Sunday, July 26, 2009

Dodong Djiwapradja (1928-2009), Satu Kenangan

-- Ajip Rosidi*

PERTAMA kali kenal dengan nama Dodong Djiwapradja ketika membaca sajak-sajaknya dalam Gema Tanahair Bungarampai Prosa dan Puisi Indonesia 1942-1948 yang disusun oleh H.B. Jassin (terbit pertama kali 1948). Kemudian kadang-kadang saya baca sajaknya yang dimuat dalam majalah-majalah sastra yang terbit pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Zenith, dan lain-lain. Dari riwayat hidupnya yang dimuat dalam Gema Tanahair, saya tahu bahwa dia dilahirkan di Garut. Jadi orang Sunda.

Tetapi, saya bertemu pertama kali dengan orangnya bukan karena urusan sastra dan bukan pula karena sama-sama orang Sunda. Saya berkunjung ke rumahnya untuk mencari A. Wakidjan, pelukis asal Jawa yang banyak membuat ilustrator dalam majalah Kisah yang juga sering memuat cerita pendek saya. Pertama kali berkenalan dengan Wakidjan juga di Kantor Redaksi majalah Kisah di Jalan Paseban, Jakarta, ketika mengambil honorarium cerita pendek saya yang baru dimuat.

Wakidjan membawa saya berkenalan dengan pelukis-pelukis lain seperti Nashar, Syahri, Zaini, Sutiksna, dan lain-lain yang kalau hari Ahad melukis bersama di ruang depan bangunan Jalan Garuda 66 yang disewa oleh Taman Siswa untuk tempat tinggal para pamongnya yang kebanyakan masih bujangan. Wakidjan waktu itu tinggal di rumah Dodong di kompleks perumahan tentara di Jalan Siliwangi.

Tidak hanya Wakidjan yang sering menginap di rumah Dodong yang masih bujangan itu. Banyak lagi seniman muda lain yang suka menginap di sana seperti Toto S. Bachtiar, Harijadi S. Hartowardojo, dan Alex Wetik. Di samping itu, ada beberapa mahasiswa Sunda yang juga sering menginap di sana seperti Ismail Wiradinata, Sadeli Winantadiredja, dan Olla S. Sumarnaputra. Yang tinggal di rumah yang hanya mempunyai satu kamar itu resminya hanya dua orang, ialah Dodong dan Eddy Abdurrachman. Yang lain hanya menginap atau lebih tepat ngobrol di situ sampai pagi, sebab mereka baru tidur keesokan harinya ketika kedua penghuni resmi sudah berangkat ke kantor. Rumah Dodong menjadi salah satu tempat pertemuan para seniman Jakarta pada waktu itu.

Ketika saya bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka (1955-1956), setiap pagi saya mampir ke rumahnya karena dari depan bioskop Rivoli (saya tinggal di Kramatpulo) saya naik oplet turun di Jalan Gunung Sahari tepat di seberang kali kecil di depan rumah Dodong. Juga waktu pulang, saya sering mampir lagi ke situ. Di rumah itu selalu ada orang yang sedang mengobrol. Di situlah saya sering bertemu dengan Boejoeng Saleh Poeradisastra, Bahrum Rangkuti, Rivai Apin, Asrul Sani, dan lain-lain di samping mereka yang suka menginap di situ. Pembicaraan tentang sastra, seni, agama, politik, dan lain-lain menjadi bahan percakapan. Tidak selalu yang hadir sependapat tentang berbagai soal, sehingga sering terjadi perdebatan yang seru, kadang-kadang panas. Namun demikian, tidak sampai memutuskan silaturahmi. Pendirian boleh berbeda, bahkan bertentangan namun persahabatan tetap dijaga.

Menurut catatan, Dodong dilahirkan di Banyuresmi, Garut pada 25 September 1928. Tetapi, ia sendiri pernah memberi tahu saya bahwa titimangsa kelahiran itu hanya dikira-kira karena orang tuanya tidak membuat catatan resmi. Hal yang umum pada waktu itu. Kalau titimangsa itu benar atau mendekati kebenaran, maka ketika meninggal pada 23 Juli 2009, usia Dodong jalan 81 tahun.

Setelah menamatkan sekolah dasar (saya kira dia tidak bisa masuk HIS), pada zaman Jepang dia belajar di SMP Garut. Guru bahasa Indonesianya adalah Mh. Rustandi Kartakusuma. Pada masa revolusi, Dodong mulai menulis sajak, di antaranya dimuat dalam majalah Gelombang Zaman yang dipimpin Achdiat K. Mihardja. Setelah Agresi I (Juli 1947), Dodong pernah berada di Solo melanjutkan sekolah. Tetapi kemudian pindah ke Purwakarta, tinggal bersama kawannya, Eddy Abdurrachman, di rumah orangtuanya. Eddy adalah adik H.I. Martalogawa (Adang) yang waktu itu menjadi perwira TNI di bawah Mayor Kawilarang. Daerah operasinya di wilayah Sukabumi, tetapi sering pulang ke rumah orangtuanya di Purwakarta. Entah bagaimana, dia bersahabat dengan tentara Belanda bernama H.J.C. Princen yang kemudian dapat dibujuknya sehingga menyeberang menjadi tentara Republik Indonesia.

Princen juga sering berkunjung ke Purwakarta dan berkenalan dengan Dodong. Ternyata Princen menyukai sastra dan bersahabat dengan Chairil Anwar di Jakarta. Ketika dia melihat bahwa Dodong suka menulis sajak, sejumlah sajaknya dia bawa ke Jakarta dan diserahkan kepada Chairil yang waktu itu menjadi redaktur majalah Gema Suasana. Sajak yang berjudul "Cita-cita" dimuatkan Chairil dalam Gema Suasana. Tetapi namanya tidak dicetak Dodong Djiwapradja, melainkan Dodong Wirapradja. Waktu Dodong protes, Chairil enteng saja menjawab, "Kan sama saja!"

Di samping itu, Dodong juga memuatkan sajak-sajaknya dalam majalah Mimbar Indonesia yang dipimpin H.B. Jassin dan dalam ruangan "Gelanggang" yang dipimpin oleh Chairil, Asrul Sani, dan Rivai Apin sebagai lampiran warta sepekan Siasat.

Bersama-sama dengan Eddy Abdurrachman, Dodong melakukan gerakan bawah tanah melawan Belanda sehingga mereka tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Kebon Waru di Bandung. Mereka baru dibebaskan setelah gencatan senjata menjelang KMB.

Setelah bebas dari tahanan Belanda, Dodong pergi ke Jakarta. Mula-mula dia bekerja pada penerbit Pustaka Rakjat kepunyaan St. Takdir Alisjahbana. Tetapi dia "dibajak" oleh Mayor Salatun dari AURI yang sering datang ke situ karena ada buku karangannya yang diterbitkan oleh Pustaka Rakjat. Dodong ditempatkan sebagai redaktur majalah Angkasa dengan pangkat letnan. Kemudian dia mendapat kesempatan kuliah di AHM (Akademi Hukum Militer). Dodong juga mengajar bahasa Prancis sebagai guru tidak tetap di SMA IPI di jalan Budi Utomo, Jakarta. Kemudian juga pernah menjadi dosen luar biasa Fakulas Sastra UI (1962-1964).

BPB Kiwari

Pada tahun 1957, Rukasah S.W. yang menjadi redaktur majalah bulanan bahasa Sunda Kiwari mempunyai prakarsa untuk membentuk BPB Kiwari. BPB adalah singkatan dari Beungkeutan Pangulik Budaya, yaitu terjemahan dari "studie club". Yang terpilih menjadi Ketua adalah Achdiat K. Mihardja, sedangkan sekretarisnya Rukasah sendiri. Yang menjadi anggota hanya orang Sunda, yaitu mereka yang aktif dalam bidang kesenian dan kebudayaan secara luas. Kegiatannya mengadakan pertemuan setiap bulan yang tempatnya berpindah-pindah di tempat anggota yang punya rumah luas. Waktu BPB Kiwari menganggap perlu merumuskan sikap budayanya, Dodong, Rukasah, dan saya mendapat tugas menyusun konsep rumusan untuk dibahas dalam rapat pleno. Sebenarnya yang membuat konsep awal itu Dodong, yang setelah jadi lalu dibahas kami bertiga.

Di antara kawan-kawan pada masa itu, Dodong termasuk yang paling luas cakrawala pemikirannya. Atas prakarsanya sendiri dia mempelajari antropologi (yang waktu itu belum banyak dikenal orang karena biasanya orang masih menyebutnya sebagai etnologi). Di antara anggota BPB Kiwari yang tertarik untuk mempelajari antropologi kecuali Dodong, hanya Boejoeng Saleh dan Amir Sutaarga. Di samping itu, Dodong mempelajari estetika. Mengenai estetika, tidak ada anggota Kiwari yang lain yang mempelajarinya.

Konsep Dodong setelah dibahas dalam beberapa pertemuan BPB Kiwari, akhirnya disahkan sebagai sikap budaya BPB Kiwari. Pada prinsipnya, BPB Kiwari berpendapat, kebudayaan nasional Indonesia itu harus berdasarkan kenyataan, negara dan bangsa Indonesia itu menerima pengaruh dari dunia luar namun juga memiliki kebudayaan-kebudayaan daerah yang merupakan hasil perkembangan masing-masing daerah. Dengan demikian, pendapat BPB Kiwari berlainan dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara yang menganggap kebudayaan nasional itu sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah dan berlainan pula dengan pendapat para budayawan Angkatan 45 yang menganggap dirinya sebagai "ahli waris kebudayaan dunia" tanpa memedulikan adanya kebudayaan daerah.

Dikucilkan

Pada tahun 1960, Dodong ditugaskan oleh AURI untuk mewakili Indonesia dalam pembuatan film kerja sama dengan Yugoslavia. Film itu dibuat di Lembang, maka Dodong harus tinggal beberapa lama di Lembang sedangkan keluarganya tetap tinggal di Jakarta. Pada waktu itu, Dodong sudah menikah dan mempunyai tiga orang anak. Entah bagaimana, ketika tinggal di Lembang, Dodong kepincut oleh janda yang usianya jauh lebih tua. Dodong seperti kehilangan akal waras sehingga istrinya diceraikan. Tidak lama kemudian, istrinya meninggal, begitu juga anaknya yang ketiga yang masih kecil.

Tentu saja perbuatan demikian menjadi perkara di kalangan para anggota BPB Kiwari, terutama Ramadhan, Toto S. Bachtiar, Rukasah S.W., dan saya. Yang bersahabat bukan hanya kami saja, melainkan juga istri-istri kami. Perbuatan Dodong dianggap keterlaluan dan kami sepakat untuk mengucilkannya dari lingkungan kami.

Dodong bukan orang yang mudah bergaul, terutama dengan orang baru. Kawan-kawan yang sering datang ke rumahnya di Jalan Siliwangi kebanyakan adalah kawan-kawan Eddy, Toto, atau saya. Maka ketika kami mengucilkannya, dia boleh dikatakan tidak punya kawan bergaul.

Akan tetapi, pada waktu itulah A.S. Dharta sering mengunjunginya dan membawanya ke lingkungan pergaulan orang-orang kiri sehingga timbul anggapan bahwa Dodong anggota Lekra. Saya sendiri yakin bahwa Dodong tidak pernah menjadi anggota Lekra, walaupun pendapatnya sering di-blow-up pers kiri. Dia sendiri pasti merindukan lingkungan kawan-kawan di BPB Kiwari karena ketika dia sudah berpisah dengan janda itu dan menikah lagi dengan Nani Sumarni (istrinya yang sekarang), dia mulai mengunjungi kami. Saya ingat pada 1964 Dodong berdua dengan istri barunya berkunjung ke rumah kami di Jatiwangi dan kemudian saya sering berjumpa dengan Dodong di rumah Ramadhan yang ketika itu tinggal di Jalan Cihampelas.

Sementara itu, Dodong dipindahkan menjadi perwira hukum di Lanuma Husein Sastranegara sampai pensiun. Dia menamatkan Perguruan Tinggi Hukum Militer (PTHM) pada 1963. Sangatlah mengherankan bahwa ketika dia pensiun pangkatnya kapten. Padahal, pada 1950-an dia sudah letnan. Kawan-kawan seangkatannya di PTHM yang sering belajar bersama dengan dia seperti Ali Said, Ismail Saleh, dan Sudharmono, semuanya pensiun sebagai jenderal.***

* Ajip Rosidi, budayawan

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 26 Juli 2009

1 comment:

Udhiebee said...

Proud to be your son..farewell father..Miss U Much..




Yudi Darmawan Djiwapradja
THE NO.9th SON