Saturday, June 12, 2010

Piala Dunia: Capetown, Melayu Indonesia

-- Azyumardi Azra

CAPE TOWN. Kota terbesar kedua di Afrika Selatan sekaligus sebagai destinasi turis terpopuler. Cape Town juga kota parlemen Afrika Selatan. Kota ini punya posisi penting dalam Piala Dunia 2010. Sembilan pertandingan dimainkan di Stadion Green Point yang baru selesai dibangun untuk kepentingan Piala Dunia. Tak kurang pentingnya, satu pertandingan semifinal dimainkan di Stadion Green Point yang baru dibangun.

Cape Town juga mengingatkan orang pada ”Gunung Meja” (Table Mountain) dan Kastil Pengharapan (Castle of Good Hope). Kota ini memiliki komunitas keturunan Indonesia yang populer sebagai ”Cape Malays”. Kini di tengah Piala Dunia, komunitas Muslim asal Indonesia ini menjadi bagian integral dari promosi Piala Dunia 2010. Mereka terkenal dengan makanannya yang khas; seperti ditulis Nair, yang merupakan campuran rempah-rempah Timur, beranjak dari dasar kuliner Barat.

Bagi Indonesia, Cape Town lebih daripada sekadar ”Cape Malay’s food” dan juga Piala Dunia 2010. Terdapat hubungan historis, religius, dan kultural yang berlangsung berabad-abad; melintasi zaman yang berbeda, sejak dari kolonialisme Eropa sampai masa kontemporer sekarang. Ada shared history—pengalaman historis yang sama sepanjang sejarah kedua negara: Afrika Selatan dan Indonesia.

Koneksi

Bagi saya yang pernah beberapa kali ke Cape Town, kota ini lebih daripada sekadar ingar-bingar Piala Dunia 2010. Inilah kota yang disebut sebagai tempat asal Afrika Selatan modern karena semula kota ini merupakan pos dagang awal Dutch East Indies Company sejak tahun 1652. Seperti juga halnya kedatangan VOC ke Batavia, orang-orang Belanda (yang kemudian dikenal sebagai De Boers) semula datang ”hanya” untuk berdagang, tetapi selangkah demi selangkah menguasai Cape Town atau bahkan sebagian besar negeri yang kini dikenal sebagai Afrika Selatan.

Di sinilah bermula ceritanya. Belanda yang kian menguasai Nusantara sepanjang abad ke-17 dan seterusnya menjadikan Cape Town sebagai tempat ”pengasingan” atau tepatnya ”pembuangan” pejuang Indonesia yang mereka pandang sangat berbahaya bagi status quo kekuasaan kolonial. Salah satu yang terpenting adalah ulama terkenal asal Makassar, Muhammad Yusuf al-Makassari, yang lebih terkenal sebagai Syekh Yusuf (1627-1699).

Ulama yang memperoleh pendidikan di Mekkah dan Madinah—dan karena itu terlibat dalam Jaringan Ulama Indonesia-Timur Tengah—pada abad ke-17, ketika kembali ke Nusantara lebih daripada sekadar seorang sufi, tetapi juga mujahid, pemimpin jihad bersama Sultan Agung Tirtayasa (1651-1683) di Banten melawan Belanda. Setelah Sultan tertangkap, Syekh Yusuf mengambil alih kepemimpinan perlawanan; akhirnya, lewat muslihat, dia tertangkap; kemudian bersama 49 pengikut dan keluarganya dibuang ke Sri Lanka (1684) dan akhirnya ke Cape Town (1693).

Secara restrospeksi, pembuangan Syekh Yusuf ke Cape Town mendatangkan banyak hikmah. Seperti direkam dalam sejarah Islam di Afrika Selatan, Syekh Yusuf disebut sebagai ”founder of Islam in South Africa” karena dialah yang pertama kali ”mendirikan” Islam ke wilayah tersebut. Karena jasa besarnya itu, kuburan Syekh Yusuf menjadi ikon Islam yang terkenal sebagai ”Karamat Syekh Yusuf”, yang berdampingan dengan sebuah masjid, di mana saya pernah menyampaikan khotbah Jumat. Pemerintah Indonesia turut menyumbang renovasi masjid dan Karamat Syekh Yusuf tersebut.

Tak kurang pentingnya, pembuangan Syekh Yusuf dan pengikutnya yang kemudian disusul para ”pembangkang” lain terhadap Belanda pada gilirannya menghasilkan komunitas yang dikenal sebagai ”The Cape Malays”—Melayu Cape Town, yang kini lebih pas kita sebut sebagai ”warga keturunan Indonesia Cape Town”.

Kini kalau orang bicara Cape Town dan Piala Dunia, itu juga tidak terlepas dari warga Muslim asal Indonesia. Mereka dari dulu kebanyakan bermukim di wilayah Bo Kaap yang memiliki banyak tempat dan bangunan bersejarah yang terkait tidak hanya dengan Islam dan kaum Muslimin, tetapi juga dengan sejarah Afrika Selatan modern.

Pasca-apartheid

Kaum Muslimin asal Indonesia tidak atau belum terlibat dalam dunia sepak bola Afrika Selatan. Memang, secara tradisional, olahraga paling populer di negara ini adalah rugbi, yang dibawa kolonialis Inggris, yang berhasil mengalahkan warga Belanda De Boer dalam Perang Boer (1899-1902). Hingga sekarang, Afsel memiliki salah satu tim rugbi terkuat di Dunia Persemakmuran—negeri-negeri yang dulu dijajah Inggris; dan dalam masa pasca-apartheid, Presiden Nelson Mandela membawa Afrika Selatan menjadi juara World Rugby 1995.

Cape Town, seperti Afsel umumnya, belum lama mengenal sepak bola terorganisasi dan terintegrasi secara sosial. Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan berdiri tahun 1991 yang berusaha melintasi batas rasial dan warna kulit. Memang, jauh sebelumnya akhir abad ke-19 sudah mulai tumbuh federasi sepak bola berdasarkan ras: kulit hitam, kulit putih, kulit sawo matang (India), dan kulit warna-warni (ras campuran)—sebuah realitas apartheid dalam sepak bola. Akibatnya, antara 1961 dan 1992 tim sepak bola Afsel dilarang ikut bermain dalam kompetisi internasional.

Kini menurut Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan terdapat sekitar 1,5 juta pemain terdaftar di negara ini. Dan, sejak itu pula sepak bola menjadi olahraga terpopuler kedua di Afrika Selatan. Hasilnya, Afrika Selatan tampil sebagai salah satu kekuatan penting di Benua Afrika. Namun, masalah ras dan warna kulit masih menjadi isu. Sepak bola masih hampir identik dengan kulit hitam.

* Azyumardi Azra, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri, Syarif Hidayatullah, Jakarta; Penggemar Sepak Bola.

Sumber: Kompas, Sabtu, 12 Juni 2010

No comments: