Friday, August 13, 2010

[Sosok] Menebar Motivasi Lewat Lukisan

-- Antony Lee

”Bungah marang kang cinawis”, bahagia dengan apa yang tersedia. Itulah tuntunan hidup yang melandasi keseharian Sabar Subadri. Di tengah keterbatasan fisik, ia menjalani hidup yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, lewat semangat yang ditularkan melalui lukisannya.

SABAR SUBADRI (KOMPAS/ANTONY LEE)

Sabar terlahir dengan tubuh tak sempurna. Ia tak punya lengan. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan, ia bersusah payah merintis jalan hidup sebagai pelukis. Keahlian itu yang membuatnya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada Hari Internasional Penyandang Cacat, 2007.

Tahun 1989 Sabar terpilih menjadi anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA). Di Indonesia ada sembilan anggota AMFPA. Asosiasi itu menerima karya Sabar dan memberinya honor bulanan.

Sabar menyebut sejumlah nominal dalam mata uang franc Swiss. Jumlah itu belum termasuk royalti bila karyanya dicetak untuk kalender, kartu ucapan Natal, Lebaran, atau Tahun Baru. ”Dari hasil itu saya bisa membuatkan rumah untuk orangtua, punya tabungan, kendaraan, dan koleksi buku-buku,” tuturnya di Klaseman, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah.

Sebelum menempati rumah hasil keringat Sabar pertengahan 1990, mereka sekeluarga menempati rumah penjaga sekolah. Ayahnya, Subadri, bekerja sebagai penjaga sekolah di SMPN 3 Salatiga, dan ibunya berjualan di kantin sekolah.

Ratusan karya dihasilkan Sabar, puluhan di antaranya dicetak menjadi kartu ucapan ataupun kalender. Sebagian karya dia juga dipamerkan pada beberapa kesempatan di sejumlah negara Eropa.

Sabar banyak menghasilkan lukisan naturalis, sebagian besar tentang alam dan manusia, seperti dua lukisan yang paling disukainya, ”Longing for My Wood” dan ”Thanking for Life”. Lukisan pertama berupa beberapa pohon besar dengan guratan sinar mentari, dan yang kedua menggambarkan dua perempuan tua menggendong barang dengan cahaya mentari keperakan.

Ide lukisan kadang dia dapatkan dari buku, interaksi langsung dengan alam, atau hasil berselancar di dunia maya. Gambaran pohon dalam lukisan ”Longing for My Wood”, misalnya, merupakan paduan antara pohon beringin yang ditemuinya di salah satu sudut Kota Salatiga dan gambar pohon yang diunduhnya dari dunia maya.

Dukungan keluarga

Anak bungsu dari tiga bersaudara itu bersyukur karena orangtua dan saudaranya bisa menerima kekurangan fisiknya. Mereka jeli melihat kebiasaan Sabar yang sejak usia tiga tahun suka mencoret-coret lantai dengan sisa kapur dari sekolah. Ayahnya mendorong Sabar mengikuti berbagai lomba.

Meskipun dalam lomba itu ia tak berhasil menjadi juara, keluarga tetap mendukungnya. Ia terus tekun belajar melukis dari tayangan televisi dan buku, sampai bisa memenangi sejumlah lomba menggambar.

”Saya berangkat dari bukan siapa-siapa, tak ada darah seni. Kalau saja orangtua tidak menerima kondisi saya, tidak ada dukungan melukis, kami masih tinggal di rumah penjaga sekolah. Saya juga enggak bisa apa-apa, hanya diam di kamar,” ungkapnya.

Sepucuk surat yang diterimanya dari AMFPA pada 1988 menjadi titik balik hidupnya. Asosiasi yang menaungi pelukis yang berkarya menggunakan mulut atau kaki itu memberi dia beasiswa Rp 100.000 setiap tiga bulan, kemudian mengajak Sabar bergabung setahun berikutnya. Beasiswa itu cukup untuk membeli peralatan dan membayar guru melukis.

Setidaknya satu karya dihasilkan Sabar setiap bulan. Di ruang lukis itu ia banyak menghabiskan waktu. Jika sedang suntuk, ia bergeser menuju dua rak susun berisi sekitar 300 buku tentang seni, novel, atau spionase, atau menyambangi komputer terkoneksi internet.

Di luar semua kegiatannya itu, Sabar memilih terjun dalam komunitas akademis sekali sepekan. Sejak tahun 2000 ia menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Satya Wacana, Salatiga. Ia mengaku tak terpikir untuk lulus dan memperoleh ijazah.

”Ijazahnya buat apa, saya bingung. Jadi saya menikmati saja proses berpikir di kampus dan berada dalam komunitas itu,” tuturnya.

Motivasi hidup

Perjalanan hidup dan lukisan, bagi Sabar, memiliki benang merah filosofi serupa. Dalam menjalani hidup, yang terpenting bagi dia, adalah prosesnya. Ia mengaku nyaris tidak menemui kendala berarti.

”Jadi, dengan apa yang ada dan tidak ada itulah, bagaimana saya bisa melewatinya. Hal itu penting dalam hidup saya sendiri. Kalau orang lain bisa melihat (hal itu), ya syukur. Apalagi kalau orang lain bisa termotivasi karena itu, syukurlah,” katanya.

Karena itu pula, Sabar menyisihkan waktunya untuk berbagi pengalaman dan memberi motivasi kepada orang lain. Ia sering berdemo melukis dan bertutur soal kisah hidupnya di hadapan anak-anak sampai orang dewasa.

Meski secara finansial mandiri, Sabar mengaku masih sangat membutuhkan orang lain. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, seperti memasak atau mencuci. Di rumah, ia mengaku masih dibantu orangtua. Namun, untuk urusan di luar rumah, ia dibantu sahabatnya yang berperan sebagai ”asisten” meski tak mau menerima honor darinya.

Sabar bercerita, jalan hidupnya tak selalu mulus. Saat akan melamar menjadi siswa sekolah dasar, misalnya, ia ditolak di beberapa sekolah. Beruntung ada sekolah yang kekurangan siswa dan bersedia menerimanya. Penolakan dalam hal berbeda pun dialaminya dalam soal asmara.

”Saya suka down kalau soal asmara. Saya sudah ’nembak’ dan ditolak 14 kali. Nek golek wes kesel (kalau cari, sudah lelah), tapi aku butuh tangan lain dalam hidup ini,” tuturnya sambil tersenyum.

Dalam perjalanan hidup dan berkarya, Sabar masih memiliki beberapa harapan. Dia ingin suatu ketika bisa menggelar pameran tunggal serta mencoba tantangan membuat lukisan dengan dimensi besar, berketinggian sekitar dua meter.

Kondisi itu bakal menyulitkan dia, tetapi juga menantangnya untuk terus berpikir keras, mencari cara bagaimana ia bisa menggapai bagian atas kanvas dengan keterbatasan fisiknya....

Sumber: Kompas, Jumat, 13 Agustus 2010

No comments: