkat keberibadahan yang pantas disanjung, dipuja-puji. Mereka beribadah, hanya karena ibadah itu warisan turun-temurun. Menyembah bukan semata-mata karena mesti menyembah. Menyembah karena akan meraih berkah-Nya. Berserah diri karena diam-diam berhasrat hendak "menjarah" rejeki-Nya.

Problematika derajat kehajian semacam inilah yang menjadi panggilan penciptaan Gus tf Sakai dalam novelnya Ular Keempat (2006). Semula novel itu tampak hendak membincang fakta sejarah perihal kisruh penyelenggaraan perjalanan haji (1970) yang dianggap melanggar prosedur, sekaligus memberi gambaran samar tentang sejarah mula-mula penyelenggaraan ibadah haji di bawah kendali (monopoli?) sebuah departemen di republik ini. Tapi, ternyata latar cerita itu hanyalah medium bagi eksplorasi maknawi lebih dalam. Pengarang menghadirkan Janir, tokoh paling penting dalam buku itu. Seorang pengusaha rumah makan asal Padang yang sukses di perantauan. Juragan yang membawahi banyak anak semang. Sosok kehajian Janir tiba-tiba berubah menjadi problematis, sebab tak tegak pada landasan iman yang matang, tidak berdiri di atas keikhlasan yang teruji. Meski telah menunaikan rukun Islam kelima itu untuk kali yang kedua, predikat kehajian Janir tetap menyisakan banyak tanya. Kegelisahan teologis yang dialaminya seumpama belitan ular yang sewaktu-waktu bakal "mencotok" atau menancapkan bisa di tubuhnya.

Dalam situasi psikis yang rapuh itu, Janir beroleh semacam ilham dari guru Muqri yang dijumpainya di tanah suci. Tak jelas siapa sesungguhnya orang itu, boleh jadi ia benar-benar nyata atau halusinasi Janir belaka. Diceritakan, guru Muqri pernah berjanji pada kehajian Janir yang pertama, bila ia masih terpanggil berhaji pada kali kedua, guru Muqri akan memberinya tiga cerita, tiga kisah. Maka, janji pun ditepati. Kisah pertama bertutur tentang perburuan para hamba mengejar syafa'at malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan, lailatul qadar. Berhari-hari, berminggu-minggu mereka berpacu. Berburu. Serupa kesetanan, seperti kesurupan. Tak pernah mereka singgah. Ada halte ada stasiun tetapi mereka terus. Ada kehidupan dan kematian tetapi mereka ngebut di kesendirian. Berlomba.

Saling mendahului. Beribadah demi sorga mereka sendiri. Inilah dia Ular Pertama; egoisme. Gigitannya tak merusak raga, tak pula menyakitkan, tapi kebuasannya dapat mencabik-cabik jiwa, melunturkan keikhlasan. Setan yang nyata. Mungkinkah iman bakal bersitumbuh di atas watak egoistik yang meluap-luap?

Saat wukuf di Arafah, Janir beroleh "wahyu" selanjutnya. Dua kisah lagi sesuai janji guru Muqri. Kisah ini menyindir potret peribadatan orang-orang kampung Janir, yang tak lebih karena keturunan mereka melakukannya. Itupun hanya untuk menggapai kehajian yang bakal dibanggakan. Pembeda antara yang sudah bersorban, berkopiah putih dengan yang masih berpeci hitam tanpa sorban, sebagaimana kisah Haji Usman di atas. Janir teringat masa kecil di kampung dulu. Ada debar pengajian, getar tadarus, beningnya suara azan buya Daruwih. Seolah-olah kenangan itu yang mendorongnya berhaji. Ya Allah, betulkah kenyataan ini: aku berhaji karena kenangan? Dalam kenangan itu terselip kebanggaan? Inilah Ular Kedua: kebanggaan, riya', sum'ah, takabbur. Gigitannya tak menghancurkan daging, tapi membinasakan keberpasrahan.

Setan besar.Lebih besar dari Jumratul Aqabah, Wustha dan Ula. Kisah terakhir yang diperoleh Janir berisi prediksi futuristik tentang silang-sengketa, pertikaian antar kelompok dalam memperebutkan kekuasaan. Ini terasa mencengangkan. Guru Muqri terlihat amat paham khazanah Tambo. Seakan-akan riwayat itu bukan dari guru Muqri, tapi dari perenungan Janir sendiri. Dalam salah satu versi Kaba (sastra lisan Minangkabau) ditemukan cerita mengenai seluk-beluk permainan layang-layang.

Anehnya, cerita layang-layang ini tak termaktub pada bab tentang permainan rakyat, tapi ditempatkan pada bab kepemimpinan. Apa hubungan layang-layang dengan masalah kepemimpinan? Negara diamsalkan serupa layang-layang putus tali, lalu orang-orang berhamburan mengejarnya dengan kayu galah di genggaman masing-masing.

Sebelum layang-layang itu jatuh menyentuh tanah, kayu-kayu galah lantas menghadang. Menusuk, merenggut, seolah setiap orang berhak atas layang-layang itu. Mereka tak beroleh apa-apa selain bangkai layang-layang. Patah-patah, remuk, hancur, cerai-berai. Begitulah negara. Semua orang merasa berhak memiliki. Bila satu kelompok gagal, kelompok lain juga tak boleh memiliki. Inilah Ular Ketiga: rakus, tamak, lalim. Maka, bila para hamba Tuhan yang lain meraih kemabruran dari tanah suci, Janir justru beroleh cenderamata; tiga ekor ular dari guru Muqri. Sesampai di tanah air, ia beroleh seekor ular lagi, pengarang menyebutnya Ular Keempat. Janir pun memasang niat akan berhaji lagi tahun depan, menjejakkan kaki di tanah suci lagi. Ia tak peduli anak-anak semang, tetangga-tetangga melarat, para fakir dan dhuafa. Janir sudah "ketagihan" digigit ular, dan hendak menjemput gigitan Ular Kelima, Keenam... ***

* Damhuri Muhammad, cerpenis, bermukim di Jakarta Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lahir di Padang, 01 Juli 1974

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 14 November 2009

Friday, November 13, 2009

Khatulistiwa untuk Rahardi dan Sindu

Jakarta, Kompas - Sastrawan F Rahardi memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2009 untuk kategori prosa terbaik lewat novelnya Lembata. Untuk kategori puisi, penghargaan ini diberikan kepada Sindu Putra atas karyanya Dongeng Anjing Api. Setiap penerima penghargaan memperoleh hadiah Rp 100 juta.

Penghargaan juga didapat Ria N Badaria dengan karya Fortunata untuk kategori penulis muda berbakat di bawah usia 30 tahun dengan hadiah Rp 25 juta. Kemudian Hadiah Khusus Metropoli D’Asia Khatulistiwa jatuh kepada Sihar Ramses Simatupang dengan karya Bulan Lebam di Tepian Toba. Selain karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Italia, Sihar juga menerima hadiah 3.000 euro.

Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa diumumkan di atrium Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (10/11) malam. Penjurian dilakukan oleh tim dengan ketua juri Robertus Robet. Para pemenang ketiga kategori itu terpilih di antara lima finalis.

Untuk kategori prosa, misalnya, ada lima finalis, yaitu Tanah Tabu (Anindita S Thayf), Lacrimosa (Dinar Rahayu), Lembata (F Rahardi), Sutasoma (Cok Sawitri), dan Meredam Dendam” (Gerson Poyk). Finalis kategori puisi terdiri dari Perahu Berlayar sampai Bintang (Cecep Syamsul Hari), Puan Kecubung (Jimmy Maruli Alfian), Partitur, Sketsa, Potret, dan Prosa (Wendoko), Kolam (Sapardi Djoko Damono), dan Dongeng Anjing Api (Sindu Putra).

Dalam katalog penghargaan, Robertus mencatat, penjurian dilakukan tim yang beranggotakan banyak orang dengan latar belakang beragam: pengarang, psikolog, sejarawan, sosiolog, pengajar filsafat, dan pekerja media. Tim ini tak berniat menasbihkan pengarang-pengarang hebat dalam sastra Indonesia, tetapi mengungkapkan pandangan kebenaran subyektif karya sastra.

Penggagas dan penyelenggara Anugerah Sastra Khatulistiwa, Richard Oh, mengatakan, anugerah tahunan itu diberikan untuk menghargai pencapaian penulis sastra di Indonesia sekaligus mendorong para penggiat sastra mengembangkan kerja kreatifnya. Dana hadiah diperoleh dari sejumlah sponsor.

Anugerah Sastra Khatulistiwa ajek memberikan penghargaan sastra setiap tahun sejak 2001. Penghargaan tahun ini merupakan yang kesembilan. Selain pemenang utama, biasanya para finalis di kategori prosa dan puisi juga memperoleh hadiah.(IAM)

Sumber: Kompas, Jumat, 13 November 2009

Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran

Solo, Kompas - Sertifikasi guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi sekaligus kesejahteraan guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Guru yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan.

”Dari kajian yang dilakukan, ternyata motivasi para guru mengikuti sertifikasi umumnya terkait aspek finansial, yaitu segera mendapat tunjangan profesi,” kata Prof Dr Baedhowi, MSi dalam pidato pengukuhan guru besar Manajemen Sumber Daya Manusia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/11). Baedhowi adalah guru besar ke-188 di UNS Solo.

Dalam Rapat Senat Terbuka UNS yang dipimpin Rektor UNS Dr dr Much Syamsulhadi, SpKJ (K), Baedhowi—yang kini menjabat Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional—membawakan pidato berjudul ”Tantangan Profesionalisme Guru pada Era Sertifikasi”.

Sertifikasi guru yang merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu sekaligus kesejahteraan guru sasarannya bisa menjangkau 2,7 juta guru. Namun, hingga saat ini baru sekitar 500.000 guru yang lolos sertifikasi dan mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji.

Sebuah kajian untuk mengetahui kompetensi guru pascasertifikasi, yang dilakukan Baedhowi dan Hartoyo (tahun 2009), menunjukkan motivasi guru untuk segera ikut kompetensi bukanlah semata-mata untuk mengetahui tingkat kompetensi mereka, tetapi yang lebih menonjol adalah motivasi finansial.

Alasan finansial

Motivasi yang sama ditemukan Direktorat Jenderal PMPTK Depdiknas ketika melakukan kajian serupa di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat tahun 2008. Kajian ini melibatkan responden 2.600 guru yang belum mengikuti sertifikasi dan 2.600 guru yang telah mengikuti sertifikasi.

”Meskipun alasan mereka bervariasi, secara umum motivasi mereka mengikuti sertifikasi ialah finansial,” kata Baedhowi.

Alasan para guru mengikuti sertifikasi, antara lain, agar mendapat tunjangan profesi, segera mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tunjangan untuk biaya kuliah, biaya pendidikan anak, merenovasi rumah, dan membayar utang.

”Tujuan utama sertifikasi untuk mewujudkan kompetensi guru tampaknya masih disikapi guru sebatas wacana,” ujarnya.

Kenyataan menunjukkan bahwa sertifikasi saja tidaklah cukup sebagai upaya mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru. Meski telah dinyatakan lulus sertifikasi dan telah menerima tunjangan profesi, bukan berarti guru telah memiliki kompetensi yang dipersyaratkan undang-undang.

”Ini bukan masalah, melainkan tantangan bagi guru,” kata Baedhowi.

Untuk mewujudkan guru yang benar-benar profesional, pascasertifikasi perlu ada upaya sistematis, sinergis, dan berkesinambungan yang menjamin guru tetap profesional.

Ditanya pers tentang banyaknya guru yang membeli gelar atau ijazah sarjana tanpa melalui pendidikan di perguruan tinggi yang terakreditasi, Baedhowi menyatakan prihatin. Ia menegaskan, ijazah yang diragukan atau tidak jelas akan ditertibkan dan tidak bisa masuk dalam penilaian untuk sertifikasi. (SON)

Sumber: Kompas, Jumat, 13 November 2009

Hal yang Aneh dalam Dunia Kepenulisan

-- Cunong N. Suraja*

HAL yang aneh boleh juga dianggap menyimpang yang dalam ilmu alam dikenal anomali saat air mulai mencair lagi ketika suhu mencapai minus empat derajat Celcius.

www.TPGImages

Dalam hal kepenulisan sering falsafah Jawa yang totok selalu dianut akut setia membabibuta (merendahkan diri yang dikenal dengan frase "andap asor") manakala bergayung-sambut atas sebuah materi pembicaraan yang sudah mulai akan menyeruak pada jati diri kepenulisan.

Set back ke tahun 1974 di saat hal-hal yang diberi label muda ditayang, ditawar, dihadang, dipajang dan dimasalahkan, seorang Iwan Soekri Munaf yang Padang berlogat Sunda meradang bukan mabuk rendang tapi alergi dengan predikat, sampiran, julukan yang menunjuk pada kelas sebagai penulis/penyair (atau apapun) ditambah kata muda di belakangnya. Apa beda muda dan tua dia pertanyakan waktu itu, entah setelah tigapuluh tahun kemudian ketika Iwan Soekri mulai dalam kelompok gaek, yang ditetua, atau tokoh panutan anak muda: Adakah keberangan itu masih tersisa?

Masalah muda ini yang mengungkit "slilit" pikiran saat mulai berwawansabda tentang hakekat pertemanan di FB yang sedang berlaga kata tentang makna. Ada hal yang paradoks pada para penulis paranoiac yang takut pamornya turun berlaga kata dengan pendatang baru.

Tapi harap diingat di tahun 1974 itu juga mulai mekar memar budaya penulis Yogya dan penulis Jakarta (walau penulis Jakarta ini aslinya dari berbagai daerah desa atau dusun juga) dalam forum yang di buka di TIM (Taman Ismail Marzuki, yang sekarang menciut diselenggarakan oleh teman-teman Martin Alaeda dalam "Meja Budaya" di PDS HB Jassin) memberi lahan percakapan antara Emha Ainun Najib yang waktu itu berpolemik dengan Goenawan Mohammad di harian koran Kompas dengan para penyuka sastra seni seluruh wilayah merdeka Indonesia yang diundang DKJ (yang hasilnya Emha dibantai, dihajar, disuntrungkan yang nantinya menjadi tren diskusi atau seminar budaya yang menjamur setelah itu sebagai sebuah gaya menyerang dan menghancurkan hingga muncul di Bandung dengan "Pengadilan Puisi" yang satiris) Tahun-tahun itu juga penulis Yogya juga memanen hadiah dari lomba penulisan di DKJ.

Para penulis yang boleh dikata mumpuni dalam artistik estetika maupun akdemis selalu menyatakan diri bahwa "saya baru belajar, anda yang sedang bertanya itu sudah lebih tahu dari saya yang sedang belajar" yang merupakan ungkapan sikap menutup diri dari celah diskusi beda wawasan maupun beda pikiran. Penulis kawakan model begini saat ini selalu berkilah kalau diajak berlaga kata.

Maka tak heran Saut Situmorang berserta Wowok H. Prabowo seperti bermain tepuk tangan sendirian maupun seperti orang bermonolog di panggung teater tanpa penonton yang kalau dibanding penggiat acara televisi masih lebih mujur dengan adanya akal rekaman tepuk tangan pemirsa langsung di studio maupun di depan layar kaca.

Istilah muda itu yang selalu ditempelkan pada new comer yang kadang tidak berbanding lurus dengan kwalitas daya jelajah kreatifnya. Maka adakalanya penulis (muda) dapat muncul seperti meteor atau comet (kata Jacko dalam lagu "Gone too Soon). Namanya bagai ledakan mercon-mercon seusai pementasan atau penghujung penambilan sebuah konser musik di lapangan tebuka musim panas atau kemarau yang membakar langit malam.

Begitu cerahnya sehingga membuat silau para pecundang yang lalu mulai mengutak-utik dari sisi teori sastra apapun sehingga ajian sakti mandraguna para pembicara yang suka kata sastra ya sastra bertumbangan gugur tanpa daya. Karena sastra ya sastra tidak memilah usia tidak memilah tren maupun mind setter yang lebih suka memunculkan berhala paranoia pendekar silat yang takut pada jurus baru.

Maka nilai sastra ya sastra anak muda dihancurkan dengan frame-frame teori mulai dari kajian budaya (culture studies), sosiologi sastra, pascakolonial, dekonstruksi sampai yang paling awal dikenal dengan behaviorism maupun penggunaan teori Bloomfield yang membelah-belah benda seperti amuba. Teori bak pisau penjagal yang memaksa meruntuhkan pengarang sudah mati dan sastra ya sastra yang sementara diagungkan para penganut puritan sastra "klangean" - yang mengangap sastra hanya hiburan tanpa kerut dahi apalagi menimbulkan teori baru.

Si sastrawan (muda) yang pingin dianggap tahu teori sastra agar karyanya mampu berkelit dan mengegos melawan tusukan teori sastra mulai mengikuti ritual akademis yang selalu ketinggal kereta dalam kreativitas. Mana mungkin ada teori kritik sastra kalau tidak ada karya sastra fenomenal genit merangsang untuk dijamu dengan hajaran frame-frame pikiran para pendahulu. Frame pikiran yang menjebak hingga kadang melunturkan rasa nikmat melahap sastra (anak muda ataupun "klangenan").

Bentrokan okol-akal tak jarang muncul di antara pendahulu dan pendatang baru. Yang bermulai dari kelompok-kelompok di Pasar Senen dan mereka yang bertengger di balik alasan akademis waktu itu di Rawamangun kalau di Jakarta (baca konflik kata MS. Hutagalung degan Ajip Rosidi), di Yogya kelompok PSK yang merupakan singkatan Persada Studi Klub dari mingguan Pelopor Yogya yang punya tokoh mitos Umbu Landu Paranggi yang kemudian dilanjutkan oleh almarhum Linus Suryadi AG yang hingga kini masih mematok Presiden Malioboro yang tak pernah dilengserkan dengan beberapa rekan dari akademisi di bilangan Bulak Sumur, belum yang bersifat Nusantara antara para penulis yang sudah merasa "orang Jakarta" yang dibaca sebagai pusat melawan cicak-cicak pedalaman yang waktu itu memunculkan gerakan revitalisasi sastra pedalamanan yang ujung-ujung mohon dilegitimasi sebagai satrawan dengan karya yang dimuat koran Jakarta atau diundang pada hajatan DKJ maupun TIM.

Tapi semua itu sekarang hanya tinggal sejarah setelah muncul sarana cyber yang memunculkan cyber satra (yang rata-rata digerakan anak muda yang melek komputer dan internet yang mengglobal bukan menggombal: ha ha ha) yang dihajar juga oleh sastra koran sebagai "tong sampah".

Muncullah fasilitas FB yang makin menggelembung balon globalnya yang melibas sarana mailing list yang terasa lebih lamban kayak kuya dalam interaksi tukar pandang pikiran dan laga kata-kata. Makin jauh sastra ya sastra dari sastra berbingkai teori. Makin dekat karya sastra dengan pembaca maupun penulisnya. Makin tak sungkan dalam tegur sapa baik sastra ya sastra dan sastra ber terori kritik blasteran atau indo.

Penang, dini hari Nopember 2009

* Cunong N. Suraja, Pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor

Sumber: Oase Kompas.com, Jumat, 13 November 2009

Thursday, November 12, 2009

Seni Penting untuk Berdayakan Masyarakat

Jakarta, Kompas - Seni dapat memainkan peran penting dalam memberi respons kepada isu-isu publik. Untuk mewujudkannya, bangsa ini memerlukan seniman yang bukan sekadar mengungkapkan buah pikiran intelektual atau letupan entusiasme emosional, tetapi hasil pergulatan pribadi yang intens dan total.

Demikian dikatakan Ignas Kleden dalam Pidato Kebudayaan 2009 bertajuk ”Memperkuat Masyarakat Sipil dengan Kesenian, untuk Mengelola Negara dan Pasar Lebih Baik” di Jakarta, Selasa (10/11). Pidato kebudayaan tersebut merupakan acara tahunan untuk memperingati 41 tahun berdirinya Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Ignas Kleden memaparkan, seniman memiliki ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan antara nilai dan lembaga-lembaga yang menjalankannya.

”Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih berkomitmen terhadap transparansi. Itu karena dalam menciptakan karya-karya kreatif yang hendak disampaikan memerlukan otentisitas pesan dan orisinalitas ekspresi,” ujar Ignas.

Mengutip penyair Rendra, Ignas mengatakan, seorang seniman bertugas memberi kesaksian tentang zamannya. Seni, khususnya sastra, memang perlu dikembangkan berdasarkan disiplin artistik. Namun, dalam pesan yang disampaikan seni dapat dan harus memberi respons terhadap masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektor-sektor publik.

Menurut Ignas, komunitas-komunitas budaya dapat menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam kehidupan publik. Itu bisa terjadi jika atribut-atribut komunal dihilangkan tanpa membuang substansi nilai yang dikandungnya. (ELN)

Sumber: Kompas, Kamis, 12 November 2009

Batas Keraton Majapahit Harus Segera Ditentukan

Mojokerto, Kompas - Raja-raja Nusantara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara meminta agar batas Keraton Majapahit segera ditentukan. Penentuan ini sangat penting untuk mengungkap peninggalan sejarah lainnya yang berkaitan dengan budaya bangsa.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Jenderal FSKN Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G Kusumodiningrat di sela-sela dialog nasional tentang ”Situs Ibukota Kerajaan Majapahit dan Pengembangannya sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional”, Rabu (11/11) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Pada hari yang sama digelar pameran ”Majapahit: Keseharian di Trowulan” di Museum Pusat Informasi Majapahit, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Pameran yang dibuka Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Drajat, berlangsung hingga Minggu (15/11).

Gunarso mengatakan, penelitian soal keraton Majapahit belum berhasil karena mengabaikan contoh keraton Majapahit yang tersebar di delapan kerajaan di Pulau Bali. Keraton dimaksud adalah Puri Agung Klungkung, Puri Agung Jimbrana, Puri Agung Singaraja, Puri Agung Karangasem, Puri Agung Denpasar, Puri Agung Gianyar, Puri Agung Tabanan, dan Puri Bangli.

Guru besar Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Muchammad Zaidun, mengatakan, penentuan batas wilayah keraton tak mudah karena sebagian wilayah kini dikuasai penduduk. (INK)

Sumber: Kompas, Kamis, 12 November 2009

Nama Saya Oh Hong Bun

NAMA saya Oh Hong Bun. Saya anak keturunan China. Ayah saya Oh Hok Tjoe. Ibu saya Liem Swan Nio.”

Lelaki kelahiran Blitar, Jawa Timur, tahun 1949, itu bercerita. Nama Oh Hong Bun hanya bertahan sampai dia belajar di SMA tahun 1966. Akibat politik asimilasi Orde Baru, nama itu diganti nama baru yang dianggap lebih ”Indonesia”: jadilah dia bernama FX Harsono.

Kini, puluhan tahun kemudian, Harsono—salah satu seniman penting negeri ini—berusaha mengingat sejarah itu lewat karyanya. Dia menuliskan kembali ”Oh Hong Bun”. Pria jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut mengaku hanya nama itu yang bisa ditulisnya dalam huruf kanji China.

Penulisan nama tersebut direkam dan ditayangkan lewat beberapa layar video. Di tengah ruang diletakkan meja dan kursi tempat dia menulis. Lantainya dipenuhi susunan kertas yang telah tertulisi nama itu. Video itu berjudul Memori tentang Nama/Yang Dihapus Kutulis Ulang. Bersama banyak karya lain, instalasi itu disajikan dalam pameran tunggal FX Harsono bertajuk ”The Erased Time” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 1-14 November. Pergelaran diselenggarakan Langgeng Gallery, Magelang, dengan kurasi oleh Hendro Wiyanto.

Pameran menghadirkan lukisan, instalasi, foto, digital print, dan video yang mengungkapkan kembali sejarah gelap yang pernah menimpa masyarakat keturunan China di negeri ini. Sejarah itu dipaparkan lewat perjalanan hidup Harsono.

Dia bercerita, ayahnya, Oh Hok Tjoe, adalah seorang juru potret. Dia mendokumentasikan penggalian korban pembunuhan massal kaum China di Blitar semasa agresi militer Belanda 1947-1948. Korbannya 191 orang. Jenazah mereka digali dan dikuburkan kembali tahun 1951.

Foto-foto lama itu, sekitar 80 buah, menggambarkan sejumlah orang setelah menggali tengkorak itu di beberapa tempat. ”Ratusan orang jadi korban pembunuhan yang tak jelas. Yang pasti, mereka dihabisi di tengah masa yang gelap. Ini sejarah yang menyedihkan,” kata Harsono.

Sejumlah cetakan foto tersebut diletakkan dalam kotak air yang disorot lampu merah. Sebagian dicetak besar. Ada yang dilukis ulang dan digabung dengan lukisan keluarga Harsono sendiri.

Dia juga membuat beberapa video. Salah satunya berisi kesaksian orang-orang yang mengalami peristiwa pembunuhan. Satu lagi mengungkapkan budaya China di Indonesia yang sudah mengalami pembauran dengan budaya Jawa, Eropa, dan tradisi China.

Pameran ini menjadikan karya seni rupa sebagai sarana penyadaran sejarah. Harsono berusaha merekam kehidupannya sendiri yang pernah didera kekerasan sosial-politik. Perjalanan itu juga mencerminkan sejarah hitam masyarakat China di negeri ini.

Mereka dilarang pakai nama China, tak boleh mengekspresikan agama dan budayanya, terus dicurigai, bahkan kerap jadi sasaran kerusuhan. Semua itu mengguncang eksistensi dan identitas mereka.

Situasi beranjak berubah sejak Reformasi 1998. Presiden Abdurrahman Wahid (tahun 1999-2001) membebaskan masyarakat keturunan China mengekspresikan budayanya. Kini mereka semakin leluasa menemukan dan membangun kembali identitasnya.

”Pameran ini menjadi semacam kesaksian, pernah terjadi sejarah kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat China di Indonesia. Semoga semua ini tak terulang lagi,” papar Harsono. (ilham khoiri)

Sumber: Kompas, Kamis, 12 November 2009

Soeprapto dan Hoegeng: Pahlawan Antikorupsi

-- Asvi Warman Adam*

PEMUTARAN penyadapan percakapan Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa hari yang lalu memunculkan nama pejabat tinggi kejaksaan agung dan kepolisian. Rekaman dalam persidangan terbuka yang ditayangkan televisi ke seluruh Tanah Air mencederai citra kedua instansi penegak hukum tersebut. Masyarakat bertanya apakah tidak ada jaksa dan polisi yang profesional sekaligus amanah?

Apabila ditengok sejarah penegakan hukum yang dilakukan kedua instansi ini, terbukti bahwa tidak semua aparat itu busuk. Kita menyaksikan tokoh jaksa dan polisi yang patut diteladani dan juga layak diangkat sebagai pahlawan nasional.

Pada 10 November, biasanya pemerintah mengumumkan nama pahlawan nasional yang baru. Penetapan pahlawan itu seyogianya disesuaikan dengan nilai-nilai yang ingin disemai dan dikembangkan pemerintah dalam masyarakat. Ketika program penegakan hukum dan HAM (termasuk pemberantasan korupsi) digalakkan secara nasional, sungguh tepat bila dalam pengangkatan pahlawan nasional sekarang ini juga terdapat pendekar hukum dan HAM. Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Polisi Hoegeng adalah dua figur yang memenuhi syarat untuk itu.

Soeprapto

Raden Soeprapto lahir di Kediri, 27 Maret 1897. Ayahnya juru tulis pada asisten residen Trenggalek, kemudian asisten wedana di Nganjuk. Karena itu, dia dapat menempuh pendidikan yang lumayan. Dia bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) dan ELS (Europese Lagere School). Lulus dari ELS, Soeprapto memilih Rechtsschool di Koningsplein Zuid 10 (sekarang Merdeka Selatan) Jakarta. Selepas dari Rechtsschool, Soeprapto memilih langsung bekerja. Sebagai anak paling tua, dia merasa punya tanggung jawab untuk dapat segera membantu orang tua.

Soeprapto adalah seorang jaksa/hakim karier. Sejak 31 Mei 1917, dia menjadi staf ketua Pengadilan Negeri Tulungagung setelah sebelumnya bertugas di Surabaya, Semarang, Demak, Purworejo, Bandung, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar, Mataram (Lombok), Cirebon, dan Salatiga. Ketika Jepang menyerbu Maret 1942, Soeprapto menjabat kepala Pengadilan Pekalongan hingga agresi militer Belanda pertama pada 1947. Karena memilih sikap nonkooperatif, dia mengungsi ke wilayah Republik di Yogyakarta. Sebelum dilantik sebagai jaksa agung, 28 Desember 1950, dia menjadi hakim anggota Mahkamah Agung. Soeprapto wafat 2 Desember 1964.

Meski berada di bawah Menteri Kehakiman, Jaksa Agung Soeprapto tidak takut menyidangkan mantan Menteri Kehakiman Djody Gondokusumo. Pada 2 Januari 1956, Djody divonis 1 tahun penjara potong masa tahanan karena terbukti menerima suap Rp40 ribu. Soeprapto bukan kader partai dan tidak takut mengadili petinggi partai. Bukan hanya tokoh nasionalis seperti Roeslan Abdulgani yang diperiksa, melainkan juga tokoh Islam seperti K.H. Masykur (mantan menteri agama dalam kasus dugaan korupsi kain kafan dari Jepang), Kasman Singodimejo (kasus penghasutan di depan umum).

Dari golongan kiri kasus D.N. Aidit (pencemaran nama baik Bung Hatta), Sidik Kertapati (dugaan makar). Dari partai sosialis, mantan menteri ekonomi Sumitro Djojohadikusumo diperiksa karena kasus pencemaran nama baik. Dari etnis Tionghoa, yaitu Lie Kiat Teng (mantan menteri kesehatan) dan Ong Eng Die (mantan menteri keuangan), keduanya dalam kasus dugaan penyalahgunaan jabatan.

Tokoh daerah yang diadili adalah Sultan Hamid Algadrie II (dalam kasus makar yang melibatkan Westerling). Wartawan senior yang ketika itu pernah diperiksa pengadilan adalah Asa Bafagih, Mochtar Lubis, B.M. Diah dan Naibaho (Pemred Harian Rakyat). Orang asing yang diadili adalah Schmidt dan Jungschlager.

Pemeriksaan atas sejumlah pejabat tinggi, pengadilan terhadap bekas pejabat teras dan pengusaha kakap yang berkongkalikong dengan pejabat ada sekitar 30 kasus, membuat dia tidak disukai politisi. Walau pakar Indonesia dari Washington University, almarhum Daniel Lev, mengakui "Pak Prapto itu memang luar biasa, ia sangat jujur dalam menjalankan tugas".

Dia juga keras dalam mendidik anak-anak. Putrinya Sylvia pernah diberi dua gelang emas besar oleh seorang warga Pakistan di halaman rumahnya. Soeprapto marah. Dia menyuruh putrinya mengembalikan pemberian itu.

Hoegeng

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid pernah bercanda, "Di negeri ini ada dua polisi yang tidak bisa disuap yakni 'polisi tidur' dan Hoegeng." Bukan untuk kalangan polisi saja, melainkan masyarakat umum pun dapat belajar dari kisah kehidupan Jenderal Hoegeng.

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso, waktu kecil ia sering dipanggil bugel (gemuk), lama kelamaan menjadi bugeng dan akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, ia tetap kurus.

Ayahnya Sukario Hatmodjo pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi dan Soeprapto ketua pengadilan mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur dan profesional. Ketiga orang inilah yang memberikan andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil, bahkan karena kekaguman kepada Pak Ating--yang gagah, suka menolong orang dan banyak teman--Hoegeng pun bercita-cita menjadi polisi.

Setelah lulus PTIK tahun 1952, Hoegeng ditempatkan di Jawa Timur. Penugasannya yang kedua sebagai kepala reskrim di Sumatera Utara yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyelundupan. Hoegeng disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan oleh beberapa cukong perjudian. Ia menolak dan lebih memilih tinggal di hotel sebelum dapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu kemudian juga dipenuhi perabot oleh tukang suap itu. Kesal, ia mengultimatum agar agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi dan karena tidak dipenuhi akhirnya perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan. Maka gemparlah kota Medan karena ada seorang kepala polisi yang tidak mempan disogok.

Setelah sukses bertugas di Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta. Untuk sementara ia dan istri menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Kemudian ia ditugaskan sebagai kepala Jawatan Imigrasi. Sehari sebelum diangkat, ia menutup usaha kembang istrinya di jalan Cikini karena khawatir orang-orang yang berurusan dengan imigrasi sengaja memborong bunga untuk mendapatkan fasilitas tertentu.

Selepas dari sini atas usul dari Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet Seratus Menteri Juni 1965. Tahun 1966 ia kembali ke kepolisian sebagai deputi operasi dan tahun 1968 menjadi panglima angkatan kepolisian. Dalam jabatan ini terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik seperti Sum Kuning, tewasnya mahasiswa ITB Rene Coenrad dan penyelundupan Robby Tjahyadi. Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng suatu saat berhadapan dengan lingkaran dekat Presiden. Hoegeng tetap konsisten. Akibatnya ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto walaupun masa jabatannya sebetulnya belum berakhir. Sebelumnya Hoegeng juga merintis pemakaian helm bagi pengendara kendaraan bermotor yang ketika itu menjadi polemik. Kini terasa bahwa instruksi itu memang bermanfaat.

Hoegeng ditawari jabatan duta besar di sebuah negara Eropa tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang jadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Senior di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Tetapi musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai "kepribadian nasional" oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Kemudian Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Ia tetap sederhana. Ketika rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj.

Apa yang mendorong Hoegeng menjadi tokoh yang bersih dan antikorupsi? Barangkali pendiriannya yang ditanamkan oleh ayahnya bahwa "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan". Ayahnya seorang birokrat yang sampai akhir hayatnya tidak sempat punya tanah dan rumah pribadi. Mantan Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Hoegeng layak diangkat menjadi pahlawan nasional. n

* Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI

Sumber: Lampung Post, Kamis, 12 November 2009