Sunday, November 01, 2009

"Maria Zaitun" dan Hanafi

(Malaikat penjaga Firdaus
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku
Pelacur yang sengsara
Kurang cantik dan agak tua)


DELAPAN larik puisi di atas dipetik dari puisi "Nyanyian Angsa", karya penyair almarhum Rendra. Puisi tersebut menjadi penting dibicarakan dalam tulisan ini karena pelukis Hanafi menafsirnya dalam bentuk lukisan, yang baru saja dipamerkan di Gedung Indonesia Menggugat, Jln. Perintis Kemerdekaan No. 5 Bandung, sebagai bagian dari acara "Bandung Mengenang Rendra". Pameran tersebut berlangsung dari 28 Oktober-16 November 2009.

Dalam tafsir saya – puisi tersebut – mempunyai hubungan teks pula dengan puisi "Pelacur-pelacur Kota Jakarta" yang juga ditulis Rendra. Kedua puisi tersebut secara esensial mengungkap persoalan yang sama, yakni tentang hancurnya moral dan retaknya hubungan sosial dalam pengertian yang seluas-luasnya, di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Kedua puisi yang cukup terkenal itu bisa kita baca dalam antologi puisi Blues untuk Bonnie

Hanafi dengan lukisannya yang mengeksplorasi sosok, simbol, citra, metafora, apa pun namanya tentang Maria Zaitun yang divisualkan dengan tubuh telanjang, ditusuk paku, mandi di sungai, disalib, serta yang menanggung beban berat psikologis yang dilambangkannya tengah mengangkat bongkahan batu besar itu adalah sebuah visualisasi dari penderitaan spiritual masyarakat tertindas dewasa ini.

Kesan yang demikian muncul dalam benak kita karena penderitaan seorang pelacur yang dieksplorasi Hanafi dalam lukisannya itu tengah menginterupsi kesadaran kita akan hidup yang kita sangka jauh dari persoalan-persoalan yang kudus. Dan sebaliknya, apa yang kita sangka selama ini bergelimang dengan yang kudus, ternyata malah tidak demikian adanya. Lihat saja, mereka yang melakukan tindak pidana korupsi pada umumnya adalah orang-orang pintar yang mengerti hukum dan agama.

Sekalipun tubuh Maria Zaitun yang dilukis Hanafi mencitrakan sosok tubuh yang telanjang, hal itu tidak membuat kita sebagai apresiator karya-karya lukisnya itu jadi terangsang melihatnya. Yang terjadi justru sebaliknya, kita ikut masuk dan bahkan larut ke dalam penderitaan Maria Zaitun dalam pengertian seluas-luasnya.

Hanafi mengatakan bahwa dalam penghayatannya terhadap Maria Zaitun, ia sampai pada penderitaan yang bukan lagi diderita oleh Maria Zaitun, tetapi juga diderita oleh dirinya sendiri. Dengan demikian, apa yang dinamakan penderitaan tidak mengenal jenis kelamin. "Maria Zaitun adalah saya. Dalam mengekspresikan sosok tubuh yang menderita itu saya ekspresikan sebebas-bebasnya, dengan warna-warna yang nyaris kelam," ujar Hanafi.

Dalam konteks semacam ini, kita bisa melihat bahwa apa yang diekspresikan Rendra dalam puisi naratifnya itu, pada sisi-sisi tertentu tengah menunjukkan bagaimana nilai-nilai yang terdapat dalam khazanah cerita (teks) lama itu – bisa tetap kontekstual dengan zamannya ketika ia dikonstruksi kembali dengan cara pandang yang baru. Dari sisi semacam inilah, kita bisa memahami mengapa Rendra selalu bilang mempertimbangkan tradisi sebagai titik pijak dalam berkesenian maupun berkebudayaan.

Rendra memang sungguh cerdas dalam mengolah tema yang demikian itu, yang tidak hanya mengandalkan kepekaannya terhadap bahasa ungkap, tetapi juga mengandalkan daya nalarnya secermat mungkin. Rendra menyebutnya bahwa isi pikiran dan isi hati harus dikawinkan tidak untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling menyeimbangi – sehingga karya yang dihasilkan bisa memuaskan daya nalar dan daya spiritual pengarangnya maupun pembaca karya-karyanya. Penikmatan karya Hanafi bisa sampai pada tataran yang demikian, bila kita sudah memahami secara sungguh-sungguh apa dan bagaimana Maria Zaitun dalam "Nyanyian Angsa".

**

DIGELARNYA acara Bandung Mengenang Rendra yang digagas oleh sejumlah aktivis seni di Kota Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat, ternyata mendapat dukungan yang cukup luas, baik dari pihak media massa maupun dari pihak pemerintah dan masyarakat luas.

Wali Kota Bandung H. Dada Rosada dalam percakapannya dengan penulis di Gedung Balai Kota Bandung beberapa waktu lalu mengatakan bahwa Pemerintah Kota Bandung menyambut dengan baik diselenggarakan acara Bandung Mengenang Rendra, dan dideklarasikannya Hari Kebudayaan Nusantara, yang digelar oleh sejumlah aktivis kesenian di Kota Bandung dan Jawa Barat. Alasannya, acara tersebut tidak bertentangan dengan program kerja Pemerintah Kota Bandung selama ini dalam menumbuhkembangkan kegiatan seni dan budaya dalam pengertian seluas-luasnya.

Sejalan dengan itu, kata Dada, sudah sepatutnya bila Pemerintah Kota Bandung mendukung acara tersebut sebab kedudukan Rendra dalam pembangunan intelektual di Indonesia tidak hanya ada di dunia teater dan puisi, tetapi juga dalam bidang pemikiran seni dan budaya yang senantiasa mempertimbangkan tradisi sebagai akar dari proses kreatif yang selama ini dikerjakannya.

Bandung dan Rendra pada satu sisi mempunyai ikatan emosional yang kuat. Rendra berkali-kali menyelenggarakan acara berskala nasional maupun internasional di Bandung, seperti digelarnya Puisi Internasional Indonesia pada 2002. Tentu bukan hanya itu, Rendra juga sering berdialog dengan seniman Kota Bandung, baik dalam bidang teater, sastra, maupun dalam bidang-bidang lainnya, entah itu berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, yang secara keseluruhan bisa disimpulkan mengasah daya intelektual para seniman Bandung dalam bidang kebudayaan.

"Berkaitan dengan itu, tentu saja bangsa dan negara ini, khususnya Pemerintah Kota Bandung, sangat kehilangan atas meninggalnya seniman dan budayawan Rendra yang selalu menengok tradisi sebagai titik pijaknya dalam berproses kreatif. Pada sisi lain Pemerintah Kota Bandung juga setuju dengan dicanangkannya Hari Kebudayaan Nusantara pada 7 November. Dengan demikian, kita menjadi sadar bahwa nilai-nilai kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan dalam memasuki kehidupan yang dari hari ke hari kian deras bertarung dengan nilai-nilai yang baru yang terus tumbuh," ujar Dada Rosada.

Sejalan dengan itu, Wagub Jabar Dede Yusuf mendukung pula digelarnya acara Bandung Mengenang Rendra yang akan berlanjut pada acara deklarasi Hari Kebudayaan Nusantara pada 7 November 2009.

"Acara ini cukup monumental dan merupakan gagasan murni dari para seniman Bandung yang tentunya tidak terpikirkan oleh pemerintah. Yang kita perlu teladani dari Rendra adalah sosoknya yang gigih dalam berkesenian dan berkebudayaan, dengan pikiran yang tajam dan kritis," ujar Dede Yusuf. (Soni Farid Maulana/"PR")

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 1 November 2009

No comments: