Sunday, February 07, 2010

Pesan Paradoks ”Correlation”

ERA teknologi digital telah memberi pengayaan baru dalam dunia seni rupa. Perupa tidak lagi bekerja secara manual mengandalkan kanvas dan cat yang tersandar di dinding serta sendirian, tetapi bekerja dengan dukungan sarana teknologi dan asisten perupa.

Pada perannya, perupa bekerja lebih sebagai pemilik gagasan yang berupa conceptual art, kemudian dibantu asisten perupa menuangkannya secara digital menjadi karya baru.

Mengapa disebut karya baru karena pada prosesnya, lukisan ini dibuat dengan teknik infocus yang menyertakan berbagai unsur seperti kamera, komputer, alat lukis berupa kanvas, dan cat. Hasilnya menjadi sebuah karya lukis kontemporer berupa pop art yang segar.

Setidaknya begitulah gambaran dari empat puluh lebih lukisan berhaluan pop art yang mengusung tajuk ”Correlation” karya perupa Tjutju Widjaja, yang digelar di Anggrek Shopping Hotel, Bandung, pada 14-28 Januari lalu.

**

Konsep gagasan lukisan berwajah anak-anak ini, menurut perupanya, merupakan ekpresi harapan. Meskipun masih banyak anak Indonesia yang belum bernasib baik, tetapi mereka harus tetap ceria. Begitulah spirit ”Correlation” yang diketengahkan Tjutju.

Dalam pandangan kurator pameran Eddy Hermanto, lukisan karya Tjutju Widjaja menggunakan teknik representional realistik. Sebuah teknik kontemporer yang membebaskan pelukis menggunakan berbagai media. Dalam ”Correlation”, Tjutju menggunakan media cat, foto, dan alat photoshop sehingga menghasilkan karya baru mix media.

Teknik ini, banyak digunakan pelukis-pelukis generasi baru. Tjutju, bila dilihat dari segi usia, melakukan banyak ”lompatan” dibandingkan dengan pelukis seangkatannya.

Sementara dari segi tema, semua lukisan wajah anak ”Correlation” menyampaikan pesan paradoks antara potret anak di dalam kehidupan nyata (realitas) dan potret anak di atas kanvas. Banyak anak Indonesia yang nasibnya memilukan. Namun potret yang muncul di kanvas justru wajah ceria optimistis.

Itu semua, karena Tjutju ingin menebarkan harapan bahwa anak Indonesia harus tetap ceria. Sekelam dan seburuk apa pun kehidupan mereka di dunia nyata.

”Ini sekaligus pesan juga bagi orang tua agar senantiasa memberi ruang yang kondusif bagi pertumbuhan anak Indonesia yang lebih baik,” ujar Tjutju sebelum pameran.

**

DALAM pandangan perupa sekaligus dosen FSRD ITB Tisna Sanjaya, ”Correlation” termasuk ke dalam seni rupa kontemporer. Seni rupa yang telah keluar dari cara-cara modern. Tidak lagi memakai cara-cara lama seperti garis bergetar, kedalaman warna, dan lain-lain.

Seni rupa ini berhubungan dengan dunia maya yang diperkenalkan oleh Andy Warko. Yang pada prosesnya seniman adalah pencetus gagasan sedangkan pada proses pengerjaannya dapat dilakukan tidak hanya oleh perupa, tetapi dibantu asisten.

Seperti juga yang berlaku pada seni kontemporer teater dan film. ”Pada posisinya, perupa menjadi pemilik gagasan. Dialah yang menuangkan gagasan itu dan dikerjakan bersama,” ujar Tisna.

Kehadiran pop art sebagai seni kontemporer tidak terlepas dari perdebatan. Kendati begitu, dalam apresiasi Tisna, Tjutju Widjaja dalam ”Correlation” sudah melakukan pengayaan dalam seni . Di mana perupa sudah berhasil menjadi seorang conceptual art yang diharapkan akan menular positif terhadap genre seni yang lain seperti video art, dan lain-lain.

Menanggapi kesan monoton dari ”Correlation” yang hanya mengedepankan wajah anak-anak, Tisna menilai, dalam karya Picasso pun ada tema-tema serupa itu seperti tema kubisme Picasso. Atau dalam beberapa karya Sadali (alm.) dan Affandi (alm.) yang secara fisik tampak monoton tetapi setelah masuk ke dalamnya justru menawarkan sesuatu yang baru.

Kritik Tisna terhadap Tjutju, perupa harus lebih banyak ”masuk” lagi ke dalam dunia anak-anak agar ia dapat lebih banyak memotret kehidupan anak dari dunia yang berbeda. Ekspresi anak yang hidup di bawah jembatan, rel kereta api, anak korban bencana, dan anak-anak yang tinggal di desa serta kota tentu berbeda.

Semakin ”masuk” ke dalam dunia mereka, kata Tisna, perupa akan menemukan estetika lain dari sekadar wajah anak-anak. Dan hasilnya kelak, tidak akan muncul lagi kesan monoton dari para penikmatnya. (Eriyanti/”PR”)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 7 Februari 2010

No comments: