Friday, June 18, 2010

[Pustakaloka] Buku Baru

Kenangan Norman Edwin

WARTAWAN Norman Edwin masih terlalu muda ketika ia ”harus” meninggalkan rekan-rekannya di harian Kompas. Saat itu usianya baru 37 tahun dengan masa kerja kurang dari 2 tahun. Dalam kondisi seperti itulah, maka di Kompas ia merupakan ”pemain pemula”, tetapi di bidang petualangan alam raya, bapak satu anak ini bisa disebut ”sudah kenyang pengalaman”. Malah tak ada tandingannya dibanding wartawan lain seusia dia.

Norman bercita-cita menapaki tujuh puncak dunia, empat di antaranya—antara kurun waktu 1973 dan 1992—telah ditaklukkannya. Keempat puncak itu adalah Carstenz Pyramid di Benua Australasia (1973), Kilimanjaro di Benua Afrika (1985), McKinley di Amerika Utara (1989), dan Aconcagua, tanah tertinggi Amerika Latin di Argentina (1992).

Tetapi, pendakian di Aconcagua merupakan yang terakhir. Bersama rekannya sesama Mapala UI, Didiek Samsu (30), Norman Edwin menemui ajal di gunung dengan ketinggian 5.642 meter atau puncak tertinggi di Eropa itu.

Tulisan-tulisan Norman Edwin selama berkarier di Kompas dan dua media terdahulu—tabloid Mutiara dan Suara Alam—oleh rekannya sesama Mapala UI, Rudy Badil, dikumpulkan dan dipilah-pilah menjadi enam bagian, kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam (Kepustakaan Populer Gramedia, 2010). Keseluruhan ada 64 judul diawali dari ”Ujung Pangkal Rintisan” ke ”Tujuh Puncak Dunia” dan diakhiri dengan ”Pengembara Laut di Teluk Lasolo”.

Di bagian akhir ditemukan kisah tentang evakuasi jenazah Norman dan Didiek yang memakan waktu sekitar tiga minggu terhitung sejak dari lokasi meninggal hingga persemayaman terakhir di Tanah Kusir dan Cilandak, Jakarta, pada April 1992.


”Emak”-nya Daoed Joesoef

BUKU Emak—kisah sejati yang menggugah dan patut diteladani tentang hubungan kasih sayang yang abadi antara seorang anak dan ibunya—naik cetak tiga kali.

Oleh penulisnya, Daoed Joesoef (85), diberi keterangan bahwa terdapat perubahan penampilan front cover buku. Ia pun memberi penjelasan. Sewaktu diterbitkan untuk pertama kalinya (2003) menggambarkan suatu metafora. Pada penerbitan kedua (2005) melukiskan suatu perbuatan riil. Dan di penerbitan ketiga (2010) menyatakan suatu ”crowning” terhadap perbuatan riil yang memanfaatkan emak. Baik buku pertama, kedua, maupun ketiga diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Gambar di sampul muka dibuat sendiri oleh penulisnya yang sejak kecil gemar belajar dan melukis, selain dikenal pula sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983).

Emak di Medan dan sekitarnya adalah sebutan untuk ibu. Emak dari Daoed Joesoef adalah seorang perempuan yang tak pernah mengenyam pendidikan formal nonreligius, namun amat menyadari kemuliaan panggilan alami keibuan. Bagi penulisnya, emak adalah segala-galanya, jauh melebihi bidadari.

Di penerbitan terakhir ada tambahan sebuah bab berjudul ”Emak dan Pencarian” yang kiranya melengkapi khazanah nilai dari keseluruhan cerita alami tentang manusia, untuk manusia yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik.

Dua buku Daoed Joesoef yang diterbitkan oleh penerbit yang sama antara lain Borobudur serta Dia dan Aku.

Borobudur merupakan catatan pengamatan Daoed Joesoef yang mendapat kesempatan menangani usaha penyelamatan Candi Borobudur dan keruntuhan total. Adapun Dia dan Aku menyajikan perdebatan akademis dan beragumentasi nalariah, berlandaskan realitas Indonesia, perihal kunci kemajuan bangsa. Kesemuanya pantas disimak. (POM)

Sumber: Kompas, Jumat, 18 Juni 2010

No comments: