Sunday, October 10, 2010

[Kehidupan] "At The Beginning, Ora Kerasan..."

PEMBAURAN warga keturunan Jawa diakui sebagai proses yang tidak mudah. Menteri Dalam Negeri Suriname Soewarto Moestadja, keturunan Jawa generasi kedua yang lahir di Suriname, mengisahkan bagaimana kakeknya harus melawan rasa keterasingan sebagai manusia di negeri asing yang kangen tanah leluhur.

”At the beginning, ora kerasan. Ora seneng, Pada mulanya (mereka) tidak kerasan, tidak senang,” kata Moestadja dalam bahasa gado-gado Inggris dan Jawa. Dia menerima kunjungan delegasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Kantor Kementerian Dalam Negeri Suriname di Paramaribo.

Moestadja menuturkan, kakeknya berpikiran, daripada menjadi budak di Suriname, mereka lebih baik mati kelaparan di Jawa.

”Mbiyen, pikirane awake dhewe neng kene mung nunut, ora duwe rasa nduweni (dulu pikiran mereka di sini— Suriname—hanya menumpang, tidak punya rasa memiliki,” tutur Moestadja yang kakeknya berasal dari Kalirancang, Alian, Kebumen, Jawa Tengah.

Generasi baru Suriname yang telah berpendidikan telah berubah sikap dan pandangan tentang wajah Suriname sebagai bangsa, termasuk generasi Moestadja. ”Namun, kami bertahan hidup untuk menjadikan Suriname sebagai tanah air baru,” kata Moestadja yang adalah juga seorang antropolog.

Hampir seluruh generasi baru Suriname berpandangan seperti itu. Kim Sontosoemarto (50) yang kini menjadi ketua VHJI menuturkan, perkumpulannya nguri-uri, memelihara unsur kebudayaan dari Jawa, seperti tari, musik, dan kuliner, sebagai bagian dari kebudayaan Suriname. VHJI sebagai perkumpulan berbasis komunitas keturunan Jawa mencanangkan program Van imigratie tot integratie—dari imigrasi ke integrasi.

”Tanpa kebudayaan dari Jawa, tidak akan ada kebudayaan Suriname. Begitu juga, tanpa kebudayaan Hindustan, Kreol, dan lainnya tak akan ada budaya Suriname,” kata Kim yang leluhurnya berasal dari Solo.

”Kami dari muda tumbuh bersama, sekolah bersama, hidup bersama dengan saudara dari berbagai etnis. Kami tidak terpisah-pisahkan lagi. Sekarang ini kami hampir terlebur,” kata Kim yang ditemui Kompas di belakang panggung Sana Budaya, Paramaribo, tempat digelar pekan IndoFair.

”Dan, kami, setiap etnis di Suriname, tak merasa sebagai minoritas.” (XAR)

Sumber: Kompas, Minggu, 10 Oktober 2010

No comments: