Monday, August 23, 2010

Pendidikan Gratis: Jendela Masa Depan di Tengah Terminal

-- Andy Riza Hidayat

KEHIDUPAN jalanan terlalu keras bagi anak-anak, apalagi bagi mereka yang terbelenggu kemiskinan atau yang sudah kehilangan orangtua. Alih-alih berpikir tentang sekolah, untuk makan saja susah.

Suasana belajar di ruang Kelas II Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bina Insan Mandiri, Depok, Jawa Barat, Rabu (18/8). Pengelola pendidikan Bina Insan Mandiri menggratiskan seluruh biaya sekolah kepada siswa. Sekolah yang terletak di tengah Terminal Kota Depok ini menampung sekitar 2.000 anak jalanan dan anak dari keluarga miskin di sekitarnya. (KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT)

Kenyataan ini yang dihadapi anak-anak jalanan di sekitar Terminal Kota Depok, Jawa Barat, sebelum tahun 2002. Tingginya angka pengangguran berkelindan dengan pertambahan anak putus sekolah. Gelandangan memenuhi Terminal Depok, di lorong-lorong di depan emperan toko. Tak jarang di antara mereka terjadi gesekan karena harus berebut makan di jalanan.

Itu kisah sebelum tahun 2002. Rabu (18/8), tempat mereka menggelandang dahulu, bertukar rupa. Kini di situ berdiri satu tempat yang menyenangkan. Dari pagi hingga malam, tempat ini dihiasi wajah-wajah yang selalu bersemangat untuk belajar. Bukan hanya tempat singgah untuk beristirahat, tempat ini berkembang menjadi sekolah nonformal.

Sekolah yang bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri itu seperti sebuah jendela. Anak jalanan yang semula tidak berpikir sekolah kini mulai sadar dengan cita-citanya. Mereka ingin melihat dunia ilmu pengetahuan melalui jendela yang sudah ada di depan mata. Mereka dapat menyelami dalamnya ilmu pengetahuan tanpa harus terhalang beragam biaya pendidikan yang kerap menjerat. Sekolah ini gratis.

Calon siswa hanya perlu menyerahkan fotokopi kartu keluarga dan akta kelahiran jika ingin terdaftar sebagai siswa. Andai sudah terdaftar, pihak sekolah menyediakan keperluan alat tulis lengkap dengan buku bagi siswa. Adapun mengenai seragam, pihak sekolah tidak mewajibkannya.

”Kalau tidak ada sekolah ini, barangkali anak saya tidak dapat sekolah. Bapaknya anak-anak hanya kuli bangunan. Kadang dapat kerja, tetapi lebih sering tidak dapat,” tutur Zahroti (42) yang empat anaknya bersekolah di PKBM Bina Insan Mandiri.

Diplomat

Zahroti seperti ingin mengingatkan kita bahwa seharusnya bersekolah adalah hak siapa saja, termasuk bagi orang-orang miskin. Mereka juga berhak memiliki cita-cita tinggi, seperti halnya Yusuf Bahtiar Sihombing (19). Remaja asal Sumatera Utara ini yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal tidak lama setelah dia lulus sekolah dasar.

Sejak itu Ucup, panggilan Yusuf, menggelandang. Dia bertahan hidup dengan membersihkan gerbong kereta. Dia mangkal di Stasiun Depok Baru, sekitar 250 meter dari PKBM Bina Insan Mandiri. Hampir setiap hari, setelah kehilangan orangtua, Ucup mengadu nasib dari menyapu gerbong kereta.

Beruntung, Ucup tidak larut dalam kehidupan jalanan. Nurrohim, Ketua Pembina PKBM Bina Insan Mandiri, mengajak Ucup tinggal dan belajar di sekolah tersebut. Kini Ucup berhasil menyelesaikan sekolah kejar paket C (setingkat SMA). Dia masih ingin belajar dengan melanjutkan ke bangku kuliah.

”Saya mau masuk jurusan Bahasa Inggris,” katanya. Saat ini dia sedang dalam proses mendaftar sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Tugu, Depok. Ucup tertarik dengan bahasa Inggris karena ingin menjadi diplomat.

Selama kuliah, biaya pendidikan Ucup ditanggung Yayasan Bina Insan Mandiri. Di tempat itulah Ucup kini tinggal bersama teman-temannya yang juga pengamen, penyemir sepatu, dan pengojek payung.

Berawal dari Master

PKBM Bina Insan Mandiri lebih tenar sebagai ”Sekolah Master”. Hampir semua orang di Terminal Kota Depok dan Stasiun Depok Baru mengenalnya demikian. Master atau Masjid Terminal merupakan cikal bakal pendirian PKBM Bina Insan Mandiri.

Pendirian PKBM tidak lepas dari peran anak jalanan juga, yakni Nurrohim yang kini sebagai Ketua Pembina PKBM Bina Insan Mandiri. Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 3 Juli 1971, itu tumbuh dan berkembang di lingkungan jalanan. Orangtuanya bercerai ketika dia masih anak-anak.

Nurrohim beruntung memiliki modal untuk membuka usaha warung tegal (warteg) di pasar dan terminal. Pascakrisis moneter 1998 dia turut merasakan dampaknya, dari 20 warteg miliknya, tinggal empat warung yang tersisa.

Ketika itu terjadi pengangguran di mana-mana, termasuk di Terminal Depok. Anak-anak yang orangtuanya kena pemutusan hubungan kerja (PHK) terpaksa putus sekolah. Sebagian telantar di jalanan.

Dia berinisiatif menyelamatkan masa depan anak-anak korban krisis ekonomi ini dengan mendirikan lembaga pendidikan. Ketika itu dia berkenalan dengan empat sarjana di Masjid Al Muttaqien yang terletak di Terminal Depok. Bersama mereka kemudian pelan-pelan mengumpulkan orang yang ingin belajar. Mula-mula kegiatan ini berlangsung di masjid sehingga terkenal dengan nama Masjid Terminal atau Master.

Lima orang ini kemudian membagi tugas mengembangkan menjadi PKBM Bina Insan Mandiri, tujuannya menampung mereka yang tidak mampu mendapat pendidikan yang layak. Kini PKBM Bina Insan Mandiri memiliki 18 pengurus inti dan 60 sukarelawan tetap.

Sekolah dengan 12 ruang kelas—sebagian besar semipermanen, sebagian menempati bekas kontainer—memiliki sekitar 2.000 siswa. Pihak sekolah juga menyediakan ruangan untuk tidur bagi 200 anak yang tidak memiliki tempat tinggal.

Beberapa kali perwakilan siswa PKBM Bina Insan Mandiri menyabet juara olimpiade matematika tingkat Depok, sampai Provinsi Jawa Barat.

Namun, perjalanan PKBM Bina Insan Mandiri tidak selalu mulus. Pendanaan menjadi masalah utama dalam mengembangkan sekolah. Pengelola selalu mencari jalan keluar mengatasi persoalan ini. Mereka juga mendapat donasi dari Badan Amil dan Zakat Nasional (Baznas) serta Badan Amil dan Zakat Daerah (Bazda) Depok. Sebagian dana operasional PKBM berasal dari donatur tidak tetap.

Semua sukarelawan PKBM seperti mewakafkan hidupnya. Mereka tak mengejar kepuasan materi.

Sumber: Kompas, Senin, 23 Agustus 2010

No comments: