Monday, August 09, 2010

Kuli Kontrak: Jalan Panjang Perjuangan "Wong Jowo"...

BERANGKAT sebagai kuli kontrak, kini sekitar 100.000 wong Jowo di Suriname berhasil memperoleh posisi yang layak di masyarakat. Tanggal 9 Agustus 2010 bertepatan dengan 120 tahun kedatangan orang Jawa di Suriname yang mencatat jalan panjang perjuangan masyarakat Jawa di negeri Amerika Latin itu.

Sosok seorang perempuan Jawa Suriname di Kota Paramaribo, Suriname, pada tahun 1955.(GETTY IMAGES/THREE LIONS/RICHARD HARRINGTON)

”Sekarang orang Jawa kerja di berbagai bidang. Tidak ada lagi yang bekerja di kebun. Kebun kecil yang ada ditanami untuk kebutuhan sehari-hari. Generasi muda banyak yang menjadi profesional di perkotaan ataupun bekerja di Negeri Belanda,” ujar Toekiman Saimbang, diplomat Republik Suriname di Jakarta.

”Jalan panjang memperoleh pengakuan,” ujar Duta Besar Republik Suriname untuk Republik Indonesia Angelic Caroline Alihusain-del Castilho dirintis dengan pendirian partai bernama Kaum Tani Persuatan Indonesia (KTPI) dan Pergerakan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS) yang ikut dalam pemilihan umum tahun 1949.

Ketika itu KTPI memenangi dua kursi. Sejak saat itu partai politik wong Jowo turut serta dalam pemilihan umum di Suriname.

Selama 20 tahun terakhir masyarakat Jawa sudah mendirikan beberapa partai politik. Kertokalio-Moertabat Roekajah menjadi anggota parlemen perempuan pertama dari suku Jawa pada tahun 2000.

Politisi terkenal lainnya, yakni Salam Somohardjo, menjadi ketua parlemen sejak tahun 2005 hingga 30 Juni 2010.

Selain di bidang politik, masyarakat Jawa mewarnai kehidupan bangsa Suriname. De Castilho mencatat, banyak wanita Jawa menjadi pengusaha, guru, insinyur, dan politisi. Wanita Jawa di Suriname dikenal karena gigih mengembangkan warung Jawa terutama di Distrik Commewijne dan Wanica.

Masyarakat Jawa juga memiliki tokoh di bidang seni, seperti pelukis Soeki Irodikromo, pematung Waidie, dan kelompok teater Does Cabaret yang pernah manggung di Indonesia.

Budaya lain seperti jaran kepang, bersih desa, dan menanggap wayang masih dipelihara baik oleh masyarakat Jawa Suriname yang kini, menurut de Castilho, sudah terintegrasi dalam keragaman Suriname yang multiras dan agama. (ONG)

Sumber: Kompas, Senin, 9 Agustus 2010

4 comments:

tvkampung said...

AKU NGUSAHAKAKE NGANGGO TEKNOLOGI SUPOYO WONG JOWO ING NDONYO INI BISO TUMANGKAR LAN ONO KOMUNIKASI.

KANTI TELEVISI BAND VH KITO OPTIMALKEN INTERAKTIP BUDOYO LANG KATENTREMANING JIWO JOWO JAWI BAKAL KAHONO

suharsono 02747889345

Maryanto said...

DIPUN KENALAKEN DALEM MARYANTO SAKING JAKARTA - INDONESIA BADE KENAL TIANG JAWI INGKANG WONTEN SURINAME EMAIL (maryanto.bob@gmail.com)

wong jowo tenan said...

sugeng makaryo ning kana....yok opo carane aku nduwe konco wong jowo sing ana ning suriname?

wong jowo tenan said...

sugeng makaryo ning kana....