Saturday, October 09, 2010

Muslim-Barat Saling Mendengar

Ubud, Kompas - Tanpa langkah nyata warga masyarakat, prasangka terhadap warga Muslim, apakah itu negara-negara Barat terhadap negara Muslim atau antarsesama warga negara, akan semakin tajam dan merusak. Upaya saling mendengar adalah langkah awal mengurangi ketegangan.

Persoalan ini mengemuka dalam sesi debat yang agak ”panas” di acara Citibank-Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali, Jumat (8/10). Bukan saja di sesi ini, dalam diskusi-diskusi lainnya pun, isu suara minoritas warga Muslim di negara-negara maju, seperti Australia dan Amerika Serikat, isu pendudukan Israel di Palestina, dan isu kekerasan terhadap minoritas di negara yang mayoritas Muslim menjadi topik hangat.

Para penulis asal AS, Lisa Teasley, Robin Hemley, Mike Otterman, dan Ionis Gatsiounis, bersama penulis Lebanon yang menetap di AS, Rabih Alameddine, merespons pertanyaan moderator tentang menarik garis yang tegas antara fiksi dan nonfiksi di dalam penulisan.

Bagi Alameddine dan Otterman, apa yang dilakukan Fox Television tentang isu pembangunan masjid di Ground Zero (tempat peringatan tragedi 9/11 ) adalah fiksi. ”Pertama, itu bukan masjid, tapi community centre, dan itu tidak di Ground Zero. Itu fiksi, tapi dipresentasikan sebagai fakta,” kata Alameddine. ”Fox jelas meng-create cerita sehingga memperkeruh suasana dan menguatkan friksi,” ujarnya.

Namun, bagi Gatsiounis, seharusnya para pemimpin Muslim di AS yang harus ”tahu diri” untuk mundur dari usulan tersebut. ”Seharusnya mereka menyadari betapa sensitifnya isu tersebut,” kata Gatsiounis. Dia juga menambahkan, untuk memperbaiki hubungan Muslim- Barat, negara-negara Muslim harus berupaya memperbaiki citra mereka terlebih dulu. Ia juga menilai, bukan hanya Fox yang harus dikoreksi, melainkan juga Aljazeera. Namun, Otterman tak setuju. ”Tidak seperti Fox, Al Jazeera banyak menyuarakan suara dari dunia ketiga,” katanya.

Pada akhirnya, semua panelis setuju bahwa perubahan sikap harus datang dari kedua pihak dan media juga dituntut ikut bertanggung jawab terhadap upaya mengurangi kesalahpahaman.

Dalam sesi lain dipertanyakan bagaimana untuk tidak mencampuradukkan ”semangat aktivis” di dalam penulisan. Bagi penulis Australia, Antony Loewenstein, yang keturunan Yahudi, tantangan itu dihadapinya ketika ia menulis buku My Israel Question yang mengkritisi pendudukan Israel di Palestina. ”Saya berprinsip, yang pertama-tama saya adalah manusia, yang kedua barulah sebagai Yahudi. Jelas, pendudukan Israel di Palestina bukan bualan. Itu nyata,” katanya.

Tantangan juga dihadapi penyair sekaligus rapper Australia, Omar Musa, yang lagu-lagunya menyuarakan suara minoritas warga Muslim di Australia. ”Semangat aktivis” ia lakukan tanpa henti. ”Saya memang tidak akan bisa mengubah dunia, tapi saya berupaya mengubah pikiran stereotip warga Muslim di Australia yang minoritas,” katanya.

Bagi negara mayoritas Muslim, seperti Indonesia, penulis Cok Sawitri, Wayan Juniartha, dan Ina Wahid mengungkapkan, situasi di Indonesia belakangan ini menunjukkan, pengejawantahan Bhinneka Tunggal Ika tak semudah diucapkan. Kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah, misalnya, selain menunjukkan lemahnya kewibawaan pemerintah, juga memperlihatkan menipisnya kadar toleransi dan menguatnya kecenderungan kekerasan. (MYR)

Sumber: Kompas, Sabtu, 9 Oktober 2010

No comments: