Tuesday, June 23, 2009

[Sosok] Winarno Surakhmad, Belajar Mendengarkan

-- St Sularto

MASAKAN untuk memperlambat perputaran roda kegiatan perlu sakit? Masakan untuk ”kembali” menjadi milik keluarga harus dioperasi tulang otak, dirawat, terbaring tak bisa jalan sehingga perlu ditunggui istri dan anak-anak? Itu pertanyaan retorik Prof Dr Winarno Surakhmad MSc Ed di rumahnya, di Kemanggisan, Jakarta Barat, 12 Juni 2009. Memang itulah yang terjadi! Seusai menyampaikan ceramah di depan 300 guru di Karawang, 28 Februari lalu, Winarno limbung. Dibawa ke rumah sakit di Karawang, dirujuk ke RSPP Jakarta Selatan, pengkritik aktif praksis pendidikan yang membacakan sajak ”Sekolah Kandang Ayam” dalam peringatan Hari Guru, 27 November 2005, di Solo, dan membuat Jusuf Kalla marah itu mengalami pecah pembuluh darah otak.

Dilarikan ke Jakarta, ia sudah tak sadar. Ketika sadar ia disodori tawaran operasi saraf otak dengan satu pertanyaan menghunjam, ”Ada biaya tidak?” Dalam waktu tiga jam, pertanyaan itu harus dijawab, kalau ya, langsung dilakukan tindakan, kalau tidak, silakan saja! ”Setelah dirapatkan di antara istri dan anak-anak, kami menjawab ya.”

Alhamdulillah, operasi itu sukses. ”Untung belum kena pangkal otak, kalau kena, bisa fatal, begitu kata dokter,” kata Winarno yang diiyakan Surasmini, istrinya. ”Mau hidup atau mati, tergantung saya, urusan dokter selesai dengan suksesnya operasi.”

Dengan selang plastik yang mengalirkan air dari batang otak, Winarno dirawat di rumah sakit hingga 20 Maret lalu. Ia sempat terbaring di rumah, berjalan dengan kursi roda, lalu bisa berkunjung ke markas PGRI Pusat di Jakarta Pusat yang sejak puluhan tahun menjadi ”rumah keduanya”.

Meski tidur terasa enak, dia berusaha tak mengantuk. Ia khawatir otaknya berhenti berpikir, padahal berpikir itulah kelebihannya. Maka, dengan semangat hidup membara ia berusaha membuat banyak catatan di kertas dan bolpoin yang selalu tersedia. Anak tunggal seorang dokter di Makassar itu dari hari ke hari melawan rasa kantuk dan aktif berpikir.

Dalam waktu sekitar dua minggu, semua seolah pulih. Hanya penglihatannya yang belum fokus. Daya ingat dengan semua informasi yang dia miliki 100 persen terekam baik.

”Awal pulang dari rumah sakit terasa aneh. Saya sebut nama Wirna atau Raswin, yang benar Winras. Kalau Erwin sejak awal tak keliru sebab dia satu-satunya anak lelaki. Sekarang semua sudah betul. Saya sadar, semua tergantung kemauan saya berkat bantuan dan dukungan istri dan anak-anak. Saya

belajar mendengarkan setelah 52 tahun selalu didengarkan.”

Mengenai istrinya, kata Winarno, ”Kalau kini usianya 74 tahun dan tak pernah sakit, berarti dia sehat walafiat. Saya berterima kasih kepada anak dan istri karena mereka tak jemu mendampingi saya justru pada masa sakit. Ketika sehat, waktu saya habis antara bandara, kamar kerja, dan ruang makan. Mereka merestui kegiatan saya selama ini.”

Itulah jawaban dia saat diingatkan pada seloroh Surasmini, ”Kalau di luar rumah (Winarno) menjadi milik masyarakat, kalau di rumah baru milik saya.”

Reduksionisme

Ibarat melanjutkan apa yang selalu mengusik pikirannya, ia tidak puas dengan penyelenggaraan praksis pendidikan selama ini. Praksis pendidikan, sejak dari kebijakan hingga implementasi dan evaluasinya mengalami reduksi.

Mengapa? Ketentuan undang-undang dan peraturan dilanggar begitu saja hanya demi mudah dilaksanakan. Ini berawal dari pimpinan puncak. ”Dari semua menteri, menteri pendidikan saat ini paling buruk.”

Alasannya? Banyak prinsip kependidikan yang dilanggar demi praktis-pragmatis saja. Misalnya? Paling aktual adalah ujian nasional. ”Indonesia itu tak bisa diatur seragam, harus ada pembedaan dan penekanan yang khas daerah masing-masing.”

Bagaimana dengan kurikulum berbasis lokal? Menurut Winarno, karena tak ada pengarahan dan pedoman yang jelas, banyak daerah bingung menentukan kurikulum macam apa yang sesuai. Akhirnya asal comot dan semua dibiarkan jalan. Sampai pada suatu saat ada kebijakan ujian nasional yang tak berkaitan dengan kurikulum lokal, tetapi seragam dari Jakarta hingga Papua.

Selama ini kita gemar meniru apa yang dilakukan negara lain tanpa mempertimbangkan kondisi Indonesia. Kurikulum berbasis lokal yang dulu diuji coba lalu dibatalkan. Padahal, buku-buku sudah diterbitkan. Ini menunjukkan tak ada kemauan untuk menggali eksperimen itu, didasarkan pada kondisi Indonesia.

Praksis pendidikan belum mengindonesiakan orang Indonesia. Eksperimen-eksperimen yang lain juga begitu, hingga setiap ada menteri baru, kurikulum dan buku-buku pun baru. Anak didik menjadi kelinci percobaan, padahal seharusnya sebelum diterapkan massal perlu diuji coba dulu.

Kebiasaan baik ini relatif tak dijalankan hampir semua menteri pendidikan, kecuali yang dilakukan Mendiknas Sjarief Thayeb yang mengintrodusir pengembangan sekolah kejuruan dan Mashuri dengan sekolah pembangunan, atau Daoed Joesoef yang memperkenalkan politeknik.

Buku Pendidikan Nasional. Dari Strategi ke Tragedi, kumpulan 16 makalah yang akan segera terbit, menampilkan kritik dan kecemasan Winarno terhadap praksis pendidikan di Indonesia. Penilaian tentang reduksionisme dan kurikulum berbasis lokal itu merupakan kulminasi dari kritik pedasnya atas praksis pendidikan. Semua itu untuk perbaikan, perlu pembongkaran tentang cara berpikir praksis pendidikan demi kehidupan, bukan demi pekerjaan.

Kegundahan

Pada saat sakit, kegeraman itu dia curahkan kepada kolega sesama pendidik yang sepaham atau mengerti komitmennya. Prof Dr HAR Tilaar, kolega di Universitas Negeri Jakarta dan mantan pejabat yang bertanggung jawab urusan pengembangan SDM di Bappenas, mengerti benar kegundahan Winarno; Santoso S Hamidjojo, kolega yang saat Winarno sebagai Rektor IKIP Jakarta menjabat Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, berusaha menyesuaikan kebijakan departemen dengan prinsip kependidikan; dan Mien Uno, pendidik yang menjadi teman diskusi menyangkut pengembangan karakter.

”Merekalah teman-teman yang enak diajak bicara. Tanpa meninggalkan disiplin sebagai pegawai negeri, mereka mencoba menyesuaikannya dengan prinsip kependidikan yang ideal,” kata Winarno.

Melawan kantuk, harus terus ia lakukan. Dia tak boleh pasrah sebab itu satu-satunya yang harus dilakukan sesuai pesan dokter, ”Semua tergantung Prof Winarno sendiri.”

Sewaktu pikiran ingin menulis seperti dia lakukan selagi sehat dulu, ia lampiaskan di atas kertas yang tersedia di samping tempat tidur. Ini berbeda dengan ruang kerjanya yang penuh buku referensi, di ruang tidur itu tak ada sebuah pun. Apakah ia dilarang membaca? ”Tidak, saya masih suka pusing, cepat capai!”

Winarno tak selincah dulu, saat menjadi Rektor IKIP Jakarta menangani aktivitas mahasiswa. Namun, pikiran jernih, uraian bernuansa kehidupan, tetap disampaikannya dengan jelas.

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Juni 2009

No comments: