Wednesday, November 11, 2009

Bencana Sastra Kita

-- Cunong N. Suraja*


Sastra Kita-kita

Apa yang dapat dikatakan dalam kelompok sastra kita kita? Apakah sastra Cyber? Termasuk dalam sastra cyber adalah sastra facebook. Di mana sastra facebook akan didudukan dalam sastra Indonesia atau di sastra dunia?

www.TPGImages

Semua pertanyaan ini seperti gempa yang melanda Indonesia. Kita kita perlu revolusi seperti pernyataan Bung Karno dulu atau kita kita hanya perlu reformasi saja. Ternyata sampai saat ini kita kita hanya berkutat di sastra facebook yang siap jadi sastra kuda karena banyak penunggangnya.

Sastra yang mengkita tentunya sastra yang tak memilih. Sastra yang tak memihak (walau kata kita sudah terjadi pemihakan dengan melibatkan semua pihak). Sangat dihargakan apa yang dilontarkan note-note yang dibuat Asep Samboja pengajar Susastra di FIB UI, yang mulai membongkar file-file sejarah yang berkaitan dengan karya sastra dan sikap penggiat sastra pada zamannya. Sangat perlu para facebooker yang belum tentu menggeluti teori sastra yang selalu dicabarkan dalam ruang kuliah di FIB dengan para dewa sastra baik yang populer di koran atau populer di dunia kampus.

Untuk itu Hudan Hidayat yang perkasa telah mengkita dalam kolom-kolom facebook ini walaupun masih tersisa jejak lama yang selalu dicurigai sesama penggiat sastra yang lebih suka menyatakan sastra kami kami. Dua kata (kita dan kami) yang sangat merepotkan bagi penutur asli bahasa Inggris.

Jadilah sastra Kita kita atau sastra kami kami yang terpeleset jadi sastra kamu kamu atapun sastra muka kamu!

Sastra Kuda

Kuda adalah binatang yang dianggap sangat berguna bagi manusia pada saat belum ditemukan mesin uap maupun tenaga listrik nuklir. Kuda saat itu jadi kuda beban baik ditunggangi oleh manusia maupun menyeret gerobak dengan penuh hasil bumi atau barang pindahan. Kuda dalam falsafah orang Jawa juga termasuk salah satu dari empat syarat seorang pangeran bangsawan yakni tahta, wanita, kukila (burung piaraan yang dapat berkicau), dan turangga (kuda). Tak heran kalau bos Gerindra juga punya kuda dengan harga milyaran.

Kuda punya kekuatan yang diabadikan dalam ukuran sebuah mesin dengan istilah horse power atau kekuatan kuda. Jadi kuda sangat mengispirasi dalam berbagai segi kehidupan manusia tak pelak lagi juga dalam kehidupana sastra yang dalam novel Seno Gumira Ajidarma “Kitab Omong Kosong” diceritakan bencana negeri itu bermulai dari tato atau rajah di punggung pelacur muda bernama Maneka berwujud Kuda Putih yang berlari yang menjadikan alasan kerajaan Rama setelah memenangai Rahwana membuat pesta kekuasaan dengan melepas kuda putih sebagai pembuka jalur memerangi negara atau rakyat yang dilewati jika melawan kehendak penguasa Ayodya.

Sastra yang mempunyai kekuatan mendobrak kebekuan boleh dibilang sebagai sastra kuda. Sastra yang membuka lembar tradisi penulisan sebagaimana yang dilakukan Chairil Anwar dengan sajak AKU dan KRAWANG BEKASI. Bukan Chairil Anwar kalau dalam kehidupannya yang juga “liar” seliar kuda yang terkenal dengan nama mustang. Jejak sastra kuda itu berlanjut hingga pada zaman Rendra dengan sajak melawan penguasa baik dalam wujud puisi maupun drama. Sastra kuda juga mengenal kuda genit yang hanya memoles sebuah mode atau fashion hingga menjadikan kekuatan sastra walaupun kurang digdaya seperti trend puisi mbeling yang menjulur timbulnya kredo puisi SCB yang membebaskan kata dari makna. Adakah karya SCB berkekuatan kuda?

Sifat sastra kuda juga terlihat sebagai layaknya manusia menguasai binatang satu ini sebagai alat pemindah beban atau tunggangan. Maka saat Lembaga Kesenian Rakya (Lekra) berjaya pada zamannya dengan semboyan “politik adalah panglima” telah menjadi sastra sebagai kuda beban. Inilah sastra kuda yang ditunggangi ambisi maupun ideology yang juga muncul menjadi seboyan lain yang tak mau berpolitik dengan jargon : seni untuk seni!

Sastra kuda beban ini yang menelorkan sastra semangat, sastra perjuangan yang di”nyanyi”kan para demosntran jalanan sebagai nyanyian politik atau sajak protes dan Rendra menamai sendiri dengan sajak pamphlet. Sajak iklan perlawanan hingga muncul penyair yang hilang entah di mana kuburnya bernama Wiji Tukul. Lalu adakah sastra yang tidak tergolong sastra kuda? Kuda yang liarpun tetap bernama kuda, maka sastra yang seliar apapun tetap sastra dan tergolong sebagai sastra kuda tunggangan dengan beban pesan atau ideologi pengarang atau penulisnya.
Bagaimana dengan sastra kuda yang bersifat turangga (ciri kebangsawanan Jawa) yang hanya bersifat “klangenan” untuk “manasuka” berkudap makanan kecil sambil tidur-tiduran menikmati tanpa kerut dahi? Sastra hiburan atau sastra laris manis dengan tangis ataupun tidak, tetap saja merupakan sastra kuda, karena tetap membawa beban pesan.

Sastra Reptilia

Berangkat dari kamus Wikipedia bahwa yang tergolong dalam masyarakat reptilia adalah binatang melata atau sebuah kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin dan memiliki sisik yang menutupi tubuhnya. Reptilia adalah (hewan dengan empat tungkai (tetrapoda) dan menelurkan telur yang embrionya diselubungi oleh membran amniotik. Wilayah kehidupan binatang melata ini di setiap benua kecuali Antartika yang dikelompokkan dalam empat kelompok berikut:
• Ordo Crocodilia (buaya, garhial, caiman, dan alligator): 23 spesies
• Ordo Sphenodontia (tuatara Selandia Baru): 2 spesies
• Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia ("worm-lizards")): sekitar 7.900 spesies
• Ordo Testudinata (kura-kura, penyu, dan terrapin): sekitar 300 spesies
Mayoritas reptilia adalah bertelur (ovipar) meski beberapa spesies Squamata dapat melahirkan (vivipar). Reptilia yang melahirkan memberi makan janin mereka menggunakan sejenis plasenta yang mirip dengan binatang yang melahirkan dan menyususi (mamalia).

Ukuran reptilia bervariasi, dari yang berukuran hingga 1,6 cm (tokek kecil, Sphaerodactylus ariasae) hingga berukuran 6 m dan mencapai berat 1 ton (buaya air asin, Crocodylus porosus).
dari http://id.wikipedia.org/wiki/Reptil

Kasus cicak melawan buaya menimbulkan perbincangan seru yang pada sudut pandang hewani mereka adalah satu kelompok satu kelas satu golongan yakni reptilian atau binatang melata yang dalam puisi Rendra “Kotbah” diisyaratkan hidup melata seperti kadal ra ra ra. Bahkan dalam film “Koboi Cengeng” besutan Nyak Abas Akoeb tokohnya bernama Cicak bin Kadal. Kadal adalah kawan cicak yang hidup memakan serangga dan merayapi dinding. Sastra yang merayap begini terutama akan membicarakan hal remeh temeh dari grass root bermuara pada ideologi kaum proletar yang menuntut adanya sama rasa sama rata atau dengan kata lain keadilan model sosialisme. Karya sastra begini akan merasa mewakili mereka yang merayap hidupnya, tiarap sikapnya takut diberondongi dengan tuduhan kontra penguasa.

Mereka hidup dalam gerakan bawah tanah yang gelap, lembab dan suram. Sastra yang beginian selalu menuntut keadilan prototype sosialisme yang berdekatan dengan komunisme yang selalu dipertentangkan dengan liberalisme kapitalistik menjajah dan menguasai pasar lokal maupun global. Sastra model tertindas ini cenderung menjadi nominasi sastra Nobel, karena dapat pengharagaan dari yayasan Nobel Academy.

Adakah sastra juga mengikuti jejak pemisahan golongan model reptilian? Mungkin saja mengelompokkan sastra ya sastra pada kelompok Ordo Crocodilia yang di dalamnya ada buaya yang sementara berusaha menekuk-lutukan kelompok cicak-ciccak di dinding yang mengintip koruptor menggerogoti uang rakyat dan negara. Sastra ordo crocodilian selalu melahap apa saja dengan teori pacakolonial, atau kajian budaya atau dekonstruksi sekalipun. Sastra buaya juga dapat mengacu pada sastra syahwat kalau sastra itu banyak mengeksploitasi kemesuman ataupun kejorokan ataupun hal-hal yang beraroma wangi sexualitas yang terbuka tanpa selembar benang putih yang mungkin menutupi hal yang masih dianggap tabu.

Di mana dipetakan sastra reptilian jenis Ordo Testudinata atau penyu dan kura-kura yang selalu bergerak lamban dalam kehidupan di darat tapi akan melesat bagai meteor di langit malam begitu menemukan air danau, sungai apalagi lautan. Sastra Ordo Testudinata sastra yang telah menemukan kehidupannya yang pasti dan menjual gayanya menjadi ikon atau lambang karya dan dirinya yang menyatu. Tak salah lagi melihat ungkapan yang dipakai yang tergambar adalah sosok penulisnya. Tak heran kalau saat sajak-sajak Heri Latief tahap awal dengan bahasa prokemnya yang kental sekan mirip sajak-sajak SCB walau kalau mau jujur Heri dan SCB bertetanggaan etnis maka pastilah akan mempunyai kemiripan warisan budaya yang menempel di jejak karyanya. Tapi Heri dengan lantang menolak pernah membaca karya SCB.

Heri Latief bukan jenis ordo Testudinata karena Heri masih mencari pola pengucapan yang mempribadi, lain dengan SCB dan SDD ataupun GM yang sementara ini sudah membentuk pengucapan yang mandeg (baca: tetap, ajeg, mapan) kalau dibandingkan dengan gerakan sastra facebooker yang mengkomet, tetapi secara esensi sastra SCB dan SDD ataupun GM seperti penyu tua yang lamban berumur panjang apalagi nafas penyu sangat irit dengan oksigen karena habitatnya yang jauh hampir di dasar lautan yang dalam. Jangan ragukan kedalaman filosofi, mitos dan referensi para sastrawan ordo Testudinata. Biar lamban tapi dalam dan nyaman sebagai sastra “klangenan”.

Kalau mereka masih meledak-ledak dalam emosionalnya maka mereka akan tergolongkan dalam 7,900 species ordo Squamata. Ordo Squamata ini sekarang bertebaran bergetayangan bergerombol menyatu dalam kantong ataupun lorong dan gorong-gorong budaya yang kadang tersumbat oleh pikiran untuk melawan sebagai penunjukan jati diri. Kalau ini terjadi yang semacam gejala atavisme dalam dunia binatang lagi seperti yang sudah dipaparkan pada notes yang berjudul: HALYANG ANEH DALAM DUNIA KEPENULISAN (published on Wednesday, October 28, 2009 at 7:46am) yang berlanjut pada hari berikutnya (published on Thursday, October 29, 2009 at 7:44am) Coba saja klik http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=176532653584 dan http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=177253153584.

Ordo penyu memang tidak banyak yang masih muncul karena musim bertelur mereka memenuhi circle of life yang pasti. Mereka sudah menjalani lingkaran kehidupan dalam kreatifitasnya yang seperti beredarnya planet di jagat raya. Mereka bukan jenis pembuat karya karena rangsangan bencana.

Untuk ordo Squamata yang berjumlah 7,900 species cukup pelik untuk dipaparkan dalam notes yang berkelebat singkat ini. Mirip bayang bayang kesan imaji yang menghampiri Subagio Sastrowardoyo saat mau “menelorkan” kecebong haramnya. (rujukan pada buku “Proses Kreatif” yang disunting oleh Pamusuk Nasution). Untuk sementara mencari dulu species yang paling banyak mengapung di telaga besar sastra Indonesia baik di mass media cetak maupun elektronik.

Sastra Bencana

Yang namanya bencana datangnya dari Tuhan yang maha perkasa dan tiba-tiba seketika tanpa warta pendahuluan, walaupun isyarat itu ada tapi kita selalu abai. Dengan sesentil detik Padang-Yogya-Tasikmalaya porak poranda, Mahasiswa pun dengan jaket almamaternya yang gagah menghandang di jalanan ataupun pesilangan jalan lampu merah menyodorkan bekas kotak super mie dengan coretan "dana bantuan bencana" pada setiap pengendara baik angkot, pribadi mapun pemerintah yang bernomer plat merah.

Maka tak heran sudah dua penggiat puisi di bumi Indonesia menjeritkan"berikan tiga puisimu untuk korban bencana" kepada penulis syair yang bernama dan yang baru timik-timik sekedar menjadi penyair, tapi bukan penyair sekedar! (Entah sudah berapa potong puisi yang terkumpul.) Sedang Jurnal Sastratuhan Hudan berwasiat dalam komentar tulisan saya "Menunggu Hudan":
"kalau menyatukan lewat kata kadang suka simbolik. tapi memecahnya menjadi satuan cerita itu lebih berarti di dunia makna - bahasa itu. di sana sudah saban hari kita tuliskan - kata itu."

Ya, "kata" yang menjadi perbincangan kita dalam bertutur maupun berhubungan pesan yang sejak lama sudah jadi "mantra" kata SCB dalam kredo yang kemudian menyilakan/membiarkan/membebaskan kata memecah diri berjumpalitan berakrobat kawin membunuh dan segala tingkah "manusia" sehingga terbebas makna. Tapi dalam firman di atas ternyata kata tetap memegang peranan kunci dalam pehelatan bencana. Maka lahirlah sastra bencana. Sastra yang menyumbang saran tentang makna kata "bencana" yang berkonotasi kesakitan, kehancuran, kemusnahan dan sebuah 'agony' peradapan yang hilang selain lewat perang.

Seperti perang yang datang tiba-tiba bagi yang diserang karena tidak telibat dalam perencanaan strategi penyerangan, tuhanpun nampaknya juga tidak mengikutkan pembicaraan "penyerangan" dengan umatnya, walau bagi umat yang cerdas pasti sudah membaca dalam kitab suci yang diturunkan dengan jelas memberikan catatan atau sebab akibat perbuatan jika itu dilaksanakan dengan melanggar aturan baku atau pakem yang telah diwartakan lewat kothbah nabi pada setiap zamannya. Tuhan akan menurunkan bencana sebagai peringatan untuk kesadraan kembali ke pakem utama dan azab pedih celaka pada pendurhaka penghujat yang tidak pernah santun mengucap syukur atar limpahan karunia gratis dari tuhan semata. Tuhan sudah memberi petunjuk seperti petunjuk di atas dalam Jurnal Sastratuhan yang bicara bencana dalam kata dan lebih luasnya bahasa. Benarkah bencana hanya wacana bahasa kata makna yang diungkap mereka yang bertalenta mewartakan dengan segala caranya?

Kalau menurut ilmu hidup mestinya segalanya memang dari niat yang tak terkatakan dalam wacana bahasa. Karena hanya niat yang membenarkan tindakan kata yang barangkali akan menimbulkan bencana wacana bahasa kata yang terciptakan.

Penang dini hari 2009

* Cunong N. Suraja, Pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor

Sumber: Oase Kompas.com, Rabu, 11 November 2009

No comments: