Wednesday, October 07, 2009

Diskusi: Kehidupan Damai Keinginan Bersama

Jakarta, Kompas - Setiap individu pada dasarnya memiliki posisi dan nilai yang sama sebagai manusia untuk memperoleh kehidupan yang damai. Jika kesadaran ini terbentuk, akan tercipta harmoni karena tidak akan ada lagi individu yang merasa dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain.

Ide-ide dasar kosmopolitanisme ini dikemukakan Associate Professor of Philosophy Faculty of Arts Deakin University, Australia, Stan van Hooft, Selasa (6/10) di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. ”Setiap individu itu penting, tidak peduli apa pun keyakinannya. Jika kosmopolitanisme ini disadari benar nilai-nilainya, tidak akan pernah ada satu orang pun yang menganggap orang lain lebih rendah atau lebih buruk,” ujarnya.

Persoalan muncul ketika perasaan seperti nasionalisme atau rasisme berkembang. Nasionalisme dan rasisme adalah contoh bentuk tindakan agresif yang memisahkan kita dari orang lain atau memisahkan suatu kelompok masyarakat dengan kelompok lain yang memicu perasaan lebih unggul.

”Nasionalisme menjadi masalah karena terfokus pada dirinya sendiri dan ada perasaan bangsanya lebih baik daripada bangsa lain. Kontras dengan kosmopolitanisme yang memandang semua individu penting dan punya nilai yang sama,” kata Stan van Hooft.

Namun, dalam sesi diskusi, salah seorang peserta menilai nasionalisme di Indonesia tidak bersifat agresif. Nasionalisme justru memunculkan solidaritas lintas etnis dan menyatukan semua rakyat Indonesia sehingga bisa bergerak bersama-sama memperjuangkan idealisme yang sama. (LUK)

Sumber: Kompas, Rabu, 7 Oktober 2009

No comments: