-- Udo Z. Karzi
1
dari sekalabrak ulun-ulun menghilir
way besai, antar aku ke repong-repong
talang-talang
”dari kopi, lada, damar kami menghela nafas”
ulun tuhaku ngebangun rumah panggung
berjan meranti
belantara menjelma umbul
2
way besai, dari sinilah hidup menghulu
dari sinilah sejarah dan peradaban
ulun lampung!
”bagaimana memisahkan kami darimu?”
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts
Friday, August 17, 2007
Sunday, July 01, 2007
Udo Z Karzi: Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang
-- Dody Kriswaloejo*
ketika hujan aku tak pernah membayangkan
bagaimana keajaiban tercipta
tapi tidak melalui got yang kau angankan
betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur
persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun
betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak
tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu
aku ingin meledakkan rumah rumah utara
yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu
seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan
gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur
selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang
tak perawan
inilah keinginan kota kota selatan
bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan
sebab kau lebih layak
terpotong sebagai penyair simbolis
yang sudah terbantai sejak
patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu
Surabaya, Juni 2007
* Dody Kristianto, lahir 3 April 1986. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Penikmat Kajian Sastra, Seni dan Budaya. Bergiat pada kelompok Jeda Interlude dan Komunitas Penulis lepas (www.penulislepas.com). Beberapa sajaknya pernah muncul di beberapa media.
Sumber: Puitika.net, Sabtu, 30/06/2007 - 11:40.
ketika hujan aku tak pernah membayangkan
bagaimana keajaiban tercipta
tapi tidak melalui got yang kau angankan
betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur
persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun
betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak
tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu
aku ingin meledakkan rumah rumah utara
yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu
seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan
gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur
selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang
tak perawan
inilah keinginan kota kota selatan
bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan
sebab kau lebih layak
terpotong sebagai penyair simbolis
yang sudah terbantai sejak
patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu
Surabaya, Juni 2007
* Dody Kristianto, lahir 3 April 1986. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Penikmat Kajian Sastra, Seni dan Budaya. Bergiat pada kelompok Jeda Interlude dan Komunitas Penulis lepas (www.penulislepas.com). Beberapa sajaknya pernah muncul di beberapa media.
Sumber: Puitika.net, Sabtu, 30/06/2007 - 11:40.
Tuesday, June 12, 2007
Sajak: Buat Udo Z. Karzi
-- Dody Kriswaloejo
ternyata mendung melahirkan bayi bayi planet bermulut perak
lebih hijau dari penggembaraanku yang berpayung
sejuta mantra surealis
aku hikmati,
lagu lagu kosongmu yang penuh persetubuhan
seolah kenangan ku
tidur di malam malam amnesia
tapi kubaca sajakmu yang lebih
pedang dari dzikir dzikir khidir
penantianku berubah gelap
dan pohon pohon yang ku imajikan
rata hangus bersama bayangan kota
akulah pelamun yang berupaya mencuri mimpi dari sajak sajakmu yang terdampar
di bulan
seperti sebadan,
teriakanku gasang dan kematian
tumbuh
melebihi bau mayat yang
kau pasung di pundakmu
juni 2007
-------
Dody Kriswaloejo (=Dody Kristianto), lahir 3 April 1986, adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Kelompok Jeda Interlude. Puisi-puisinya pernah tergabung dalam antologi bersama: Eksekusi Kata (Sastra Reguler 2004, Surabaya, 2006), Sapi in Love (Warung 85, 2007)
http://puitika.net pada Sab, 02/06/2007 - 16:47
ternyata mendung melahirkan bayi bayi planet bermulut perak
lebih hijau dari penggembaraanku yang berpayung
sejuta mantra surealis
aku hikmati,
lagu lagu kosongmu yang penuh persetubuhan
seolah kenangan ku
tidur di malam malam amnesia
tapi kubaca sajakmu yang lebih
pedang dari dzikir dzikir khidir
penantianku berubah gelap
dan pohon pohon yang ku imajikan
rata hangus bersama bayangan kota
akulah pelamun yang berupaya mencuri mimpi dari sajak sajakmu yang terdampar
di bulan
seperti sebadan,
teriakanku gasang dan kematian
tumbuh
melebihi bau mayat yang
kau pasung di pundakmu
juni 2007
-------
Dody Kriswaloejo (=Dody Kristianto), lahir 3 April 1986, adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Kelompok Jeda Interlude. Puisi-puisinya pernah tergabung dalam antologi bersama: Eksekusi Kata (Sastra Reguler 2004, Surabaya, 2006), Sapi in Love (Warung 85, 2007)
http://puitika.net pada Sab, 02/06/2007 - 16:47
Saturday, December 23, 2006
Sajak: Lampung (1)
-- Budi Hutasuhut*
sudah lama ruang ini dibekap gelap
warna samun dari rimba alpa
yang kami bangun tanpa sengaja
di dalamnya kami selalu meraba
saling menjengkal dan terluka
kami mengaduh oleh rasa sakit berbeda,
nyeri tak terawat. jiwa kami dikocok bimbang,
batin tertatih menuju pintu muasal
dengan luka yang terus bergetah
kami tak ingin semua ini di nadi mengental
nyalakan semua yang bisa menyala
hingga kau lihat kirut pada keningku,
lekuk sinis pada bibirmu tampak nyata
kami temukan juga senyuman yang dibuang
di lantai, mengirut diselaputi debu
melembab digerogot sepi tanpa kata-kata maaf
atau puisi-puisi cinta. hingga mata kami
susah mengusap lingkar dunia
sebelum segala kikis diamuk waktu
kami harus kenali lagi semua tanda
cakrawala merah, jingga, kuning, dan biru
yang lama terabaikan dalam kegelapan wasangka
kami ingin mengenali kembali tempat
tahi lalat, juntai misai, dan warna-warna
keindahan. merasakan ada yang bangkit
semacam kenangan, serupa ingatan
lihatlah!
bukankah dulu kami pernah menenggak kopi
dari gelas yang sama sampai tinggal serbuk
sampai pagi dan kau berkata:
"aku seperti menikmati keringat orang-orang dari liwa."
akupun teringat sepotong puisi
dari liwa: "ajar sikam cawa cinta!"*
* sajak udo z. karzi dalam bahasa lampung berjudul ajar sikam cawa cinta (ajari aku bahasa cinta).
* Budi Hutasuhut, lahir di Sipirok, 3 Juni 1972. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung dan jurnalis di sebuah media di media terbitan Lampung.
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 23 Desember 2006
sudah lama ruang ini dibekap gelap
warna samun dari rimba alpa
yang kami bangun tanpa sengaja
di dalamnya kami selalu meraba
saling menjengkal dan terluka
kami mengaduh oleh rasa sakit berbeda,
nyeri tak terawat. jiwa kami dikocok bimbang,
batin tertatih menuju pintu muasal
dengan luka yang terus bergetah
kami tak ingin semua ini di nadi mengental
nyalakan semua yang bisa menyala
hingga kau lihat kirut pada keningku,
lekuk sinis pada bibirmu tampak nyata
kami temukan juga senyuman yang dibuang
di lantai, mengirut diselaputi debu
melembab digerogot sepi tanpa kata-kata maaf
atau puisi-puisi cinta. hingga mata kami
susah mengusap lingkar dunia
sebelum segala kikis diamuk waktu
kami harus kenali lagi semua tanda
cakrawala merah, jingga, kuning, dan biru
yang lama terabaikan dalam kegelapan wasangka
kami ingin mengenali kembali tempat
tahi lalat, juntai misai, dan warna-warna
keindahan. merasakan ada yang bangkit
semacam kenangan, serupa ingatan
lihatlah!
bukankah dulu kami pernah menenggak kopi
dari gelas yang sama sampai tinggal serbuk
sampai pagi dan kau berkata:
"aku seperti menikmati keringat orang-orang dari liwa."
akupun teringat sepotong puisi
dari liwa: "ajar sikam cawa cinta!"*
* sajak udo z. karzi dalam bahasa lampung berjudul ajar sikam cawa cinta (ajari aku bahasa cinta).
* Budi Hutasuhut, lahir di Sipirok, 3 Juni 1972. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung dan jurnalis di sebuah media di media terbitan Lampung.
Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 23 Desember 2006
Monday, September 18, 2006
Sajak: Telah Diingatkan
-- Udo Z. Karzi
telah kusaksikan kerusakan
di laut darat langit
telah datang bencana
dari muka belakang samping
atas bawah perut bumi
kita tak mampu menduga
kita tak bisa mengelak
kita tak kuasa menolak
telah diperlihatkan padamu
betapa tak ada artinya keangkuhan
betapa kecilnya makhluk bernama manusia
dan betapa kau tak ada apa-apanya
tapi tragedi bukan untuk disesali
kematian bukan untuk dirutuki
tapi untuk memberi makna bagi yang hidup
agar tak menjadi sia-sia
: telah diingatkan agar kau berpikir
telah kusaksikan kerusakan
di laut darat langit
telah datang bencana
dari muka belakang samping
atas bawah perut bumi
kita tak mampu menduga
kita tak bisa mengelak
kita tak kuasa menolak
telah diperlihatkan padamu
betapa tak ada artinya keangkuhan
betapa kecilnya makhluk bernama manusia
dan betapa kau tak ada apa-apanya
tapi tragedi bukan untuk disesali
kematian bukan untuk dirutuki
tapi untuk memberi makna bagi yang hidup
agar tak menjadi sia-sia
: telah diingatkan agar kau berpikir
Tuesday, July 25, 2006
Sajak: Kemiling, Suatu Senja
Thursday, June 08, 2006
Sajak: Kukejar Bayangmu
-- Udo Z. Karzi
kukejar bayangmu
di ketinggian bukit-bukit
di kedalaman laut-laut
di kehijauan hutan-hutan
di kejejauhan utara-selatan
di mana-mana
tanah merah kubangan
hujan gempa banjir
tak kurasa tak kupeduli
kalaupun harimau
setan iblis sekalipun
kutinju kuterjang
tapi
aku takut
kau sudah
menjelma batu
Sumber: Lampung Post, 15 Mei 2005; fordisastra.com, 21 Maret 2006
kukejar bayangmu
di ketinggian bukit-bukit
di kedalaman laut-laut
di kehijauan hutan-hutan
di kejejauhan utara-selatan
di mana-mana
tanah merah kubangan
hujan gempa banjir
tak kurasa tak kupeduli
kalaupun harimau
setan iblis sekalipun
kutinju kuterjang
tapi
aku takut
kau sudah
menjelma batu
Sumber: Lampung Post, 15 Mei 2005; fordisastra.com, 21 Maret 2006
Wednesday, June 07, 2006
Sajak: Tak Siang Tak Malam
-- Udo Z. Karzi
tak siang tak malam
koran masih saja menuturkan
banjir gempa topan
bencana di segala pelosok
-- musim tambah panas, tetapi kadang hujan
seorang lelaki berteriak-teriak
belati hampir menembus usus
aku terkesima
terduduk
ah, ternyata kejahatan menyebar
dalam setiap detak kehidupan
menelusuri negarabatin suatu malam
malam tak sesunyi yang terpikirkan
malam menyembunyikan rahasia
tapi malam jujur mengaku sering resah
sedikit gelisah menyembul dari sisi malam
lampu terlampau remang menelusuri gelap
tak siang tak malam
aku gelisah
kita masih menunggu
kelanjutan fragmen hidup
kita ternyata hanya menjalani
entah. apa bakal terjadi
membelah kesunyian negarabatin
radio masih mendendangkan
: tak siang tak malam
2004
Sumber: fordisastra.com, 2 Maret 2006; puitika.net, 18 Mei 2006
tak siang tak malam
koran masih saja menuturkan
banjir gempa topan
bencana di segala pelosok
-- musim tambah panas, tetapi kadang hujan
seorang lelaki berteriak-teriak
belati hampir menembus usus
aku terkesima
terduduk
ah, ternyata kejahatan menyebar
dalam setiap detak kehidupan
menelusuri negarabatin suatu malam
malam tak sesunyi yang terpikirkan
malam menyembunyikan rahasia
tapi malam jujur mengaku sering resah
sedikit gelisah menyembul dari sisi malam
lampu terlampau remang menelusuri gelap
tak siang tak malam
aku gelisah
kita masih menunggu
kelanjutan fragmen hidup
kita ternyata hanya menjalani
entah. apa bakal terjadi
membelah kesunyian negarabatin
radio masih mendendangkan
: tak siang tak malam
2004
Sumber: fordisastra.com, 2 Maret 2006; puitika.net, 18 Mei 2006
Saturday, May 27, 2006
Sajak: Bila Bumi Diguncangkan
-- Udo Z. Karzi
bila bumi diguncangkan
langit mengelam
jalan raya terbelah
gedung-gedung bersujud
jiwa-jiwa berkalang
bencana datang di pagi hari
kesunyian menyebar cekam
ngeri nyeri menganga
: adakah yang bisa menahan
bukan. ini bukan perang
tapi bumi yang diguncangkan
buat apa menghunus pedang
tak kan guna kejumawaan
bila bumi diguncangkan
kita takkan sempat berbenah
la haula wala quwata illa billah
hentikan segala silang sengketa
tak ada seteru di antara kita
manusia itu terlalu kecil
bila bumi diguncangkan
: masihkah kita tak berpikir
27-05-2006
* Q.S. Al Qiyamah
sumber:
bila bumi diguncangkan
langit mengelam
jalan raya terbelah
gedung-gedung bersujud
jiwa-jiwa berkalang
bencana datang di pagi hari
kesunyian menyebar cekam
ngeri nyeri menganga
: adakah yang bisa menahan
bukan. ini bukan perang
tapi bumi yang diguncangkan
buat apa menghunus pedang
tak kan guna kejumawaan
bila bumi diguncangkan
kita takkan sempat berbenah
la haula wala quwata illa billah
hentikan segala silang sengketa
tak ada seteru di antara kita
manusia itu terlalu kecil
bila bumi diguncangkan
: masihkah kita tak berpikir
27-05-2006
* Q.S. Al Qiyamah
sumber:
Lampung Post, 28 Mei 2006; fordisastra.com, 29 Mei 2006Thursday, April 06, 2006
Sajak: Katanya Reformasi Damai
-- Udo Z. Karzi*
katanya, reformasi damai. kok kita masih suka ngotot, memaksakan kehendak, dan pakai kekerasan segala. mengapa kita tak duduk bersama, gantian ngomong, menghormati pandangan lain, dan menemukan solusi terbaik? mengapa kita merasa paling benar, orang lain salah semua, dan karenanya apa pun kita harus terjang? mengapa kita tak mampu menahan diri dan mempertimbangkan segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi akibat kelakuan kita?
kita masih hobi berbuat dosa, memperturutkan hawa nafsu, sibuk memperjuangkan kepentingan dan ambisi pribadi. Kita tak pernah melakukan sesuatu untuk mewujudkan kedamaian di antara umat manusia. padahal, kita punya momentum bagus untuk memulai segala sesuatu untuk membangun masyarakat-bangsa yang sejahtera. saatnya kita peduli dengan tetangga kita, orang-orang tak mampu, anak terlantar, orang yang menderita dan yang tersiksa.
-- delapan orang tewas dalam bentrokan aparat dan warga di merauke, papua.
besok boleh jadi teman, saudara, tetangga, anak, orang tua, kakak, adik, atau kita sendiri menjadi korban. negeri ini makin tak aman saja. pembunuh berkeliaran di mana-mana; tak semata perampok, penodong, atau aparat bersenjata, tetapi mungkin juga orang yang paling dekat dengan kita, atau bahkan diri kita sendiri.
katanya, reformasi damai. kok berdamai dengan saudara sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri, dan diri sendiri saja sulit. kalau itu saja tak bisa, bagaimana mungkin kita bisa bertemu, berbincang, berkencan, menyatukan hati kita. kita sulit melihat kesamaan di antara kita. kita berbeda. Beda fisik, beda visi, beda kepentingan, beda keinginan, beda cara, beda ... semuanya. apa boleh buat, kita saling bermusuhan. kita mesti berpisah. soalnya, kita tak mungkin serumah, selingkungan, sekampung, sebangsa lagi.
-- ah, pahit sekali. mengapa mesti begitu?
dulu, kita memiliki cita-cita bersama, harapan bersama, keinginan bersama, kebebasan bersama, keadilan bersama, kesejahteraan bersama, demokrasi bersama, ... apa-apa milik kita bersama. kita hanya beda tempat tinggal, status, kedudukan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, dan apa-apa yang tidak terlalu substansial. cerita tentang penderitaan, perlakuan tidak manusiawi, ketidakadilan, penindasan, penyiksaan, penyulikan, pembunuhan, dan pembantaian, itu semua ulah penguasa masa lalu yang tidak pernah kita kehendaki bersama.
kini, zaman berganti. kita kok masih saja suka dengan segala sesuatu yang selama ini kita benci: pemaksaan kehendak, kekerasan, dan pembunuhan. bagaimana kita mau hidup damai kalau tiap hari kita menantang-nantang saudara sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri, bapak-anak sendiri, bahkan diri kita sendiri untuk berkelahi. agaknya, kita sulit berdamai.
katanya reformasi damai. kok masih berdarah-darah juga?
* Udo Z. Karzi, lahir 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung Barat. Buku sajak dwibahasanya: Momentum (2002).
Puisi Nominasi Edisi Maret 2006
Komentar Dukungan
Sedih.“kita mesti berpisah. Soalnya, kita tak mungkin serumah, selingkungan,
sekampung,sebangsa lagi,”. Kalimat itu begitu menusuk. Miris. Dalam hati muncul
pertanyaan “Apakah 100 tahun yang akan datang Indonesia tercinta masih tegap
berdiri?” . Ah, Saya yakin Indonesia masih berjaya dengan syarat masyarakatnya
semakin Cinta Damai tentunya. Amin. Puisi ini wajib direnungi!
Fitta Astriyani" <>
_______________________________________
Kata-katanya sederhana tapi menggugah 'keakuanku' untuk segera berkaca diri dan
melihat kesekeliling, tenyata kita semua memiliki masalah yang tidak penah usai,
yang selalu terus akan membuntuti sampai kapanpun kalau kita sendiri tidak mau
berubah. dalem banget makna yang ada, menyentil, tapi tidak menggurui.
Teguh Prasetyo" <>
__________________________________
saya pikir puisi ini sudah mendeskripsikan keadaan manusia saat ini: Manusia adalah
srigala bagi manusia yang lain, jadi itu makna satire dari "katanya reformasi
damai", jadi wajarlah kalau Gie bilang 'berbahagialah orang yang mati muda karena
tak sempat bertemu srigala.
Meza Swastika <>
___________________________________
Sumber puitika.net, 6 April 2006
katanya, reformasi damai. kok kita masih suka ngotot, memaksakan kehendak, dan pakai kekerasan segala. mengapa kita tak duduk bersama, gantian ngomong, menghormati pandangan lain, dan menemukan solusi terbaik? mengapa kita merasa paling benar, orang lain salah semua, dan karenanya apa pun kita harus terjang? mengapa kita tak mampu menahan diri dan mempertimbangkan segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi akibat kelakuan kita?
kita masih hobi berbuat dosa, memperturutkan hawa nafsu, sibuk memperjuangkan kepentingan dan ambisi pribadi. Kita tak pernah melakukan sesuatu untuk mewujudkan kedamaian di antara umat manusia. padahal, kita punya momentum bagus untuk memulai segala sesuatu untuk membangun masyarakat-bangsa yang sejahtera. saatnya kita peduli dengan tetangga kita, orang-orang tak mampu, anak terlantar, orang yang menderita dan yang tersiksa.
-- delapan orang tewas dalam bentrokan aparat dan warga di merauke, papua.
besok boleh jadi teman, saudara, tetangga, anak, orang tua, kakak, adik, atau kita sendiri menjadi korban. negeri ini makin tak aman saja. pembunuh berkeliaran di mana-mana; tak semata perampok, penodong, atau aparat bersenjata, tetapi mungkin juga orang yang paling dekat dengan kita, atau bahkan diri kita sendiri.
katanya, reformasi damai. kok berdamai dengan saudara sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri, dan diri sendiri saja sulit. kalau itu saja tak bisa, bagaimana mungkin kita bisa bertemu, berbincang, berkencan, menyatukan hati kita. kita sulit melihat kesamaan di antara kita. kita berbeda. Beda fisik, beda visi, beda kepentingan, beda keinginan, beda cara, beda ... semuanya. apa boleh buat, kita saling bermusuhan. kita mesti berpisah. soalnya, kita tak mungkin serumah, selingkungan, sekampung, sebangsa lagi.
-- ah, pahit sekali. mengapa mesti begitu?
dulu, kita memiliki cita-cita bersama, harapan bersama, keinginan bersama, kebebasan bersama, keadilan bersama, kesejahteraan bersama, demokrasi bersama, ... apa-apa milik kita bersama. kita hanya beda tempat tinggal, status, kedudukan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, dan apa-apa yang tidak terlalu substansial. cerita tentang penderitaan, perlakuan tidak manusiawi, ketidakadilan, penindasan, penyiksaan, penyulikan, pembunuhan, dan pembantaian, itu semua ulah penguasa masa lalu yang tidak pernah kita kehendaki bersama.
kini, zaman berganti. kita kok masih saja suka dengan segala sesuatu yang selama ini kita benci: pemaksaan kehendak, kekerasan, dan pembunuhan. bagaimana kita mau hidup damai kalau tiap hari kita menantang-nantang saudara sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri, bapak-anak sendiri, bahkan diri kita sendiri untuk berkelahi. agaknya, kita sulit berdamai.
katanya reformasi damai. kok masih berdarah-darah juga?
* Udo Z. Karzi, lahir 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung Barat. Buku sajak dwibahasanya: Momentum (2002).
Puisi Nominasi Edisi Maret 2006
Komentar Dukungan
Sedih.“kita mesti berpisah. Soalnya, kita tak mungkin serumah, selingkungan,
sekampung,sebangsa lagi,”. Kalimat itu begitu menusuk. Miris. Dalam hati muncul
pertanyaan “Apakah 100 tahun yang akan datang Indonesia tercinta masih tegap
berdiri?” . Ah, Saya yakin Indonesia masih berjaya dengan syarat masyarakatnya
semakin Cinta Damai tentunya. Amin. Puisi ini wajib direnungi!
Fitta Astriyani" <>
_______________________________________
Kata-katanya sederhana tapi menggugah 'keakuanku' untuk segera berkaca diri dan
melihat kesekeliling, tenyata kita semua memiliki masalah yang tidak penah usai,
yang selalu terus akan membuntuti sampai kapanpun kalau kita sendiri tidak mau
berubah. dalem banget makna yang ada, menyentil, tapi tidak menggurui.
Teguh Prasetyo" <>
__________________________________
saya pikir puisi ini sudah mendeskripsikan keadaan manusia saat ini: Manusia adalah
srigala bagi manusia yang lain, jadi itu makna satire dari "katanya reformasi
damai", jadi wajarlah kalau Gie bilang 'berbahagialah orang yang mati muda karena
tak sempat bertemu srigala.
Meza Swastika <>
___________________________________
Sumber puitika.net, 6 April 2006
Wednesday, February 15, 2006
Sajak: Tentang Hujan
-- Udo Z. Karzi
semalam memang hujan, minan
tapi bukan hujan yang menidurkan hati
kita terlampau lelah berbincang sepanjang masa
tanpa suara tanpa titik temu
pikirkan saja tentang eksistensi hujan
ketika hujan datang dan orang-orang sibuk berbincang
berjam-jam menunggu
hujan adalah rencana yang tersusun dalam benak
atau malah tertulis dalam agenda orang-orang sibuk
sesekali hujan berkisah tentang orang-orang romantis
yang bertemu kundang tapi tak bisa berbuat apa-apa
selain menghitung-hitung rintik air yang jatuh
dari atap mengenai kaleng butut di belakang gudang
hujan lebat lebat sekali semalam, minan
tapi hati kita tak sejuk karenanya
hujan nyatanya tak bisa menyairkan hati kita
api terlanjur membesar
tak kan padam
oleh hujan sepanjang tahun sekalipun
sudahlah berhentilah menyalahkan hujan
hujan memang tak kan mngerti perasaan kita
hujan juga tak kan tahu dengan obsesi kita
hujan juga tak kan paham apa yang kita pikirkan
sudahlah berhentilah menyesali hujan
kita hanya ingat hujan telah memberi kita arti
jadi, tak ada alasan membenci hujan
semalam memang hujan, minan
lebat sekali
tapi kita tetap tak mengerti
apakah hujan masih merahasiakan sesuatu
badan basah
tapi yang kurasa panas menyengat
2004
Sumber: fordisastra.com, 15 Februari 2006; puitika.net, 18 Mei 2006
semalam memang hujan, minan
tapi bukan hujan yang menidurkan hati
kita terlampau lelah berbincang sepanjang masa
tanpa suara tanpa titik temu
pikirkan saja tentang eksistensi hujan
ketika hujan datang dan orang-orang sibuk berbincang
berjam-jam menunggu
hujan adalah rencana yang tersusun dalam benak
atau malah tertulis dalam agenda orang-orang sibuk
sesekali hujan berkisah tentang orang-orang romantis
yang bertemu kundang tapi tak bisa berbuat apa-apa
selain menghitung-hitung rintik air yang jatuh
dari atap mengenai kaleng butut di belakang gudang
hujan lebat lebat sekali semalam, minan
tapi hati kita tak sejuk karenanya
hujan nyatanya tak bisa menyairkan hati kita
api terlanjur membesar
tak kan padam
oleh hujan sepanjang tahun sekalipun
sudahlah berhentilah menyalahkan hujan
hujan memang tak kan mngerti perasaan kita
hujan juga tak kan tahu dengan obsesi kita
hujan juga tak kan paham apa yang kita pikirkan
sudahlah berhentilah menyesali hujan
kita hanya ingat hujan telah memberi kita arti
jadi, tak ada alasan membenci hujan
semalam memang hujan, minan
lebat sekali
tapi kita tetap tak mengerti
apakah hujan masih merahasiakan sesuatu
badan basah
tapi yang kurasa panas menyengat
2004
Sumber: fordisastra.com, 15 Februari 2006; puitika.net, 18 Mei 2006
Sunday, May 29, 2005
Sajak Y. Wibowo: Mamak Kenut di Rembang Petang
: Udo Z. Karzi
Mamak Kenut menuturkan seseorang
(dua atau tiga orang) atau peristiwa-peristiwa
yang menghadang--si pencari pintu pulang
hari-harinya resah
; hidup mengaji diri mengaji yang absurd
dan kenyataan
Tapi tetap saja ia gundah
Menjura seribu bintang
menengadah pada langit di rembang petang
ia susun rencana
--malam-malam mimpi tercipta
; buah pergulatan dan laku-kerja
sekalipun sewujud petaka
Mamak Kenut meramu saripati kehidupan
seseorang (dua atau tiga orang) atau tentang lain kemungkinan
sehingga ia putuskan; menjelma kanak-kanak pada dunia
dengan rasa sepenuh riang
Tapi masih saja ia resah
Menghablur di puncak-puncak ketinggian
menyisa perih kenyataan
lalu ia lipat sejarah
--masa lalu adalah kenangan
; ingatan tentang denyar persetubuhan
dalam catatan getir
nyinyir dan sumir
selamat malam
Karang Anyar-Jati Agung, Lampung, Maret 2005
Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Mei 2005
Mamak Kenut menuturkan seseorang
(dua atau tiga orang) atau peristiwa-peristiwa
yang menghadang--si pencari pintu pulang
hari-harinya resah
; hidup mengaji diri mengaji yang absurd
dan kenyataan
Tapi tetap saja ia gundah
Menjura seribu bintang
menengadah pada langit di rembang petang
ia susun rencana
--malam-malam mimpi tercipta
; buah pergulatan dan laku-kerja
sekalipun sewujud petaka
Mamak Kenut meramu saripati kehidupan
seseorang (dua atau tiga orang) atau tentang lain kemungkinan
sehingga ia putuskan; menjelma kanak-kanak pada dunia
dengan rasa sepenuh riang
Tapi masih saja ia resah
Menghablur di puncak-puncak ketinggian
menyisa perih kenyataan
lalu ia lipat sejarah
--masa lalu adalah kenangan
; ingatan tentang denyar persetubuhan
dalam catatan getir
nyinyir dan sumir
selamat malam
Karang Anyar-Jati Agung, Lampung, Maret 2005
Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Mei 2005
Sunday, December 02, 2001
Sajak: Ajari Kami Bahasa Cinta
--Udo Z. Karzi
ajari kami bahasa cinta
bukan kekerasan telanjang yang dipertontonkan
bukan unjuk kekuatan yang menggersangkan jiwa
bukan otot lengan bertato preman
yang tak kenal nilai kemanusiaan
yang tenggelam dalam kebiadaban
: di simpangpematang pencuri ayam
dibakar massa sambil menari-nari
ajari kami bahasa cinta
bukan kekuasaan membelenggu kemerdekaan
bukan piil yang diumbar sekadar mempertaruhkan harga diri
sebab, barang ini sudah lama tergadaikan
sejak berjuta-juta abad silam ketika air tanah,
hutan, kopi, lada menjadi milik orang-orang mabuk harta
bukan pisau badik haus darah yang menangis
saat dikembalikan ke sarungnya
bukan pedang berlumur dosa yang siap menebas
leher siapa pun yang menyimpan kesumat
kemarin seseorang mengancamku: kupagas niku kanah
hari ini aku mendengar ia mati tertikam belati
seorang pendendam tak dikenal sudah lama mengincarnya
besok entah siapa lagi yang akan mati sia-sia
ajari kami bahasa cinta
bukan bahasa anak jalanan yang penuh luka
yang tak pernah merasakan lembutnya belaian tangan ibu
yang tak pernah mendengar manisnya tutur kata wanita
yang tak biasa berbagi bahagia dan duka dengan sesama
yang hanya akrab dengan kebuasan terminal, pasar, jalan raya
gang-gang kumuh di pelosok kota
yang tak lagi ramah bagi kaum papa
: seorang bocah mati digilas kereta api
tak ada yang peduli
ajari kami bahasa cinta
bukan perang antardesa yang meledak di mana-mana
ketika keadilan, hukum, adat tak lagi jadi patokan
ketika kemanusiaan diganti dengan kebinatangan
bukan moncong pistol-senapan panas bau mesiu yang baru saja menyambar
leher para demontran yang menuntut undang-undang drakula
: dua pasang mahasiswa mati dibunuh tentara harus darah!
bandar lampung, oktober 2000
Catatan:
fiil (bahasa Lampung) = harga diri
kupagas niku kanah (bahasa Lampung) = aku tusuk kau nanti
Sumber: cybersastra.net, 4 Desember 2001
ajari kami bahasa cinta
bukan kekerasan telanjang yang dipertontonkan
bukan unjuk kekuatan yang menggersangkan jiwa
bukan otot lengan bertato preman
yang tak kenal nilai kemanusiaan
yang tenggelam dalam kebiadaban
: di simpangpematang pencuri ayam
dibakar massa sambil menari-nari
ajari kami bahasa cinta
bukan kekuasaan membelenggu kemerdekaan
bukan piil yang diumbar sekadar mempertaruhkan harga diri
sebab, barang ini sudah lama tergadaikan
sejak berjuta-juta abad silam ketika air tanah,
hutan, kopi, lada menjadi milik orang-orang mabuk harta
bukan pisau badik haus darah yang menangis
saat dikembalikan ke sarungnya
bukan pedang berlumur dosa yang siap menebas
leher siapa pun yang menyimpan kesumat
kemarin seseorang mengancamku: kupagas niku kanah
hari ini aku mendengar ia mati tertikam belati
seorang pendendam tak dikenal sudah lama mengincarnya
besok entah siapa lagi yang akan mati sia-sia
ajari kami bahasa cinta
bukan bahasa anak jalanan yang penuh luka
yang tak pernah merasakan lembutnya belaian tangan ibu
yang tak pernah mendengar manisnya tutur kata wanita
yang tak biasa berbagi bahagia dan duka dengan sesama
yang hanya akrab dengan kebuasan terminal, pasar, jalan raya
gang-gang kumuh di pelosok kota
yang tak lagi ramah bagi kaum papa
: seorang bocah mati digilas kereta api
tak ada yang peduli
ajari kami bahasa cinta
bukan perang antardesa yang meledak di mana-mana
ketika keadilan, hukum, adat tak lagi jadi patokan
ketika kemanusiaan diganti dengan kebinatangan
bukan moncong pistol-senapan panas bau mesiu yang baru saja menyambar
leher para demontran yang menuntut undang-undang drakula
: dua pasang mahasiswa mati dibunuh tentara harus darah!
bandar lampung, oktober 2000
Catatan:
fiil (bahasa Lampung) = harga diri
kupagas niku kanah (bahasa Lampung) = aku tusuk kau nanti
Sumber: cybersastra.net, 4 Desember 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)
