Sunday, October 31, 2010

Konsumerisme Dalam Penunjuk Jalan

-- Jejen Jaelani

JIKA kita pergi ke jalan raya, kita mungkin terbiasa melihat papan penunjuk jalan. Papan penunjuk jalan merupakan alat yang digunakan untuk mempermudah pengguna jalan dalam menempuh perjalanan. Ketika kita akan mencapai suatu tujuan, acap kali kita melihat penunjuk jalan sebagai panduan. Hal itu untuk mempermudah kita mencapai tujuan tersebut, tentu saja dengan tanpa harus repot-repot membuka peta.

Di papan penunjuk jalan, lazimnya kita menemukan nama-nama daerah seperti: Dago, Dipatiukur, Alun-alun, pusat kota, Cicaheum, Ciumbuleuit, Cicadas, Antapani, Kopo, Leuwipanjang, Cidurian, Ujungberung, Margahayu, Ciwastra, Kiara Condong, Cihampelas, Ledeng, Geger Kalong, dan lain-lain.

Akan tetapi, selain penunjuk jalan yang berisi nama-nama daerah tersebut, acapkali kita juga menemukan penunjuk jalan yang berupa nama mal, restoran, factory outlet, toko-toko, hotel, apartemen, bank, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Tentu saja penunjuk jalan semacam ini dibuat untuk mempermudah pengguna jalan dalam menjangkau tujuan mereka, yang mungkin kebetulan tempat-tempat komersial tersebut, atau hanya berdekatan dengan tempat tersebut, atau mungkin hanya satu arah dengan tempat tersebut. Namun, jika ditelaah dengan saksama, sesungguhnya penggunaan penunjuk jalan ini adalah bentuk dominasi wacana ideologi.

Dalam masyarakat modern, salah satu bentuk penguasaan suatu masyarakat sesungguhnya dilancarkan melalui penguasaan wacana dalam masyarakat tersebut. Siapa pun yang memenangkan wacana dalam masyarakat tersebut, niscaya dialah pemenang yang akan berkuasa dalam masyarakat itu, baik berkuasa dalam arti fisik maupun simbolik.

Penguasaan wacana dalam ranah linguistik semacam penunjuk jalan adalah penguasaan simbolik suatu golongan terhadap masyarakat. Kuasa simbolik dalam penunjuk jalan dengan nama-nama tempat-tempat komersial sesungguhnya dilakukan dengan mekanisme yang sangat halus. Ia menjadi semacam "kejahatan" terselubung yang tidak disadari masyarakat.

"Kejahatan" semacam ini sejalan dengan apa yang disebut Bourdieu sebagai kekerasan simbolik (symbolic violence). Bourdieu menyatakan bahwa ada bentuk yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam bahasa. Kekerasan simbolik adalah kekerasan dalam bentuknya yang sangat halus, kekerasan yang dikenakan pada agen-agen sosial tanpa mengundang resistensi, sebaliknya, malah mengundang konformitas sebab sudah mendapat legitimasi sosial karena bentuknya yang sangat halus (Harker, et.al., 2009: xxi).

Fairclough (2003) menyatakan bahwa peristiwa (bahasa) bukan sesuatu yang sederhana atau efek langsung dari struktur sosial yang abstrak. Ada relasi yang termediasi-ada satuan jarak (intermediate) terorganisasi antara struktur dan peristiwa. Pembuatan penunjuk jalan tempat-tempat komersial sesungguhnya bukan hal yang begitu saja terjadi. Ia memiliki hubungan yang signifikan dengan berbagai kuasa yang kapitalis yang telah merasuki masyarakat. Kuasa kapitalis ini telah mendominasi dengan caranya yang sangat halus dan tersamar sehingga mayarakat tidak menyadari hal ini.

Sebagaimana dikatakan Piliang (2005: 202) bahwa dalam proses dominasi tersebut, sebetulnya terjadi sebuah bentuk pemaksaan simbolik yang sangat halus. Akan tetapi orang yang didominasi tidak menyadari adanya pemaksaan atau menerima pemaksaan tersebut sebagai suatu common sense.

Kuasa simbolik melalui penunjuk jalan tempat-tempat komersial ini dibentuk dalam sebuah wacana yang dikatakan John B. Thompson sebagai "wacana penipuan". Dalam hal ini ideologi mengambil alih fungsi tanda dari sesuatu yang baru dan konflik serta membentuknya dalam "wacana penipuan" (Thompson, 2007: 48).

Munculnya berbagai penunjuk jalan ini tentu saja tidak serta merta. Penunjuk jalan semacam ini bermunculan seiring dengan pembangunan kota yang terus-menerus dilakukan. Hal ini mengimplikasikan visi pembangunan kota yang diusung pemerintah. Semakin banyak bermunculannya penunjuk-penunjuk jalan tempat-tempat komersial menunjukkan bahwa pembangunan kota yang selama ini berjalan--dan akan terus berjalan--mengarah pada pembangunan fasilitas-fasilitas komersial. Hal ini mengimplikasikan betapa pembangunan kota tempat kita tinggal disetir oleh kekuatan-kekuatan kapitalis.

Kuasa simbolik melalui penunjuk jalan menjelma sedemikian rupa sehingga ia seakan-akan hal yang sangat wajar dalam kehidupan masyarakat. Ia muncul sebagai bagian tak terpisahkan dalam keseharian masyarakat. Ia dilihat di mana-mana. Tanpa disadari merasuk ke dalam pikiran masyarakat hingga akhirnya merasuk ke alam bawah sadar masyarakat.

Pada akhirnya, masyarakat menganggap tempat-tempat komersial tersebut sebagai hal yang sangat biasa bahkan tanpa mereka sadari, menjadikan tempat-tempat komersial tersebut sebagai bagian dari hidupnya. Masyarakat menikmati kehadirannya sebagai pengguna dan pengunjung tempat-tempat tersebut. Pembiasaan ini selanjutnya menghadirkan pola hidup konsumtif.

Penunjuk-penunjuk jalan ini pada akhirnya menunjukkan bahwa kekerasan telah merasuk ke dalam tubuh dan pikiran masyarakat. Penunjuk-penunjuk jalan ini menunjukkan betapa teperdayanya kita oleh konsumerisme!***

Jejen Jaelani, mahasiswa S-2 Linguistik Umum, Ilmu-ilmu Sastra Universitas Padjadjaran, dosen luar biasa di Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Kemanusiaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 31 Oktober 2010

No comments: