Monday, November 22, 2010

Biografi Warkop: Bisnis Kelas Warung Makin Tergusur

-- Budiarto Shambazy

ANDAI Warkop masih lengkap, sajian satir politik mereka laris manis setahun terakhir ini. Mereka pasti ”menguras habis” isu DPT bodong, Cicak vs Buaya, skandal Century, mobil baru menteri, studi banding DPR, Ketum PSSI, dan belasan ketidakwarasan politik sebagai bahan melucu. Apalagi, komedi jadi salah satu kompensasi untuk melepaskan stres sosial karena aspirasi rakyat sudah lama tak didengar elite yang memerintah.

Akan tetapi, apa betul banyak yang tertarik nonton lawak politik? Apalagi lawak ala Warkop disajikan butuh tingkatan intelektualitas tertentu mengingat almarhum Nanu Mulyono, Kasino Hadibowo, dan Wahjoe Sardono (yang tersisa tinggal Indro Kusumonegoro dan Rudy Badil) sarjana-sarjana sadar politik. Sementara, mayoritas rakyat terbilang apolitis.

Persoalan kedua, satir-satir Warkop pada tahun 1970-an digemari karena iklim politik yang represif. Belum ada keterbukaan, semua takut buka mulut. Pembusukan politik (political decay) saat itu menyuburkan rumor-rumor tentang penyalahgunaan kekuasaan yang berseliweran nyaris tiap hari, yang dengan mudah dapat diangkat menjadi satir. Dalam istilah populer, kita hidup di alam vivere pericoloso atau nyerempet- nyerempet bahaya yang kondusif untuk ditertawakan.

Hal ketiga, Warkop keburu ngetop hanya di kalangan generasi muda saja. Itu pun cuma di wilayah terbatas dan eksklusif, seperti kampus atau stasiun radio Prambors. Para penikmatnya kaum terpelajar saja. Baru belakangan mereka ”merakyat” ketika masuk ke film dan rekaman kaset dengan banyolan-banyolan populer, termasuk pornografi.

Di atas segala-galanya, kita belum punya tradisi stand up comedy yang berbau politik yang kekuatannya ketika disajikan melalui monolog. Kreativitas komedian kita waktu melakukan stand up comedy terbatas, audiens juga kurang paham menangkap nuansa-nuansa politik. Monolog kita dimainkan batur-batur Srimulat yang tampil sendiri membuka panggung dengan banyolan-banyolan yang itu-itu saja.

Buku

Asumsi-asumsi inilah yang dikemukakan dalam buku Warkop, Main-main Jadi Bukan Main hasil karya dua eks personelnya, Rudi Badil dan Indro Kusumonegoro. Buku ini yang pertama yang lengkap mengulas perjalanan kelompok lawak. Memang tak ada referensi memadai untuk menulis secara ilmiah, tetapi daya ingat Badil dan Indro (serta analisis film dan kaset Warkop) membuat buku ini cukup menarik sebagai biografi.

Barangkali untuk menempatkan Warkop sebagai komedian-komedian politik, kisah Dono jadi demonstran lagi seperti ia masih mahasiswa, yang jadi pembuka buku, boleh dikenang. Dono yang suka nekat itu, sepanjang demo dari petang 13 November 1999 hingga lewat tengah malam, jadi ”dirigen” penyemprot selang air pemadam kebakaran di Unika Atmajaya. Lawan Dono tentu amat tangguh, yakni aparat keamanan yang menghujani kampus dengan peluru.

Ya, Dono dinobatkan sekitar 5.000 mahasiswa/demonstran sebagai penyemprot utama selang raksasa. Meski tak pernah jadi petugas pemadam kebakaran, kedua tangan Dono lincah memainkan selang ke kerumunan tentara di jalan jalur lambat Jalan Jenderal Sudirman. Ia lincah menyemprot air ke kiri, tengah, kanan, berpindah-pindah dengan cepat. Sebagian prajurit geleng kepala melihat ulah Dono.

Pancaran Sinar Petromaks

Menyaksikan aksi Dono itu mengingatkan kita bahwa itulah sesungguhnya komedi politik Warkop ketika awal dibentuknya. Ia lugu karena idealis, bersifat partisipatif, berani menyerempet bahaya, dan tak kenal batas usia. Aksi Dono kurang lebih mirip dengan kebiasaan mereka sejak dulu, bersikap apatis terhadap, atau melecehkan, kekuasaan.

Misalnya, ”intel Melayu” yang masuk kampus memata-matai mahasiswa pada masa Orde Baru sering jadi sasaran. Mereka dengan bahasa tubuh dan oral yang berani dan ngawur, pura-pura saling komunikasi dengan walkie-talkie untuk melaporkan situasi yang sebenarnya tak genting amat kepada komandan. Adegan menarik itu tak lupa pula ditimpali dengan suara mulut berbunyi ”kresek-kresek” yang keluar dari walkie-talkie intel yang usang.

Tentu Warkop tidak hanya bermain lewat monolog sendiri atau dialog lima orang saja, ada saja cara-cara lainnya, termasuk happening arts. Entah bentuknya obrolan ringan dengan masing-masing personel berbahasa daerah, sajian musik dengan lagu-lagu Barat atau Indonesia yang dipelintir liriknya, drama pendek, dan sebagainya. Dan, tentu saja medium yang paling efektif adalah musik.

Itu pun bukan kejutan karena musik pada tahun 1970-an menjadi lingua franca bagi generasi muda, terutama mahasiswa, untuk melancarkan kritik sosial. Seperti halnya band-band pop atau rock, kritik melalui musik dianggap paling efektif. Setidaknya musik menjadi lem perekat yang mengikat solidaritas mahasiswa yang hidup di dunia ”buku, pesta, dan cinta”.

Tidak heran Warkop meniti karier profesional dari stasiun radio Prambors yang menjual musik. Kebetulan pula sebagian personel Warkop merupakan musisi-musisi yang cukup mahir memainkan instrumen dengan suara yang tak kalah merdu dibandingkan biduan-biduan profesional kala itu. Bagi sebagian orang, musik Warkop dan pelesetan lirik lagu-lagu Barat maupun Indonesia yang justru jadi kekuatan tersendiri.

Itulah salah satu sebab mengapa Warkop ikut pula melahirkan grup musik Pancaran Sinar Petromaks (PSP) saat hari pertama shooting film November 1928 arahan Teguh Karya tahun 1978. PSP terdiri dari sejumlah mahasiswa FISIP UI dan FE-UI yang memiliki daya pikat tersendiri dengan sajian lagu-lagu bernapaskan dangdut. Belakangan, kaset-kaset Warkop juga diselingi pula oleh sejumlah lagu yang, sayangnya, tidak mampu menjadi hit.

Mencampur happening arts dengan lawak politik tentu bukan tugas mudah. Oleh sebab itu, bisa disimpulkan bahwa Nanu, Kasino, Dono, Indro, dan Badil sesungguhnya komedian-komedian berbakat besar. Setelah era Warkop, tak ada lagi kelompok lawak asal kampus (khususnya UI) yang mengikuti jejak langkah mereka. Bisnis kelas warung rupanya semakin tergusur dilindas zaman.

Sumber: Kompas, Senin, 22 November 2010

No comments: