Saturday, October 04, 2008

Budaya Agraris Hindia Belanda

-- Henry H. Loupias

TULISAN ini terinspirasi artikel Jakob Sumardjo yang berjudul "Keruntuhan Peradaban Air" ("PR", 31/5). Ia menulis bahwa kolonisasi Belanda tahun 1800-an telah mengarahkan peradaban air di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) beralih kepada peradaban industri modern. Selanjutnya ia menganjurkan kita agar kembali kepada peradaban air.

Tampaknya asumsi tersebut perlu dikaji secara mendalam, benarkah pada masa waktu itu Hindia Belanda sudah memiliki peradaban air? Pertanyaan selanjutnya, apakah benar kolonial Belanda telah mengarahkan pada industri modern? Pengertian industri modern di waktu itu seperti apa?

Jalur utama

Meskipun faktanya wilayah Hindia Belanda didominasi lautan, tujuan utama Vereniging Oost Compagnie (VOC) menduduki Hindia Belanda bukan karena tertarik dengan potensi lautan tersebut. Misalnya bermaksud mengeksplorasi kekayaan sumber daya lautnya.

VOC lebih tertarik dengan komoditas pertanian atau perkebunan, terutama rempah-rempah karena pada waktu itu memperdagangkan komoditas tersebut sangat menguntungkan. Komoditas tersebut diperdagangkan ke mancanegara melalui jalur laut. Armada laut merupakan satu-satunya alat transportasi antarbenua pada saat itu.

Oleh karena itu, VOC perlu pula menguasai pelabuhan-pelabuhan yang strategis. Tujuannya agar bisa mengamankan kegiatan perdagangannya. Seperti kita ketahui bahwa pada waktu itu pelabuhan laut merupakan wilayah yang paling vital. Abad XIV dan XV Banten merupakan pelabuhan kerajaan Sunda. Hubungan dagang sudah terjalin dengan saudagar-saudagar dari mancanegara. Komoditas yang diperdagangkan di antaranya lada. Tanpa memiliki akses ke laut atau pelabuhan maka sulitlah melakukan perdagangan dengan bangsa lain.

Hindia Belanda agraris

Tujuan program cultuurstelsel (1830-1870) atau tanam paksa yang diprakarsai Van den Bosch tiada lain untuk mengisi kekosongan kas pemerintah kolonial sebagai akibat Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) yang berlarut-larut tersebut. Ternyata program Van den Bosch berhasil dengan sukses mengumpulkan keuntungan yang besar bagi pemerintah kolonial. Tetapi seiring dengan perubahan politik di kabinet Belanda, pada 1870, program tanam paksa tersebut dihapuskan. Sebagai gantinya diberlakukan agrarische wet, yang mengizinkan kepada swasta menyewa lahan pertanian di Hindia Belanda hingga selama 75 tahun.

Diberlakukannya peraturan tadi sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah kolonial Belanda adalah dalam hal pertanian karena Hindia Belanda dipandang sebagai wilayah agraris yang sangat potensial. Ternyata kebijakan tersebut menarik minat kalangan swasta Belanda untuk berdatangan ke Hindia Belanda dalam upaya menanamkan modal dan mendirikan usahanya.

Salah satu usaha yang mereka minati adalah budi daya teh. Alasannya, komoditas teh--selain tanaman kopi dan kina--sangat laku di pasaran internasional. Perkebunan teh swasta pertama berdiri di Parakan Salak pada 1843 di kaki Gunung Salak di Sukabumi. Pemiliknya adalah Willem van der Hucht. Selanjutnya bermunculan perkebunan-perkebunan teh yang lain, antara lain Sinagar-Cirohani (1865), Waspada (1865), Arjasari (1869), Gambung (1873), Malabar (1890), dan masih banyak lagi. Menurut catatan Biro Pusat Statistik pada 1900-an terdapat 285 perkebunan teh di Hindia Belanda, 260 buah di pulau Jawa dan 226 di Priangan. Sebagian besar perkebunan teh berada di tanah Priangan. Dengan demikian yang berkembang secara dominan di tanah Priangan adalah budaya tani atau agraris.

Kota satelit di pegunungan


Tanaman atau perkebunan teh yang terbaik adalah yang terletak di dataran tinggi. Hal ini menyebabkan beberapa daerah terpencil tersebut berubah menjadi lahan-lahan perkebunan teh sekaligus menjadi "kota-kota satelit" sebagai pusat perdagangan.

Komoditas teh serta hasil perkebunan lainnya didistribusikan langsung dari perkebunan atau pabrik tersebut melalui jalan darat menuju pelabuhan di Batavia. Selanjutnya, dari pelabuhan diangkut ke berbagai negara tujuan dengan menggunakan kapal laut.

Sinyalemen bahwa pusat perekonomian atau bisnis di daerah-daerah atau desa-desa sudah terjadi pada awal abad ke-19 di wilayah Priangan. Bukan hanya mengundang orang-orang kota, misalnya dari Batavia atau Buitenzorg, tetapi banyak yang datang langsung dari Belanda untuk bekerja atau berusaha di bidang perkebunan. Tingkat kemakmuran kalangan petani teh lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja atau pengusaha di kota-kota besar. Tidak heran jika salah seorang pemilik perkebunan teh, yaitu A.R.W. Kerkhoven termasuk salah seorang yang pertama memiliki mobil di Jawa. Bukan dimiliki oleh orang kota, seperti yang terjadi sekarang ini.

Sumber daya air

Pada waktu itu sumber daya air atau maritim belum dieksplorasi secara optimal. Pertimbangannya, komoditas air atau sumber daya laut bukan komoditas utama dan penting. Selain itu, eksplorasi air atau maritim memerlukan teknologi tinggi dan biaya besar. Pemanfaatan sumber daya air atau maritim baru sebatas digunakan sebagai jalur transportasi.

Dengan demikian, arah kebijakan bisnis pemerintah kolonial Belanda lebih ditujukan pada komoditas agraris, seperti budi daya rempah-rempah, kopi, dan teh. Pokoknya, komoditas yang tidak dimiliki atau tidak dibudidayakan di daratan Eropa dan Amerika, sedangkan permintaan pasar dan harganya tinggi.

Dampak dari kebijakan tersebut menyebabkan teknologi air atau maritim kurang berkembang di Hindia Belanda. Kalaupun ada, penggunaan teknologi air--saya lebih suka menyebutnya teknologi daripada peradaban--di Hindia Belanda, ruang lingkupnya terbatas pembangunan irigasi untuk mengairi areal-areal pertanian dan perkebunan serta sumber daya lainnya. Misalnya dimanfaatkan sebagai pembangkit energi listrik.

Sumber daya air di wilayah Hindia Belanda tersedia cukup banyak, terutama di wilayah-wilayah pegunungan. Sehingga tidak memerlukan teknologi tinggi untuk memanfaatkan sumber daya tersebut.

Peradaban air

Berbeda halnya dengan di negeri Belanda yang sebagian daratannya di bawah permukaan laut. Saat ini luas negeri Belanda 41.528 km² termasuk di antaranya 7.655 km² berupa air. Bahkan tempat tertingginya hanya 321 meter di atas permukaan laut, yaitu di daerah Vaalseburg, Limburg. Sedangkan daerah paling rendah di Nieuwkerk yaitu 6,7 m di bawah permukaan laut. Dengan letak geografis demikian, Belanda memerlukan teknologi tinggi dan canggih untuk menguasai sumber daya air tersebut. Sebagian daratannya merupakan hasil membendung air laut dengan tanggul-tanggul (dijk) dan kanal-kanal (gracht). Belanda pun dikenal sebagai bangsa yang ahli dalam hal sistem saluran air dan pembuangan air kotor (drainage). Sehingga tidak berlebihan jika Belanda dianggap bangsa yang memiliki teknologi atau peradaban air yang paling hebat di dunia.

Namun, patut disayangkan warisan teknologi air tersebut tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Hindia Belanda karena faktor kondisi geografis yang berbeda karena wilayah Hindia Belanda adalah wilayah agraris. Sebagian besar sumbangsih kolonial Belanda dalam bidang teknologi air diterapkan pada bidang pertanian berupa pembuatan irigasi. Tujuan pembuatan irigasi tersebut untuk membagi air kepada ladang padi petani lokal. Pada 1919, sebanyak 24 irigasi penting dibangun di beberapa tempat. Pada tahun-tahun berikutnya pembangunan irigasi tersebut terus bertambah.

* Henry H. Loupias, Peminat Tradisi dan Sejarah Kolonial Belanda

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 4 September 2008

No comments: