Sunday, May 12, 2013

[Tifa] Padusi dalam Tiga Kisah

SAMBIL berjalan menenteng koper, Padusi (Marissa Anita) menuju ke sebuah tempat untuk mencari taksi. Suasana hiruk-pikuk siang itu di Bandar Udara Minangkabau begitu jelas terlihat.

Ia melangkah perlahan. Menuju ke luar bandara untuk mencari antaran.

"Onde mande, ranca bana. Ambo ada taksi, ada oto pribadi. Pilihlah saja," ujar sopir taksi (Muhammad Zulfikar Azhari) melihat kecantikan sang perempuan kota itu.

"Terakhir kali pulang kampung 10 tahun silam. Semua sudah berlalu. Usia pun sudah tak muda belia.... Hidup sudah menjanda pula," tutur Padusi santai, membuka lakon Padusi: 3 Kisah 3 Perempuan, 1 Perjuangan di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (10/5) malam.

Lakon tersebut cukup berbeda karena menggabungkan seni teater, olah vokal, dan tari. Penata tari Tom Ibnur menghadirkan tautan kreasi yang begitu lekat dengan unsur budaya Minangkabau.

“Padusi, mau ke mana kau seorang diri? Biar kuantar kau," ujar sang sopir. "Bawahlah aku ke Telaga Biru.... Aku ingin mencari makna yang baru," ucap Padusi, lantang seraya bergegas pergi.

Tampil sebagai sosok perempuan kota yang modern, yang terlihat jelas pada sepatu bot, celana jins, dan syal panjang, membuat dia lebih cuek. Padusi pun ingin menggores kenangan masa lalu di kampungnya.

Sejurus, tata panggung dibuat penuh artistik. Latar belakang kisah serupa dalam legenda pun diperlihatkan. Di Telaga Biru itu, mengalir air terjun nan jernih. Itu seakan membawa Padusi ke dalam sebuah dunia masa lalu.

Legenda

Ada tiga kisah legenda lainnya yang tergambar jelas dalam pementasan selama 90 menit itu. Tata panggung yang seakan dibuat ‘animasi’ itu menunjukkan Padusi telah memasuki sebuah kisah ataupun legenda yang ada di Minang.

Tujuh putri dari kahyangan turun ke danau. Mereka menari. Namun, salah satunya mengalami patah sayap sehingga tak bisa kembali ke kahyangan. Putri Bungsu (Ine Febriyanti) namanya. Dia pun menikah dengan seorang pemuda setempat, Malin Deman (Riyano Viranico).

Dalam adegan itulah kehadiran ibu Malin, Mandeh Rubiah (Jajang C Noer) cukup menjiwai lakon. Ia berakting secara sempurna. Terutama, penjiwaan menjadi seorang perempuan tua yang hidup di kampung.

Pada bagian itu, Tom Ibnur menghadirkan 9 penari perempuan dan 4 penari laki-laki secara serempak. Mereka menari dengan menghadirkan sebuah kegiatan di tepi telaga. Mengais ikan hingga memanen padi.

Pada kisah (legenda) kedua, ada Siti Jamilan (juga diperankan Ine), seorang istri yang setia kepada suaminya, Lareh Simawang (Andi Jagger). Mereka memiliki dua anak. Namun, pernikahan itu tak berjalan mulus. Lareh melakukan poligami sehingga membuat Siti pun kecewa.

Mendapati suaminya beristri lagi, dia pun mengajak kedua anaknya untuk bunuh diri. Siti yang kebetulan sedang hamil tua terpaksa melakukannya. "Kematian adalah akhir bila kau melakukan pengkhianatan," ujar Siti.

Sebagai mana dalam kisah terakhir, Sabai Nan Aluih (juga diperankan Ine) harus menolak pinangan Rajo Nan Panjang (Arswendy Nasution). Sabai tak mau dengan sang juragan karena usia yang sudah tua. Penolakan itu berujung pada sebuah pertikaian. Kisah tragis pun memuncak saat Sabai harus menghunuskan bedil ke dada sang datuk.

Kendati menghadirkan nilai tragis bercampur pilu di akhir cerita, alur kisah terasa datar karena penonton bisa mengetahui akhir cerita. Namun, kehadiran Tom Ibnur dengan kreasi tarian mampu membuat lakon tersebut terasa segar dan membekas di ingatan.

“Ini berangkat dari kisah (legenda) yang dibalut dengan kondisi sekarang. Semua menjadi berhubungan karena ada benang merah pada Padusi yang menjadi titik utama sebagai perempuan modern yang pulang ke desa,” papar sutradara Rama Soeprapto. (Iwa/B-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 12 Mei 2013

No comments: