Wednesday, July 29, 2009

[Sosok] Fauzi, Berpantun Lewat Ronggeng Melayu

-- Andy Riza Hidayat

IA bukan satu-satunya pemantun Melayu, tetapi dialah generasi akhir pemantun. Ketika banyak kelompok seni ronggeng Melayu menghilangkan pantun, Datuk Ahmad Fauzi justru terus mempertahankannya.

Datuk Ahmad Fauzi (KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT)

Tradisi seni pantun sudah berkembang di tanah Melayu berbilang abad. Belakangan orang Melayu krisis penerus. Padahal tradisi berpantun masih berkembang di acara adat di perkampungan sampai pemerintahan. Jadi segelintir pemantun yang tersisa kebanjiran permintaan.

Saking jarangnya generasi penerus, pemantun bisa main dari satu grup ronggeng ke grup lain. Tak terkecuali Fauzi, pemantun sekaligus pemain ronggeng Melayu. Ia bermain dengan siapa saja, dari lorong kampung sampai ke luar negeri.

Dia berpantun empat-delapan kali seminggu. Dia tampil dalam merisik (bertanya kepada mempelai lelaki ataupun perempuan dalam pernikahan tradisi Melayu), meminang, dan prosesi acara menyambut pengantin.

Di sejumlah kampung Melayu di Medan, Sumatera Utara, keberadaan telangkai (penghubung kedua pihak) pada pernikahan masih dibutuhkan. Sayang, keinginan masyarakat mempertahankan tradisi berpantun tidak sebanding dengan upaya mencetak pemantun baru.

”Tak banyak orang mengenal seni pantun. Saya khawatir, mereka malah tak kenal seni ronggeng. Saya ingin pantun tetap dikenal,” katanya.

Tanda krisis generasi pemantun sudah terjadi sejak 1980-an. Saat itu salah satu kelompok musik orkes Melayu, Al Wathan, yang dipimpin orangtua Fauzi, Datuk Abdurrahman, bubar. Kelompok musik orkes Melayu yang didirikan pada 1960-an itu sebelumnya menjadi langganan keluarga Kesultanan Deli di Medan.

Keluarganya masih mempunyai satu kelompok seni ronggeng, Ronggeng Melayu Cempaka Deli. Fauzi tak ingin kelompok ini bubar. Kelompok seni ini bertahan sampai kini, bersama empat kelompok seni ronggeng lain di Medan. Merekalah sisa seni ronggeng yang bertahan, setelah belasan lain bubar pada 1980-an.

Dari empat kelompok ronggeng itu, sebagian sudah menghilangkan seni berpantun sebagaimana lazimnya ronggeng. Pantun menjadi bagian awal atau akhir pertunjukan ronggeng Melayu.

Negara tetangga

Upaya Fauzi mempertahankan pantun Melayu tak berhenti di berbagai kampung di Medan. Ia kerap menghadiri pergelaran seni di negara tetangga, seperti akhir Mei lalu. Malam itu ia menyiapkan lawatan ke Malaysia, di sebuah hotel kecil di Jalan Sipiso-piso, Medan. Ia membawa bekal seadanya, yang diangkut becak motor (betor) dari rumahnya di kawasan Marelan.

”Besok kami mau main di Malaysia,” ujarnya.

Malam itu semua anggota seni Ronggeng Melayu Cempaka Deli bersiap tampil di ”The Festival of Melayu Serumpun Wedding Ceremony”. Di sini Fauzi menampilkan seni ronggeng lengkap dengan acara berbalas pantun. Sepekan kemudian ia mengabarkan dapat penghargaan sebagai peserta terbaik.

Misi budayanya berhasil, sesuatu yang sering dia dapatkan sejak tampil di acara serupa mulai 1993. Ia tampil di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura.

Fauzi punya tip memenangi lomba berbalas pantun. ”Kuncinya satu, lihat isinya, jangan terkecoh pada sampiran. Pemantun biasanya memakai perumpamaan. Sampiran dalam pantun itu ibarat jebakan agar lawan tak bisa membalas.”

Seorang pemantun tak cukup bermodalkan kelihaian membaca isi bait-bait pantun. Dia harus mampu menyusun pantun secepat mungkin. Kemampuan ini bisa dilakukan setelah menguasai banyak perbendaharaan kata, lihai menyusun perumpamaan, dan mendalami seni budaya Melayu.

Untuk menghadiri perhelatan seni ronggeng di luar negeri, Fauzi tak selalu punya dana cukup. Bantuan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kota Medan tak bisa dipakai sebagai sandaran.

Bagaimanapun, jika ada undangan ke luar negeri, sebisa mungkin Fauzi berusaha tampil. Momen seperti ini, tambahnya, sayang dilewatkan hanya karena masalah dana. Dia bahagia karena mampu membawa misi budaya Nusantara.

Sejarah dan falsafah

Pantun merupakan seni tutur Nusantara. Seni ini berkembang di banyak kebudayaan di Indonesia. Setiap kebudayaan mempunyai sejarah perkembangan dan falsafahnya. Pantun Melayu awalnya berkembang di kalangan bangsawan. Penulis buku Pantun dan Petuah Melayu, Tengku Luckman Sinar, mengatakan, seni ini awalnya dipakai para pembesar kesultanan.

Perkembangan di lingkungan darah biru berlangsung pada abad ke-16 sampai abad ke-19. Pascaruntuhnya belasan kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera Utara pada 1946, pantun mulai masuk perkampungan. Semua orang bebas berpantun dalam kelompok seni yang mereka bentuk.

Seni pantun tak lepas dari pesan moral, kritik sosial, dan penghiburan. Luckman Sinar membagi pantun dalam 11 jenis, di antaranya pantun jenaka, percintaan, kias, adat, agama, nasihat, sampai teka-teki.

Adapun seni berbalas pantun awalnya hanya dilakukan pada pertunjukan ronggeng Melayu. Setiap permainan ronggeng diselingi berbalas pantun. Lantaran terbatasnya pemantun, kini ronggeng Melayu kerap tampil tanpa pantun. Krisis penerus pantun terjadi karena minimnya minat pemuda menyelami seni ini.

Pada tahun 2000-an kesadaran meneruskan seni pantun mulai muncul. Sejumlah lembaga nonpemerintah, seperti Majelis Adat Budaya Melayu Nusantara Indonesia, menggelar lomba berbalas pantun. Kegiatan serupa juga digelar lembaga lain. Dari acara ini muncul pemantun muda, seperti Sofyan, Aslim, serta Kori dari Medan dan sekitarnya.

Mereka belum terhimpun dalam wadah tempat bertukar pikiran dan mengasah kemampuan. ”Gejala munculnya pemantun muda itu hal positif. Kegairahan mereka perlu diapresiasi. Saya berharap ada wadah pembinaan buat pemantun. Kalaupun tak ada, kami berusaha bertemu dan berlatih bersama,” katanya.

Fauzi kerap mengajak pemantun muda, berusia kurang dari 30 tahun, tampil agar mempunyai pengalaman. Berkelana dalam dunia pantun, baginya, sungguh memuaskan jiwa. Sebagai anak Melayu, ia terpanggil melanjutkan tradisi berpantun.

Pada akhir perbincangan Fauzi berpantun setelah memejamkan mata beberapa detik. Layar terkatup kemudi dikepit//Darat dituju jauh berlabuh//Biar tertangkup bumi dan langit//Pantun Melayu teguh diasuh.

DATA DIRI
• Nama: Datuk Ahmad Fauzi (49) • Istri: Sugesti (44) • Anak: - Faiza Ahmad (19) - Mawaddah Isna (17) - Abdullah Halim Hafis (16) - Fauzan Azima (10) - Naseha Al Sakina (9) • Pekerjaan: - Dosen luar biasa Universitas Sumatera Utara, Jurusan Etnomusikologi - Memimpin kelompok seni Ronggeng Melayu Cempaka Deli • Pencapaian: - Juara III Lomba Berbalas Pantun se-Sumut, 1984 - Juara II Pantun Tingkat Nasional, 2007 - Juara II Lomba Pantun RRI, 2008 - Juara I Lomba Pantun Kelompok se-Sumut, 2008

Sumber: Kompas, Rabu, 29 Juli 2009

No comments: