Sunday, October 31, 2010

Balada Wawan Juanda

-- Herry Dim

KETIKA video musik semacam "Keong Racun" tiba-tiba meledak dan/atau mendapat pengakuan publik, ada dua hal sesungguhnya bisa kita lihat, yaitu (1) dunia teknologi dan daya sebar informasi telah membuktikan kedigjayaannya dalam membentuk opini dan bahkan menyetir cita rasa publik. Sihir informasi bahkan terbukti pula mampu membolak-balik atau paling tidak memburamkan batas-batas antara baik dan buruk, benar dan salah, bermutu dan tidak bermutu, dan seterusnya. (2) Sadar atau pun tidak kita sadari bahwa saat itulah terjadinya keruntuhan tata nilai dan/atau media tempat beredarnya informasi telah menjadi dunia tanpa nilai. Terbukti bahwa seni artifisial, bersifat manipulatif, atau kasarnya tipu-tipuan (teknik lip sync) tak dipedulikan lagi sebagai dusta atau kebohongan melainkan diterima sengan suka cita.

Itulah dunia kita di dalam media (terutama televisi dan internet) saat ini, yaitu dunia yang sebagian besarnya adalah dunia artifisial atau dunia yang bukanlah kenyataan yang sebenarnya, melainkan dunia yang telah di/terekayasa, diutak-atik, bahkan dijungkir-balik demi kepentingan tertentu yang adakalanya pula demi kepentingan berlipat gandanya modal dan keuntungan.

Musik yang juga mendapatkan porsi cukup besar di dalam dunia informasi televisi dan kemudian internet, sebagian besarnya bisa dikatakan tak terbebas dan bahkan justru menjadi bagian dari dunia artifisial serta manipulatif tersebut. Fenomena `keong racun` seperti disebutkan di awal tulisan, ini adalah salah satu bukti puncak kedigjayaan dunia informasi di satu sisi, di sisi lainnya adalah bukti keruntuhan dimensi dan apalagi kedalaman musikalitas.

Di pengujung lain sesungguhnya sulit (untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada) bagi kita untuk mendapatkan nilai-nilai di dalam televisi dan internet sebagai salah satu penghantar informasi, yang ada adalah lautan atau gelombang yang bertumpuk, tumpang tindih, saling desak hingga saling banting antara satu simulacrum dengan simulacrum lainnya.

Lantas, kita pun mungkin selanjutnya bertanya; di manakah kiranya tempat hadirnya musik yang masih memperlihatkan dan memperdengarkan alamiahnya? Di manakah tempat kita masih bisa menemukan kehangatan cinta antarsesama manusia?

Jawabnya, ada banyak musisi, kelompok, atau komunitas musik yang beredar di luar televisi dan kecanggihan informasi. Mereka itu tidak antiinformasi dan tidak pula antitelevisi, tetapi galibnya tidak memberhalakannya dan/atau mengagungkannya secara berlebihan. Mereka lebih memilih ruang-ruang yang alami, ruang tempat bertemunya hubungan antarmanusia, tempat saling bersapanya dunia bunyi sekaligus keheningan.

**

PERISTIWA musikal yang bertajuk "Balada Wawan Juanda" yang berlangsung Rabu malam, 20 Oktober 2010, di Bumi Sangkuriang adalah salah satu dari sekian banyak "ruang" yang dihubungkan oleh hati dan cinta tersebut.

Seperti halnya ruang tempat makan, kafe sederhana, sedikit lahan komunitas, bahkan kini banyak pula musik (bagus) yang bertebar di trotoar jalanan; malam itu tampillah dengan bersahaja tetapi penuh kehangatan cinta sekaligus daya musikalitas hingga teatrikalitas berupa monolog dari Yusef Muldiyana, permainan biola Amy Chepy Kurniawan yang saling hantar dengan pembacaan puisi Kyai Matdon, duet Mukti-Mukti dan Siska, Komunitas Musik Jatiwangi Art Factory, Rizal Abdulhadi, Laskar Panggung, Matdon & Majelis Sastra Bandung, tampilan Ferry Curtis (bersama Ary Viool, Amy), Kapak Ibrahim, Tiga Perempuan (Ken Atik, Vinny Damayanti, Ine Arini), Ganjar Noor, KAiYA, Martha Topeng & Siska, Duo Cermin, dan ditutup penampilan Egi Fedli yang ditemani Ary Viool, Adi, serta Siska.

Selama empat jam lebih, publik yang hadir hampir sepenuhnya dijamu musik-musik balada yang bisa dikatakan sepenuhnya pula tak pernah kita jumpai di televisi kecuali di komunitas-komunitas. Akan tetapi di sini pula kita bisa menyaksikan kepiawaian Amy bermain biola adalah kepiawaian yang niscaya, nyata, dan bisa disentuh tubuhnya kala main atau pun seusai ia bermain. Nomor "song of the wind" yang dirangkai dengan puisi Matdon dan ditutup dengan salah satu nomornya Didier Lockwood, itu terasa sekali sebagaimana requiem yang malam itu memang ditujukan bagi almarhum Wawan Juanda.

**

MUSIK balada sebagaimana lazimnya musik bertutur, musik yang juga bersandar kepada kekuatan kata-kata selain musikalitasnya itu sendiri; kemudian meluncurlah dari Mukti-Mukti. Seperti juga penampil-penampil lain semisal Ferry Curtis, Ganjar Noor, Egi Fedli; kekuatan lirik pada musik Mukti-Mukti terasa sekali bukan sekadar syair tempelan melainkan sesusunan struktur kata-kata yang jika dilepas dari musiknya pun bisa berdiri sendiri sebagai puisi dengan daya puitisnya.

Ini pula yang hampir tak bisa kita temukan lagi pada musik-musik sajian televisi atau pun kategori musik industri lainnya. Pada musik dan lirik yang mereka mainkan malam itu di Bumi Sangkuriang, sungguh kita masih bisa menemukan nilai, rasa betapa mulianya kata-kata, hingga kita (sebagai penonton/pendengar) bisa membangun kembali impresi bahwa betapa mulianya kita menjadi manusia. Lirik dan musik balada yang "kuat" tersebut antara lain bisa pula kita jumpai pada nyanyian "Sahabat Cahaya" dan "Ilalang Terbakar"-nya Ferry Curtis, lirik balada dengan sentuhan warna musik psychedelic terasa pula pada nyanyian "Ini Langkahku" dan "Kemuning" yang dimainkan oleh kelompok KAiYA.

**

PENGAGUNGAN kepada musikalitas, lirik, atau dunia kata-kata, serta sekaligus kebersahajaan keseluruhan acara, kemungkinan besar disadari serta dirasakan pula oleh seluruh yang hadir itu menjadi semacam hymne yang memang hendak disampaikan demi menghormati almarhum Wawan Juanda (1958-2010).

Sang presiden Republic Entertaintment itu memang telah pergi, tetapi malam itu pula masih dirasakan kehangatan, cinta, dan persahabatannya dengan sejumlah seniman Bandung. "Semangat almarhum sepatutnya kita lanjutkan," ujar Dadang Jauhari, adik almarhum Wawan Juanda, di awal hymne yang ternyata berlangsung sampai lebih dari empat jam tersebut.

Sepertinya kita pun menyaksikan Wawan Juanda tersenyum di alam sana, alam yang sudah terbebas dari dunia artifisial, alam tanpa kepura-puraan, alam harum mawar yang disertai lagu cinta kawan-kawannya.***

Herry Dim, seniman.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 31 Oktober 2010

No comments: