Saturday, November 01, 2008

Pemenang Puisi Kuntum Mekar 2008

Duhai cinta yang meraja
di bulan puasa
Setelah hari raya tiba
janganlah kau pergi
dan membuatku merana
karena jauh dari Sang Pencipta

ENAM larik puisi di atas dipetik dari puisi "Senyum Lebaran" karya Brigitta Sonia, siswi SMP Caringin, Kota Bandung. Puisi yang dinilai kuat dalam penguasaan bahasa, pengendalian kosa kata, rajutan imaji, dan renungan yang mendalam atas tema "Idulfitri dalam hidupku" itu, keluar sebagai Juara Pertama Lomba Penulisan Puisi Kuntum Mekar untuk Tingkat SMP se-Jawa Barat, yang diselenggarakan PT Pikiran Rakyat Bandung.

Puisi tersebut ditulis sepanjang tiga halaman dengan kekuatan yang terjaga setiap baitnya. "Apa yang ditulis oleh Brigitta menunjukkan bahwa ia terbiasa menulis puisi. Tingkat mahasiswa saja jarang bisa menulis puisi seindah ini," ujar ketua dewan juri, penyair Acep Zamzam Noor, yang didampingi penyair Nenden Lilis Aisyah, dan Soni Farid Maulana, anggota juri.

Ditemukannya sejumlah puisi yang ditulis dengan bagus oleh para peserta lomba, seakan memberikan gambaran bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sudah mendapat tempat di hati pelajar. Atau paling tidak daya apresiasi para pelajar saat ini cukup baik dalam membaca karya sastra, yang tidak hanya terbit dalam bentuk buku akan tetapi tersebar di berbagai media massa cetak yang menyediakan lahan untuk itu.

Renungan yang mendalam tentang makna Idulfitri yang ditulis oleh Brigitta menunjukkan hal itu, bahwa si penulis cukup luas wawasannya sebagaimana yang terekam dalam bait puisi berikutnya yang berbunyi: Aku tahu pasti/ kau berat hati/ melupakan pedihnya/ yang membuat hatimu/berdarah-darah luka./ Namun aku tidak putus asa/ dengan penuh kerendahan hati/ mengemis kebaikanmu/ mengharap kerelaanmu/ membuka gerbang hati/ di hari raya fitri//.

Sementara peringkat kedua untuk tingkat SMP diraih oleh Iman Somantri siswa SMP 4 Darangdan, Purwakarta, lewat puisi "Dalam Sapaan Takbir". Peringkat ketiga diraih Alexander Tjahyadi, siswa SMP Waringin Kota Bandung lewat puisi "Pintu Sucimu".

**

UNTUK tingkat SMA, juara pertama lomba penulisan puisi Kuntum Mekar kembali diraih siswa dari Kota Cianjur sebagaimana tahun lalu. Puisi "Kaledioskop" yang ditulis Gangan Priyatna. Siswa SMAN I Cilaku Cianjur ini bukan hanya matang dalam mengolah tema, tetapi juga sering mengejutkan dalam mengolah kata yang membentuk majas, baik dalam tataran sintaksis maupun semantik. Sebagaimana yang terungkap dalam bait pertama, yang berbunyi:

Rembulan yang menggelantung pada bentangan langit hitam keemasan hilang/ dipagut waktu. Takbir dan dzikir hidup kembali di selaput pagi. Asma Illahi/terus mengepul dari jutaanbibir yang tak henti memuji dan memuja. Membentuk mahzab cinta//.

"Puisi saat ini bukan lagi sesuatu yang asing di sekolah. Apa yang ditulis Gangan benar-benar memesona," ujar Nenden Lilis Aisyah.

Pertanyaan lebih lanjut, dari masuknya sejumlah puisi yang ditulis dengan bahasa yang bersih, simbolisasi yang kuat, dan daya ekspresi yang penuh pesona -- adakah hal ini menandakan bahwa kebangkitan penulisan puisi Indonesia mulai terlihat benihnya, atau hanya gejala sesaat saja?

"Ada baiknya bila pihak-pihak terkait mengadakan pertemuan para penulis puisi antar SMA se Jawa Barat dalam bentuk festival," ujar penyair Acep Zamzam Noor.

Dengan adanya festival penyair antar anak SMA atau SMP boleh jadi hal ini akan semakin menumbuhkan gairah siswa dalam menulis karya sastra, demikian juga dengan diadakannya lomba penulisan puisi yang tidak hanya diselenggarakan oleh media massa, tetapi juga diselenggarakan oleh lembaga-lembaga terkait, seperti yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Disbudpar Jabar.

Adapun peringkat kedua diraih oleh Asep Warwan, siswa SMAN 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, lewat puisi "Paragraf Kepiluan Lebaran Anak TKW Termalang". Sementara peringkat ketiga diraih oleh Vemmy Lidya A., siswi SMA Rimba Raya Kota Bogor, lewat puisi "Pertaubatan".

Wakil Ketua Panitia, Marzan Zen mengatakan, lomba puisi kali ini yang waktu penyelenggaraannya terbatas itu diikuti 544 peserta dari berbagai sekolah di Jawa Barat.

"Banyak pihak yang minta lomba yang akan datang temanya lebih bebas dan waktunya lebih panjang," ujar Marzan.

Diselenggarakannya Lomba Penulisan Puisi Kuntum Mekar, kata Marzan Zen lebih lanjut, insya Allah akan dijadikan acara rutin, yang pesertanya mungkin meluas tidak hanya se Jawa Barat.

"Sambutan para pelajar saat ini cukup baik. Mudah-mudahan HU Pikiran Rakyat bisa menjadi teman dialog para siswa dalam mengapresiasi karya sastra, dan juga dalam mengembangkan bakat penulisan karya sastra," ujar Marzan.

**

SEMENTARA itu, Kahumas PT Pikiran Rakyat Bandung, H. Asep Bakrie mengatakan, diselenggarakannya "Penulisan Puisi Kuntum Mekar", dimaksudkan untuk menjaring penulis-penulis muda berbakat dalam penulisan karya sastra di Jawa Barat.

"Dibukanya lembaran seni dan budaya Khazanah pada satu sisi bisa juga diisi para penyair tingkat SMP dan SMA. Terbukti apa yang mereka tulis toh cukup baik, dan tidak kalah oleh tingkat mahasiswa," ujarnya.

Asep mengatakan, pemberian hadiah akan dilangsungkan di Grand Pasundan Malibu Doom, Jln. Peta No. 147-149 Bandung, Kamis (6/11) pukul 8.30 WIB hingga selesai. "Pembagian hadiah berbarengan dengan pembagian beasiswa dan lomba penulisan esai dalam bahasa Sunda yang diselenggarakan Tabloid Sunda Galura. Para pemenang diharap hadir tepat pada waktunya," tegas Asep.

Berkaitan dengan itu, Asep mengatakan bahwa waktunya nanti pertanggungjawaban Dewan Juri Lomba Nulis Puisi akan dibacakan oleh penyair Nenden Lilis Aisyah. "Dua juri lainnya, berhalangan hadir karena mengikuti acara Temu Sastrawan 8 Kota, yang diselenggarakan Disbudpar Jabar, di Lembang, Kabupaten Bandung Barat," kata Asep. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 1 November 2008

1 comment:

Kharis said...

Salam kenal aja.... from http://mamas86.wordpress.com