Sunday, December 29, 2013

[Tifa] Seni Kriya Pembuka Cakrawala

-- Iwan Kurniawan

Lewat desain dan kriya, para seniman dan desainer menghadirkan karya kontemporer yang tak hanya bernilai seni, tapi juga memiliki pasaran.

HUJAN baru saja berhenti setelah sejam lebih mengguyur kawasan Jakarta Pusat. Di halaman Galeri Nasional, Jakarta, beberapa pengunjung mondar-mandir masuk gedung untuk melihat pameran seni yang sedang berlangsung selama sebulan penuh itu.

Ada yang menggendong anak kecil dan ada pula pasangan yang saling bergandengan. Mereka tampak menikmati karya-karya terbaru para seniman dan desainer di ajang Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 itu, pertengahan pekan ini.

Pada pameran itu, ada puluhan karya terbaik anak negeri yang dipajang sejak 19 Desember hingga 19 Januari 2014 mendatang. Setiap konsep memiliki nilai-nilai estetika sehingga memberikan sebuah persepsi berbeda tentang seni kriya dan desain.

Setiap karya-karya yang dipamerkan tak terlepas dari upaya seniman untuk menghadirkan karya seni yang tak hanya dinikmati. Namun, bisa memberikan dampak pada ekonomi kreatif tuk menunjang proses kreativitas.

Karya instalasi Rebirth menjadi salah satu karya yang paling mencolok dalam pameran tersebut. Tiga seniman Susan Budiharjo, Gilang Luhur Mandiri, dan Uy Dharma Prayoga berkolaborasi dalam menghadirkan perpaduan antara seni patung, kriya, dan desain.

Tampak seorang perempuan bertelanjang dada sedang menatap tajam. Buah dadanya sengaja tak ditutupi sementara tangan kirinya menongkat di paha. Sepintas terlihat objek perempuan itu sedang duduk.

Di luar objek karya, ada sebuah rangka besi-besi yang menyerupai telur. Sehingga dari kejauhan, perempuan itu sedang terpenjara dalam telur raksasa. Namun, jangan heran, karena bila kita melihat lebih detail, karya itu merupakan sebuah instalasi yang cukup mengundang penasaran.

Setiap karangka tubuh terbuat dari kayu, kabel, dan besi. Semua terlihat seperti sebuah manusia ‘robot’ yang sedang menunggu untuk menetas. Namun, di balik itu, ada pemikiran-pemikiran liar yang dihadirkan ketiga desainer sekaligus seniman itu.

Karya lain yang mengundang perhatian juga tampak pada garapan Rinaldy Arvianto Yunardi yang berkolaborasi bersama Mariska Adriana dan Sandy Karman. Mereka menghadirkan instalasi berjudul Gravitasi. Karya setinggi dua meter lebih itu menggambarkan tentang gravitasi, hukum tarik-menarik antara dua dunia, dua langit, garis-garis bertautan, dan satu titik lautan.

Keduanya berada pada tatanan yang sama, dunia adalah langit dan langit adalah dunia. Semua tergantung dari mana kita melihat dan di mana kita berpijak. Penggunaan kaca sebagai pantulan menjadikan karya itu memberikan pandangan tentang langit dan bumi yang sama dilihat dari setiap negara mana pun.

Begitu pula dengan karya Children Nest karya Titiana Irawani dan Ayu Joddy berupa dua buah sarang yang ditumpuk sehingga membentuk labirin. Pengunjung bisa masuk dan berputar untuk menemukan sarang persembunyiannya dan tertidur di dalamnya.

Cakrawala baru

Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Imam Buchori Zainuddin menilai keberadaan desain dan kriya cukup penting. Pada saat spirit nasionalisme muncul di Zaman Penalaran (The Age of Reason), arts banyak mengandung intuisi dan keterampilan pribadi.

“Spirit nalar membawa cakrawala baru tentang bagaimana manusia meninggalkan berbagai sendi-sendi kehidupan berdasarkan realitas yang dapat diukur, direncanakan, dan dimanfaatkan bagi kehidupan sosial,� ujarnya dalam pengantar katalog pameran.

Berkat penalaran, dunia sains semakin bergelora. Berbagai penemuan bidang ilmu pengetahuan banyak membawa perubahan secara radikal sehingga membuka lembaran baru dalam cara orang memanfaatkan pengetahuan. Yang akhirnya mendorong terjadinya Revolusi Industri.

“Seni yang biasanya merupakan hak istimewa kaum ningrat dengna acuan selera hedonistik berkembang mengikuti stratifikasi fungsi sosial. Akibatnya, seni semakin terurai,� jelasnya.

Irvan Noe’man, salah satu Kurator Biennale Desain & Kriya Indonesia,menjelaskan industri kreatif desain sangat terkait dengan banyak orang. Desain bukan sekadar menghadilkan added value (nilai tambah) bagi karyanya, melainkan lebih sebagai value creation yang menguntungkan bagi semua pihak. “Selain mutu dan nilai produk, karya mampu memenuhi harapan dan kepuasan bagi pembuat dalam menjalankan bisnis industri kreatif,� paparnya.

Lewat pameran desain dan kriya, para seniman dan desainer mencoba menghadirkan karya-karya yang penuh estetika dan memiliki dampak terhadap sebuah perubahan baru. Mereka menunjukkan bahwa ide kreatif tak akan menyengsarakan pelaku seni dan budaya. (M-4)

miweekend@mediaindonesia.com                                            

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 29 Desember 2013

No comments: