Monday, August 25, 2008

Pesanggrahan Daendels Rusak, Terancam Hilang karena Kayunya Akan Dilelang

Gresik, Kompas - Jejak bangunan pesanggrahan, tempat peristirahatan bagi para pengguna Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg, ditemukan di Desa Sembayat, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Sabtu (23/8). Namun, bangunan yang berusia 200-an tahun itu sudah rusak.

Satu-satunya pesanggrahan atau brak berusia sekitar 200 tahun yang tersisa sebagai tempat peristirahatan dan penggantian kuda pada Jalan Daendels kini sudah dibongkar dan kayunya akan dilelang di Desa Sembayat, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (23/8). Brak atau pesanggrahan tersebut panjangnya sekitar 15 meter dengan lebar 5,5 meter dan dibangun di setiap 8-9 kilometer jalan di sepanjang 1.100 kilometer Jalan Daendels Anyer-Panarukan. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Tumpukan genteng atap pesanggrahan teronggok di pojok jalan, sementara tiang-tiang kayu penyangga akan segera dilelang.

Padahal, pesanggrahan atau brak dalam bahasa setempat ini bersejarah. Setelah memulai pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1.100-an kilometer mulai tahun 1808, Gubernur Jenderal Daendels juga memerintahkan pembangunan pal batas dengan jarak setiap 1,5 kilometer dan pesanggrahan.

Menurut peneliti senior Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mona Lohanda, pesanggrahan dibuat berjarak 8-9 km di luar kawasan kota yang berfungsi sebagai peristirahatan dan pergantian kuda pos.

”Saat saya kecil, masih bisa melihat brak masih bisa dilalui dua mobil. Mobil yang menyeberang dari sisi lain sungai masih bisa lewat brak ini. Setelah dibongkar belum dibangun lagi,” kata Rokhma (80), warga Desa Sembayat.

Tertutup ”paving”

Semasa masih berdiri kokoh di Jalan Daendels, pesanggrahan tersebut memiliki panjang 12-15 meter dengan lebar mencapai 5,5 meter. Fungsi pesanggrahan ini mulai berkurang setelah transportasi semakin berkembang dan Jalan Raya Daendels semakin ditinggalkan setelah pembangunan jembatan dan jalan baru yang lebih lebar akhir tahun 1970.

Pantauan tim Kompas, lokasi bekas pesanggrahan yang letaknya sekitar 20 meter dari tepi Sungai Bengawan Solo ini sudah rata tertutup jalan paving.

Menurut penuturan sejumlah warga, pesanggrahan itu mulai dibongkar lima tahun lalu karena menyulitkan alat berat melintas saat pembangunan sisi turap Sungai Bengawan Solo. Kayu-kayu yang terpasang melalui sambungan siku-siku dilepas satu per satu dan pengembang berjanji akan kembali membangun pesanggrahan ini.

Namun, hingga kini 10 balok pilar dan puluhan kayu serta siku penyambung kayu sudah berada di gudang salah satu pengusaha pembuatan mebel di desa tersebut.

Kepala Desa Sembayat Bambang Adipranoto mengatakan, berdasarkan kesepakatan warga setempat, kayu-kayu bekas pesanggrahan tersebut akan dilelang dan uang hasil penjualan dipergunakan untuk pengadaan mebel tempat bimbingan belajar bagi siswa SD hingga SMA.

”Paling tidak kami perkirakan hasil lelang bisa mencapai Rp 15 juta. Namun, sampai saat ini kayu masih belum dilelang. Kami masih menunggu itikad baik pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk melestarikannya karena warga di sini tidak mampu membangun tempat bimbingan belajar, terutama dari segi biaya,” kata Bambang.

Benteng ”mangkrak”

Selain pesanggrahan yang kondisinya rusak, sekitar 10 kilometer dari lokasi tersebut juga terdapat sisa benteng Belanda yang sudah hancur. Lokasi tepatnya di Pulau Kuypeer di Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah. Untuk mencapai benteng tersebut harus menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari Pelabuhan Tanjung Widoro.

Benteng tersebut diyakini warga setempat merupakan benteng Belanda yang dibangun tahun 1800-an untuk pertahanan dari serangan Inggris. Benteng ini membentang mengelilingi pulau sepanjang hampir satu kilometer. Namun, abrasi dan terpaan ombak perlahan mengikis benteng sehingga kini hanya tersisa sekitar 10 persen.

”Benteng sudah mulai hancur setelah tahun 1965. Beberapa waktu lalu sempat ada peneliti dari Yogyakarta yang mengumpulkan sisa keramik dan guci dari sisa benteng. Namun, sepertinya belum ada usaha pelestarian,” kata Solikhin (55), penduduk Tanjung Widoro. (gal/nel/aci)

Sumber: Kompas, Senin, 25 Agustus 2008

1 comment:

andreas iswinarto said...

Silah simak, semoga bermanfaat
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html

Kompilasi Liputan Khusus Kompas (40 artikel berita-feature dan opini)
: Ekspedisi 200 Tahun Anjer-Panaroekan (Anyer-Panarukan)

Bacaan penting untuk refleksi 100 tahun kebangkitan nasional, 10 tahun reformasi

Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”
-Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
dikutip oleh Redaksi Kompas untuk pengantar edisi khusus ini

salam hangat
andreas iswinarto