Thursday, September 10, 2009

Bentara Budaya Bali: Menjaga Tradisi dan Mendorong Perubahan

DUA puluh penari pendet dari Sanggar Lokananta, Singapadu, Sukawati, Gianyar, menandai penggunaan panggung terbuka Bentara Budaya Bali, Rabu (9/9). Pementasan itu seakan menjadi narasi agung bagi keberpihakan kepada tradisi, tanpa menjadikannya artefak arkeologis.

Penari dari Sanggar Lokananta, Singapadu, Gianyar, mementaskan tari pendet pada acara pembukaan Bentara Budaya Bali, Rabu (9/9). Pementasan yang dihadiri ratusan seniman dan budayawan itu merupakan presentasi penghormatan dan keberpihakan Bentara terhadap seni tradisi. (KOMPAS/AYU SULISTYOWATI)

Ratusan seniman dan budayawan menjadi saksi pembukaan Bentara Budaya Bali, Rabu, yang dilakukan Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati. Peresmian dihadiri Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun, pemilik museum seni rupa Pande Sutedja Neka dan Nyoman Rudana. Perupa senior Nyoman Gunarsa dan Made Wianta serta penari Bulantrisna Djelantik turut hadir, juga pemikir kebudayaan asal Perancis, Jean Couteau, dan pengamat budaya asal Amerika, Thomas Hunter.

Tjok Ace, demikian Bupati Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati dipanggil, mengatakan, penempatan Bentara Budaya Bali di Ketewel, Gianyar, sebagai penghargaan luar biasa kepada daerah itu. Gianyar, katanya, menjadi simpul budaya penting sejak sekitar abad ke-8 saat Rsi Markandya membangun perkampungan pendidikan dan pertapaan di Campuhan, Ubud. Gianyar juga pemersatu sekte-sekte Hindu di Bali dengan pendirian Pura Samuan Tiga pada abad ke-11 oleh Mpu Kuturan.

Selain itu, ia menambahkan, Bung Karno juga membangun Istana Presiden di Tampaksiring. ”Itu menandakan betapa Bali sangat menghargai keberagaman, sesuai dengan semangat yang ingin ditebarkan Bentara,” ujar Tjok Ace. Ia juga mengakui budaya Bali telah mengalami pergeseran sehingga terjadi kesenjangan antara tradisi dan kearifan lokal di satu sisi dan bisnis di sisi lainnya.

Pergulatan

Rikard Bagun mengungkapkan spirit kelompok Kompas Gramedia (KG) sebagaimana sejak awal ditanamkan pendirinya, PK Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama, yakni membela yang lemah dan mengingatkan yang mapan. Pihak KG—dulu KKG—terutama Kompas, sebenarnya sudah sejak lama atau bahkan sejak Kompas berdiri tahun 1965 telah berinteraksi dengan pergulatan kebudayaan Bali, antara lain ditandai dengan kunjungan PK Ojong dan Jakob Oetama berkeliling Bali. Sejak itu, mereka terinspirasi untuk menghargai seni budaya.

Bali sebagai daerah tujuan wisata diharapkan tidak meredusir budaya demi kepentingan bisnis sebagaimana kecenderungan yang terjadi sekarang. Bentara Budaya Bali adalah bagian dari kepedulian KG untuk menjaga keseimbangan tradisi dan nilai luhur di satu sisi dengan kepentingan bisnis di sisi lain.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Bali Efix Mulyadi menyebutkan, Bentara Budaya adalah kontribusi konkret KG mendinamiskan seni budaya setempat sebagai penghargaan terhadap tradisi di masyarakat.

Pelukis Pande Gede Supadha mengatakan sejak lama merindukan kehadiran Bentara Budaya di Bali. ”Ini harapan lama yang baru terwujud hingga para budayawan di Bali akhirnya memiliki ruang untuk mengekspresikan kreativitasnya,” katanya.

Nyoman Gunarsa berharap Bentara Budaya Bali memainkan peran strategis sebagai pendorong perubahan guna mencapai kemungkinan menemukan kebudayaan baru. ”Jangan jatuh menjadi lembaga serupa yang sudah ada, yang hanya memainkan sisi-sisi komersial kebudayaan,” ujarnya.

Ia juga berharap presentasi karya menggambarkan betapa lembaga kebudayaan di bawah KG ini peduli terhadap kebudayaan yang termarjinalkan.

Bulantrisna Djelantik menginginkan agar Bentara ini membawa Bali melewati arus perubahan yang deras. ”Bali sedang berubah dan harus dikawal. Jika tidak, pulau ini bisa tidak selamat,” ujar Bulantrisna.

Perubahan Bali lebih banyak didorong giatnya industri pariwisata. Tidak berakibat buruk, tetapi ada nilai-nilai yang kalau tidak segera ditransformasikan bisa sirna.

Globalisasi telah mendesak terus-menerus, sementara Bali terlalu sibuk dengan dirinya sehingga lupa upaya revitalisasi. Di situ peran Bentara tetap menjaga tradisi, sekaligus mendorong perubahan agar nilai-nilai lama secara lentur bisa diterima pada masa sekarang…. (CAN/ANS/AYS)

Sumber: Kompas, Kamis, 10 September 2009

No comments: