Tuesday, July 08, 2008

Pasar Tradisional: Pelanduk Berani Melawan Raksasa

--- Neli Triana*

MATA para pedagang pasar sembab menahan haru. Namun, tangan mereka terkepal ke atas, sebuah semangat baru menggelora di dada. Pada Kongres Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia atau FOPPI I, Senin (7/7), para pedagang bertekad bersatu memperjuangkan nasib mereka yang kini kian tertindas.

Salah satu pedagang di Plaza FOPPI (Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia), Swalizar, mempersiapkan dagangannya, Minggu (6/7). Swalizar adalah salah satu dari 80 eks pedagang di Blok M yang ikut berjualan di pasar yang didirikan secara mandiri oleh FOPPI tersebut. (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)


Kongres para pedagang pasar tradisional itu berlangsung di Lantai II Plaza FOPPI di Jalan Sultan Hasanuddin, hanya beberapa puluh meter dari Terminal Blok M, Jakarta Selatan. Meski disebut plaza, tempat ini hanya berupa bangunan mungil dua lantai kontras dengan keberadaan beberapa gedung mal besar yang sudah lebih dulu ada di kawasan itu. Yang terasa istimewa, plaza ini adalah hasil jerih payah swadaya para pedagang pasar yang tergusur oleh proyek peremajaan Pasar Blok M.

”Kami menangkap keinginan konsumen. Mereka tetap menginginkan pasar tradisional yang identik dengan keakraban antara penjual dan pembeli, harga barang murah, banyak pilihan, tetapi kualitas juga terjamin. Namun, mereka juga enggan dengan pasar yang konotasinya selalu panas, becek, dan kotor,” kata Ketua Dewan Pengawas FOPPI Irfan Melayu, Senin.

Berbekal niat mewujudkan pasar tradisional sesuai keinginan konsumen, pendirian Plaza FOPPI sekaligus merupakan protes terbuka kepada pemerintah. Pemerintah selama ini lebih memilih meremajakan pasar tradisional dengan cara kerja sama dengan pengembang sehingga menyebabkan harga kios melambung tinggi. Plaza FOPPI yang irit biaya tetapi luwes dan menarik pun dibangun.

”Plaza FOPPI ini salah satu wujud perjuangan memperbaiki nasib pedagang yang terpuruk karena kebijakan pemerintah yang salah. Kami membangun pasar ini dengan riset dan survei konsumen, kawasan, dan prospek. Kami juga menempatkan pedagang sebagai pelaku utama yang memiliki hak dan kewajiban khusus,” kata Presiden FOPPI Sujianto.

Inisiatif para pedagang pasar ini juga dilatarbelakangi pemahaman bahwa pasar tradisional adalah nadi utama perekonomian negara. Dengan jumlah 13.000 pasar se-Indonesia, mungkin terdapat lebih dari 15 juta orang hidup sebagai pedagang. Belum lagi banyaknya tenaga kerja yang terserap oleh aktivitas pasar setiap harinya. Sujianto mengatakan, dengan posisinya itu, pasar tradisional harus tetap hidup.

Irfan, yang juga pencetus ide konsep Plaza FOPPI, mengatakan, dari hasil riset, kawasan Blok M saat ini bukanlah tempat tujuan belanja utama seperti pada era tahun 1970-1990-an. Dengan bermunculan banyak pusat perbelanjaan di Jakarta, Blok M justru tumbuh dengan ciri khasnya sebagai kawasan transit yang amat ramai, hampir setiap hari sepanjang pekan.

Sebagai daerah transit, kata Irfan, pangsa pasar terbesar di kawasan ini adalah para penumpang angkutan umum dan pengendara sepeda motor.

Kelas ekonomi calon konsumen terbanyak berasal dari kalangan menengah, mobilitas tinggi, dan cukup terpelajar. Barang murah, lengkap, tren terbaru, bermutu, dan tentu saja lokasi pasar yang mudah dijangkau menjadi daya tarik utama.

Maka berdirilah Plaza FOPPI. Dengan daya tampung 80 kios, pasar ini berupaya menampung sebagian pedagang pasar eks Pasar Blok M yang terbakar sekitar dua tahun lalu. Para pedagang itu menjual dagangan non- emas, pakaian, dan makanan.

Setiap lantai dijamin berhawa sejuk karena berpendingin ruangan. Saluran udara khusus di gerai makanan di lantai dua menjamin sirkulasi udara tetap sehat. Dalam waktu dekat, kamera CCTV, sistem audio, dan etalase yang didesain menarik juga akan melengkapi pasar ini.

Sebagai subyek

Sekretaris Jenderal FOPPI Cahya Suparno mengatakan, para pedagang yang ditampung di Plaza FOPPI sebenarnya berhak atas kios di Blok M Square, pasar baru hasil peremajaan Pasar Blok M yang terbakar. Namun, dengan harga Rp 42,5 juta per meter persegi, para pedagang menyerah.

”Pasar kerap dianggap hanya sebagai aset penghasil uang. Sayangnya, pedagang juga dianggap sebagai obyek, bukan subyek atau pelaku utama. Kami tidak pernah diajak bicara tentang proyek peremajaan pasar. Padahal, terbukti kami punya konsep lebih baik,” kata Cahya.

Para anggota FOPPI kemudian mengumpulkan dana dari tabungan pribadi. Mereka menyewa dua bangunan bekas kantor dan merombaknya menjadi pasar. Biaya perombakan kurang dari Rp 1 miliar dan mereka menyewanya selama 10 tahun.

Para pedagang juga berencana membeli bangunan itu dari PT Wahana Tata. Di Plaza FOPPI, para pedagang hanya dibebani biaya sewa Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per kios per bulan.

Cahya menambahkan, kalau saja pemerintah mampu mengelola pasar seperti ini, tidak ada lagi cerita penggusuran pasar, apalagi pembakaran pasar. Pedagang lapak liar pun bisa ditata dengan model pengelolaan pasar berbiaya rendah. Dampaknya, pungutan liar yang merugikan negara dan masyarakat dapat dipangkas.

Hasil penghitungan kasar FOPPI, dengan adanya 13.000 pasar tradisional di Indonesia yang memiliki pedagang resmi maupun pedagang lapak tidak resmi, jumlah pungutan liar per bulan mencapai Rp 50,6 triliun. Bayangkan, jika uang itu dapat digunakan untuk meremajakan pasar tradisional.

Para pedagang pasar juga yakin mereka tidak akan terlindas oleh hipermarket atau mal. Mereka memiliki jaringan ikatan kuat dengan para produsen pemasok barang di Jakarta dan daerah. Ikatan itu sudah terbentuk puluhan tahun lamanya.

”Memang pengunjung masih sedikit karena baru beberapa hari buka, tetapi setiap hari selalu ada orang yang mampir. Saya yakin, jika pasar penampungan nanti dibubarkan bertepatan dengan dibukanya Blok M Square, banyak pelanggan mencari kami di Plaza FOPPI,” kata Marsiati (29), penjaga salah satu kios di Lantai Dasar Plaza FOPPI.

Sumber: Kompas, Selasa, 8 Juli 2008

No comments: