Sunday, May 26, 2013

[Pertunjukan] Nostalgia Chairil Anwar

-- Ratu Selvi Agnesia

Momentum Hari Puisi yang mengabadikan karya-karya penyair Chairil Anwar adalah bukti bahwa karya dapat mengabadikan nama seseorang.
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri,

cerita dan peristiwa berlalu beku


(Jang Terampas, Jang Putus oleh Chairil Anwar)

LIRIK puisi di atas menyiratkan bahwa penyair besar itu telah memprediksikan usianya yang mati muda akibat penyakit tuberkulosis dan komplikasi dengan sejumlah penyakit lain yang dideritanya. Demikian besar pengaruh karyanya terhadap semangat perjuangan bangsa Indonesia kala itu, maka hari kematiannya diperingati sebagai Hari Puisi. Enam puluh empat tahun silam, 28 April 1949, Chairil Anwar sebagai salah satu penyair besar Indonesia menghembuskan napas terakhirnya.


Pada saat itu Indonesia kehilangan salah satu seniman yang memiliki komitmen kuat dalam dunia seni, terutama seni sastra. Chairil Anwar adalah sosok yang tak mau diatur dan berwatak keras, tapi siapa yang tak akan luluh dengan puisi-puisinya. Setiap katanya bagaikan batu akik yang diutak-atik sehingga menjadi cantik setelah proses penempaan kata yang detail.

Puisinya membeberkan isi hati lewat barisan kata-kata puitiknya yang menghujam dan berdentam keras. Membuat banyak orang merasa kehilangan, sehingga sejumlah seniman dan sastrawan mengadakan acara peringatan untuk sang penyair di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (23/5) malam. Dulu acara "Chairil Anwar dalam Kenangan" tahun 2012, acara mengenangnya ini hanya dilakukan ala kadarnya di Plaza TIM.

Seniman dan sastarawan hadir membacakan beberapa sajak Chairil. Selain diisi dengan pidato sastra, juga pembacaan puisi dan musikalisasi puisi karya Chairil Anwar oleh penyair Irmansyah, Hanna Fransisca, Fathin Hamamah, Leon Agusta, Joserizal Manua, Deavies Sanggar Matahari, dan Lab Musik. Pada hari yang sama juga digelar diskusi tentang Chairil bersama pembicara Nur Zen Hae dan Adi Wicaksono.

Penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pidato sastranya secara khusus menyampaikan kepenyairan Chairil Anwar. Sebagai tokoh penting sastra modern Indonesia, "Chairil adalah penyair pesanan, yaitu penyair yang dipesan oleh zamannya." Sepanjang perjalanan hidupnya yang singkat, Chairil telah menelurkan sejumlah karya. Leon Agusta dengan bersemangat membacakan "Catatan Tahun 1946".

Pada malam itu hadir pula Evawani Alissa, putra Chairil Anwar, yang mengenal Chairil Anwar dari cerita HB Jassin, Asrul sani, dan Rosihan Anwar. "Saya ditinggal ayah saat usia satu tahun 10 bulan. Saya baru tahu ayah saya pada kelas 3 SD," ujar Eva.

Dilihat dari segi kuantitas, karya-karya Chairil terbilang tak begitu banyak, namun luar biasa dalam kualitas. Ia menghasilkan sekitar 94 karangan dan 70-an sajak, hingga ajal menemuinya dalam usia 27 tahun. Ia mati muda. Namun, karya-karya yang dihasilkannya telah mengabadikan namanya hingga kini.

Momentum Hari Chairil Anwar adalah pembuktian bahwa karya dapat mengabadikan nama seseorang. Sementara waktu bergulir, karya-karya terus terlahir dan menemukan takdir masing-masing. Begitu juga puisi, meski kerap dilontarkan tanya "Kenapa dan untuk siapa puisi ditulis?" Serupa buah ranum dan bersiap meranggas dari tampuknya, pada waktunya puisi akan berlepasan dari pucuk jantung, dan tak satu pun dapat mencegahnya.

rselvia@jurnas.com

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 26 Mei 2013

No comments: