Sunday, October 17, 2010

Kritik Sastra Seolah-olah...

-- Ahmad Syubbanuddin Alwy

TULISAN ini-jika boleh disebut esai-mohon maaf, dimulai dengan membalikkan judul esai Maman S. Mahayana yang dimuat harian ini, Seolah-olah Kritik Sastra (3/10). Esai Mahayana yang gagah itu, merupakan tanggapan terhadap esai Binhad Nurrohmat sebelumnya, Kritik dan "Hama Sastra" (19/9), hampir menggambarkan heroisme seorang dosen dari sebuah ruang kuliah. Bagaimana kritik sastra diuraikan kembali dalam beberapa deskripsi kajian karya sastra. Dari fenomena definisi kritik sastra, fungsi kritik dan muara kritik sastra yang meliputi teori sastra (literary theory), sejarah sastra (literary history) serta kritik sastra (literary criticism) sebagai suatu analisis (pendekatan dan pengembangan) karya-karya sastra.

Akan tetapi, "studium general" semacam itu, sudah pernah saya baca dari buku René Wellek dan Austin Warren dalam Theory of Literature (Harcourt Brace Javanovich, Publisher: San Diego, New York, London, 1970) terutama pada bab Literary Theory, Criticism, and History (h. 38-45). Oleh karena itulah, terus-terang saya tidak berminat untuk ikut membahas masalah tersebut. Termasuk membincang: apakah tulisan dalam rubrik media-massa-khususnya koran-yang terdiri atas 3-5 kwarto sekarang ini, bisa kita kategorikan sebagai kritik sastra? Apakah mungkin dengan lembar halaman yang sangat terbatas, seseorang bisa menulis kritik sastra komprehensif sebagaimana dipersepsikan Mahayana? Apakah yang sebenarnya dipersoalkan Mahayana dari esai Binhad Nurrohmat-begitu pun tanggapan tulisan sejenis berikutnya, bukan perbincangan seputar esai?

Dari sanalah, bismillahirrahmanirrahim, saya memasuki tulisan ini. Pertama-tama, saya ingin mengutip esai Prof. Arief Budiman, Esai tentang Esai (Horison, Juli 1966, Sejumlah Masalah Sastra, 1981, dan dimuat kembali dalam Kebebasan, Negara, Pembangunan, 2006:233-236) bahwa "pada suatu esai, yang terutama bukanlah pokok persoalannya, tapi cara pengarang mengemukakan persoalan. Dengan kata lain, apa yang utama dalam sebuah esai adalah bayangan kepribadian pengarang yang menarik dan simpatik." Budiman-mengutip buku The Art of Essayist Arthur Christopher Benson-katanya, "dalam menulis sebuah esai tak perlu ada motivasi-motivasi filosofis, intelektual, religius, atau humoristis. Seorang esais (akan) menulis sesuai dengan apa yang hidup dalam dirinya, perasaan, dan pikirannya."

Hal senada juga, diulas dengan apik Ignas Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004:457-458) bahwa, "sebuah esai adalah tulisan yang tidak lahir dari rencana penulisan yang ketat, seperti halnya seseorang yang hendak menulis laporan penelitian... Esai lahir karena keinginan berkata-kata, semacam obrolan dalam bentuk tulisan... Sebuah esai, karena itu, menjadi prosa yang dibaca karena memikat dan mencekam perhatian... karena ada bayangan pribadi penulis yang berkelebat atau mengendap di sana." Dengan begitu, baik Arief atau Kleden, sama-sama mengafirmasi adanya kecenderungan esai yang mempertaruhkan dan mempertautkan otoritas penulisnya menjadi lema pembahasan juga.

Jelas sekali apa yang dikemukakan Binhad adalah esai yang bertolak dari gelinjang yang berlangsung dalam biduk perasaan dan pikirannya. Tepatnya, esai yang impresif. Dia tidak berusaha menelusuri detail yang diuraikan Damhuri Muhammad dalam Darah-Daging Sastra Indonesia (2010). Petikan kalimat buku Damhuri itu, diikhtiarkan menjadi angle untuk kemudian memulai percakapan kritik sastra. Layaknya esai-seperti straight-news yang sangat sepintas-memang tidak perlu berkembang menjadi artikel dalam jurnal, atau depth-news yang disusun dari berbagai sisi peristiwa atau referensi dari hasil investigasi. Binhad tampaknya menyadari benar, esai koran tidak identik dengan makalah yang ditulis untuk satu seminar.

**

Kedua, tulisan ini, juga tidak memiliki tendensi untuk mendudukkan percakapan keduanya-seperti ditengarai Mahayana, ke jalan yang benar. Saya lebih tertarik untuk menyoal kembali, adakah kritik sastra bisa ditulis dengan stilistika penulisan esai? Adakah kritik sastra yang dipresentasikan dengan stilistika penulisan esai, akan memenuhi standar kedalaman pembahasan? Adakah kritik sastra dengan kerangka penulisan esai tidak menyebabkan simplifikasi terhadap kritik sastra itu sendiri, berkembang dalam kajian yang serbaringkas sekaligus terbatas?

Pertanyaan-pertanyaan itu, tentu saja bisa dijawab melalui paradigma yang mendesak kita untuk mendiskusikan kembali kritik sastra, apa perbedaan maupun persamaannya dengan resensi buku, misalnya. Sehingga kita tidak terjebak dalam perdebatan yang berputar-putar ke arah "emosi intelektualisme". Sedemikian rupa setiap inci perbincangan tersebut, selalu berkembang dengan argumentasi dan posisi berlawanan di antara separuh bayang-bayang relativitas, objektivitas, dan subjektivitas untuk menentukan siapa yang paling bernas secara ilmiah. Kritik sastra, meski benar-seperti diungkapkan Mahayana-merupakan disiplin ilmu, dan oleh karena itu, berbagai konsep maupun istilah yang lahir melewati suatu proses panjang pergulatan pemikiran. Akan tetapi, yang perlu dicatat, semuanya tidak hanya berlangsung dalam sekat-sekat formal ruang akademis. Ia bergerak dari wahana ruang mana pun dan, berhenti ke titik perbincangan apa pun yang memungkinkan karya sastra bertemu dengan intensitas gagasan-gagasan lain.

Siapa pun pada batas-batas tertentu, akhirnya memahami kritik sastra sebagai "medan pertemuan" yang membawa konsekuensi diskursif dalam kajian teks, konteks, ataupun relasi intertekstualitas yang mengukuhkan sejumlah gagasan di sana-sini. Tema, estetika, metafora, performa, diksi, distingsi, hingga ideologi: sebentuk totalitas dalam perpaduan yang mengekspresikan instrumen makna karya sastra dihadirkan. Saya kira, inilah mungkin yang ingin dinyatakan Binhad sebagai perspektif. Goenawan Mohamad dalam Eksotopi: tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas (2002: 176) menguraikan realisme sastra dari abad terakhir Sebelum Masehi sampai Georg Lucás yang Marxis menjelang pertengahan abad ke-20 bahwa, teks sastra adalah sebuah kesatuan dan memunyai makna yang tetap. Realisme bagi Lucás-dengan mazhab Alexandria yang meneruskan tradisi estetika Aristoteles-bukan sekadar mimesis, tetapi sekaligus juga sesuatu yang memiliki "perspektif". Dengan "perspektif" ini, ada seleksi yang menyusun dalam suatu "hierarki", detail deskripsi mana yang berarti dan tidak.

Perspektif dalam konstruksi karya sastra relasinya dengan kritik sastra bagi Binhad seperti dilukiskannya pada paragraf empat ujung esainya bahwa, "kritik sastra yang baik adalah laku komunikasi yang memperkaya pemahaman dan pemaknaan karya sastra, bukan memiskinkannnya. Pujian kritikus bukan jaminan memperkaya pemahaman dan pemaknaan karya sastra. Sebaliknya, hujatan kritikus sastra tak selalu memelaratkan pemahaman dan pemaknaan karya sastra. Produk kritik sastra yang baik adalah pantulan karya sastra itu sendiri melalui cermin perspektif kritik sastra tertentu."

Deskripsi Binhad tentang perspektif yang tercermin dalam karya sastra, agaknya ditafsirkan berbeda dengan apa yang kemudian ditangkap Mahayana menjadi pemahaman sistem penilaian dalam karya sastra. Asumsi saya, perspektif yang hendak dinyatakan Binhad bertolak dari kosakata yang tumbuh dari makna leksikal untuk dinisbahkan dalam instrumen resepsi teks-teks karya sastra. Binhad mengadopsi kata perspektif seperti dilukiskan A.S. Hornby dalam Oxford Advanced Learner`s Dictionary (Oxford University Press, 2007:1128), the ability to think about problems and decisions in a reasonable way without exaggerating their importance.

Kembali ke perbincangan mengenai esai kritik sastra yang dimuat dalam halaman koran, saya tidak yakin akan memenuhi standar kualitas seperti diharapkan para akademisi. Kita tahu, banyak hal yang menyebabkan kritik sastra terkesan serba sepintas. Salah satu argumen klisenya, karena kritik sastra dengan riset yang luas semestinya tumbuh serta berkembang dalam fakultas-fakultas sastra perguruan tinggi. ***

Ahmad Syubbanuddin Alwy, penyair

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 17 Oktober 2010

No comments: