Saturday, October 10, 2009

Empat Perempuan Raih Nobel

[JAKARTA] Jumlah perempuan yang meraih penghargaan prestisius dunia, yakni hadiah Nobel meningkat drastis. Jika pada 2008, jumlah perempuan yang terpilih meraih Nobel hanya satu orang, maka tahun ini empat orang. Jumlah ini kemungkinan bertambah, karena masih satu kategori Nobel lagi, yakni ekonomi yang belum diumumkan.





Herta Muller (Jerman), Carol W Greider (AS), Elizabeth H Blackburn (AS), dan Ada E Yonath (Israel) (Foto-foto: AP)

Pada 2008, perempuan peraih Nobel adalah ilmuwan asal Prancis, Francoise Barre-Sinoussi, bersama dua ilmuwan lainnya, Luc Montagnier (Prancis) dan Harald zur Hausen (Jerman). Mereka meraih penghargaan Nobel Kedokteran atau Fisiologi.

Sedangkan untuk tahun ini, empat perempuan peraih Nobel itu tersebar di berbagai kategori, yakni Elizabeth H Blackburn dan Carol W Greider untuk Nobel Kedokteran, E Yonath dari Israel untuk Nobel Kimia, dan Herta Muller asal Jerman untuk Nobel Sastra.

Dari 11 pemenang hadiah Nobel 2009 yang sudah diumumkan panitia, 8 warga negara Amerika Serikat. Selebihnya, dari Inggris, Israel, dan Jerman.

Hasil Temuan

Elizabeth Blackburn, Carol Greider, dan Jack Szostak meraih Nobel Kedokteran atau Fisiologi berkat hasil penelitiannya yang menelaah implikasi pada kanker dan proses penuaan. Hasil penelitian dari ketiga ilmuwan itu menjelaskan, solusi masalah kanker dan penuaan dapat ditemukan dalam akhir kromosom yang disebut telomeres dan dalam enzim yang membentuknya.

Telomeres diumpamakan sebagai ujung plastik yang ada di bagian ujung tali sepatu, yang menjaga agar tali sepatu tidak terurai. "Penemuan yang dihadirkan oleh Blackburn, Greider, dan Szostak, telah menambah dimensi baru pada pemahaman kita tentang sel, titik mekanisme penyakit, dan menstimulasi perkembangan terapi baru yang potensial," ungkap salah satu panitia pemberi penghargaan Nobel.

Lebih lanjut, panitia Nobel 2009 memandang ketiga ilmuwan itu layak diberi penghargaan karena berhasil memecahkan persoalan besar dalam biologi, yakni bagaimana kromosom dapat disalin secara sempurna saat pembagian sel dan bagaimana mereka dilindungi dari degradasi.

Sementara itu, peraih Nobel Fisika tahun ini Charles K Kao, Williard S Boyle, dan George E Smith. Charles K Kao mendapat penghargaan ini, karena menemukan teknologi transmisi cahaya melalui serat optik, yang memublikasikan penemuan tersebut tahun 1966. Penemuan Kao inilah yang menjadi dasar pembangunan jaringan telekomunikasi modern saat ini dari telepon hingga internet kecepatan tinggi.

Sementara itu, dua ilmuwan lainnya, menemukan CCD (charged-couple device). Teknologi ini merupakan bagian penting kamera digital, yang telah digunakan di berbagai lini produk dari yang mainstream hingga kamera canggih.

Di bidang kimia, Nobel jatuh ke tangan Venkatraman Ramakrishnan dan Thomas Steitz yang berkebangsaan Amerika, serta Ada Yonath berkebangsaan Israel.

Ketiganya bekerja secara terpisah meneliti struktur dan fungsi ribosom, yang membuka jalan untuk penemuan antibiotik baru. Ribosom memproduksi protein yang mengontrol unsur kimia pada organisme hidup.

Ribosom merupakan hal yang krusial untuk kehidupan, dan juga merupakan target untuk penemuan antibiotik baru. Ketiganya secara detail memetakan struktur dan fungsi ribosom pada level atom dengan menggunakan metode X-ray crystallography.

Dengan metode tersebut, ketiga ilmuwan memetakan ribuan atom yang menyusun ribosom. Seperti diketahui, setiap sel organisme memiliki molekul deoxyribonucleic acid (DNA). Molekul ini memiliki cetak biru makhluk hidup, seperti tumbuhan dan bakteri. Namun, molekul DNA bersifat pasif, dan berfungsi jika ada ribosom.

Dari informasi DNA ini, ribosom membuat protein. Misalnya untuk transportasi oksigenihemoglobin, antibodi untuk sistem kekebalan tubuh, hormon, seperti insulin, dan kolagen pada kulit, termasuk enzim.

Dengan memahami struktur dan fungsi ribosom, termasuk pada bakteri, maka Venkatraman, Thomas, dan Yonath, mampu menemukan bahwa memblokir fungsi ribosom pada bakteri maka bakteri tidak dapat hidup.

Penemuan ini akan menjadi penemuan antibiotik baru, karena target dari antibiotik generasi berikut adalah ribosom. Terhadap penemuan ketiga para ilmuwan peraih Nobel Kimia ini, Profesor David Garner, yang tak lain adalah Presiden Royal Society of Chemistry mengatakan, ketiga peraih nobel ini adalah ilmuwan luar biasa. Pasalnya, karya mereka mampu menguak struktur molekul yang kompleks dan detail. [E-7/N-4]

Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 10 Oktober 2009

No comments: