Sunday, April 20, 2008

Supardi Adiwidjaya: Riwayat Eksil Sunda di Belanda

-- Yayat R. Cipasang*

SUARA Rudhy Chaidir, Atase Imigrasi KBRI Den Haag, dikenalnya dengan baik, walaupun lewat telepon. Maklumlah, hubungan Supardi dengan Rudhy seperti juga dengan kebanyakan Diplomat RI di KBRI Den Haag, terjalin baik. Khusus dengan Rudhy, Supardi cukup sering bicara lewat telepon. Mereka sama-sama senang badminton.

"Ya, saya. Pak Pardi saya tunggu di KBRI ya," ujar Rudhy.

"Wah, rasanya kabar baik, nih. Sudah ada keputusan dari Jakarta ya Pak Rudhy?" tanya Supardi ingin kepastian.

"Ya, ada kabar untuk Pak Pardi, nih. Kabar dari saya kan selalu baik. Hahaha.... Nah, sekarang ini, kabar yang sangat baik sekali. Sudah ada keputusan dari Menkum dan HAM," jawab Rudhy dengan nada riang.

Telepon singkat dari Atase Imigrasi KBRI Den Haag Rudhy Chaidir itu tak akan pernah dilupakan A. Supardi Adiwidjaya (67), eksil yang sudah 17 tahun berdomisili bersama keluarganya di negeri kincir angin. Selasa, 13 November 2007 pukul 11.00 waktu Belanda, menjadi sejarah kehidupan berikutnya bagi Supardi, yang dipastikan kembali menerima paspor RI.

"Saya tidak dapat menutupi kegembiraan mengetahui berita penting itu. Saya bergegas kayuh sepeda ke Stasiun Zaandam. Dari kota di pinggir Amsterdam itu saya langsung naik kereta api menuju Den Haag, untuk kemudian naik bus nomor 24 jurusan Kijkduin menuju KBRI Den Haag," tuturnya.

"Rasanya, seperti pada akhir Agustus 1962. Ketika itu saya menjadi mahasiswa yang masih muda belia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Moskow (sekarang ibu kota Republik Federasi Rusia-Red)," kata Supardi mengenang saat usianya genap 21 tahun.

Pada akhir ’70-an pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memugar makam Bung Karno (BK) serta mengabadikan nama BK dan Bung Hatta untuk Bandar Udara Internasional. BK juga ditetapkan sebagai salah seorang Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Sikap Soeharto tersebut dicerna Supardi cukup kondusif untuk memutuskan kembali ke Indonesia.

Supardi pun menyatroni Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow untuk mengajukan permintaan mendapatkan izin pulang ke tanah air. Berbagai dokumen yang diminta KBRI Moskow diserahkan selengkap-lengkapnya, dan dia mengisi apa yang disebut "daftar isian".

Waktu berjalan, sekitar sewindu setelah mengajukan permohonan kembali ke Indonesia lewat KBRI Moskow, tetapi tidak pernah ada jawaban konkret. Bahkan, ketika pada September 1989 Presiden Soeharto berkunjung ke Moskow, Atase Pertahanan KBRI Moskow tidak mengizinkan Supardi berada di wilayah Kedubes RI.

Rezim berubah, paspor Republik Indonesia bernomor P2xxxxx atas nama Achmad Supardi kini dalam genggamannya. Sekarang, Supardi bisa dengan lantang mengaku sebagai bangsa Indonesia. "Meskipun ada yang berpendapat paspor itu adalah bukti kewarganegaraan bukan bukti kebangsaan," kata Supardi tak ambil pusing.

Supardi tahu dengan jelas, prinsip yang dipegangnya itu memang menanggung konsekuensi. "Saat itu saya berpegang teguh karena saat berangkat sebagai Mahid (Mahasiswa Ikatan Dinas) berjanji akan tetap setia kepada Presiden Soekarno, Kepala Negara Republik Indonesia," kata Supardi.

Paspor mahasiswa yang studi di Uni Soviet, misalnya, dicabut KBRI Moskow pada 1 Agustus 1966. "Bagaimana mereka dianggap lalai melapor, sementara paspor mereka dicabut dan mereka dibiarkan terlunta-lunta dan telantar karena menjadi orang tanpa warga negara alias stateless," tutur pemegang Ph.D. dari Universitas Lomonosov ini, emosional.

**

SUPARDI mengaku, secara pribadi adalah "pengikut Bung Karno", tetapi tidak pernah mengultuskan Soekarno. "Membaca tulisan-tulisan Bung Karno, ambillah apinya, jangan abunya," sarannya. "Artinya, kita perlu tahu mengenai tulisan atau pidato Bung Karno dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat itu dengan kekinian," tambahnya.

Doktor sejarah ini mengaku mulai mengagumi Bung Karno ketika duduk di SMP Negeri III di Manggarai, Jakarta Selatan dan kemudian di SMA IV/C Jalan Batu, Gambir, Jakarta Pusat.

Tahun 1961-1962, Supardi gagal masuk Akademi Militer Nasional (AMN) lantaran psikotesnya tak lulus. Gagal masuk AMN, Supardi diterima di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia. Pada saat itu pemerintah Bung Karno sedang gencar-gencarnya berusaha untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikungkungi kolonialis Belanda.

Di Jakarta, para mahasiswa ketika itu dilatih ketentaraan dalam resimen yang disebut Resimen Mahajaya. Saat itu timbullah cita-citanya untuk berangkat ke Irian Barat jadi sukarelawan. Tekadnya bulat, membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Namun, nasib bercerita lain. Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) mengirimkan Supardi untuk belajar di luar negeri bersama (waktu itu mungkin) seribuan Mahid lainnya.

"Saya dikirim ke Uni Soviet, padahal saat mendaftar saya memilih sekolah ke Jerman Timur," kata penulis disertasi berjudul "Persatuan Kaum Progresif Indonesia-Syarat Penting (untuk) Pencapaian Demokrasi dan Kemerdekaan Penuh (1959-1965)" ini.

Saat pecah peristiwa 30 September 1965 di Jakarta, Supardi masih duduk di tingkat tiga. Pada 1967 dia sudah menyelesaikan studi master di Universitas Lumumba, Moskow.

Dari belahan dunia lain, Supardi memantau setiap kejadian di tanah air. Kesan yang ditangkap, lawan-lawan politik Bung Karno semakin berusaha sekuat tenaga untuk "menghitamkan" presiden pertama itu.

Supardi sejatinya mengutuk apa yang disebut Gerakan 30 September (G30S) 1965. Sebab, Dewan Revolusi yang dibentuk pentolan G30S--dengan pemimpinnya Letkol Untung-- itu mendemisioner kabinet Soekarno. Ini, artinya mereka melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

"Tetapi, saya juga menentang pembantaian massal terhadap orang-orang yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang G30S tanpa proses pengadilan," ujar Supardi yang pernah bekerja di Institute Oriental Studies Moskow ini.

Dalam sebuah e-mail, Supardi surprise ketika penulis mengaku sebagai Sunda pituin asal Ciamis yang punya moto "Manjing Dinamis". "Rupanya lembur Anda itu di Ciamis, ya. Istri dari uak saya (almarhum Ageung Angga Kusumah) juga tinggal di Ciamis dan mungkin juga termasuk orang Tasikmalaya," tuturnya.

Supardi juga menyebutkan, paman dari istri Ageung Angga Kusumah itu adalah almarhum Brigjen Wasita Kusuma, salah seorang pendiri Universitas Siliwangi Tasikmalaya. "Setiap saya berkunjung ke tanah air, saya selalu nginap satu dua malam di Ciamis di rumah keluarga Ageung Angga Kusumah. Dan sedih sekali menghadapi kenyataan beberapa tahun yang lalu Paman Ageung Angga Kusumah telah meninggal dunia," tuturnya.

Supardi dengan berseloroh juga mengaku sebagai Sunda asli. Ibu keturunan Bogor-Serang, sedangkan bapak yang pegawai negeri sipil (PNS) berdarah Jampang Kulon, Sukabumi. Supardi besar di Jakarta bersama bibinya lantaran sudah ditinggal ibunya saat berumur 11 tahun. Sedangkan ayahnya setahun setelah ibunya meninggal dunia, kemudian menikah lagi.

"Ari ayeuna mah, di imah téh (Belanda) sareng pun bojo alih murangkalih téh basa sapopoé basa Rusia," ujar Supardi seolah ingin menunjukkan eksistensinya sebagai urang Sunda.

**

ROBOHNYA tembok pemisah Jerman Barat dan Jerman Timur pada 1989 yang menjadi lambang kedigjayaan komunisme dunia menjadi babak lain kisah Supardi. Uni Soviet dan Eropa Timur bergolak. Mei 1990, Supardi memutuskan bersama keluarganya meninggalkan Negeri Beruang Merah itu menuju Belanda sebagai pelarian politik.

Akan tetapi, keputusan hijrah ke Belanda itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan pergolakan di negara-negara sosialis itu. Sebab, utama dari keinginan pindah ke Belanda karena setelah kurang lebih sewindu tidak ada jawaban positif dari Jakarta atas permohonannya untuk kembali ke tanah air lewat KBRI Moskow. Dan sekaitan ini Supardi berkesimpulan adalah ilusi kembali ke tanah air lewat KBRI Moskow di zaman Orba.

Namun, setelah setahun berada di negeri kincir angin, pemerintah Belanda menolak memberikan suaka kepada Supardi sekeluarga dengan alasan bahwa mereka tidak memenuhi syarat untuk diberikan perlindungan politik di Belanda. Dan mungkin juga karena dia bukan orang komunis yang dikejar-kejar oleh rezim Soeharto. Namun, berkat kegigihan dan bantuan "Stichting Vluchtelingenwerk" beserta advokat dan juga bantuan Indonesianis Rita Jongeling, Supardi dan keluarganya mendapat status A (pelarian politik) dan bisa tetap tinggal di Belanda.

Pada akhir 1993, Supardi dan keluarganya memperoleh izin tinggal tetap dari pemerintah Belanda. Untuk menopang kehidupan seorang istri dan empat anaknya, Supardi bekerja di Holland Parcel Express, sebuah perusahan kurir di Kota Zaandam, pinggiran Amsterdam.

Tetapi hanya beberapa tahun dia bekerja di perusahaan ini. Faktor umur tidak memungkinkan baginya bekerja yang sehari-harinya harus mengendarai mobil. Dia memutuskan berhenti dari perusahaan kurir. Tidak mudah mendapat pekerjaan jika seseorang sudah mencapai umur 55 plus. Dan di samping itu juga sungguh sulit mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.

Itulah sebabnya dia mendaftarkan diri ke kantor Vrijwilligerswerk (pekerjaan sukarela). Sekaitan ini, dia pernah beberapa tahun bekerja sebagai tenaga sukarelawan di sebuah yayasan yang memberikan bantuan sosial bagi anak-anak yatim, anak-anak miskin, merenovasi sekolah, dan sebagainya di Papua. Salah satunya Yayasan V.I.S (Verenigde Internationaal Samenwerken).

Di usianya yang sudah mencapai gelar S3 (sudah sepuh sekali)--demikian ia menyebut dirinya-- seharusnya Supardi tinggal ongkang-ongkang kaki, diam di rumah, atau jalan-jalan di taman sambil mengayuh sepeda kesayangan yang sekaligus menjadi alat transportasi utamanya. Apalagi, Supardi mendapatkan jaminan pensiun dari Kerajaan Belanda karena usianya sudah 65 plus.

"Mestinya sih diam saja di rumah. Tetapi, itu bukan gaya hidup saya. Saya pikir, orang hidup itu harus bergerak. Jika orang sudah enggak sanggup bergerak, ia tidak lagi hidup namanya," tutur suami dari warga negara Belanda keturunan Rusia, Tatiana, yang dinikahinya 25 Maret 1971.

Bagi Supardi, bergerak tidak sekadar olah raga jasmaniah tetapi juga harus putar otak. Oleh karena itu, sampai sekarang Supardi tetap menulis sebagai freelance journalist dengan menjadi kontributor sebuah harian di Jakarta. "Itulah sebabnya saya masih terus aktif menulis. Salah seorang paman saya Abdurrahman Gunadirdja, yang sekarang sudah berumur 82 tahun masih aktif menulis dan menjadi editor majalah Deplu, Image. Rosihan Anwar (wartawan tiga zaman-Red.) saja yang sudah sepuh masih aktif menulis," tutur Supardi.

Supardi tinggal bersama putri bungsunya Hani Supardi (14) serta sang istri di flat sederhana di Jalan Wibautstraat No. 212, Kota Zaandam. Sementara tiga anaknya yang lain sudah tinggal terpisah, masing-masing Iman Supardi (36), Agustina Supardi (26), dan Saleh Supardi (24). Dari keempat anaknya yang bisa berbahasa Indonesia adalah Agustina.

Menurut Supardi, Agustina ternyata punya bakat seni. Bakat ini yang mengantarkan putrinya itu ke sekolah khusus seni (kunst onderwijs). "Ketika Agustina berumur sekitar 10 tahun, dia belajar menari, antara lain tari tradisional Sunda di Grup Tari Sanggar Melati Ribuan Pulau atau disingkat Sanggar Melati pimpinan Ibu Yayah Fatly yang orang Karawang," kata Supardi.

Pada 2000-2001 Agustina dikirim ke Indonesia dengan maksud agar lebih dekat dengan keluarga di tanah air. Ternyata, Agustina terpilih sebagai salah seorang penari Gencar Semarak Perkasa (GSP) pimpinan Guruh Soekarnoputra.

"Tahun 2001-2002 Agustina mendapat beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia untuk memperdalam studi tari tradisional Sunda di STSI Bandung," kata bapak empat anak yang sejak di Moskow bercita-cita bekerja di Bappenas ini.

Usia boleh S3 dan sudah punya cucu dua. Akan tetapi, Supardi masih tetap menangis bila mengingat orang tua terutama sang bunda, Ibu Nanden Suhaemi yang meninggal pada usia 30 tahun. Saat itu Supardi berusia 11 tahun.

Supardi bukan hanya sedih lantaran makam sang bunda hilang ditelan bumi--lantaran tak ada yang mengurus--di Pemakaman Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur. Tetapi juga selalu teringat lagu berjudul "Bunda", terutama bait pertamanya yang selalu ditembangkannya bertahun-tahun kemudian setelah ibundanya meninggal dunia.

Pada suatu malam ku duduk, termenung seorang diri

Dilamun duka lara, terkenang Ibuku jauh dimata

Air mata berlinang membasahi pipi, tak terasa

Terbayang akan daku, waktu aku ditimang dan dimanja

Kini hamba jauh di rantau

Ini adalah kodrat Yang Kuasa

Duhai Ibunda, berikanlah hamba doa mesra murni

Agar hamba selamat, hidup di rantau orang s`lama ini....


"Dan sekitar sepuluh tahun kemudian, bait kedua lirik lagu ’Bunda’ itu benar-benar seperti diperuntukkan bagiku. Aku benar-benar jadi perantauan. Di negeri orang sampai kini...," kata Supardi lirih sambil meneteskan air mata. ***

* Yayat R. Cipasang, Penulis lepas dan pemilik blog http://yayat-cipasang.blogspot.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 20 April 2008

No comments: