Saturday, August 30, 2008

“Ketika Cinta Kembali”, Ramuan Kisah Cinta dalam Bahasa Puisi

Rona jingga ditaburkan/
Kesenduan sinar rembulan ditata/
Untaian berlian di langit ditaburkan/
Kesejukan air diisi sebagai bejana kehidupan.


UNTAIAN puisi semacam itu terselip di antara halaman akhir novel Martha Sinaga. Karyanya yang bertajuk Ketika Cinta Kembali memang ditampilkan dengan bahasa puitik dan cenderung populer.

Novel setebal 146 halaman itu mengisahkan tentang Adinda yang ditelepon cinta masa lalunya, Ari. Kisah kemudian ngelangut, bolak-balik antara dialog masa lalu Adinda dengan Ari dan di masa kini: Adinda yang merenung-renung.

Kendati ringan, kemasan Martha untuk alur cerita yang back-tracking, pengungkapan kata ganti “dia-an” untuk Adinda dengan dialog melalui surat yang tak dicetak miring, sangat berisiko bagi pembaca untuk menarik garis lurus perjalanan cinta si tokoh utama Adinda dengan Ari.

Namun, dengan bahasa yang cukup ringan pula, presenter Meutya Hafid seusai membaca novel ini, mengomentari penulisnya: Martha Sinaga melihat cinta sebagai energi positif yang memadukan rasa dan pikiran dengan seimbang.

Penulis Miranti Abidin mengatakan bahwa “Cinta suatu hal yang ada dalam diri kita semua”. Pendidik Chandra Motik memandang buku ini memberi wawasan bahwa cinta ada “di dalam hati kita, karena itu kita hidup, akan selalu ada dan abadi”.

Kendati begitu, kisah cinta dengan bahasa populer tiba-tiba jadi terasa terlalu berat ketika diselingi pendapat dan teori, misalnya pendapat Fishman dan Viktor Frankl (halaman 134-135). Bahasa itulah yang kemudian ditanggapi perempuan penyair, Diah Hadaning: “Dengan modal cinta semua akan bisa dipetik. Pribadinya, rembulan dan matahari ada di dalam dirinya. Bahwa kau pun akan terus berjuang pasti ingin menjadi yang terkasih.”

Seperti bunga kemboja yang sekali pun diinjak, ujar Martha, dia tetap akan putih bersih tanpa pamrih. Kelopak kemboja sekali pun sudah jatuh di dalam lumpur pun, kecokelatan lumpur akan kalah dengan warna putihnya. Lentur, tak akan bersekutu dengan egoisme. Filosofi cinta tak beda dengan hal itu.

“Target novel ini memang akan memberikan emosi, semakin emosi bagus, tulisannya akan semakin mengalir,” ujar Martha kepada SH, awal Agustus lalu.

Puisi dan Tanah Melayu

Puisi, Tanah Melayu dan biografi penulis, adalah ramuan yang rumit untuk bisa dipaparkan dalam kisah yang ringan. Pada salah satu novelnya yang bertajuk Rembulan di Tanah Melayu, tiga unsur itu semakin kentara.

Kisah yang diangkat sangat erat dengan cerita masa silamnya. Penulis kelahiran Pakanbaru ini kemudian menyinggung soal tali silaturahminya di Tanjungpinang yang sangat erat, sebagai energi untuk idenya saat berkarya.

“Mulai dari cerita tentang kawan-kawan saya, kenangan saat main pingpong. Memori ini jadi flashback. Bagi saya, ini tak hanya silaturahmi dengan kawan-kawan, tapi juga silaturahmi di jiwa saya, ego, dari hati dan ketulusan,” katanya.

Martha Sinaga yang berangkat dari profesi sebagai wartawan menulis dengan metode yang berbeda. Di tengah tulisan feature atau berita, dia tetap meminati sastra.

“Saya juga menulis puisi. Untuk novel, saya buat alur cerita, saya bisa menulis tiga bulan lamanya tapi bisa membuat empat buku lagi. Saya duduk dengan emosi terkontrol baik. Konsisten, saya terbiasa dengan pola jurnalis. Saya tetap dari cara pandang pers, saat ada fakta dia menulis. Sebagai novelis saya pun demikian. Walau ada nuansa imajinatif, tetap ada faktanya,” ujarnya.

Bersama editor sekaligus kawan lamanya, Hasori “Wawi”, terkadang mengontrol juga lompatan memorial yang menyeruak di dalam karya Martha. “Jadi kisahnya ada sinkronnya dengan perjalanan saya ketika masih kecil. Itu nuansa yang barangkali di penulis lain berbeda lagi caranya,” ujar Martha Sinaga.

Ia bisa mengerjakan otobiografi seniman besar. Dia tak ingin dikatakan menulis spesialisasi, karena sebagai wartawan dia mengaku menulis apa saja. “Di mana tanah dipijak, di sanalah kita minum air,” katanya.

“Saya berangkat dari dunia wartawan harian dalam kondisi sosial sesakit apa pun, saya harus tetap bisa menulis. Kejadian (tragedi kereta api, red) di Bintaro, saya harus membuang rasa saya. Dalam emosi itu masih ada cinta,” ujarnya. (sihar ramses simatupang)

Sumber: Sinar Harapan, Jumat, 29 Agustus 2008

No comments: