Sunday, December 08, 2013

[Artikulasi] Jejak Kerajaan Melayu di Istana Siak

-- Lisda Yulianti Harnina

Menapakkan kaki di Istana Siak, kita bisa menelusuri jejak Kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau. Istana yang cantik dan megah ini adalah bukti sejarah Kesultanan Siak Sri Inderapura. Kini, bangunan yang dijuluki Istana Matahari Timur dan bernama Istana Asseraiyah Hasyimiah ini menjadi salah satu andalan pariwisata Provinsi Riau.

BERJARAK sekitar 125 km dari Kota Pekanbaru, Istana Siak ini tak henti dibanjiri wisatawan lokal maupun turis mancanegara. Ketika Jurnal Nasional mengunjunginya, Minggu (17/11), Istana Siak tengah berbenah. Restorasi istana menelan biaya Rp1.844.478.000. Sumber dananya berasal dari APBD Pemkab Siak Tahun Anggaran 2013, dengan waktu pelaksanaan 137 hari kerja, sejak 13 Agustus 2013 sampai dengan 27 Desember 2013.

Memasuki pintu gerbang utama, patung sepasang burung elang bertengger gagah dengan sorot matanya yang tajam. Memandang ke puncak bangunan, juga terdapat enam patung burung elang yang menjadi lambang kegagahan dan keberanian Kerajaan Siak. Di sekitar istana terdapat delapan meriam yang tersebar pada sisi-sisi halaman, yang juga dihiasi pohon-pohon, bunga berwarna-warni, dan rerumputan yang menghijau.

Tiba di bangunan istana, Jurnal Nasional disambut oleh seorang lelaki paruh baya bernama Amrin. Pemandu wisata di Istana Siak ini menemani berkeliling istana. Bangunan istana baru saja dicat, khas warna Melayu. Sedangkan di beberapa ruangan dan bagian, juga terdapat perbaikan-perbaikan.

Bangunan dengan arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa, yang merupakan kediaman resmi Sultan Siak ini mengundang kekaguman para pengunjung. Pada dinding istana dihiasi keramik yang khusus didatangkan dari Perancis. Koleksi benda-benda antik peninggalan istana, terpajang rapi di setiap ruangan.

Di sebelah kiri ruang tunggu tamu, terpajang Piagam Gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin (Alm) atau lebih dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II, yang namanya diabadikan menjadi nama Bandar udara di Pekanbaru. Piagam tersebut ditanda tangani oleh Presiden BJ Habibie pada tanggal 6 November 1998.

Menurut Amrin, Istana Siak dibangun pada tahun 1889, di masa kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, seorang keturunan Arab yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung Padang, dan sekaligus menjadi sultan pertama Kerajaan Siak. Istana ini selesai dibangun pada tahun 1893. Luas kompleks istana sekitar 3,2 hektar. Sedangkan bangunan Istana Siak luasnya 1.000 meter persegi, terdiri atas dua lantai.

Di lantai bawah terdapat enam ruangan. Ruang sidang, ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu untuk laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, dan ruang sidang kerajaan yang juga digunakan sebagai ruang pesta, terletak di sebelah kanan. Menuju lantai atas, melewati tangga berputar di sebelah kanan. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, yang berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana.

Alat Musik Komet

Beberapa koleksi peninggalan kerajaan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Istana Siak hanya menyimpan duplikatnya. Kursi singgasana yang bersepuh emas, duplikat mahkota kerajaan, tombak, payung kerajaan, keramik-keramik dari China dan Eropa, kursi-kursi Kristal yang dibuat tahun 1896, patung pualan Sultan ASyarif Hasyim I bermata berlian dibuat tahun 1889, perkakas rumah tangga seperti sendok, piring, gelas, cangkir berlambang Kerajaan Siak, bahkan ada pula patung perunggu Ratu Wilhelmina yang merupakan hadiah dari Kerajaan Belanda.

Di antara koleksi benda anti-Istana Siak, ada sebuah cermin yang dahulu digunakan oleh permaisuri. Cermin tersebut bernama Ratu Agung. Konon, apabila sering menggunakan cermin tersebut, dapat membuat wajah orang yang sedang bercermin semakin cerah dan awet muda.

Selain itu, ada pula alat musik komet yaitu sejenis gramafon, yang menurut Amrin, saat ini hanya ada dua di dunia, yaitu di Siak dan Jerman. Piringan baja komet tersebut dibawa Sultan Syarief Hasyim dari lawatannya di Jerman pada tahun 1896.

Masih ada lagi benda menarik yang menjadi koleksi istana, yaitu lemari brankas yang terbuat dari baja buatan Jerman. Hingga saat ini, kata Amrin, tidak diketahui apa isi brankas tersebut. Beberapa kali sudah pernah berusaha dibuka, namun tidak pernah berhasil. "Isinya belum tahu. Ada yang mengatakan isinya barang-barang berharga, seperti berlian dan dokumen-dokumen," ujarnya.

Keluar dari bangunan istana melalui pintu belakang, tampak di sebelah kiri belakang istana, bangunan kecil yang dahulu digunakan sebagai penjara sementara. Sedangkan di sebelah kanan belakang istana, sebuah kapal terbuat dari besi berdiri tegar dan masih tampak gagah. "Itu namanya Kapal Kato, alat transportasi Sultan dan keluarganya, untuk mengunjungi daerah-daerah yang menjadi bagian dari Kerajaan Siak," kata Amrin, yang telah menjadi pemandu wisata di Istana Siak itu sejak tahun 1993. Di bagian belakang dekat kapal tersebut terdapat kereta kuda terbuat dari besi, yang juga menjadi alat transportasi Sultan dan keluarganya.

Menyusuri Istana Siak, tak dapat dipisahkan dengan sejarah kerajaan itu. Amrin menceritakan, Kerajaan Siak berdiri tahun 1723 hingga 1946. Awalnya, Kerajaan Siak merupakan pecahan dari Kerajaan Melayu, yaitu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, yang dikenal dengan sebutan Raja Kecik, dan Sultan Suleiman yang dibantu oleh Bugis. Raja Kecik tersingkir dan berpindah-pindah tempat yaitu ke Johor, Bintan, Bengkalis, hingga akhirnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak).

Dalam perjalanannya, pusat kerajaan berkali-kali berpindah ibu kota yaitu di Buantan, kemudian di Mempura, di Senapelan Pekanbaru, lalu kembali lagi ke Mempura. Dan di masa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin, pada tahun 1827-1864, pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura sampai masa pemerintahan Sultan Siak terakhir.

Cantiknya Tenun Siak

Semasa pemerintahan Sultan Ismail Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889-1908, dibangunlah istana megah yang terletak di kota Siak. Istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini pula, Siak mengalami kemajuan terutama di bidang ekonomi.

Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim, dan pada tahun 1915 beliau menjadi Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani atau Sultan Syarif Kasim II.

Karena Sultan Syarif Kasim II tidak memiliki putra, beliau menjadi Sultan Siak yang terakhir. Pada tahun 1945, ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Sultan Syarif Kasim II juga mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak. Kemudian beliau ke Jawa menjumpai Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta.

Pada tahun 1960, Sultan Syarif Kasim II kembali ke Siak dan wafat di Rumbai pada tahun 1968. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tak jauh dari Istana Siak. Hingga akhir hayatnya, beliau tidak memiliki keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.

Masih ada jejak sejarah yang menjadi warisan Kerajaan Siak, yaitu kain tenun, kerajinan tangan asli masyarakat Siak. Awalnya, kain tenun tersebut hanya dikenal di lingkungan istana. Kain cantik itu disusun dari benang katun atau benang sutera, yang diberi benang emas. Motif khasnya berupa tampuk manggis, pucuk rebung, atau siku keluang.

Kain tenun itu dibuat dengan kik, yaitu alat tenun sederhana dari bahan kayu berukuran 1x2 meter. Dengan alat tersebut kain yang dihasilkan tidak lebar, sehingga untuk satu kain sarung harus disambung dua (kain berkampuh). Selain digemari masyarakat, kain tenun Siak ini juga merupakan cenderamata bagi wisatawan yang datang ke Siak.

"Cenderamata asli Siak, dapat dibeli di bangunan belakang istana, cantik-cantik, harganya pun tidaklah mahal," kata Amrin menutup pembicaraan. n

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 8 Desember 2013

1 comment:

Amsyahril Syahril said...


Assalamualaikum Tuan/Puan.

Saya mohon maaf pada Tuan/Puan untuk boleh iklan sedikit disini, semoga kebaikan hati Tuan/Puan untuk memberi izin iklan ini, menjadi amal ibadah disisi Allah SWT hendaknya amiin….

Salam dari Kita Holidays Travel & Tour Indonesia.
Kalau Tuan/Puan nak melawat ke Indonesia, jangan risau hati sila hubungi :

KITA HOLIDAYS TRAVEL & TOUR INDONESIA
Tour operator & Travel Agency

Sebuah serikat yang punya legalitas di Indonesia, memberikan pengkhidmatan tour ground handling di beberapa daerah yang favorit untuk di lawati. Kami arrange secara profesional dan dengan penuh rasa kekeluargaan, juga dengan harga tour yang sangat berpatutan sekali seperti ke : Padang dan Bukittinggi Tour, Aceh Tour, Medan Tour, Jakarta dan Bandung Tour, Jogjakarta Tour, Bali Muslim Tour dan sewa kenderaan.

Contact person : Amsyahril
Mobile : +6285263007445 ( WhatsApp )
E-Mail : am_holidays@yahoo.com / kita_holidays@yahoo.com / kitaholidays@yahoo.com.