Sunday, October 18, 2009

Menyunting Cerpen Sunda

-- Satya W.S.*

DARI September 2002 hingga Agustus 2009 saya ikut memilih dan menyunting cerpen Sunda untuk majalah Cupumanik. Tiap bulan majalah kami memuat dua cerpen, yakni satu asli Sunda, yang lain terjemahan dari bahasa Inggris.

Pada mulanya, selain memilih cerpen Sunda, saya harus menerjemahkan cerpen dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Sunda. Belakangan, salah seorang rekan kami mau menangani tugas penerjemah, dan saya tinggal menyunting. Buat saya sendiri, pengalaman ini seperti berulang-alik di antara dua tradisi.

Beberapa bulan lalu, saya diminta ikut bicara seputar kreativitas menulis cerpen di depan kelas Sastra Sunda, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pengalaman mengelola rubrik fiksi saya jadikan modal utama.

Sebagai modal tambahan, saya merujuk pada pengalaman Rust Hills (1924-2008), editor fiksi majalah Esquire selama puluhan tahun. Kebetulan, dia menulis buku Writing in General and the Short Story in Particular (Houghton, 1987). Kadang, orang menyebut buku itu WIGSSIP.

**

KINI, jika dipukul rata, tiap bulan terbit tidak kurang dari sepuluh cerpen Sunda. Dalam setahun terbit tidak kurang dari 150 cerpen Sunda. Publikasi itu dapat diikuti melalui majalah Mangle, Cupumanik, Seni Budaya, Media Dakwah dan Sunda Midang, serta koran Galura, dan lain-lain.

Jika kita merasa perlu meninjau perkembangan cerpen Sunda dewasa ini, kita perlu membaca semua publikasi itu. Bahkan perlu juga kita membaca tulisan sejenis dalam berkala kampus, media komunitas, dan sebagainya. Saya sendiri belum sanggup memanggul tugas seberat itu.

Untuk sementara, setidaknya kita dapat bertanya, apa yang perlu dipikirkan untuk ikut mempengaruhi perkembangan cerpen Sunda di kemudian hari?

Dari sekelumit pengalaman mengelola rubrik fiksi, saya sendiri malah bertanya-tanya lagi, apa sebetulnya yang disebut "cerita pendek"? Saya yakin, jawaban atas pertanyaan itu sedikit banyak ikut mempengaruhi cara kita memproduksi cerpen Sunda.

**

DALAM WIGSSIP Hills menyarankan cara sederhana untuk mengenal cerpen (short story). Dalam hal ini, ia membandingkan cerpen dengan dua bentuk prosa lain, yaitu novel dan sketsa (sketch). Perbandingan ini berkisar di sekitar isi dan wadah.

Dalam hal isinya, cerpen diartikan sebagai karangan yang menekankan "sesuatu yang dialami seseorang" (something that happened to someone). Kedengarannya, definisi ini biasa-biasa saja, tapi ternyata implikasinya tidak sederhana.

Dalam cerpen, "sesuatu" itu bukan kebiasaan atau kegiatan rutin. "Sesuatu" yang dimaksudkan Hills adalah kejadian atau pengalaman yang betul-betul unik, yang kalau bisa hanya terjadi sekali dalam hidup tokoh cerita. Terjangkit herpes, tertabrak sepeda motor, mati, atau pensiun kiranya dapat dijadikan topik cerpen.

Jika pengalaman yang dituturkan mendekati kebiasaan atau kegiatan rutin, karangan yang mewadahinya disebut sketsa. Oleh karena itu, dalam sketsa deskripsi pengalaman manusia biasanya berlangsung datar atau rata. Sebaliknya, dalam cerpen, deskripsi pengalaman manusia naik-turun, dari awal menuju klimaks lalu turun lagi, mengikuti konsekuensi dari tiap-tiap rincian pengalaman yang diceritakan. Dengan kata lain, sketsa menekankan fixed action sedangkan cerpen menekankan moving action.

Sekadar mencari contoh, kita dapat membandingkan cerpen Wasiat ti Pa Mantri karya Holisoh M.E. dengan sketsa Lada Ngeunah karya mendiang Sjarif Amin. Cerpen Holisoh menuturkan pengalaman seorang kepala sekolah setelah ia menerima surat keputusan yang menyatakan bahwa dirinya memasuki masa pensiun. Adapun sketsa Sjarif Amin memaparkan sosok penjual rujak di tepi Ci-Kapundung, Bandung.

Dalam hal wadahnya, cerpen diartikan sebagai karangan yang memperlihatkan "hubungan yang lebih selaras di antara seluruh aspeknya" (a more harmonious relationship of all its aspects), terutama jika dibandingkan dengan novel. Dengan kata lain, pertautan antarelemen cerita dalam cerpen tampak lebih erat atau lebih ketat daripada pertautan sejenis dalam novel.

Kita dapat membandingkan cerpen Holisoh dengan, misalnya saja, novel Sudagar Batik karya mendiang Ahmad Bakri. Novel ini menceritakan pengalaman Arwiah yang ditinggal mati suaminya dan ditinggal kabur anak sulungnya. Bersama anak bungsunya, Arwiah menderita di kampung hingga akhirnya ia menemukan kebahagiaan ketika anak sulungnya, Kasja, pulang sebagai saudagar.

Tidak seperti dalam cerpen-cerpennya, Ahmad Bakri dalam Sudagar Batik tampak lebih leluasa mengembangkan tema, beserta segala pemerinciannya, juga plot cerita. Dalam hal plotnya, novel ini mengandung sedikitnya dua subplot yang masing-masing meninjau pengalaman tokoh-tokohnya secara kilas balik.

**

MESKI barangkali akan terdengar seperti tautologi, sedikitnya ada tiga gejala dalam cerpen Sunda sejauh yang terlihat berdasarkan sekelumit pengalaman tadi.

Pertama, tidak jarang ada "cerpen" yang sesungguhnya baru sebatas sketsa. Karangan-karangan demikian lebih cenderung hanya melukiskan keadaan tempat atau masa, bukannya menuturkan rincian demi rincian pengalaman unik tokoh cerita.

Kedua, ada kalanya muncul cerpen yang sepertinya lebih tepat jika disebut sebagai "novel yang belum masak". Dalam karangan-karangan demikian, pengarang tampak penuh semangat untuk menceritakan banyak hal, tapi tak sempat berobservasi, meneliti ini dan itu, dan akhirnya hanya bergantung pada bentuk prosa yang rapuh.

Ketiga, kadang-kadang ada pula "novel" yang seakan hanya "memanjang-manjangkan" cerpen. Upaya memerinci kesulitan dan kerumitan pengalaman tokoh cerita, atau upaya mengekplorasi seluk beluk jalan cerita, kelihatannya belum mendapatkan penekanan.

Saya mafhum, bercerita itu susah. Saya sendiri, terus terang saja, tidak becus mengarang cerpen. Anggap saja ketiga gelaja itu sebagai jebakan yang dapat dihindari agar cerpen Sunda tidak mematikan minat baca. ***

* Satya W.S., penulis lepas.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 18 Oktober 2009

No comments: