Sunday, April 07, 2013

[Jendela Buku] Dekat di Mata, Jauh di Kaki

Setiap perjalanan pasti bakal mengubah kebijaksanaan manusia dan kamu pun pasti akan berubah bersama perjalanan itu sendiri.

MENCARI makna kehidupan, menggali ketenangan batin, mencari dan menghamburkan uang, cuci mata, melarikan diri dari rutinitas, antikemapanan, iseng saja, dan lain sebagainya. Itulah sederet alasan yang sudah disiapkan sebelum seseorang melakukan perjalanan, entah itu perjalanan ke daerah di negara sendiri maupun ke ujung dunia.

Kebebasan dan merdeka, jelas itu kuncinya. Pasalnya, perjalanan memang seharusnya hak universal semua manusia. Namun, ada seribu hal menghalanginya, termasuk institusi yang bernama negara.

Hal itu seperti dialami Agustinus Wibowo yang menuturkan kisah perjalanannya dalam buku Titik Nol. Dia meninggalkan ijazah kampus terbaik di China, menolak tawaran beasiswa S-2 ke 'Negeri Paman Sam', dan kilauan karier gemilang di depan mata, semua demi perjalanan.

Siap berjalan artinya siap berinteraksi dengan alam dan masyarakat yang akan dijumpai. Tak semua tempat terjamah dengan mudah. Ada lokasi-lokasi yang membatasi kunjungan, menetapkan harga tiket yang mahal, sampai jadi zona terlarang lantaran perang.

Serunya yang dilarang-larang atau susah itu menjadi tantangan dan daya tarik tersendiri buat musafir. Rasa deg-degan takut tertangkap karena tak punya surat izin, bernasib malang, telantar, sampai berjuang di tempat berbahaya sudah jadi satu paket setiap perjalanan.

Perjalanan ke berbagai tempat yang namanya hanya diingat sepintas tak urung membuat pembaca penasaran. Cerita adat setempat mendorong pembaca membuka peta, mencari informasi lebih jauh di dunia maya, sampai memasukkan daftar negara yang wajib dikunjungi dalam agenda perjalanan berikutnya.

Jalan langsung

Akhir-akhir ini ada kecenderungan, buku yang bertutur tentang perjalanan selalu diburu pehobi jalan-jalan, entah itu traveler, turis, backpacker, travel writer, maupun pecinta perjalanan imajinasi yang tak pernah ke mana-mana tapi mencicipi perjalanan lewat cerita orang.

Biasanya buku-buku tersebut lebih mengarah ke how to yang isinya pengetahuan dasar seputar lokasi wisata. Misalnya, tentang panduan ke suatu lokasi, transportasi, makanan khas, objek wisata terdekat, larangan, sampai 1.001 kiat dan trik perjalanan.

Di antara beragam buku perjalanan, hanya segelintir buku yang bercerita tentang perjalanan itu sendiri. Buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo termasuk yang segelintir itu.

Di buku tersebut, Agustinus menuturkan pertualangannya yang menjadi pelajaran hidup bagi siapa saja. Keunggulan buku itu tentu pada narasi deskriptif yang kuat.

Pembaca seolah diajak langsung ke lokasi, merasakan hawa dingin Himalaya, menyaksikan perubahan Tibet, mendengar tawa masyarakat miskin India di tengah tragisnya kehidupan, kaget mendapat sambutan aneh dari masyarakat, sampai ketakutan mati di medan perang Afghanistan.

Dari cerita itu, Anda akan terheran-heran mendapati beragam manusia dari berbagai negara dengan segala kebiasaan, budaya, dan cara mereka menyikapi masalah.

Uniknya, paparan pengetahuan yang ditulis berdasarkan pengalaman saat trip tak mudah ditemukan di tempat lain. Fakta dan kebiasaan adat suatu kaum biasanya dipaparkan secara umum.

Namun dalam buku tersebut, semua disimpulkan pembacanya. Seperti kisah Agustinus yang disambut pejuang Maois saat trekking ke puncak Annapurna di Nepal. Bayangan tokoh antagonis pejuang Maois, pria titisan Rambo, memanggul bedil, dan menggotong mortir, tiba-tiba saja termentahkan begitu bertemu mereka.

“Welcome, Sir. Tax, please,” kata-kata itu diucapkan si pejuang kurus, pendek, dan memakai sandal jepit. Agustinus bingung, bukan hanya karena tak dikasih lewat sebelum membayar, melainkan juga dengan kesan yang ditimbulkan lelaki itu. Sopan sekali.

Tak ada cerita membenarkan yang satu, menyalahkan yang lain, pembaca diajak mencari tahu mengapa itu disebut kebenaran dan bagaimana pula menyikapi perbedaan.

Satu keistimewaan lain dalam buku perjalanan itu, penulis menceritakan juga perjuangan sang ibunda nun jauh di Tanah Air Indonesia. Cerita alur maju dan mundur perjuangan ibunya yang tak pernah ke negara yang dikunjungi anaknya, tetapi punya Everest yang harus ditaklukkan sendiri, yakni kanker.

Justru dari perjuangan ibunya, penulis mendapat makna dobel dari perjalanannya. Yang mencari paling banter hanya menemukan apa yang dicari. Yang tidak mencari justru akan menemukan lebih banyak lagi.

Bagi penulis, bukan perjalanannya yang penting karena perjalanan seperti yang dialaminya hanya kemewahan orang-orang tertentu. Namun bagaimana kita bahagia, seperti apa kita melihat hidup, itu yang membekas pada si musafir. Asalkan, dia tak lupa memberi makna pada perjalanannya.

Penjajahan

Kata siapa perjalanan tak mengandung unsur merugikan? Bukankah kata penjelajahan mirip dengan kata penjajahan? Coba tengok beberapa tempat penuh misteri yang sudah kehilangan jati dirinya. Carilah makna di sana.

Gunung Annapurna di Tibet ditaklukkan pertama kali oleh Maurice Herzog. Dia tak tahu keberadaan gunung yang bersembunyi di tengah rimba lebat, tersesat hingga nyaris putus asa, sampai merelakan 10 jari kaki lepas akibat serangan udara dingin.

Kini puluhan tahun kemudian, saat Agustinus dan puluhan musafir lain berkunjung ke sana, tak ada lagi adegan tadi. Annapurna disulap jadi lokasi wisata yang menawarkan segenap kenyamanan.

Jalanan aspal membentang di banyak jalur, bandar udara dibangun dekat gunung, buldoser yang datangnya terlalu cepat dua abad sudah ada di sana. Tak ada lagi nyasar karena tiap meter ada penjaja peta lengkap dengan liuk-liuk gunung.

Belum lagi penginapan mudah ditemui, bahkan sampai di dekat puncak. Bocah kecil pun sudah mengenal arti turis, "One picture, one dollar," ucap mereka selalu.

Annapurna sudah sempurna menjadi taman bermain. Sungguh beruntung banyak lokasi wisata di Indonesia masih asli. Banyak turis berarti perubahan di segala bidang, yang lama-lama bisa menghilangkan keaslian, kearifan, dan kealamian tempat itu.

Bagaimanapun, perjalanan dicari untuk menemukan kembali jati diri yang hilang entah ke mana. Bumi masih luas, ribuan tempat menanti dikunjungi, kebijaksanaan tinggal dipungut, awan pun terlihat mudah digenggam. Semua terbentang di depan mata, tapi perjalanan tetap masih jauh. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 7 April 2013 

2 comments:

Eva Andressa said...

Dear Travellers,
! Namaste dan Salam hangat dari Himalaya Negara Nepal!

Nama saya Sanjib Adhikari. Sebagai panduan trekking bebas dan pengendali pelancongan di Nepal, saya ingin memperkenalkan diri saya kepada anda.
Saya dilahirkan dan dibesarkan di daerah lasak dan jauh di rantau Himalaya Pusat. Saya memulakan kerjaya saya di pelancongan pengembaraan pada usia yang sangat muda selepas menamatkan pengajian peringkat sekolah saya tinggi, bekerja untuk syarikat-syarikat yang berbeza trekking selama tujuh tahun dalam kapasiti yang berlainan kadang-kadang sebagai porter, pembantu pemandu dan kini bekerja sebagai panduan trekking Bebas. Saya telah memperolehi lesen panduan trekking daripada kementerian pelancongan, kerajaan Nepal.
Saya telah dipandu banyak kumpulan antarabangsa terutama dari Eropah, Amerika Syarikat, Kanada, Australia di Everest, Annapurna, Langtang, Mustang, Dolpo, Kanchanjunga, Makalu, Manaslu, Ganesh Himal dan wilayah Helambu di Nepal dan Mt. Kailash, Lasha di mayouzhong juga Ladak dan Sikkim di India dan dengan itu telah mendapat pengalaman yang pelbagai dan pengetahuan yang luas mengenai geografi, agama, budaya, flora dan fauna tempatan dan isu-isu alam sekitar di kawasan-kawasan di mana saya sendiri telah menganjurkan menjejaki laluan trek. Pengalaman pertama saya di laluan trekking banyak telah menjadikan saya seorang pakar dalam membuat jadual perjalanan trekking unik sebagai satu citarasa, minat dan bajet pelanggan barat. Bagi mereka Pengembara antarabangsa yang ingin mendaki gunung yang tinggi pas dan puncak, saya juga boleh menganjurkan pengembaraan yang mencabar dan memberi ganjaran ini. Pengalaman saya dalam pelancongan pengembaraan termasuk mendaki ke puncak mera, Pulau puncak, Kalapathar, Gokyo puncak, Tseryo ri dan saya telah membawa ekspedisi merentasi banyak pas tinggi di Nepal, Larkye pas, Ampulapcha Pas, Chola pas, Renjula pas, Tashilapcha pas, pas Ganjala , thorong pas, Tilicho pas, (Mesokantola pass).
Terdapat banyak jenis menjejaki laluan trek yang terdapat di Nepal, dari trekking santai mudah di mana anda boleh mengalami Nepal Kebudayaan dan kehidupan Village bermalam di rumah persinggahan tempatan (teh rumah) di kawasan-kawasan popular, ke kawasan pedalaman dan terhad trekking yang luar trek dipukul dan jarang dikunjungi oleh orang asing. Semua menjejaki laluan trek menawarkan pemandangan indah dan pengalaman yang baik mengenai budaya Nepal. Jika sesiapa mahu mempunyai khusus dibuat menjejaki laluan trek, saya boleh memenuhi keperluan mereka.
Dari masa ke semasa saya terus meningkatkan kemahiran dan pengetahuan saya dengan mengambil latihan ulang kaji mengenai keselamatan, kebersihan, pertolongan cemas, menyelamat kecemasan, kebersihan dan memasak. Saya fasih dalam bahasa Inggeris, Cina dan celik komputer. Saya boleh menjelaskan semua topik-topik yang berkaitan dengan pelancongan sepanjang pengetahuan saya.
Pelanggan saya telah sangat gembira dengan perkhidmatan profesional saya membimbing, dan anda boleh membaca beberapa komen mereka di laman web saya. Sila hubungi saya di alamat e-mel yang disenaraikan di bawah jika anda mempunyai sebarang soalan atau ingin untuk membincangkan perjalanan mungkin di Nepal! Saya akan melihat ke hadapan untuk mendengar daripada anda! http://www.nepalguideinfo.com/index.php?link=more http://www.nepalguideinfo.com/index.php?link=more http://www.nepalguideinfo.com
http://www.hikehimalayas.com

Mt. Everest base camp Trek said...

Trek kem dasar Everest - 14 hari

Everest telah menjadi nama yang wajar antara semua orang di seluruh dunia, kebanyakannya pencinta pengembaraan. Untuk sampai ke pada satu ketinggian setinggi 8,848m bukanlah satu tugas yang mudah; Ia memerlukan banyak usaha keras dan dedikasi. Ia boleh menjadi pencapaian paling besar dalam kehidupan seseorang, mengatasi rasa takut yang kerasnya sifat. Gunung Everest 8848 mt dan base camp 5350, m
http://nepalguideinfo.com/Everest-Base-Camp-trek/
http://nepalguideinfo.com/

http://www.hikehimalayas.com/trekking-in-Nepal/trekking-Region/Everest-Region/Everest-Base-Camp.htm
Email-:sanjib-adhikari@Hotmail.com
https://www.Facebook.com/Independenttrekkinguidenepal