Sunday, October 11, 2009

[Kehidupan] "American Dream" dan Turun Berok

-- Budi Suwarna

”AMERICAN Dream” yang menjanjikan kesejahteraan memang menggoda banyak imigran, termasuk dari Indonesia. Ketika di negeri sendiri pekerjaan kian langka, ribuan buruh Indonesia mengadu nasib ke Amerika Serikat. Sebagian akhirnya menetap di Philadelphia dan secara alamiah membentuk komunitas Indonesia lengkap dengan infrastrukturnya, mulai dari rumah ibadah, warung makan, agen tenaga kerja, hingga jasa urut turun berok. Bagaimana nasib mereka sekarang?

Beginilah suasana permukiman para pekerja Indonesia di Philadelphia, Amerika Serikat, Minggu (12/7). Mereka tinggal di flat sederhana agar bisa menghemat pengeluaran. (KOMPAS/BUDI SUWARNA)

Siang yang panas dan berdebu di sebuah permukiman buruh pabrik di Philadelphia Selatan, Pensylvania, AS, hari Minggu, pertengahan Juli lalu. Suasananya gersang karena pohon-pohon peneduh hampir tidak ada yang tumbuh. Secara fisik tidak ada yang menarik dari tempat ini. Pemandangan yang dominan hanyalah flat-flat tua bercat merah kusam.

Suasana agak sepi di jalan-jalan permukiman. Kami hanya menjumpai seorang perempuan berwajah Indonesia tengah melintas di jalan. Kami menyapanya dalam bahasa Inggris. Namun, dia menjawabnya dalam bahasa Jawa. ”Aku ra iso ngomong Inggris. Aku cah Lamongan,” katanya sambil mesem dan berlalu.

Berbeda dengan di jalan, suasana ramai kami temukan di sebuah warung yang menjual masakan Indonesia. Di sana ada puluhan buruh sedang antre makan siang. Sebagian berbahasa Jawa, sebagian—terutama anak-anak dan remaja—berbahasa Inggris.

Di kawasan itu, buruh asal Indonesia cukup banyak. Kabarnya mencapai 5.000-an orang. Data pastinya memang tidak jelas karena sebagian besar dari mereka buruh migran ilegal.

Enche Tjin, pengelola Dunia Kita, newsletter komunitas Indonesia di Philadelphia, memperkirakan, awal 2000-an jumlah buruh asal Indonesia di Philadelphia pernah mencapai 10.000-an. Mereka umumnya berasal dari Surabaya, Medan, dan Jakarta.

Gelombang kedatangan buruh Indonesia ke Philadelphia dalam jumlah besar, lanjut Enche, terjadi pascakrisis multidimensi dan kerusuhan 1998 di Indonesia. ”Waktu itu banyak orang kehilangan pekerjaan di Indonesia. Akhirnya, mereka nekat datang ke sini mengadu nasib,” katanya.

Wahyu, wartawan Voice of America (VOA) sesi Indonesia, menambahkan, seiring dengan kedatangan mereka, agen-agen yang menyalurkan buruh Indonesia pun mulai tumbuh di Philadelphia. Dia tahu masalah ini karena dia pernah nyambi bekerja menjemput buruh yang baru datang dari Indonesia.

”Mereka cukup membayar 500 dollar AS, kami akan menjemputnya dari bandara dan membawanya ke penginapan. Asal tidak milih-milih, dalam hitungan hari, mereka sudah bisa bekerja di pabrik,” kata Wahyu yang mengaku bisa mendapat uang 1.000 dollar AS sehari dari bisnis ini.

Seorang buruh Indonesia yang menetap di Philadelphia sejak 10 tahun lalu membenarkan cerita Wahyu dan Enche. Menurut laki-laki itu, kedatangan pekerja asal Indonesia ke Philadelphia memuncak tahun 2000-an. Mereka umumnya bekerja sebagai buruh kasar di berbagai pabrik, binatu, dan rumah makan di kota itu.

”Upahnya sekitar 7,5 dollar AS per jam (sekitar Rp 75.000 dengan nilai tukar dollar Rp 10.000). Buat ukuran orang Indonesia kan besar. Inilah yang menarik banyak orang Indonesia mengadu nasib ke sini,” ujar laki-laki yang tidak mau disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Turun berok

Karena orang Indonesia di Philadelphia semakin banyak, secara alamiah mereka membentuk komunitas. Awalnya, menurut laki-laki itu, buruh Indonesia bermukim di satu blok. Lambat laun, mereka menyebar ke blok-blok lain dan hidup berdampingan dengan pekerja asal Vietnam, Kamboja, Meksiko, dan Filipina. ”Sekarang setidaknya ada lima blok yang dikuasai orang Indonesia,” ujarnya.

Seiring dengan itu, infrastruktur yang menunjang kehidupan pekerja Indonesia di sana pun terbentuk. Ada rumah ibadah untuk jemaah asal Indonesia, perusahaan pengiriman uang, agen pengurusan paspor dan dokumen, kantor pengacara yang siap membantu buruh jika tersandung masalah hukum atau terancam dideportasi, serta newsletter yang menyampaikan kabar dari Indonesia.

Tidak kalah penting adalah munculnya toko-toko kelontong dan warung makan Indonesia. Di toko kelontong, pekerja bisa membeli produk-produk Indonesia mulai jamu Tolak Angin, Indomie, hingga rokok Gudang Garam, Sampoerna, atau Dji Sam Soe. Rumah makan menyediakan menu mulai gado-gado, soto betawi, nasi padang, rawon, ikan pepes, baso, tahu-tempe, ikan asin, sampai lalap petai, bahkan di waktu-waktu tertentu jengkol.

Di sana juga muncul usaha yang kalau di Indonesia biasanya hanya muncul di kampung-kampung. Apa itu? Jasa urut pegal linu dan turun berok. Pekerja Indonesia yang pegal-pegal dan menderita hernia biasa memanfaatkan jasa mereka.

Bisnis ini tampaknya cukup menjanjikan. Buktinya, iklan layanan jasa pijat seperti ini banyak dimuat di newsletter untuk komunitas Indonesia. Agak mengagetkan memang. Betapa tidak. Usaha pijat urut turun berok ini memberikan warna lain pada AS yang biasa dicitrakan serba modern dan kosmopolitan.

”Semua tersedia di sini. Makanya, kami merasa tidak sedang di Amerika,” ujar Siti (bukan nama sebenarnya) yang bekerja di sebuah pabrik di Philadelphia sejak 2002.

Krisis

Namun, kehidupan buruh di sana mendapat cobaan berat sejak AS dihantam krisis ekonomi tahun lalu. Siti menceritakan, sekitar November 2008, pabrik-pabrik di Philadelphia mulai bertumbangan. Sekitar Januari 2009, gelombang pemutusan hubungan kerja mulai terjadi di mana-mana. Ribuan buruh asal Indonesia terkena imbasnya.

Buruh Indonesia, kata Siti, tiba-tiba jadi pengangguran, padahal biaya hidup di sana kian tinggi. Mereka yang sudah tidak produktif bahkan terpaksa minta jatah bahan pokok ke gereja atau masjid.

Sebagian lagi terpaksa nge-lane, yakni mencari uang dari bus yang melayani penjudi. Caranya begini, lanjut Siti, orang-orang itu membeli tiket bus pergi-pulang ke kasino sebesar 17 dollar AS. Nah, tiket bus itu bisa ditukar dengan koin kasino senilai 20 dollar AS.

”Mereka tidak main judi, hanya ngambil selisih yang 3 dollar. Sehari mereka bisa nge-lane tiga kali dan dapat 9 dollar,” ujarnya.

Namun, ada juga orang Indonesia yang enggak tahan, stres, dan akhirnya memilih pulang ke Tanah Air. Dari obrolannya dengan pekerja agen perjalanan, Siti mengetahui, akhir 2008 hingga awal 2009, setiap bulan ada sekitar 800 buruh pulang ke Indonesia.

Nasib Siti dan suaminya, Binbin, masih lebih baik. Mereka berdua hanya mengalami pemotongan jam kerja dari 50-an jam per minggu menjadi 40 jam. Itu saja sudah menggerus penghasilan mereka.

”Dulu sebulan kami bisa kirim 1.000 dollar AS untuk keluarga di Indonesia, sekarang untuk bertahan hidup saja sulit,” katanya dengan nada getir.

Inikah akhir dari American Dream yang menggoda mereka?

Sumber: Kompas, Minggu, 11 Oktober 2009

No comments: