Tuesday, October 19, 2010

Dagelan Basiyo di Suriname

-- Frans Sartono

DAGELAN Basiyo berjudul Degan Wasiat itu disiarkan oleh Radio Garuda yang dipancarkan di Paramaribo. Selama 24 jam nonstop radio itu siaran dalam bahasa Jawa. Kompas yang masuk ke ruang siar Radio Garuda mendapati ratusan piringan (PH) hitam dari Waldjinah, Mus Mulyadi, Emilia Contessa, plus CD dari Didi Kempot sampai Mathous. Juga PH karawitan Condong Raos pimpinan Ki Nartosabdo.

”Sak jagat, ora ono radio basa jowo patlikur jam—di seluruh jagat—tidak ada radio berbahasa jawa (siaran) duapuluh empat jam,” kata Tommy T Radji (50), pendiri Garuda Radio & Televisie Suriname yang ditemui di studionya di Paramaribo. Radji berbicara dalam bahasa Jawa layaknya orang Jawa di Indonesia atau ”negoro jowo” kata dia.

Garuda tidak sendirian. Ada tiga stasiun radio dan televisi di Suriname yang siaran dalam bahasa Jawa, yaitu Garuda, Pertjaja, dan Mustika . Semuanya dimiliki warga Suriname keturunan Jawa. Radio dan televisi itulah yang ikut menjadikan Didi Kempot sebagai ”super star” di Suriname. Lagu ”Setasiun Bapalan” atau ”Sewu Kutho” yang dinyanyikannya sangat populer di Suriname.

Bahkan, penyanyi asal Solo Yan Felia, yang boleh jadi tidak dikenal luas di negeri sendiri, rupanya sangat populer di Suriname saat ini. Di masa lalu, penyanyi seperti Waldjinah dan Mus Mulyadi juga menjadi bintang. Bahkan sampai hari ini lagu-lagu Jawa dari kedua penyanyi itu masih dikenal dan sering diputar di radio.

”Kula kepengen nguri-uri coro jowo, ben ora ilang tinggalane mbah-mbahe awake dhewe—saya ingin memelihara bahasa Jawa agar tidak hilang warisan kakek-nenek kita,” kata Radji tentang alasan mendirikan stasiun radio dan televisi dalam bahasa Jawa itu pada 26 Februari 1996.

”Itu karena generasi baru, terutama yang tinggal di kota, wis lali (sudah lupa) bahasa Jawa. Mereka angel banget omong jowo—mereka sangat kesulitan berbicara dalam bahasa Jawa,” kata Radji.

Salah satu acara yang paling mendapat perhatian di radio berbahasa Jawa itu adalah Wartos Kasripahan atau berita duka. Dan Warta Kaormatan, berita tentang kelahiran, ulang tahun, atau perkawinan. Khusus untuk berita duka, radio dan televisi menggunakan bahasa Jawa kromo inggil atau bahasa halus. ”Tiyang pejah lan keluwargo kedah diajeni—orang meninggal dan keluarganya harus dihormati,” kata Radji.

Memberi warna

Warga keturunan Jawa merupakan 15 persen dari penduduk Suriname yang kurang jumlahnya dari 500 juta jiwa itu. Komposisi penduduk terdiri atas keturunan Hindustan (27%), Afro-Suriname atau Kreol (18%), Maroon atau keturunan budak—Indian (18%), dan kelompok etnis lain, seperti China (1.8%), Lebanon, dan lainnya yang jumlahnya lebih kecil lagi.

Suriname menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa negara. Akan tetapi, dalam pergaulan atau lingua franca seluruh elemen etnis, mereka menggunakan bahasa Sranan Tongo atau Taki Taki. Ada yang menyebut Taki-Taki sebagai negroenglish karena sudah tercampur baur dengan unsur bahasa lain.

Bahasa Jawa selain digunakan oleh warga Suriname keturunan Jawa, juga dimengerti oleh kelompok etnis lain. Kompas menjumpai perempuan keturunan Hindustan yang fasih berbicara dalam bahasa Jawa. Shardaq, perempuan yang berjualan ikan segar di Pasar Sentral Suriname itu rupanya.

”Iwake iki enak dienggo mangan karo jangan bening...Ikan ini enak dimakan bersama sayur bening,” kata Shardaq dengan logat Jawa yang tidak kaku sama sekali.

Imigran Jawa yang mayo-ritas adalah petani asal Jawa tersebut dikapalkan ke Suriname pada kurun 1890-1939. Mereka membawa serta bahasa dan budaya. Setelah 120 tahun berlalu, bawaan dari ”jawa” itu masih hidup di tanah sebrang. Ia memberi warna tersendiri pada kultur Karibia dan Amerika Latin.

(FRANS SARTONO)

Sumber: Kompas, Selasa, 19 Oktober 2010

No comments: