Sunday, September 06, 2009

Bandung Mengenang Rendra

MENGENANG seseorang yang telah wafat tentu tak sekadar berhenti menjadi cara untuk mengembalikan ingatan setiap orang terhadapnya. Melainkan juga semacam ikhtiar untuk memberi makna pada seseorang yang pernah hadir di tengah kita. Makna kehadirannya itu terdapat dalam seluruh jejak yang ditinggalkannya, yakni karya dan pemikirannya. Keduanya inilah yang akan terus membuat seseorang yang telah wafat terus hidup dan menemukan maknanya. Terlebih ketika karya dan pemikirannya itu masih menemukan relevansinya dengan konteks yang tengah terjadi di sekeliling kita sekarang. Hanya soalnya kini, bagaimanakah mereka yang hidup bisa memungut spirit dari jejak yang ditinggalkannya untuk lalu mengapungkannya ke permukaan, membacanya kembali, dan menghayatinya sehingga menjadi pembacaan bersama?

Mengenang Rendra (1935-2009) dengan membaca kembali karya dan pemikirannya sehingga sastrawan dan dramawan penting itu tidak melulu hanya menjadi sebuah nama dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Inilah yang membuat sejumlah seniman di Bandung berkumpul dan menggagas event bertajuk "Bandung Mengenang Rendra". Lebih dari sekadar hendak menjadi penanda waktu dari 40 dan 100 hari wafatnya "Si Burung Merak" itu, event ini juga menyimpan semacam bayangan, betapa karya dan pemikiran seorang seniman sesungguhnya tak pernah mati. Ia selalu menemukan relevansinya dengan konteks dan fenomena kekinian. Termasuk ketika karya diciptakannya puluhan tahun yang lalu.

Event "Bandung Mengenang Rendra" ini diagendakan akan berlangsung di sejumlah tempat di Bandung dan Jakarta mulai pertengahan September hingga November 2009. Terdapat sepuluh acara yang menjadi bagian dari rangkaian event ini, yang seluruhnya berfokus pada jejak karya dan pemikiran Rendra, atau yang didedikasikan padanya. Dari mulai pertunjukan teater, diskusi, seminar, dan sarasehan, pembacaan puisi dan parade monolog, hingga pemutaran film. Selain para aktor, penyair, jurnalis, penari, perupa, event ini juga melibatkan sejumlah aktivis budaya di Bandung, di antaranya M. Ridlo ’Eisy, Ipong Witono, Juniarso Ridwan, Ganjar Kurnia, dan lain-lain.

Seluruh persiapan event ini telah dimulai beberapa pekan. Dari mulai persiapan tim produksi, kepanitiaan, hingga latihan yang mengambil tempat di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), seperti tampak Jumat (4/9) sore. Salah satu nomor yang sedang intens disiapkan adalah pementasan teater "Kisah Perjuangan Suku Naga" karya Rendra. Pementasan ini disutradarai oleh Yusep Muldiyana dan Gusjur Mahesa. Sejumlah aktor akan tampil dalam pertunjukan ini, dari mulai Godi Suwarna, Rinrin Citraresmi, Irwan Jamal, Kemal Ferdiansyah, Deddy Warsana, Karensa, Irwan Guntari, dan beberapa nama lain termasuk para penari dan koreografer.

"Pertunjukan ini tidak atas nama sebuah kelompok. Tetapi merupakan gabungan para aktor dari berbagai generasi," ujar Yusep Muldiyana.

Pilihan pada lakon "Kisah Perjuangan Suku Naga" tak bisa dipisahkan dari keinginan memaknai jejak karya dan pemikiran Rendra yang masih tetap aktual hingga hari ini. Lakon yang ditulis tahun 1975 ini banyak memaktubkan kritik tajam Rendra ihwal tabiat politik pembangunan yang didukung oleh nafsu kapitalisme, dan hak-hak masyarakat adat yang teraniaya. Bengkel Teater Rendra pertama kali mementaskannya pada 1975 di Yogyakarta. Meski ditulis puluhan tahun lalu, lakon ini masih atau bahkan kian menemukan aktualitasnya di tengah realitas nasib hak-hak masyarakat adat di tengah gempuran neoliberalisme seperti hari ini.

"Terakhir lakon ini dipentaskan pada 1998 di Jakarta dengan beberapa revisi yang dilakukan Rendra untuk mengkritik LSM-LSM yang didanai oleh negara-negara kapitalis," kata Gusjur Mahesa, aktor Bengkel Teater Rendra yang pernah terlibat dalam pementasan itu.

Menurut Yusep Muldiyana, dalam proses garapannya pementasan ini masih dalam tahap reading, tetapi penataan musik dan lagu telah hampir rampung. Seperti juga tampak sore itu, sejumlah aktor duduk membuat lingkaran, reading menghadapi naskah dalam berbagai dialog dan adegan, seraya juga kor mendendangkan nyanyian. Persiapan pementasan ini memang terkendala oleh sejumlah hal, termasuk beberapa aktor yang juga tengah terlibat dalam agenda produksi pementasan yang lain. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi semangat para aktor untuk menyiapkan produksi "Kisah Perjuangan Suku Naga" tersebut.

**

SELAIN pementasan "Kisah Perjuangan Suku Naga", satu seminar akan berlangsung dengan tajuk yang mengambil spirit dari lakon tersebut, yakni ihwal hak adat dan masyarakat adat dalam perspektif kebangsaan. Di tengah arus kapitalisme global yang mengubah negara dan pemerintah hanya melulu menjadi infrastruktur pasar, otonomi masyarakat adat memang kian terpinggirkan. Tak hanya dalam konteks hak ulayat, melainkan juga dalam ruang kulturalnya yang oleh tabiat kapitalisme global kian tak mendapat penghormatan dan penghargaan.

Jejak pemikiran dan karya-karya Rendra juga akan dibaca dalam diskusi sastra bertajuk "Rendra, Indonesia, dan Kita". Diskusi ini hendak menelaah lebih jauh gagasan Rendra yang termaktub dalam puisi-puisinya. Sebagai penyair, sejak kumpulan Balada Orang-orang Tercinta (1956) hingga Mencari Bapak (1997), Rendra dikenal telah menjadi penanda penting dalam jagat sastra Indonesia modern. Terutama sejak terbitnya Sajak-sajak Sepatu Tua (1972) dan Potret Pembangunan Dalam Puisi (1983), Rendra dikenal sebagai penyair yang konsisten menyuarakan protesnya terhadap ketimpangan sosial-politik. Inilah yang hendak diurai dalam diskusi yang mencoba membaca kembali gagasan-gagasan Rendra ihwal Indonesia dalam sajaknya.

Pementasan "Kisah Perjuangan Suku Naga", seminar, dan dikusi, hanya sebagian dari rangkaian yang akan berlangsung. Termasuk penampilan Putu Wijaya yang akan membawakan monolog "Burung Merak", juga pemutaran film dokumenter Rendra.

Seperti juga produksi pementasan "Kisah Perjuangan Suku Naga", seluruh penyelenggaraan event "Bandung Mengenang Rendra" ini tidak mengatasnamakan sebuah komunitas. Melainkan lebih pada rasa solidaritas dan kekompakan para seniman dan aktivis budaya di Bandung. Adanya kepanitiaan dan sejumlah koordinator lebih menekankan pada kepentingan operasional dan teknis penyelenggaraan.

"Event ini berangkat dari wafatnya Rendra. Kami para seniman berembug, dan sama-sama menemukan satu pandangan, Rendra boleh wafat tapi karyanya tidak mati dan itu adalah urusan serta kewajiban kami yang hidup," ujar perupa Herry Dim sebagai salah seorang jaro (ketua) panitia.

Ia menambahkan, hingga saat ini panitia "Bandung Mengenang Rendra" masih memperjuangkan tempat di Taman Budaya, STSI Bandung, dan sejumlah tempat alternatif lainnya. "Terus terang saja, kalau harus sewa kami tidak sanggup. Event ini lebih merupakan penghormatan dan penghargaan pada jejak yang ditinggalkan oleh Rendra untuk bangsa ini. Kalau sampai kami tidak dapat gedung, terpaksa kami main di lapangan," tutur Herry Dim. (Ahda Imran)*

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 6 September 2009

No comments: