Wednesday, July 23, 2008

Novel "Bilangan Fu": Menguak Sumber Kehancuran Manusia

[JAKARTA] Novelis Ayu Utami kembali melahirkan novel barunya, Bilangan Fu, setelah "cuti" hampir tujuh tahun. Novel itu merupakan penyempurnaan dari dua novel sebelumnya, Saman dan Larung. Kali ini, Ayu mencoba menguak sumber penghancuran manusia melalui spiritualisme kritis.

Novelis Ayu Utami (kiri) meluncurkan novel terbarunya "Bilangan Fu" di Jakarta, Minggu (20/7). (Abimanyu)

Paparan mengenai spiritualisme kritis dituangkannya melalui cerita rakyat serta mengelola begitu banyak cerita ganjil yang terjadi di dalam masyarakat. Ayu merumuskannya menjadi manifesto sikap keagamaan yang ia tawarkan untuk kondisi sekarang.

Ayu mengemukakan hal itu pada pelucuran novel Bilangan Fu, di Jakarta, Minggu (20/7). Manusia, katanya, harus menyadari apa yang mendesak dilakukan sekarang, yakni menyelamatkan bumi, bukan akhirat. Kemampuan kritis menjadi hal paling utama dari kesadaran modern yang sebenarnya, dan kemampuan kritis harus digenjot. "Kami kritik nafsu-nafsu yang menguasai kita. Karena itu, saya menawarkan spiritualisme kritis," tuturnya.

Dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya, Ayu mengakui novel kali ini cukup berat. Ia menyinggung tentang 3M yang menyebabkan kehancuran manusia, yaitu modernisme, monoteisme, dan militerisme, yang diakuinya tercetus ketika ia sedang mendaki gunung.

Pemikiran tentang militerisme sebagai musuh demokrasi, muncul sebagai M pertama. Bentuknya muncul sebagai pengekangan pers pada era Orde Baru. Sekarang Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, namun menghadapi ancaman baru, yang berasal dari ketidakbebasan pemikiran.

Secara khusus Ayu menyoroti monoteisme. Ia prihatin atas kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Agama-agama utama merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama lokal memiliki penghormatan terhadap alam.

M yang ketiga adalah modernitas. Ketidakbebasan pikiran, berasal dari kemanjaan yang dipelihara kapitalisme, dan kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari modernitas. Ayu menganggap, 3M yang ia sebutkan itu sebagai ancaman terhadap dunia postmodernisme.

Bilangan Fu juga berbicara tentang kerusakan lingkungan yang disebabkan ulah manusia modern yang kelewat batas, yang dalam skala besar adalah pemanasan global.

Fragmen Monolog


Kenapa memberi judul Bilangan Fu? Bagi seorang sastrawan, judul merepresentasikan ideologi penulisan novel. Ayu sendiri mengulas, bunyi "Fu", atau variasinya "Hu", adalah bunyi hidung. Dari sana manusia bernapas. "Fu" adalah bunyi ruh, katanya. Mengenai bilangan, semula ia bahkan ingin menamainya jalur 13, angka yang dianggapnya sial. Semula ia ingin bermain-main dengan bilangan yang dianggap angker, dan tradisi itu membuatnya menoleh pada bilangan 13.

Apa pun, Bilangan Fu adalah bilangan metaforis, bukan matematis. Spiritual bukan rasional. Ia merupakan kritik bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme, terlalu matematis. [DGT/U-5],

Sumber: Suara Pembaruan, Rabu, 23 Juli 2008

1 comment:

antok said...

aku udah baca bilangan fu. bagus banget. memang beda dengan saman dan larung. bagi yang belum baca, silakan beli. pasti tidak kecewa.

salam