Saturday, September 05, 2009

[Teropong] Keroncong: Bermetamorfosis Menjadi Conglung, Congdut, dan Congrock

DI antara ingar-bingar repetisi perselingkuhan lagu-lagu ribuan grup industri musik belakangan ini, saya teringat ketika diminta memberikan masukan oleh panitia A Mild Live Soundrenaline tahun 2006 dan 2007. Ketika itu saya mohon diselipkan lagu atau irama keroncong di atas panggung festival musik terbesar dan yang selalu hadir sejak tahun 2002 itu. THEODORE KS

Memang belum terdengar irama keroncong di A Mild Live Soundrenaline, tapi syukurlah hadir CD dan RBT keroncong rasa hip-hop dan rock dalam ”Kroncong Protol” dari album Unity Bondan Prakoso dan Fede2Black produksi Sony-BMG (2007), yang, menurut saya, merupakan sebuah karya langka dari pemusik angkatan Funky Kopral, grup musik di mana sebelumnya Bondan Prakoso pemetik gitar bas. Dan, tahun ini muncul ”keroncong in latin beat” dalam irama cha-cha, rumba, salsa, mambo, dan bosanova.

Pakem

Bagi komunitas musik keroncong, apa yang dilakukan Bondan dan melatinkan keroncong bisa jadi dianggap nakal. Pencipta lagu keroncong asli keberatan dengan lagu-lagu keroncong disco reggae, seperti ”Dinda Bestari”, ”Telomoyo”, ”Dewi Murni”, ”Gambang Semarang”, ”Bandar Jakarta”, serta ”Jembatan Merah” yang dinyanyikan Rama Aiphama dan ”meledak” hingga 100.000 kaset awal tahun 1996. Dan Mbah Surip yang menjelang akhir hayatnya sempat populer dengan musik reggae pernah menjadi juara menyanyi keroncong bersama Bram Titaley dalam Lomba Keroncong Jabotabek Tempo Doeloe tahun 1980.

Keroncong rock (congrock) ”Bengawan Solo” yang dibawakan grup musik Gen’s 21 tahun 2007 juga dianggap keluar dari pakem. Padahal, Oslan Husein sudah membawakan ”Bengawan Solo” dengan musik rock ’n roll dan gaya menyanyi Elvis Presley tahun 1959, seperti yang dicatat Krishna Sen dan David T Hill dalam buku Media, Budaya, dan Politik di Indonesia (Victoria, Oxford University Press, 2000). Kedua profesor Universitas Murdoch, Australia, itu menyebut keroncong sebagai musik pop Indonesia pada masa itu.

Kalau dulu disebut orkes, kelompok musik sekarang menyebut dirinya grup musik keroncong, seperti Gema Nada Mahardhika yang manggung di Restoran Inggil, Malang, setiap Sabtu malam, sebagai wisata budaya keroncong, tidak hanya membawakan keroncong mainstream, tetapi juga keroncong fusion jazz sebagai umpan untuk mengail penonton muda.

Sebenarnya, keroncong tidak pernah jauh dari anak muda. Grup The Step, Rollies, C’Blues, Trenchem, dan Peels merekam sejumlah lagu berirama keroncong. Bahkan Idris Sardi dengan bangga mengisahkan bagaimana Eka Sapta berkeroncong ria di studio rekaman dan panggung pertengahan tahun 1960-an. Tentu saja saat itu Idris yang lahir pada 1938 masih muda. Koes Bersaudara dan Koes Plus menghasilkan banyak lagu keroncong baru, seperti ”Kroncong Saputangan” hingga ”Keroncong Asli” ciptaan Murry. Tonny Koeswoyo mengikuti saran ayahnya, Koeswoyo Senior, agar melestarikan keroncong.

Usaha merangkul anak muda juga pernah dilakukan Direktur TVRI Ishadi SK, MSc dengan Gema Keroncong dengan menampilkan Elfa’s Big Orchestra tahun 1992. Acara yang cukup bagus itu tetap saja menuai kritik karena dianggap memaksa mengeroncongkan lagu-lagu Barat. Dua tahun kemudian, dari Yogyakarta, Djaduk G Ferianto bersama kelompoknya, Musik Katebe (Kelompok Taman Budaya) Yogyakarta, meluncurkan lagu-lagu keroncong kreatif dalam album Model dan Ngetrend produksi PT Gema Nada Pertiwi Jakarta.

Djaduk merasa selama ini ada semacam kemandekan dalam musik keroncong yang cenderung berhenti pada bentuk-bentuknya yang klasik, yakni langgam dan stambul. Akibatnya, musik keroncong sekadar menjadi musik nostalgia. Jadi, jangan heran kalau penggemar musik ini terbatas pada kalangan orang tua.

Keroncong funky

Kemudian Djaduk kembali ke pakem, yakni menggunakan nama orkes keroncong (OK) untuk grup barunya, Sinten Reman, tahun 1999, kelanjutan dari grup keroncong Sukar Maju (1981) dan Katebe (1992). Namun, musik OK Sinten Remen tetap saja nakal khas Djaduk, dengan memberikan napas baru yang aktual dalam keusangan, segar dalam kesederhanaan. Ditambah Butet Kartaredjasa, jadilah keroncong funky plus gerr… gerr… gerr….

Kefunkyan keroncong menggejala, seperti Kornchonk Chaos. Mereka bermusik dengan alat musik keroncong, tapi tidak memainkan lagu keroncong asli, hingga diberi nama ”kornchonk” ditambah ”chaos”, maksudnya keroncong yang tampil beda. Mereka hadir tahun 2001 karena melihat banyak anak muda yang lupa budaya sendiri. Anggotanya adalah mahasiswa Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sebanyak 11 lagu karya mereka dikemas dalam sebuah album berjudul Ini Baru Musik Asick, yang memang asyik dan lirik grup keroncong indie ini juga mengundang gelak tawa pendengarnya.

ISI memang gudang prestasi musik. Tahun 2004 hadir keroncong alternatif. Grup Sri Redjeki bermain musik keroncong, tidak seperti keroncong umumnya, baik lirik maupun perlengkapan musik. Liriknya menggunakan kata-kata pelesetan yang humor hingga pelesetan porno. Alat musiknya ada tamborin dan kendang, yang membuat mahasiswa anggota grup musik ini bisa berimprovisasi.

Taman Budaya Surakarta pernah menggelar musik eksperimen Calung Pring Sedhapur, grup keroncong calung (conglung), memadukan dua cabang musik yang menggunakan instrumen musik Barat akustik, ditambah instrumen dari bambu. Dari Surabaya ada Congdut Irama Bama pimpinan Soelistiohadi yang sering muncul di layar TVRI Jawa Timur tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2005.

Suara khas keroncong Sundari Soekotjo diiringi musik ska dalam album Breaking The Roots. Lagu ”Indonesia Raya” juga menarik dibawakan dengan iringan musik keroncong. Nyak Ina Raseuki yang dikenal luas sebagai Ubiet membentuk grup keroncong dengan anggota pemusik pop dan jazz. Sementara Komunitas Penikmat Keroncong anggotanya banyak yang masih muda. Dan ada Repoeblik Kerontjong Indonesia di Bandung yang memperingati 10 tahun grup Keroncong Merah Putih. Kemudian Mbelgedez Band yang mengeroncongkan lagu daerah, langgam, blues, hingga dangdut. Djarum Super Rendezvoices pada awal Agustus 2009 di Kaliurang menampilkan berbagai musik yang berbeda, seperti Kramat Pamekasan asal Jawa Timur yang membawakan perkusi kontemporer tradisional, Saharadja (Bali), Tataloe Perkusi (Bandung), Ki Ageng Ganjur, serta grup keroncong Congrock 17 asal Semarang yang berdiri sejak tahun 1980.

Sebenarnya, keroncong ada di mana-mana, juga populer di Malaysia, antara lain kiprah Hetty Koes Endang pada tahun 1990-an. Salah satu pengagumnya, Julie Sudiro, penyanyi kawakan Malaysia, juga ikut merekam album keroncong. Akhir tahun 2008, kelompok keroncong dari Malaysia, Yayasan Warisan Johor, ikut Festival Keroncong Internasional di Solo.

Jadi, harap waspada agar nanti kita tidak mati gaya dan langkah ketika keroncong yang bermetamorfosis di negeri jiran menjadi kupu-kupu bersayap warna-warni dan terbang ke sana-sini sebagai keroncong Malaysia.

Theodore KS, Penulis Masalah Industri Musik

Sumber: Kompas, Sabtu, 5 September 2009

No comments: