Sunday, November 30, 2008

Oase Budaya: TIM Sebagai Penanda Kebudayaan

-- Grathia Pitaloka

SETELAH prestasi gemilangnya pada 1970-an, TIM kini seperti kurang beradaptasi dengan perubahan zaman.

Menginjak usia yang hampir mencapai setengah abad, Taman Ismail Marzuki (TIM) masih berdiri kokoh. Meski tak semegah dulu, namun pusat kebudayaan yang terletak di Jalan Cikini Raya, Jakarta ini tetap memiliki pesona yang memikat.

Awal bulan lalu TIM merayakan ulang tahun yang ke empat puluh. Perayaan "sederhana" digelar untuk memperingati usia yang semakin matang. Para seniman pun tak ketinggalan ikut ambil bagian, sebuah pertanda kalau keberadaan TIM belum terlupakan.

Empat puluh tahun silam, Gubernur DKI Jakarta yang ketika itu dijabat oleh Ali Sadikin mendirikan pusat kebudayaan yang diberi nama Taman Ismail Marzuki (TIM). Harapan yang diusung ketika itu tak muluk-muluk. Ali ingin pusat kesenian yang berdiri di atas lahan seluas sembilan hektar ini, dapat memfasilitasi para seniman untuk berkarya.

Harapan tersebut terwujud. Seiring ditabuhnya gong peresmian, rahim TIM mulai melahirkan sejumlah seniman besar. Sebut saja sejumlah nama besar seperti WS Rendra, Sardono W Kusumo, Slamet Abdul Syukur, Farida Oetoyo, Teguh Karya, Arifin C Noor, Affandi, Suyatna Anirun dan lain-lain.

"Ketika itu ada anggapan bahwa seorang seniman baru diakui eksistensinya setelah melakukan pementasan di TIM," kata Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Marco Kusuma Wijaya ketika ditemui Jurnal Nasional di ruang kerjanya, Rabu (26/11).

Anggapan itu tak berlebihan rasanya. Melihat TIM mampu memainkan perannya sebagai "ibu" yang melahirkan sekaligus mengasuh. Juga menjelma menjadi rumah yang selalu menyediakan ruang kreatif untuk menampung gagasan serta ide para seniman.

Marco mengatakan, gagasan mendirikan pusat kesenian ketika itu merupakan sebuah investasi besar, mengingat pada waktu itu belum ada tempat yang mampu mengakomodasi para seniman untuk berkarya.

Perubahan Zaman

Kondisi empat puluh tahun lalu tentu berbeda dengan yang kondisi saat ini. Wajah kota yang dulu sepi dari pusat keramaian, kini berubah menjadi meriah. Fenomena munculnya pusat-pusat kesenian ini tak hanya terjadi di ibukota, melainkan di sejumlah daerah di pelosok nusantara.

Kepala Badan Pengelola TIM, Teguh Widodo menilai positif kemunculan pusat kesenian tersebut. Ia menganggap hal itu sebagai angin segar bagi perkembangan dunia seni Tanah Air. "Pusat-pusat kesenian itu bisa saling melengkapi, selain itu seniman juga memiliki banyak wadah untuk menampung kreativitasnya," ujar Teguh.

Menyikapi roda zaman yang terus berputar, TIM tak boleh berpangku tangan dan hanya diam mengelus kejayaannya di masa lampau. Ia harus segera melakukan pembenahan, sebab jika tidak maka TIM akan segera dilupakan dan hanya menjadi bagian dari lembar masa lalu.

Mempertahankan eksistensi di usia yang mulai merambat senja tentu bukan perihal mudah bagi TIM. Apalagi pusat kesenian baru yang masih "segar" serta memiliki sarana prasarana lebih memadai semakin menjamur. Karea itulah, "TIM harus mengadaptasi semangat perubahan zaman agar dapat mempertahankan eksistensinya," kata Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sardono W Kusumo ketika ditemui dalam acara BJ Habibie Award, Selasa (25/11).

Sardono mengatakan, adaptasi terhadap zaman meliputi perubahan fisik, sistem manajemen serta sumber daya manusia. Ia melihat, pembenahan fisik secara menyeluruh dapat diambil sebagai langkah pertama. Penari yang namanya melejit lewat pementasan Samgita Pancasona ini menilai, fasilitas yang dimiliki TIM saat ini sudah ketinggalan zaman. Sementara proses penciptaaan sebuah karya perlu ditunjang oleh infrastruktur yang memadai.

Saat ini TIM memiliki beberapa gedung dengan kapasitas 200 hingga 800 orang. Gedung-gedung tersebut dilengkapi dengan tatacahaya, sound system akustik serta pendi-ngin ruangan. Sayangnya, gedung maupun fasilitas di dalamnya tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Padahal bangunan yang sudah mulai memasuki masa senja seharusnya mendapatkan perawatan yang lebih dibanding gedung dan fasilitas baru.

Kini setelah 40 tahun, PKJ TIM masih tetap berfungsi bahkan ada penambahan gedung dan fasilitas baru termasuk teater besar yang berkapasitas 1.200 penonton. Namun sebuah tantangan baru muncul, yakni terkait perawatan gedung tersebut. Teguh mengatakan, pada masa transisi ini perawatan dilakukan oleh pihak ketiga. Oleh karena itu, karyawan Badan Pengelola TIM akan mendapat pelatihan untuk operasional gedung.

Beberapa waktu lalu, pemerintah daerah membangun gedung Teater Besar yang mampu menampung penonton sampai 1.200 orang. Gedung itu berdiri "menggusur" keberadaan teater halaman. Sardono melihat, pembangunan tersebut merupakan bentuk itikad baik dari pemerintah daerah untuk mengubah wajah TIM. Tetapi, Sardono melihat, proses perubahan berjalan terlalu lamban, sehingga TIM terseok menghadapi perubahan zaman. "Perlu percepatan dalam proses perubahan," ujar Sardono.

Di sisi lain Marco memandang, perubahan fisik yang dilakukan pemerintah saat ini tak lebih dari sekzdar tambal sulam sebab, tidak ada penambahan fasilitas dari segi kuantitas. "Pemerintah bukan membangun, melainkan mengganti."

Sementara itu, dari segi manajemen Sardono menilai mulai terjadi perubahan yang cukup signifikan. Sebagai contoh adalah pemilihan anggota DKJ yang dilakukan secara terbuka dan diumumkan kepada masyarakat luas.

Pusat Peradaban

Mantan pengurus DKJ/PKJ Arie F Batubara mengatakan bahwa TIM bukan sekzdar tempat untuk mementaskan atau memamerkan karya seni, melainkan refleksi dari sebuah pusat peradaban. "Kalau bangsa Indonesia masih mau dianggap beradap maka harus ada tempat untuk merefleksikannya, yaitu pusat kesenian," kata Arie.

Lebih lanjut, Arie memaparkan jika keberadaan TIM merupakan sebuah keniscayaan. Menurutnya, kemunculan berbagai pusat kesenian tetap saja tidak dapat menggantikan peran TIM.

Sekarang ini Arie melihat TIM sudah tidak mampu lagi merefleksikan peradaban. Seperti malaikat yang kehilangan sayap, TIM hanya menjalankan rutinitas sehari-hari. "Hal itu sebabkan oleh dukungan yang tidak memadai serta pengelolaan yang tidak benar," kata Arie.

Ia menilai, campur tangan pemerintah daerah terhadap manajemen TIM terlalu besar. "Pemerintah daerah memang memberikan dana untuk TIM, tetapi bukan berarti mereka bisa serta merta ikut campur," kata Arie.

Lebih lanjut, ia memaparkan, saat ini banyak pihak-pihak yang tidak kompeten duduk dalam kepengurusan TIM. Menurutnya, manajemen TIM sebaiknya dipegang oleh orang-orang yang mengenal baik dunia kesenian dan kehidupan para seniman. "TIM harus dikembalikan kefungsi semula yaitu, memberikan ruang bagi para seniman untuk berolah kreatif," ujar Arie.

Arie menuturkan bahwa TIM harus dilihat secara komperhensif yakni, dalam konteks kebudayaan Indonesia. "Ketika TIM kehilangan pamor dan tidak diperhatikan lagi, maka secara tidak langsung pemerintah sudah tidak memperhatikan perkembangan budaya Indonesia."

Senada dengan Arie, Marco mengatakan, pengelolaan TIM harus diserahkan pada tenaga-tenaga profesional. Meski sebagai timbal baliknya mereka harus merogoh kocek agak dalam. "DKJ pernah menggunakan stage manager Vanessa Mae untuk menghandle sebuah pagelaran musik. Walaupun harus membayar agak mahal tetapi kami puas dengan hasilnya," kata Marco.

Marco juga menyediakan anggaran khusus untuk pengembangan potensi para karyawannya. "Posisi kamikan politis dan akan diganti tiga tahun sekali, sementara mereka adalah karyawan tetap," ujar ahli tata kota ini.

Pengembangan

Dana merupakan permasalahan klasik yang menjadi hambatan terbesar bagi TIM untuk melakukan pengembangan diri. Mengandalkan kucuran dana dari pemerintah tentu bukan sebuah solusi tepat mengingat negara ini dalam kondisi carut marut.

Seringkali anggaran yang tidak pasti menghambat pelaksanaan program-program yang akan dilaksanakan. Sebagai contoh, untuk tahun 2008 TIM hanya mendapatkan dana sebesar Rp4 miliar. "Padahal dalam kondisi seperti ini seharusnya naik," kata Teguh.

Alasan dana ini pula yang kerap menyebabkan PKJ TIM terpaksa membatalkan program yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. "Kami mederita kerugian baik secara materi maupun moril," ujar Teguh.

Menurut Marco, bersandar penuh pada dana dari pemerintah juga tidak baik untuk "kesehatan" TIM. Sebab, kemandirian serta ruang gerak TIM akan menjadi terbatas. "Istilahnya, seorang anak mau bebas kok masih minta uang dengan orang tua," kata Marco.

Untuk itu, Marco menawarkan jalan tengah yakni, memanfaatkan dana masyarakat atau yang dikenal dengan istilah audiens development. Pria yang sempat menimba ilmu arsitektur di Khatolieke Universiteit, Leuven, Belgia ini mengatakan, TIM harus membina hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat. "Menjadikan kesenian sebagai ruang publik," kata Marco.

TIM merupakan pusat kesenian yang di dalamnya terdapat empat organisasi yakni, Akademi Jakarta, DKJ, IKJ dan PKJ TIM. Keempat organisasi ini saling berkaitan satu sama lain. "Integrasi antara keempatnya harus tetap dipertahankan," ujar pria lelaki kelahiran Pangkalpinang, 14 Juli 1961 ini.

Marco mengatakan, kerja demokrasi dewasa ini belum mencerminkan kecerdasan, kebijakan, dan kekayaan kolektif bangsa Indonesia seluruhnya, yang terdiri dari berbagai-bagai orang per orang, komunitas dan budaya.

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 30 November 2008

No comments: