Sunday, May 05, 2013

[Tifa] Ungkapan Perasaan lewat Tarian

--Iwan Kurniawan

Kelompok tari modern Introdans menghadirkan Spirit of Dance. Ada tujuh repertoar yang mereka suguhkan dengan penuh penjiwaan.

SPIRIT OF DANCE. Penari dari kelompok tari Introdans Belanda mementaskan
koreografi Fugaz karya koreografer Cayetano Soto dalam pementasan "Spirit of
Dance" di Erasmus Huis, Kedubes Belanda, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5).
Pementasan tersebut menampilkan tujuh tarian repotoar ballet modern berkualitas tinggi
dengan perpaduan balet klasik dan tarian bakat baru. FOTO ANTARA/Teresia May
GERAKAN gemulai empat penari begitu berpadu saat muncul dari belakang panggung. Mereka menghadirkan pertautan gerak yang begitu lentur. Ada beberapa gerakan lembut hingga energik sehingga membuat pementasan semakin berbobot.

Tak lama berselang, seorang perempuan masuk dan mulai menari secara lembut. Pada bagian lain, dia meliuk-liuk di lantai bersama seorang penari lelaki. Ada yang menarik dalam setiap gerakan yang begitu khas. Apalagi, teknik-teknik balet disajikan secara piawai.

Gambaran itu terlihat pada bagian (piece) pertama berjudul Fugas dalam tarian Spirit of Dance yang ditampilkan Introdans, kelompok tari asal Arnhem, Belanda, di Erasmus Huis, Jakarta,

pertengahan pekan ini.

"Bagian ini (Fugas) mengisahkan pengalaman batin koreografer Cayetano Soto. Kami mencoba menghadirkan rasa lewat tari kontemporer," ujar Direktur Artistik Introdans, Roel Voorintholt, seusai penampilan.

Para penari yang membawakan piece pertama ialah Mirjana Doric, Yulanne de Groot, Verine Bouwman, Mara Hulspas, Filippo Pelacchi, dan Ruben Ventoso. Mereka menunjukkan kualitas.

Teknik-teknik dalam pementasan itu begitu lekat dengan balet Belanda. Maklum, semua penampil merupakan penari profesional. Mereka mampu mengundang decak kagum ratusan penonton malam itu.

Jika dicermati secara jeli, Spirit of Dance menghadirkan tujuh repertoar. Selain Fugas, ada Palimpsest, Cor Perdut, La Morte del Cigno, Scheidslijn, Passage, dan Het Debat XL.

Penjiwaan

Setiap piece memiliki karakter tersendiri, apalagi digarap para koreografer dunia yang berbeda. Namun, secara keseluruhan ada benang merah yang terangkai dalam pementasan malam itu. Para penari mencoba menghadirkan suara-suara dari relung hati lewat gerak.

"Kami persiapkan selama dua bulan untuk tampil di sini. Saat ke sini, kami mencoba menyesuaikan tempat. Ini pertama kali saya berada di Indonesia," ujar Pelacchi, semringah.

Penari berdarah Italia yang kini menetap di Arnhem itu mengaku kunci untuk mementaskan Spirit of Dance ialah keseimbangan dan penjiwaan. "Ada kisah sedih, ceria, dan kecewa. Ini yang saya ungkapkan lewat bahasa tubuh," jelasnya.

Pada bagian Palimpsest karya koreografer Ton Wiggers, tampak seorang pria menari secara solo. Kelunturan dalam bagian ini begitu tampak. Lalu, muncul tiga orang lainnya. Mereka merentangkan kedua tangan sehingga terlihat seperti burung yang mengepakkan sayap. Begitu pula pada bagian Cor Perdut (Nacho Duato). Terlihat sepasang penari menyuguhkan gerakan yang lebih semangat. Seorang penari lelaki mengangkat si perempuan ke udara sambil berputar-putar. Unsur romantis dalam tarian itu tampak begitu jelas.

Mata penonton pun semakin dimanjakan dengan piece berjudul La Morte del Cigno. Seorang penari (Ruben Ventoso Sanroman) menghadirkan suasana yang khas. Ia mencoba mengeksplorasi tubuhnya dengan menari secara lincah. Unsur kelembutan begitu terasa.

Pada piece berjudul Scheidslijn, seorang perempuan (Mirjana Doric) melakukan putaran begitu khas. Ia seolah-olah ingin menunjukkan rasa kegelisahan dan kecemasan kepada kekasih. Pada bagian ini, ia menghadirkan gaya seperti menampar pipinya sendiri.

Tak lama berselang, enam penari laki-laki masuk melakukan gerakan yang sama. Sang perempuan mencoba menjatuhkan diri, tapi dia ditopang secara bergantian oleh keenam lelaki itu.

Bagian tersebut seakan menghadirkan kisah tentang seorang perempuan terambang dalam kehidupan bercinta. Sepenggal bagian yang memikat mata, membuat penonton ikut merasakan kegelisahan sesungguhnya yang ditampilkan sang penari perempuan itu.

Dua piece terakhir, yaitu Passage dan Het Debat XL, merupakan karya koreografer Ton Wiggers. Kedua bagian tersebut menjadi penutup pementasan malam itu secara sempurna.

Passage menjadi sebuah ungkapan jiwa yang disuguhkan secara lembut. Sementara itu Het Debat XL menghadirkan 14 penari. Mereka menari secara serempak. Terlepas dari dasar yang ada dalam balet.

Pementasan ini menunjukkan improvisasi dan penambahan kreasi. Salah satu teknik dasar balet yang begitu tampak ialah turn-out, yaitu saat posisi kaki diputar keluar dari pangkal paha dalam mengeksekusikan suatu gerakan.

Tentunya, teknik itu memiliki fungsi penting untuk melindungi tubuh dari cedera dan memberikan kekuatan lebih dalam melakukan gerakan tersebut. "Introdans mampu menghadirkan teknik berputar yang sulit. Mereka membawakan tari dengan penuh penjiwaan," nilai pebalet Indonesia Adella Fauzi, yang turut menyaksikan pementasan itu. (B-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 5 Mei 2013

No comments: