Monday, July 28, 2008

Pustakaloka: Puisi Pengiring Kepergian Slamet Rijadi

-- Korano Nicolash LMS

Tanggal 4 November

Jam 21 setempat

Overste Slamet Rijadi telah mangkat

Terkabullah kehendaknya

Oleh Tuhan Yang Maha Esa

Ia ingin mati muda

Semoga Tuhan

menerima arwahnya

Sebagai umat

Yang telah berjasa

Amin



YA, itulah laporan kematian dalam bentuk puisi yang dibuat Mayor Abdullah, dokter yang direkrut Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur atau TTIT Kolonel Alex Kawilarang untuk mengikuti operasi militer di wilayah Maluku Selatan.

Mayor Abdullah saat itu bertugas di atas Kapal Motor (KM) Waibalong yang berfungsi sebagai kapal rumah sakit bagi pasukan Indonesia yang tertembak di palagan Maluku Selatan dalam rangka menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Ada dua versi yang mengisahkan secara detail tentang tertembak dan jalannya penyelamatan Komandan Komando Pasukan Maluku Selatan Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Yang pertama, sesuai buku Mengenang Ignatius Slamet Rijadi, disebutkan bahwa Slamet Rijadi minta agar Kapten Klees tidak melakukan tembakan balasan dari kendaraan lapis baja yang mereka tumpangi saat mendekati Benteng Victoria, Ambon, bersama dua panser lainnya. Perintah itu keluar karena Slamet Rijadi khawatir pasukan yang menembak dari Benteng Victoria adalah pasukan Republik yang mengira pasukan di dalam kendaraan lapis baja itu adalah pasukan RMS.

Guna memastikan hal itu, Komandan Komando Pasukan Maluku Selatan yang menggunakan sandi Operasi Senopati II itu turun dari panser yang ditumpanginya. Saat itu serangan dari arah Benteng Victoria sempat terhenti sejenak.

Setelah itu hanya terdengar satu peluru yang ditembakkan. Satu tembakan itu langsung merobohkan Letkol Slamet Rijadi. Melihat hal tersebut, Kapten Klees memerintahkan pasukan lapis baja melakukan serangan balasan sambil melakukan manuver mendekati Benteng Victoria. Sementara itu, Ajudan Komandan Komando Pasukan Maluku Selatan Letnan I Soendjoto menarik komandannya ke tempat terlindung ke tepi jalan.

Saat itu Slamet Rijadi masih sempat berbisik kepada Soendjoto, sang ajudan. ”Ndjot, sikilku kena. Kok ora kroso, ya ..., tapi ora biso diobahke. (Ndjot, kakiku kena. Kok tidak terasa ya ..., tapi tidak bisa digerakkan.)”

Sang ajudan kemudian menerobos desingan peluru membawa komandannya ke Batumerah hingga ke Pelabuhan Tulehu untuk mencari kole-kole agar dapat mencapai kapal rumah sakit, KM Waibalong. Di sana, keduanya disambut dr Abdullah dan dr Soejoto.

Versi lainnya, sesuai catatan Letnan Soehadi, salah satu staf pribadi Slamet Rijadi, agak berbeda. Karena menurut catatannya, yang mengamankan Letkol Slamet Rijadi setelah tertembak itu justru Kapten Klees. Dia langsung turun dari pansernya setelah melihat Slamet Rijadi jatuh tertembak, untuk menaikkannya kembali ke kendaraan.

Dari situ Kapten Klees melarikan pansernya ke Batumerah sambil memerintahkan dua panser lainnya meneruskan serangan terhadap musuh di Benteng Victoria. Dari sana, Pak Met— begitu panggilan prajuritnya kepada Slamet Rijadi—langsung di- bawa ke Tulehu. Kapten Klees menggunakan sampan milik rakyat mengantar Slamet Rijadi ke KM Waibalong.

Sewaktu panser tiba di Batumerah, Selardi, Sekretaris Slamet Rijadi, datang tergopoh-gopoh sambil memengangi tangan komandannya. ”Kados pundi, Pak Met? (Bagaimana keadaannya, Pak Met?)”

Sulardi yang terakhir berpangkat brigadir jenderal dan memegang jabatan Inspektur Jenderal Hankam, usianya dua tahun lebih tua dari Slamet Rijadi. Kalau berdua, mereka berbicara selalu menggunakan bahasa Jawa halus.

Pukul 21.15 waktu setempat, Sabtu, 4 November 1950, Slamet Rijadi mengembuskan napas penghabisan pada usia 24 tahun lebih enam bulan. Dia meninggal di atas meja operasi ruang darurat KM Waibalong, tempat di mana sahabat karibnya, Slamet Soediarto, juga tutup usia satu setengah bulan sebelumnya.

Slamet Soediarto tertembak pada 28 September di bibir Pantai Hitu ketika pintu LCM pendaratannya tanpa sengaja terbuka. Slamet Rijadi sendiri tertembak 4 November di depan Benteng Victoria, Ambon, begitu turun dari kendaraan lapis baja. Keduanya meninggal di atas meja operasi KM Waibalong.

Itulah sebagian isi dari salah satu bab buku biografi Ing. Slamet Rijadi, dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS. Buku setebal 278 halaman itu ditulis oleh wartawan senior Julius Pour yang sudah menuliskan sejumlah biografi dan karya nonfiksi.

Kehadiran biografi Slamet Rijadi ini tentu akan memperkaya dan memperjelas sejumlah detail peristiwa, tidak hanya seputar perjuangan Slamet Rijadi, tetapi juga ada beberapa hal lainnya. Seperti pengaruh ideologi yang sempat mengakibatkan saling serang antara unsur-unsur bersenjata yang kemudian kita kenal dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau yang kemudian mengubah namanya menjadi Tentara Nasional Indonesia, memasuki era reformasi.

Kalaupun ada kekurangan, mungkin hanya sekitar teknis percetakan saja. Seperti beberapa kata yang masih salah cetak atau salah penggal. Tetapi, hal itu tidak akan terlalu mengganggu jalannya cerita Slamet Rijadi berikut kehidupan sekitarnya untuk dimengerti pembaca. Itu sebabnya buku ini tidak hanya perlu, tetapi juga akan berguna bagi mereka yang ingin mengetahui detail-detail cikal bakal ABRI atau TNI itu.

Sumber: Kompas, Senin, 28 Juli 2008

No comments: