Monday, July 06, 2009

ITB Anugerahi Emil Salim "Honoris Causa"

Bandung, Kompas - Isu lingkungan hidup perlu dimaknai baru, yaitu interdependensi dengan persoalan ekonomi dan sosial. Tanpa pemahaman lingkungan hidup yang lebih holistik ini, pembangunan ekonomi dan sosial justru akan mengancam keberlangsungan manusia.

Pandangan tersebut diungkapkan tokoh lingkungan hidup, Emil Salim, dalam penganugerahan gelar doktor honoris causa yang diterimanya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (4/7). Emil adalah orang kelima yang menerima gelar doktor honoris causa sepanjang berdirinya ITB. Salah satu penerima lainnya adalah proklamator RI Ir Soekarno.

Dalam pidatonya berjudul ”Teknologi dalam Pembangunan Berkelanjutan”, Emil Salim mengatakan, pembangunan tidak bisa dibiarkan tumbuh secara linear pada satu jalur saja, yaitu ekonomi, seperti lazimnya terjadi di abad-abad sebelumnya.

”Di abad ke-21, tantangan kita semakin besar dan bersifat multidimensi. Mulai persoalan perubahan iklim, masalah ancaman kepunahan keanekaragaman hayati, hingga degradasi lahan. Jika hanya mengedepankan ekonomi, pembangunan akan merobek-robek jejaring kehidupan,” ujarnya.

Ketua Tim Promotor Enri Damanhuri mengatakan, ITB memberikan gelar doktor honoris causa kepada Emil Salim karena pemikirannya tentang konsep pembangunan berkelanjutan bersama Saburo Okita dari Jepang ikut menentukan perkembangan konsep pembangunan berkelanjutan dunia. Pemikiran ini sangat inovatif dan relevan hingga sekarang.

Tak bisa dipindah

Sesuai pidato, Emil Salim secara khusus mengkritisi isu kontroversi pertambangan di wilayah Batugosok, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang berdekatan dengan Taman Nasional Komodo.

Pendapat yang menyatakan areal pertambangan berada di luar wilayah Taman Nasional Komodo sehingga dijadikan alasan pembenar adalah pola pikir pembangunan yang konvensional.

”Kita masih bisa menambang di Sumatera, Kalimantan, tidak perlu di Pulau Komodo. Namun, tidak mungkin bisa kita pindahkan komodo-komodo itu ke Kalimantan atau Sumatera,” ucapnya. (JON)

Sumber: Kompas, Senin, 6 Juli 2009

No comments: