Sunday, April 06, 2008

Syahwat Merdeka: Biar Aja, Gak Dipikirin...

DI mana kita hendak bertemu? Djenar Maesa Ayu memilih sebuah kafe di suatu mal di Jakarta Selatan. ”Kafe itu punya toilet di dalam, jadi tidak usah keluar-keluar. Kalau banyak minum bir saya suka terus-terusan ke toilet...,” katanya. Ia datang bersama putri pertamanya, Banyu Bening (16), yang tinggi tubuhnya sama dengan Djenar.

Djenar Maesa Ayu dan dua anaknya, Bidari (kiri) dan Banyu. (KOMPAS/ARBAIN RAMBEY)

Djenar kelihatan lebih langsing. Diet?

”Saya vegetarian,” katanya.

Sejak kapan?

”Sejak Idul Adha, karena saya lihat sapi korban ngeliatin saya.”

Sehari-hari Djenar, seperti dituturkannya sendiri, lebih banyak di rumah di depan laptop. Ketika anak-anaknya berangkat sekolah (Banyu Bening kelas 1 SMP dan anak kedua, Bidari Maharani, kelas 2 SD), biasanya dia belum bangun.

Siapa yang mengantar ke sekolah?

”Sopir,” jawab Banyu.

Di rumah itu, Djenar orangtua tunggal. Ia melukiskan betapa dekatnya hubungannya dengan anak-anaknya. Ketika anak-anak masih balita, semua dulu ia tangani sendiri. Dia tak membutuhkan pembantu atau baby sitter. Begitu dekatnya dengan anak-anak, kadang yang menjawab SMS di telepon seluler Djenar adalah Banyu Bening. ”Jadi, hati-hati kalau SMS saya,” seloroh Djenar.

Tidak berniat menikah lagi?

”Tidak,” tukasnya. ”Kan sudah pernah menikah, kenapa menikah lagi? Kan aku sudah pilih dua-duanya,” lanjutnya (maksudnya, dia pernah dalam kondisi tidak menikah, kemudian menikah. Itu yang ia maksud ”sudah memilih dua-duanya”). ”Kalau pacaran boleh...,” katanya lagi.

Pacaran? Merasa nyaman saja dengan anak-anak?

”Ya, kalau anak-anak enggak boleh, ya ngikutin. Kalau mereka boleh, ya lebih bagus lagi.”

Anda suap berapa anak-anak?

”Tanya saja sendiri,” kata Djenar sambil menunjuk Banyu Bening.

”Gak ada suap. Dia pelit...,” jawab Banyu.

”Bukan pelit, memang enggak ada duit...,” Djenar memotong anaknya. ”Makanya jangan masuk sinematografi,” lanjutnya kepada si anak.

Banyu Bening memang tampaknya juga bercita-cita menjadi pekerja seni.

Keluarga besar

Djenar berasal dari keluarga yang unik. Dia bisa muncul dengan saudaranya, yang berganti-ganti—seperti diakuinya sendiri—sampai orang kadang bingung. Ada yang berkulit gelap, agak indo, dan lain-lain. Mereka itu anak-anak dari orang tua pada pernikahan sebelum atau sesudahnya.

Sebelum menikahi aktris Tutie Kirana, dari pernikahan dengan balerina Farida Oetoyo, Sjuman Djaya telah memiliki dua putra. Tutie Kirana sendiri sebelumnya juga pernah menikah dengan aktor August Melasz. Lantas, setelah pernikahan dengan Sjuman Djaya, Tutie Kirana menikah lagi, dan punya seorang putra. Pihak orangtua tadi, yang kemudian juga punya jalan hidup sendiri-sendiri, menambah banyak yang dianggap lingkungan keluarga oleh Djenar. ”Makanya banyak orang bingung setiap kali saya muncul dengan orang yang berbeda-beda yang saya anggap kakak, adik...”

Mereka Bilang, Saya Monyet! yang merupakan debut Djenar sebagai sutradara, melibatkan sanak saudara—pihak-pihak yang ada kaitan hidup dengannya seperti dilukiskan di atas. Kata Djenar, mereka semua senang dengan filmnya. ”Saya beruntung sekali punya ibu Tutie Kirana yang sangat mendukung,” tutur dia.

Terhadap kritik pada karya-karya sastranya, yang dijuluki sebagai bagian dari ”gerakan syahwat merdeka”, Djenar berujar pendek, ”Biar aja, gak dipikirin.” Kini, katanya dia sedang menyiapkan novel berjudul Ranjang, mengadaptasi dua cerpen karya Nugroho Suksmanto yang termuat dalam kumpulan cerpen Petualangan Celana Dalam. Dia mematok target, novel itu harus selesai tahun ini, dan mungkin akan diluncurkan bersamaan kumpulan esai-esainya yang pernah dimuat di sebuah majalah. ”Judulnya belum tahu. Antara Mereka Bilang Saya Perek atau Saya Ingin Jadi Pelacur...ha-ha-ha...,” kata dia. (BRE)

Sumber: Kompas, Minggu, 6 April 2008

No comments: