Saturday, August 14, 2010

Buku Pak Beye: Membedah Jantung Istana

-- Yenny Zannuba Wahid

DROSSARES mungkin tak mengira jika suatu saat kresek masuk koningsplein paleis atau kini disebut Istana Merdeka. Sebagai arsitek Istana Merdeka, Drossares hanya mengizinkan hal-hal artistik bernilai tinggi masuk ke dalamnya. Namun, kini kresek menghiasi teras istana ketika pejabat-pejabat sedang berkumpul. Apa yang terjadi?

Membedah Jantung Istana (KOMPAS/DANU KUSWORO)


Ternyata dalam kresek itu bersembunyi alas kaki merek luar negeri. Pemilik alas kaki mungkin malu karena di luar Istana banyak anak sekolah yang telanjang kaki. Pemilik alas kaki (bisa jadi saya salah satunya waktu itu) berusaha berempati dengan menyembunyikan alas kaki. Kisah unik ini bisa dibaca di buku: Pak Beye dan Istananya yang ditulis dengan jeli oleh wartawan Kompas, Wisnu Nugroho.

Sebagai wartawan Istana, Inu (begitu Wisnu Nugroho disapa) mampu menghadirkan sisi lain dari peristiwa dan kehidupan Istana. Saya kenal Inu ketika memulai tugas sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik. Inu ”menyambut” dengan menulis ”Nama & Peristiwa” di Kompas.

Dia mendeskripsikan kerudung merah muda dan tas tangan oranye merek Prada lawas (dan pemberian teman), yang saat itu saya tenteng. Saya tersenyum membacanya. Sedikit kecut pasti, karena jelas tergambar insinuasi apa yang tergelar dengan deskripsi itu. Akan tetapi, saya menghargai kejelian dan keberaniannya menghadirkan tokoh publik dari sisi berbeda yang kadang menggelitik dan tak jarang sinis, seolah ingin menggugat mesin pencitraan Istana yang sangat perkasa.

Buku Pak Beye dan Istananya merupakan upaya menghadirkan nuansa lain Istana agar tercipta gambaran utuh; bukan sebatas menampilkan ”sangkar” sang raja, tetapi menjadi cermin jernih untuk melihat sisi lainnya, yang marak manipulasi citra.

Simak kisah ”Melihat Pak Beye Gak Pede”. Ketika berdiri di podium untuk mengumumkan perintah keenam dari ”Sepuluh Perintah Yudhoyono”, Pak Beye resah. Isi perintah sudah sangat akrab di telinga dan telah diucapkan ratusan kali oleh para pejabat—mulai Presiden hingga lurah, ”Mari kita lakukan (lagi) kampanye besar-besaran untuk mengonsumsi produk dalam negeri.” Ketika sidang kabinet usai, seorang menteri perempuan berjalan diiringi ajudan laki-laki. Ajudan itu menenteng tas kulit perempuan berwarna putih dengan logo LV (Louis Vuitton) pada gagang tas yang tersepuh warna emas (hal 91-2). Fakta ini yang mungkin membuat Pak Beye tidak percaya diri.

Membaca buku Inu membawa perasaan déjà vu, kembali ke Istana. Tokoh-tokoh dan peristiwa yang ditulis dengan gaya bertutur kadang membuat saya tertawa sendiri. Apa yang digambarkannya betul terjadi. Cerita tentang Sutanto, Kolonel Aziz, sampai Iswahyudi (Bab 2: Orang Penting), misalnya, hanya sedikit cerita dari berbagai kejanggalan Istana yang sampai sekarang tetap menjadi misteri.

Pencitraan

Membaca buku Inu, terlihat ”obsesinya” pada kendaraan. Satu bab khusus membahas turangga (tunggangan) pejabat, pengusaha, dan orang-orang penting lainnya di Istana. Berbagai merek mobil istimewa, seperti Audi (bernomor polisi B 24 EB), Rolls-Royce (bernomor polisi 234), Lexus (bernomor polisi RI 14), dan Bentley (bernomor polisi B 65 HT), terparkir di halaman Kompleks Istana Kepresidenan.

Inu yang mengaku orang desa, nggumun (takjub) dengan keajaiban yang didapatinya di halaman parkir Kompleks Istana Kepresidenan. Karena nggumun dan gelisah, Inu kemudian membagikan gelisahnya untuk menjadi kegelisahan bersama.

Tulisan ”Meredupnya Sorot Kamera” bercerita tentang pencitraan yang dibangun. Agar terkesan bekerja sampai larut malam, Pak Beye ingin disorot wartawan di depan ruang kerjanya. Namun, karena pencahayaan di depan ruang kerja Pak Beye redup, tidak ada wartawan yang beranjak mendekat. Lampu sorot ditembakkan di depan ruang tersebut, tetapi hasilnya mengecewakan karena silau yang didapat. Tak ada pilihan lain, Pak Beye akhirnya mengalah, menggelar konferensi presnya di ruang biasa.

Orang biasa

Ternyata Pak Beye tetap manusia biasa. Seperti yang dituliskan di Bab 5: ”Pernak-Pernik Pak Beye”, Inu menyoroti mulai dari soto ayam kegemaran Pak Beye, tahi lalat yang hilang dari dahi Pak Beye, sampai kasur empuk Pak Beye saat diusung pindah dari Istana Merdeka ke Istana Negara. Dikatakan, alasan kepindahan itu karena Istana Merdeka hendak direnovasi akibat rangkanya penuh rayap.

Saya teringat ketika kami sekeluarga tinggal di Istana Merdeka, mengikuti tradisi Bung Karno semasa hidupnya. Banyak ahli fengsui mengatakan, Istana Merdeka tidak membawa keberuntungan bagi penghuninya. Menurut mereka, bayangan Monumen Nasional (Monas) yang berada tepat di seberangnya, membelah Istana Merdeka sehingga menghadirkan kesialan bagi penghuninya.

Selain pernak-pernik Pak Beye, Inu juga menampilkan orang-orang biasa penopang citra Istana. Peranan mereka dalam hierarki kekuasaan ibarat peranan para jin ketika Bandung Bondowoso membangun Prambanan; tak terlihat tetapi bekerja sangat berat. Menyenangkan sekali bahwa Inu mau repot-repot menulis tentang mereka.

Apiaw tentu asing di telinga kita. Padahal, dia termasuk segelintir orang yang bisa memegang kepala Pak Beye karena dialah pemijat Pak Beye yang terpercaya (hal 114-115). Begitu juga Iwan yang berlelah-lelah hingga pelosok Indonesia menggotong podium berlogo Garuda tempat Pak Beye berpidato.

Dalam relasi kekuasaan yang timpang, peranan orang-orang tidak digubris. Mereka hanya boleh berada di balik panggung teater politik yang sedang dimainkan para elite. Kalaupun mereka dirujuk tentu saja karena ada keinginan politik yang ingin ditampilkan; orang-orang biasa ini bisa menguras empati sehingga citra sang aktor utama terangkat.

Pak Mayar, contohnya. Penggagas orisinal nama ”Pak Beye”. Inu punya cerita menarik tentang sosoknya dalam tulisan ”Air Putih Bekal Menuju Istana”. Pak Mayar adalah tokoh sentral dan napas dari buku ”Tetralogi Sisi Lain SBY” (Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, Pak Beye dan Kerabatnya, serta Pak Beye dan Keluarganya).

Relasi kekuasaan yang timpang tidak berhenti pada orang biasa. Dalam cerita ”Jangan Cium Tangan”, Inu menyoroti kebiasaan para pejabat dan tokoh mencium tangan Pak Beye. Dalam relasi kekuasaan, cium tangan yang dilakukan seorang bawahan kepada atasannya (Sudi Silalahi), atau orang yang semestinya menjaga netralitas profesinya (Ketua PWI), entah mengapa mengingatkan saya pada cium tangan para mafia terhadap Don Corleone dalam film God Father.

Sekarang, Inu tidak lagi ”ngepos” di Istana karena ditugaskan sebagai wartawan Kompas di Yogyakarta. Semoga itu tidak ada hubungannya dengan berbagai tulisannya yang sebelum dibukukan dibagikan cuma-cuma di blog pribadinya di Kompasiana.

Lewat Pak Beye dan Istananya, Wisnu ingin mengajak pembaca mengenal Istana sebagai pusat pertunjukan teatrikal di negeri ini, lengkap dengan aktor- aktor dan permainannya. Selamat menikmati.

* Yenny Zannuba Wahid, Pernah Tinggal di Istana Merdeka

Sumber: Kompas, Sabtu, 14 Agustus 2010

No comments: