Sunday, December 29, 2013

Pemulihan Identitas Negeri

SASTRAWAN adalah pemakna kekinian dari nilai-nilai tradisi dan budaya yang tumbuh berkembang dalam masyarakatnya. Dalam proses pemulihan tentang identitas sebuah negeri, terutama di alam Melayu khususnya Riau, sastrawan adalah orang yang berdiri di posisi hadapan. Hal itu dikemukakan salah seorang Budayawan Riau, Al Azhar dalam silaturahim sastrawan nusantara dalam kunjungan ke LAM Riau beberapa waktu yang lalu.

Sebuah tradisi atau budaya tentulah akan berkembang sesuai dengan dinamika dan faktor-faktor lain di dalam kehidupan itu sendiri. Peran yang dimainkan oleh sastrawan dalam hal ini adalah memasuki ruang dan memutar dinamo kebaruan di dalamnya. Jika hal itu tidak terjadi. Maka menurut Al Azhar justru sebuah tradisi itu sudah mati. Di sinilah kemudian, para sastrawan melakukan tafsir-tafsir baru terhadap nilai-nilai kehidupan yang ada dan hal-hal yang melingkupi kaumnya.

Dalam kebudayaan Melayu, sastrawan juga disebut orang yang patut. Yaitu orang yang apabila kita datang padanya menjadi tempat bercerita dan bila jauh menjadi tempat bertanya. ‘’Sastrawan berada di tengah-tengah keadaan, situasi yang melingkupi kaumnya karena itu sebagai orang yang patut dia harus siap menjawab segala pertanyaan yang akan muncul terkait dengan fenomena apa yang terjadi di dalam masyarakatnya,’’ jelas Al Azhar.

Pertemuan Sastrawan Nusantara ke 17 dilaksanakan di Riau yang berlangsung 19-22 Desember. Adapun tema dari pertemuan itu adalah Masa Depan Sastra Nusantara; Gagasan dan Cabaran. Pertemuan itu dihadiri dan diikuti oleh sastrawan jemputan dari berbagai provinsi di Indonesia, sastrawan jemputan dari negara-negara serumpun yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan sastrawan jemputan dari Riau. Dalam pertemuan itu juga dilaksanakan seminar, pembacaan puisi di beberapa tempat, Taman Budaya, Universitas Lancang Kuning, Universitas Islam Riau dan Universitas Riau.

Beberapa capaian dan titik temu dari pertemuan kali ini, seperti yang dikatakan salah seorang Staring Comite, Fakhrunas MA Jabbar bahwa kesimpulan yang diperolah berdasarkan rumusan yang dihadiri beberapa perwakilan dari negara serumpun adalah dalam perkembangan masa kini, para sastrawan nusantara ternyata tidak hanya berhadapan dengan situasi dan iklim politik yang berlaku di negara masing-masing. Lebih dari itu, perkembangan ilmu dan teknologi yang bersifat global telah menghadapkan para sastrawan dengan tantangan yang lebih nyata. Sebutlah perkembangan dunia siber dan multimedia yang memungkinkan semua orang begitu mudah mengakses sumber data dan informasi atau sesiapa pun tak bisa mengelak dari serbuan informasi secara bebas dan terbuka.

Realitas ini telah pula membenturkan antara nilai atau tradisi lama yang molek dan santun dengan gerusan nilai modernitas yang sulit ditapis. Boleh jadi hal ini memperjauh jarak kendali antara sastrawan berlainan generasi atau sesama sastrawan di kawasan serumpun Melayu. ‘’Padahal keberadaan sastra nusantara sangat memerlukan kepaduan dan persatuan guna mengagungkan kejayaan sastra di masa depan,’’ kata Fakhrunas yang juga merupakan sastrawan Riau ini.

Salah seorang pembicara dalam seminar PSN ke 17, Taufik Ikram Jamil  menyebutkan sesungguhnya idiologi sastra tidak muncul di tengah keragaman media yang telah memudahkannya dari berbagai hal seperti biaya dan waktu. Malahan menurutnya banyak contoh yang kemudian ditemukan dan membuktikan bahwa sastra di tengah keberagaman media saat ini, tidak melambai kita untuk berpikir tentang kemanusian. ‘’Di jejaringan sosial misalnya, banyak kelompok bersahut-sahutan menulis apa yang mereka sebut sebagai puisi-puisi pendek tetapi kemudian berkumpul di suatu tempat untuk meluncurkan pembukuan terhadap tulisan digital mereka itu, tapi anginya seperti angin dari balon yang meletus saja, tus...setelah itu habis. Bandingkan dengan era 70-an dan 90-an, ketika sastra tidak perlu bergatal-gatal dengan konservatifnya,’’ jelas Taufik Ikram Jamil.

Ditegaskan Taufik kemudian terkait dengan pijakan kreatif adalah suatu pergumulan peradaban. Waktu tidak lagi menjadi semestinya. Sejarah pun bukan menjadi suatu catatan yang telah berlalu, tetapi adalah pengibar kekinian dan masa datang, semuanya direkat oleh data sekaligus fakta. ‘’Nah, satu titik dari pergulatan peradaban yang unsur-unsurnya begitu kental berpadu adalah suatu kawasan yang dinamakan nusantara kini meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand Selatan.’’

Pertanyaannya adalah adakah pergulatan peradaban itu akan tetap aktual dimunculkan dalam PSN sebab menurut saya hal itulah yang paling penting sehingga secara umum muncul sutu konsep kesusasteraan nusantara. ‘’Keragaman media, seharusnya mempercepat penularan virus tersebut yang menjadi sisi lain dari perkembangan sastra,’’ jelas Taufik lagi.

Sementara itu, Forum PSN dapat pula dijadikan sebagai sebuah upaya dari negara serumpun untuk dijadikan suatu perekat budaya. Hal itu diakui, sastrawan dari Jakarta, Jamal D Rahman. Keharmonisan yang sering kali terganggu oleh kondisi politik dan lain sebagainya. Artinya menurut Jamal, forum seperti ini dapat menjaga keharmonisan tersebut secara budaya. ‘’Inilah jalan kebudayaan untuk menjaga kebersamaan di kawasan nusantara yang seringkali diganggu oleh persoalan-persoalan politik,’’ jelasnya.

Di samping itu, kata Jamal forum seperti ini juga dapat menjalin komunikasi yang lebih inten antara sesama sastrawan, saling kenal lewat karya. Forum dimana mereka dapat bertatap muka secara langsung. Bertukar pikiran, membincangkan pokok-pokok penting dan membicarakan apa yang mungkin untuk memajukan sastra di masing-masing negara. ‘’Bahkan dengan adanya pembacaan puisi di berbagai tempat merupakan kesempatan bagi para sastrawan bertemu dengan audien dan sebaliknya,’’ jelasnya lagi.

Senada dengan itu, sastrawan asal Tahiland Selatan, Phaosan Jahwae menyebutkan Ada banyak perkara yang dicapai dari PSN. Salah satunya ke depan akan diberikan anugerah kepada sastrawan-sastrawan yang dalam hal itu menurutnya akan mampu memberi semangat kepada penulis untuk terus berkarya. PSN juga dapatmembantu perkembangan sastra di negara asing-masing. ‘’Kita saling mengenal, persaudaraan, kita menjadi tahu bagaimana perkembangan sastra di nusantara yang notabene memiliki latar belakang berbeda tetapi memilki tujuan yang sama dalam hal memperjuangkan sastra,’’ ucapnya.

Dari pertemuan tersebut, Agus R Sarjono, sastrawan Indonesia menyebutkan ada beberapa peluang yang kemudian dapat disimpulkan dari seminar yang diadakan misalnya bagaimana sebenarnya saat ini kita punya peluang besar untuk mengantarkan sastra Indonesia tampil di wilayah sastra dunia. Peluang-peluang itu terbaca dari bagaimana perkembangan sastra di Barat yang saat ini seperti kekurangan darah segar. ‘’Inilah cabaran kita, ini pulalah tantangan kita ke depannya. Tetapi kemudian yang perlu saya katakan, terutama di Indonesia sebenarnya pemahaman dan peran pemerintah masih lemah terhadap sastra sehingga masih banyak pekerjaan di bidang ini yang harus diselesaikan,’’ jelas Agus. 

Sementara itu, sastrawan asal Lampung, Isbedy Setiawan memiliki pandangan bahwa jika tidak benar-benar dikonsep dengan baik, PSN ini tidak akan memberikan efek apa-apa bagi perkembangan sastra di negara masing-masing. Menurutnya, di Indonesia sendiri misalnya tak ada pun acara seperti ini, para satrawannya tetap berkarya. Tetap mencari titik capaian estetikanya sendiri dalam menghasilkan karya sastra. Kata Isbedy seharusnya disamping sebagai ajang silaturahmi, PSN ini menjadi ajang pembelajaran juga bagi para sastrawan.

Begitu juga pendapat Hasan al Bana, sastrawan asal Medan yang mengatakan PSN ini tidak banyak pula memberikan kontribusi bagi perkembangan sastra di daerahnya. Secara pribadi, menurut hasan acara serupa ini semacam carger saja, ngecas sebentar. ‘’Pada dasarnya yang penting itu kembali kepada penyairnya. Ketika sudah dicas semua kita ini, akhirnya bagaimana kita memanfaatkannya, Itu yang penting. Substansi itu atau benturan apa yang didapat yang kemudian bisa dibawa balik,’’ jelasnya.

Diakuinya juga tidak mudah membuat format acara yang memiliki dampak yang sangat besar bagi perkembangan sastra. Dan harapannya agar PSN ke depan dapat juga melibatkan generasi-generasi muda karena menurutu Hasan, generasi muda juga harus tahu bagaimana sejarah PSN ini dan dalam hal lainnya generasi muda lebih  mungkin untuk menciptakan dan mencari ‘’pencapaian’’ yang lain. ‘’Silaturahmi tentu menjadi poin dalam PSN ini. Jadi memang tidak mudah membuat acara dengan format untuk mencapai kesepemahaman dan tujuan bersama tapi itulah tantangan kita,’’ jelasnya.(*6) n

Sumber: Riau Pos, Minggu, 29 Desember 2013

No comments: